
"Apa ada sesuatu?" tanya Neva setelah bertemu dengan Vano. Vano berkunjung ke rumah Neva untuk membahas undangan pada Alea.
"Aku tidak yakin ada sesuatu atau tidak," jawab Vano. "Ini hanya terkaan ku saja," lanjutnya. "Mmm apa kau memperhatikan ekspresi wajah Yuna saat kita bilang ingin mengundang Alea?"
"Tidak," jawab Neva. "Apa yang kau tangkap dari ekspresi Kak Yuna? Apa ada masalah?"
Vano mengangguk samar, sebenarnya dia tidak begitu yakin.
"Sepertinya mereka ada masalah," jawab Vano. "Bagaimana jika kita pertimbangkan tentang ini?"
"Apa aku harus memastikannya? Atau hanya mengikuti insting saja?" tanya Neva. Dia sendiri bingung.
"Mungkin lebih baiknya memastikan," jawab Vano. "Aku berharap tidak ada masalah apapun antara Yuna dan Alea. Namun jika memang ada masalah, maka kita harus menjaga perasaan mereka."
Neva mengangguk, "Ya. Aku ingin hari bahagia kita menjadi hari bahagia yang sempurna, tidak ada yang boleh bersedih."
Vano mengangguk dan merangkulnya, "Ini pertemuan terakhir kita sebelum pernikahan di langsungkan," ucap Vano. "Mari saling merindu," lanjutnya.
Neva menyandarkan kepalanya di bahu Vano dan memeluknya.
"Semoga semuanya lancar dan baik-baik saja," ucapnya. "Nanti, setelah Kak Lee kembali, aku akan bertanya langsung padanya.
_____________
Di Negara A. Leo dengan rutin menjalani pemeriksaan rutin atas kondisinya. Dia telah melewati pemeriksaan lengkap. Minggu demi Minggu terlewati. Hari ini, adalah hari terakhir ia berada di negara A.
Siang ini, Leo dengan di antar supir mengunjungi sebuah restoran. Sudah ada seseorang yang menunggunya disana.
Sesampainya di sana. Leo dengan pelan membawa langkahnya untuk masuk dan menemui seseorang.
"Hi," sapanya. Kemudian dia duduk di seberang seseorang itu.
"Hi," jawab seseorang itu. Kemudian mereka berjabat tangan ala cowok.
"Apa kau sudah lama sampai, William?" tanya Leo.
"Tidak juga," jawab William. "Kemana Yuna? Kau tidak mengajaknya?" tanya William setelah dia memperhatikan jika Leo datang sendiri.
"Aku tidak akan membiarkan kau cari memperhatikan dia lagi," jawab Leo tegas. Dia sangat tidak suka saat Yuna diperhatikan laki-laki lain selain dia.
"Hhh, dasar pelit kau," William meninju kecil lengan Leo.
"Kau yang aneh. Banyak wanita di dunia ini, kenapa kau malah menyukai wanita yang sudah bersuami?"
"Wanita yang bersuami itu lebih menggoda," jawab Willam dengan tawa lebar.
"Gila," ucap Leo dan ikut tertawa lebar.
"Jadi, kau harus menjaga istrimu dengan benar jika tidak ingin laki-laki lain menggodanya," ujar William. Dia menyesap minumannya sedikit.
"Kau tidak perlu mengajariku tentang itu," jawab Leo. William mengangguk-angguk. Mereka berdua berbincang hingga hampir satu jam.
"Jadi besok kau kembali?" tanya William. Dia membawa pandangannya pada Leo.
"Ya," jawab Leo dengan anggukan. "Aku pasti akan menemui mu lagi jika suatu saat nanti aku kesini lagi," lanjutnya.
"Harus. Kabari aku jika kau kesini," ujar Willam. "Oh, kau pernah bilang padaku jika kau memiliki seorang putra. Izinkan aku bertemu dengannya sekali saja sebelum kalian kembali ke negara I."
"Kau mau bertemu dengan putraku atau istriku?"
Tawa Willam langsung meledak mendenger ucapan Leo. Dia tertawa terbahak-bahak hingga perutnya sakit.
"Tenang saja, aku tidak akan menggoda istrimu," jawab Willam setelah tawanya berhenti. "Aku sungguh ingin bertemu dengan putramu. Aku ingin melihat cetakan kalian berdua, putra Leo J pasti sangat tampan," jelas William.
"Hahaa, tidak perlu di perjelas bung," jawab William.
Leo menyetujui untuk membawa Willam berkunjung ke rumahnya.
__ Disana. Di rumah besar keluarga Nugraha. Yuna dan Mama tengah menjamu seseorang yang spesial. Mama dengan bangga memperkenalkan masakan khas negara I.
"Masakan Tante sangat lezat," puji seseorang itu. Yuna memang sengaja mengundangnya untuk datang kerumah sebelum dia dan keluarganya kembali ke negara I.
"Waahh senangnya, masakan Mama di puji Edellyn," ujar Mama dengan bahagia. Kemudian, setelah makan siang itu, mereka berkumpul di taman samping. Edellyn sangat gemas dengan Baby Arai, dia bahkan ingin membawa Baby imut ini pulang ke rumahnya dan tinggal bersamanya, satu minggu saja.
"Satu minggu itu waktu yang lama Edellyn," ujar Yuna.
"Berjanjilah untuk mengabariku jika kalian kesini lagi," ujar Edellyn yang dijawab anggukan oleh Yuna.
Tak lama, Leo datang bersama William.
"Selamat siang, Yuna, Nyonya besar Nugraha," sapa William sopan. "Nyonya besar sangat cantik sekali," lanjutnya yang langsung mendapat tatapan tajam dari Leo.
"Apakah kau juga menyukai nenek-nenek?" tanya Leo.
"Hahaaa, hanya suka dengan mamamu," jawab Willam sengaja. Dia bukan laki-laki yang suka memuji sebentar, hanya saja jika dekat dengan Leo, dia suka menggodanya. Dia suka saat sahabatnya itu marah atau memakinya. Ya, dia suka Leo yang banyak bicara dari pada diam. Dulu, dia tidak pernah berhasil membuat Leo berbicara banyak, hanya Kiara saja yang bisa membuat Leo berbicara banyak hal.
"Neraka menunggumu, Willy," ujar Leo sadis. Sementara Mama tersenyum lebar itu.
"Terima kasih pujiannya dokter William," ucap Mama dengan senyum. William mengangguk dan membungkukkan badannya kembali. Kemudian, ia melihat seseorang yang berada di samping Mama.
"Hai, kau juga ada disini?" tanyanya menyapa Edellyn.
"Ya, aku sedang bermain dengan calon laki-laki paling tampan di masa depan," jawab Edellyn dengan melambaikan telapak tangan. "Baby pandai ayo ikuti kakak," bisik Edellyn. Baby Arai menoleh ke arahnya dulu sebelum ia dengan patuh mengikuti gerakan Edellyn untuk melambai ke arah William. Baby Arai melambai dengan kedua tangannya. William langsung meleleh melihat baby imut itu.
"Kau Leo kecil," ujarnya seraya ikut melambai. Kemudian dia mendekat dan menjabat tangan Baby Arai. "Hi Baby," sapanya. "Ayo ikut paman," ajaknya. Baby Arai menatap Willam dan memindai wajahnya.
"Jangan mau," bisik Edellyn.
"Hei, apa-apaan kau," William memprotes. Dia menawarkan kedua tangannya untuk menggendong Baby Arai. Namun kemudian dia mengingat sesuatu. "Umm paman punya hadiah untukmu," ujarnya. Dia lupa untuk membawanya. Hadiah itu masih ada di mobil. Hadiah yang ia beli saat perjalanan kesini tadi. Tak lama, William kembali dengan membawa hadiahnya.
"Tarraaaa ...." William memperlihatkan boneka sapi di tangannya. Boneka sapi yang bisa menyapa dengan suara lucu. Baby Arai berceloteh senang mendapat hadiah itu, dia mau menerima hadiahnya tapi masih enggan untuk digendong William. William merayunya berkali-kali tapi masih saja mendapat penolakan.
"Dokter William harus lebih berusaha lagi," ujar Yuna. "Dia memang tidak mau diajak orang yang baru pertama ia temui," jelas Yuna.
"Hmm, ok. Baby Boy, berarti kita harus bertemu lagi setelah ini. Pertemuan kedua nanti, kau harus ingat wajahku, okey," ucap William pada Baby Arai.
***@***
Langit gelap tanpa bintang malam ini. Rintik itu masih ada, sisa-sisa hujan yang baru saja reda. Leo dan keluarganya melangkah pasti keluar dari bandara.
"Baby ganteng ...." Neva langsung berseru begitu dia melihat rombongan kakaknya. Yuna melambaikan tangannya. Neva, Papa, dan Vano langsung menghampiri mereka.
"Sehat selalu, Lee. Pengobatan mu, berjalan dengan sangat baik," ujar Papa. Kemudian, Papa dan anak itu saling berpelukan. Pengobatan ini, memang berakhir dengan membahagiakan.
________
Catatan Penulis π₯°π
Jangan lupa like komen vote ya kawan tersayang π₯° padamu π₯°π
Yang punya poin, poin, poin, yuukk... Kuy, Vote ya. Terima kasih. Ilupyu.
Bersambung. Nantikan Up selanjutnya ya. π₯°ππ€