Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Bab 319_Sesak


Neva mencoba menghubungi nomor ponsel Vano tetapi tidak bisa. Dia mencobanya lagi tetapi tetap tidak bisa. Vano memang tidak mengaktifkan ponselnya sedari pagi.


"Dia adalah wanita yang tadinya akan dijodohkan dengan dia," kata Neva pelan. Lula terperanjat mendengar itu. Dia lebih mendekat kearah Neva.


"Tuan muda Vano sempat ingin dijodohkan?" tanya Lula memastikan. Neva menjawabnya dengan anggukan. Lula diam sesat.


"Mungkin memang mereka hanya kebetulan bertemu saja. Kau tahu, dunia sempit," Lula masih mencoba menghibur Neva.


"Semoga tidak ada cerita setelah pertemuan mereka," jawab Neva parau. Hatinya menjadi sangat gelisah.


____Pada malam hari, Neva melihat sebuah postingan lagi. Dari wanita yang sama. Hatinya sakit, dan tiba-tiba dia merasakan takut. Bagaimana jika Vano meninggalkannya? Bagaimana jika keluaga Mahaeswara memutuskan pertunangan lalu kembali menjodohkan Vano dengan Devia?


Pikiran itu mengusik hati Neva. Dia takut. Takut kehilangan.


Neva memperhatikan lagi unggahan foto beberapa menit yang lalu. Hatinya ngilu.



Neva memegangi dadanya yang terasa sesak. Kenapa aku ini? Batinnya.


"Mereka berdua bahkan pakai baju yang sama," gumam Neva. Dia memejamkan matanya. Kemudian mencoba untuk menghubungi ponsel Vano lagi tetapi tetap tidak tersambung. "Kamu ngapain siiiih ...." Neva kesal setengah mati.


"Sayang," sebuah suara memanggilnya dari balik pintu. Suara Mama dan sebuah ketukan pelan pada pintu kamarnya. Mama membuka pintu setelah Neva mempersilahkan. "Sayang, makan malam sudah siap. Papa menunggu di bawah," ujar Mama.


"Baik Ma," jawab Neva dengan lemas. Sejujurnya dia tidak ingin makan. Otaknya dipenuhi oleh Vano, memikirkan sesuatu yang sangat buruk. Wajahnya muram. Jika tidak ada Papa, mungkin dia akan menolak untuk makan malam.


"Kenapa? Tidak suka dengan menu malam ini?" tanya Tuan besar Nugraha pada Neva setelah memperhatikan putrinya yang tidak semangat untuk makan malam.


"Hmm?" Neva sedikit kaget mendengar sapaan papanya. "Eh, nggak kok. Hanya saja, aku sedikit lelah Pa. Emm bolehkah aku pamit lebih dulu, aku merasa ngantuk," jawab Neva sekaligus pamit. Papa dan mamanya saling menatap satu sama lain. Namun kemudian mereka mengerti dan mempersilahkan Neva untuk meninggalkan meja makan terlebih dahulu.


"Selamat malam, Pa, Ma," ucap Neva. Dia mencium papa dan mamanya sebelum kembali ke dalam kamar.


Neva duduk di karpet bawah dan menyandarkan punggungnya di ranjang. "Hmmm, sudahlah Neva jangan dipikirkan. Dia tunanganmu dan tidak ada yang bisa mengambilnya dari mu," Neva menasehati dirinya sendiri. Dia memberikan semangat pada dirinya sendiri.


"Tapi, bagaimana jika dia sungguh tergoda? Apalagi ... Tuan Mahaeswara sangat menyukai gadis itu untuk menjadi menantunya. Aaa tidaaaak ...." Neva galau dan cemas setengah mati.



"Sayang," pesannya. Centang satu. Wajah Neva semakin muram. Kemudian, dia meletakkan ponselnya di atas meja.


Pada pukul sepuluh malam, ponselnya berdering. Panggilan masuk dari Vano. Neva mengerucutkan bibirnya antara lega dan sangat kesal. Dia menunggu sedari tadi dan Vano baru menghubunginya. Neva tidak mengangkat panggilan itu. Dia merajuk. Tetapi ketika ponselnya berhenti berdering, dia menjadi kesal lagi.


Kemudian, pada panggilan kesepuluh kali, dia langsung menerima panggilan Vano.


"Sayang lagi apa?" tanya suara diseberang sana dengan lembut.


"Lagi sedih," jawab Neva masam.


"Sedih?"


"Hu'um," Neva mengangguk.


"Kenapa? Merindukanku?"


"Jangan GeEr."


"Lalu?" Tanya Vano.


"Entahlah, aku tidak tahu," jawab Neva. Dia memeluk guling.


"Kenapa ... boleh aku tahu kenapa?" Vano bertanya dengan perhatian.


"Hmmm aku melihat postingan seseorang di media sosial," suara Neva bertambah masam saat mengucapkan ini.


"Lalu?" tanya Vano masih tidak mengerti.


"Dia memposting fotomu," jawab Neva kesal.


"Fotoku?"


"Jangan bertanya seolah kau tidak tahu apa-apa. Sangat jelas kau tersenyum kearah kamera," Neva semakin kesal karena jawab Vano. Vano terkekeh diseberang sana. Sekarang dia paham apa yang membuat gadisnya sedih.


"Hahaaa kau cemburu?"


"Cemburu?" Neva menaikkan sebelah alisnya, dia berpikir sejenak. "Aku hanya merasa tidak suka," jawab Neva.


"Aaahhh senangnya kau cemburu, itu berarti kau juga mencintaiku," ujar Vano.


"Kita sudah bertunangan, kenapa mempertanyakan cintaku. Aku ... aku sudah pasti mencintaimu,"


"Hmmm I love you too ....," Vano menjawab dengan senyum. Neva masih mengerutkan bibirnya, tetapi sedikit berkedut menahan senyum mendengar jawabn Vano. "Aku tidak sengaja bertemu dengan dia, lalu makan siang bersama. Kemudian, memang hari ini ada jamuan makan malam dari keluarga dia. Hanya makan siang dan makan malam biasa sayang," jelas Vano.


Neva masih saja cemberut. Dia masih kesal.


"Kalau masih cemberut, cium nih," Vano memonyongkan bibirnya.


"Aku kesal, jangan coba merayuku."


"Itu hanya makan bersama biasa, dan foto biasa,"


"Kau tidak bohong bukan?"


"Iya. Aku jujur sejujurnya. Itu makan bersama biasa," jelas Vano. "Senyum doong."


"Cepatlah kembali," suara Neva merajuk.


"Siap Nona," jawab Vano. Dan akhir drama merajuk berakhir dengan saling bercanda lewat panggilan telepon.


______________


Di kastil pinggir pantai pada malam hari yang sama. Yuna dan Leo duduk di tepi pantai, sementara Baby Arai ada di kastil bersama perawatannya.


Mata mereka menatap lurus kedepan. Yuna menyandarkan kepalanya di bahu Leo.



"Apa kau ingat jika aku tidak ingin kau menjadi bintang Sirius?" tanya Yuna.


Leo mengangguk. "Agar tidak ada yang bisa memperhatikanku selain dirimu," jawab Leo mengulang ucapan Yuna pada malam itu.


Yuna tersenyum dikedua sudut bibirnya.


"Iya, agar hanya aku yang mencintaimu," sambung Yuna. Tangan Leo terangkat dan memeluknya. Mereka saling menatap.


"Aku juga ingin hanya aku yang mencintaimu," sambung Leo. Yuna mengangguk dengan senyum. Tangan Leo merengkuhnya, membuat Yuna lebih dekat dengannya. Kemudian, mengambil tangan kanan Yuna dan membawa tangan itu pada bibirnya.



Leo tahu bahwa semua hal yang ada pada dunia ini ada batasnya. Namun dia tetap memohon untuk bisa selalu bahagia bersama Yuna tanpa ada batasnya. Hanya itu.


Tangan Leo berpindah untuk memeluk pinggang Yuna, sementara tangan satunya lagi memegang tengkuk Yuna. Kening mereka bertemu, membuat hembusan nafas begitu terasa menerpa wajah. Kemudian, Leo menurunkan kepalanya dan membuat bibir mereka bersatu.


Tangan Yuna semakin erat menggenggam pundak Leo. Rayuan kecupan yang membuatnya terus terpejam dalam irama cinta yang semakin kuat.


Leo menyudahi ciumannya, tangannya mengusap pipi Yuna dengan lembut.


"Sudah larut," ujarnya. "Besok pagi, kau boleh kesini lagi," lanjut Leo. Yuna mengangguk.


Kemudian, mereka berdua beranjak. Dengan saling bergandengan tangan, mereka melangkahkan kaki diantara pasir yang tertiup angin.


Namun, tak lama Leo melepaskan genggaman tangannya. Dia jongkok di depan Yuna.


"Nona cantik, naiklah," ucapnya menawarkan punggung. Yuna merapatkan bibirnya dan menatap Leo dari belakang dengan haru.


"Ummm, tapi aku ingin menggenggam tanganmu," jawab Yuna berusaha untuk menolak tawaran Leo. Hatinya ngilu mengingat bekas operasi itu.


"Tapi aku ingin menggendongmu," ucap Leo pelan tetapi Yuna bisa mendengarnya.


"Sayang ...."


"Apa kau pikir aku tidak kuat lagi untuk menggendongmu?" sahut Leo sebelum Yuna melanjutkan penolakannya.


"B- Bukan begitu. Hanya saja ...."


"Naiklah," suara Leo tegas.


"Sayang," Yuna enggan tetapi Leo dengan tegas memaksanya. Hingga pada akhirnya, Yuna mengalah. Tangannya melingkar di leher Leo.


Leo melangkah perlahan dengan menggendong Yuna dipunggungnya. Yuna menyandarkan kepalanya di pundak Leo setelah memberi ciuman di pipi Leo.


"Aku sudah bilang padamu, jika aku akan terus melakukan ini, selama aku mampu," ucap Leo. Yuna diam tidak memberikan jawaban. Tangannya semakin erat memeluk Leo.


"Yuna," panggil Leo.


"Hmm?" jawab Yuna. Namun, Leo tidak melanjutkan lagi. "Kenapa?" tanya Yuna setelah menunggu Leo.


"Tidak ada," jawab Leo. Kemudian mereka diam.


Aku tidak tahu kapan kakiku berhenti untuk melangkah, aku takut jika ini adalah yang terakhir. Jadi izinkan aku melakukan ini untukmu. Sinar terang hidupku, ku temukan saat aku jatuh cinta padamu. Aku akan terus menjaga agar sinar itu tidak menghilang dariku. Aku janji akan selalu membuat mu bahagia bersamaku, Yuna.


Rasa itu datang kembali, rasa yang begitu menusuk. Kini ... dadanya bahkan terasa sangat sesak tetapi dia tidak berhenti untuk melangkah. Dia tetap memaksa dirinya untuk terus melangkah, membawa wanitanya kembali ke kastil mereka. Mengabaikan segala rasa yang begitu sakit.


"Hufff, sampai," ucap Leo dengan senang. Dia kuat bukan? Dalam hati dia merasa bahagia karena mampu membawa Yuna hingga ke kastil.


Yuna turun dari punggung Leo dan langsung memeluk Leo dari belakang. Dia bisa merasakan jika Leo beberapa kali menarik nafasnya dengan panjang dan berat.


"Sayang, kau baik-baik saja bukan?" tanya Yuna.


"Tentu saja, kenapa bertanya begitu?" jawab Leo terkekeh. Dia melepaskan pelukan Yuna dan berbalik. Dia menatap Yuna dan mencium keningnya. "Beri aku ciuman," pintanya dengan manja. Yuna tersenyum dan menjinjitkan kakinya. Dia mencium pipi Leo. Kemudian, bibirnya mendekat ke telinga Leo.


"Aku mencintaimu Leo," bisiknya. Leo langsung merengkuh tubuh Yuna dan memeluknya. Memeluknya dengan sangat erat.


Setelah berpelukan beberapa saat, mereka masuk kedalam kastil. Yuna ke kamar Baby Arai terlebih dahulu, sementara Leo langsung naik keatas dan masuk kedalam ruang belajarnya. Dia duduk di kursi, menyandarkan punggungnya. Sesak. Dadanya terasa sangat sesak.



________________________


Catatan Penulis πŸ₯°πŸ™


Pertanyaan Readers.


Widya.


Yuna sudah selesaikah perasaan mu pada Vano?


#TanyaYuna


Jawab.


Yuna, "Perasaanku pada Vano? Hmmm itu masa lalu dan aku tidak ingin membukanya lagi. Terima kasih."


Yanthi


Kak NaNas msih ada gak kembaran stok tuan muda lee.... satu aja... 🀭🀭🀭


#tanya author πŸ˜…πŸ˜…


Jawab.


Nanas, "Nggak lagi Kak πŸ€—πŸ€— Abang Leo satu2nya dan udah diambil Yuna πŸ₯°. Heheeee"


Eka.


Masih lamakah Thor endingnya?


#TanyaAuthor


Jawab.


Author Nanas, "Tamat ya? Sengalirnya ide aja sih kak kalau aku mah πŸ€—πŸ˜‰ Kalau, pengen cepet-cepet tamat tinggal hadirkan Corona pada mereka, πŸ€—πŸ€­ Hikikikkkk... (Jahat) kidding Kak.


Umm ... sebenarnya novel ini udah pernah mau tak End pada bab "Akhir?" tapi kemudian lanjut karena dukungan dan cinta Readers.


Kemarin pun sempet tak bikin voting... dan yang memilih lanjut lebih banyak.


Jadi ... memang novel ini dipersembahkan untuk temen-temen semua yang masih dengan setia dukung dan ngasih cintanya pada kisah ini.


Aku berusaha membuat alur yang tidak membosankan tetapi tetap saja aku adalah manusia biasa jadi mohon maaf jika ada alur yang membosankan πŸ₯°πŸ™


( Nahh kan malah jadi Curhat deehh πŸ€­πŸ€­πŸ˜‰πŸ€«πŸ€«)


Terima kasih Sahabat Sebenarnya Cinta πŸ’– Ilupyu full pokoknya 😘😘 Muach muach... Peluk online.


Jangan lupa like koment ya kawan tersayang.


*Ilustrasi diambil dari internet dan aplikasi Pint, jadi jika ada kesamaan gambar tokoh harap maklum ya. πŸ™πŸ™