Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Bab 253_Rasa apakah ini?


Mereka berdua, Yuna dan Leo. Iya, mereka berdua sarapan dengan tenang, tentu saja. Tuan muda Leo tidak pernah berisik dalam sesi makan. Laku dan tuturnya sangat tertata dengan sopan, meskipun dia terkesan angkuh. Setiap gerakannya begitu menawan, bahkan cara mengunyah makanan saja begitu anggun.


"Sayang," panggil Yuna setelah mereka selesai sarapan dan Leo menyeka bibirnya.


"Hmm."


"Aku ingin membuat cake," ucap Yuna, kemudian dia segera menyambungnya sebelum proposal pengajuannya di tolak oleh Tuan suami, "Aku sangat rindu meracik sesuatu dan menjadikannya makanan lezat," ucapnya. Matanya menatap Leo dengan permohonan, rayuan yang pasti akan melemahkan Leo. "Sayang, ayo kita bikin cake bersama," lanjut Yuna dengan senyum.


"Ok," jawab Leo menyetujui. Dan dia langsung mendapatkan hadiah kecupan lembut pipinya.


"Kita beli bahannya dulu," ujar Yuna semangat. Leo mengangguk dengan senyum.


"Ok," jawab Leo dengan patuh. Yuna tersenyum lebar. Hmmm Tuan suami sedang dalam mode mudah untuk di rayu.


***@***


Siang hari di Ibu Kota.


Neva dan Mama baru saja selesai memasak bersama. Neva ingin membawakan masakannya ini untuk Vano sebagai makan siang. Menu yang ia pilih siang ini adalah salad kentang salmon.


"Ma, ini sungguh enak bukan?" Neva bertanya dengan cemas pada mamanya. Ini adalah masakan pertamanya untuk seseorang yang istimewa dihidupnya, tentu dia tidak ingin kesan pertama masakannya hancur.


"Enak," jawab Mama. "Percaya diri," lanjut Mama. Beliau mengusap pundak Neva pelan. Neva mengangguk lalu dia membersihkan dirinya dan menata menu makan siang itu dengan rapi. Kemudian, ia segera keluar dan memasuki mobilnya.


Perlahan mobilnya melaju meninggalkan rumahnya. Dia membayangkan reaksi Vano saat memakan masakannya. Bagaimana jika Vano tidak suka?


"Hmmm pak supir," Neva memanggil supirnya pelan.


"Iya, Nona," jawab supirnya dengan langsung melihat ke arah kaca spion.


"Saat bapak masih muda, apa pacar bapak pernah membawakan masakannya untuk bapak?" Tanya Neva masih dengan suara pelan. Dia sedikit malu saat menanyakan pertanyaan ini.


"Iya pernah Non," jawab pak supir. Kemudian, beliau menerawang jauh mengenang masa-masa mudanya.


"Jadi apa perasaan bapak waktu itu?" Tanya Neva penasaran.


"Sangat bahagia," jawab Pak supir. "Makan masakan dari orang yang spesial itu sangat lezat," lanjutnya.


"Bagaimana jika ternyata masakannya tidak sesuai dengan selera yang biasa dia makan?" Tanya Neva lagi.


"Laki-laki baik akan selalu menghargai wanita Nona, sekecil apapun itu," jawab pak supir.


Neva mengangguk, "Jadi, apa laki-laki akan tetap memakan masakan yang sebenarnya kurang enak?" Neva bertanya lagi. Dia masih saja merasa tidak percaya diri.


"Tidak ada makanan yang tidak enak Nona," jawab pak supir. Neva mengangguk lagi, ia memperhatikan kotak makan di pangkuannya.


"Semoga kau suka," gumamnya pelan.


Beberapa menit kemudian, mobilnya masuk dan berhenti di depan pintu utama kantor Vano. Neva menarik nafasnya panjang dan memberi semangat pada dirinya sendiri. Dia tidak memberi tahu Vano jika hari ini, dia akan datang.


Pelan, dia keluar dari mobil setelah pak supir membukakan pintu untuknya. Kemudian, dia melangkah masuk.


Dua resepsionis di meja depan langsung berdiri setelah tahu kedatangannya. Pacar Boss datang, batin mereka dua.


"Selamat siang, Nona," sapa resepsionis berponi dan seksi dengan kompak. Mereka berdua membungkukkan badannya.


"Siang," jawab Neva dengan senyum ramah. "Aku tidak ada janji dengan Direktur Vano, apakah beliau ada ditempat?" Tanya Neva dengan sopan.


Neva mengangguk, "Terima kasih," ucap Neva. "Izinkan saya menunggu beliau," ucap Neva dengan sopan. Kemudian, dia melihat ke arah tempat duduk di samping. Resepsionis seksi ingat, dulu dia pernah kena semprot bossnya karena membiarkan Yuna menunggu di luar.


"Mari saya antar ke ruang beliau, Nona," ujar resepsionis seksi.


"Terima kasih, tapi tidak perlu Kak," jawab Neva. "Saya akan menunggu beliau di situ saja," lanjut Neva dengan menunjuk bangku di samping meja resepsionis. Resepsionis dua itu saling memandang. Nona cantik ini adalah calon Nyonya muda Mahaeswara, mereka akan dipecat jika membiarkan Nona ini menunggu di luar. Batin dua resepsionis itu.


"Mari saya antar Nona ke ruangan Direktur saja. Tamu istimewa, seharusnya ada disana bukan menunggu di sini," ucap Resepsionis seksi dengan sangat ramah. Menjadi anugerah tersendiri jika dia bisa dekat dengan pacar bossnya. "Dan lagi, Direktur pasti akan sangat terkejut saat beliau tiba di ruangannya dan ada Nona didalam. Kejutan .... " lanjut Resepsionis seksi dengan semangat.


Lalu pada akhirnya Neva menyetujui untuk menunggu Vano diruang kerjanya.


Resepsionis seksi mengantar Neva kelantai dua puluh. Mereka berdua masuk ke dalam lift biasa, bukan lift khusus. Tentu saja, itu karena resepsionis tidak cukup berani untuk menggunakan lift itu meskipun saat ini yang ada bersamanya adalah pacar dari bossnya.


"Nona," panggil resepsionis seksi pelan.


"Ya," jawab Neva.


"Bukankah Nona adik dari Tuan muda Leo J?" Resepsionis seksi bertanya dengan nada pelan tetapi jelas.


Neva mengangguk, "Iya, benar," jawab Neva.


"Itu berarti, Nona adalah adik ipar dari Nona Yuna?" Tanya Resepsionis itu lagi. Pertanyaan ini membuat Neva tersentak tetapi dia mampu menutupinya. Resepsionis ini tahu kak Yuna? Batinnya.


"Iya, benar," jawab Neva rendah. Sesuatu tiba-tiba hadir di hatinya. Rasa apa ini? Begitu menusuk.


"Bagaimana keadaan Nona Yuna? Aku sangat merindukannya. Hmm lama sekali tidak berjumpa. Rasanya sangat rindu," ujar resepsionis seksi itu dengan senyum dan mengingat Yuna. Neva memperhatikannya.


'Bahkan resepsionis tahu kak Yuna, dan dia begitu merindukannya. Hubungan seperti apa yang Kak Yuna dan Kak Vano miliki?' Neva menarik nafasnya panjang.


"Kakak kenal Kak Yuna?" Neva balik bertanya. Resepsionis seksi itu mengangguk.


"Iya, tentu saja. Nona Yuna sering kesini," jawab Resepsionis seksi.


"Sering kesini?"


"Ya," jawab resepsionis itu.


Neva tersenyum tipis disudut bibirnya. Rasa itu semakin terasa menusuknya. Rasa apakah ini?


"Sepertinya, Kak Yuna dan Direktur memiliki hubungan yang sangat baik," ujar Neva dengan suara yang sedikit tercekat. Resepsionis itu mengangguk dengan cepat. Entah apa yang ia pikirkan saat ini.


"Iya, hubungan yang sangat baik. Saling memperhatikan dan begitu manis. Mereka berdua selalu bikin baper kita-kita, heheee," jawab resepsionis itu dengan senyum lebar. Namun, kemudian dia tersadar dan langsung menutup mulutnya dengan telapak tangannya. "Maaf, maafkan saya Nona. Saya tidak bermaksud .... "


"Tidak apa-apa," jawab Neva dengan senyum tipis.


'Mereka memiliki hubungan yang sangat manis. Hubungan seperti apa yang dimiliki oleh seorang yang telah menikah? Hubungan manis yang bagaimana yang dimiliki oleh seorang yang mencintai wanita yang telah menikah.'


___


Catatan Penulis ( Curhatan πŸ₯° )


Hallooo sahabat Sebenarnya Cinta 🌹 mohon terus dukung novel kesayangan ini Yach. Kasih sun jempolnya 😘 koment. Dan jika ada poin Vote juga Yach kawan. Terima kasih untuk semuanya SSC 🌹 Aku padamu.


Aku padamu Sahabat Sebenarnya Cinta 🌹 Sun jempol Jan lupa ya kawan. πŸ™πŸ₯°πŸ˜˜