Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
bab 15 ~mengasihi


Tapi sebelum ia pergi ke sekolah Airin menyempatkan untuk mengantar Reza ke Bandara dengan mobil yg berbeda.


Bandara Soekarno-Hatta Jakarta..


"kenapa Abang bawa mobil sendiri? asisten Han ga ikut?." Airin.


"ikut nanti mobil Abang dibawa sama bawahan sekretaris Abang, ini ninggal tunggu orangnya." ucap reza melihat jam tangannya.


"nahhh itu dia, sena ayo cepat." teriak Reza meneriaki sekretarisnya yg bingung melihat dimana keberadaan bosnya.


"Airin, Abang pergi dulu ya, jaga diri baik-baik, jaga kesehatan." ucap Reza mengelus rambut gadisnya.


"iya bang." isak Airin, sebenarnya ia ingin ikut sekali dengan suaminya, tapi apalah ia dilarang karena harus mengikuti pelajarannya.


"pak awasi dia, jangan sampai bolos sekolah." ucap Reza mengancam.


"baik tuan." sahut pak supir sembari tersenyum.


Airin melotot ke suaminya, sama saja dipermalukan didepan asisten, sekretaris, supirnya pula. semua pun tertawa.


Reza tertawa kecil ya menurutnya itu lucu.


"jangan nangis udah gede, tunggu Abang pulang." Reza mencium pucuk kepala Airin dan masuk ke area keberangkatan pesawat.


"Abaaaaang." teriak Airin sambil melambaikan tangannya. Reza membalasnya. dan ia pun berangkat.


"ayo pak kita ke sekolah." ucap Airin masuk ke mobil.


"baik nona." seru pak supir.


10 menit mereka sampai..


"pak nanti kalo pulang ga perlu dijemput." Airin yg hendak membuka pintu mobilnya.


"tidak nona, saya harus menjemput anda ini perintah tuan." pak supir.


"saya nanti bareng temen-temen jadi bapak tidak usah khawatir." jelas Airin.


"saya hanya menjalankan perintah tuan nona, anda tidak bisa membantah." ia bingung harus berucap apalagi ke majikannya yg super repot ini.


"terserah ah." ucap Airin lalu keluar.


Airin berjalan dengan kepala menunduk membuat sahabatnya heran kepadanya.


"aduhhh princess Airin kok mukanya ditekuk gitu, kenapaaa?." tanya Sabrina. belum sempat Airin menjawab eh malah ada si usrek dika.


"kangen aku kan ya kan? kan?." dika yg tiba-tiba nongol.


"udah deh dia itu lagi muram gitu masih aja diganggu." sewot Ririn.


"ya deh ya mangapppp." ucap dika menganga.


"maapppp kaleeeeekkkk." ucap Sabrina dan Ririn bersama. tapi tidak dengan Airin yg masih muram.


"kenapa kamu sedih sayang? aku kan belum siap lakuin itu, jangan sedih dong, kalo aku udah siap aku telepon kamu." kocaknya dika mulai deh..


ketiga gadis itu pun melotot kearahnya.


"Dasar Mesum." ucap ketiga gadis itu.


"otak lo udah diservis belum?." Ririn.


"amit-amit dahhh, kalo aku punya suami mesum kaya dia, malah jadinya bolong besar punyaku." ucap Sabrina sok shock.


"haduhhh pusing pala gue, kalian tuh gimana sih gue lagi ga show gini malah kalian asik ribut sendiri-sendiri." ucap Airin memegang kepalanya sok pusing gitu..


"ya deh ya maap, becanda aja kok ya kan Rin." ucap Sabrina menyenggol tangan Ririn.


Ririn hanya mengangkat bahu tanda tidak tau.


tring.... 3x


"yaudah gue masuk kelas dulu ya gadis-gadis ku nanti pangeran yg tampan ini jemput kalian di jam istirahat." senyum genit dika.


"ciiiiihhh." serempak ketiga gadis itu jijik.


"bel istirahat sudah berbunyi silahkan kalian keluar dulu." ucap pak bondan salah satu guru Airin.


"baik pak." serempak semua murid.


Di Meja Kantin..


"aduh kamu ini kenapa sih Airin dari tadi baksonya di tatap terus kapan makannya?." bingung Ririn.


"ah gue males, cabut dulu deh mau ke kamar mandi." ucap Airin beranjak.


"kenapa tuh anak?." Sabrina.


Ririn hanya mengangkat bahu tanda tidak tahu.


"woyyy tinggal cabut sini aja, eh mana bidadari Airin?." kedatangan Dika.


"tau tuh baksonya aja ditinggal." ucap Sabrina melanjutkan makannya.


"gue habisin deh mubazir kan." dika.


Di Kamar Mandi..


'kenapa gue kepikiran bang Reza terus sih, belakangan ini dia sering nyium kepala aku? apa artinya dia suka sama aku? tapiiii... kenapa ga jujur saja? ah bodo amat' ucap Airin dalam hati.


ia pun kembali ke kelasnya.


pulang sekolah.


akhirnya sampai di rumah, Airin langsung merebahkan dirinya tanpa mengganti seragamnya dengan baju santai. tak terasa ia tertidur.


Sore hari..


"nonaaa." bi sari memanggil sambil mengetuk pintu kamar majikannya.


"yaaaa bi." suara serak Airin.


"anda belum makan siang nona silahkan makan." ucap bi sari mengingatkan.


"ya bi.... saya mandi dulu." masih dengan suara serak.


"baik nona, saya siapkan makanannya dibawah." bi sari pun berlalu menyiapkan makanan untuk majikannya.


Airin membersihkan diri dan memakai baju santainya.


'males bed gue dahhh' jalan Airin gontai.


"bi lina, bi sari, bi rahmi." teriak Airin memanggil ketiga pembantunya.


"iya nona." serempak mereka.


"temenin Airin makan dong." mereka pun saling menatap.


"kenapa kalian saling tatap menatap? ayo sini!!!." seru Airin.


"tidak nona, kami tidak pantas memakan di meja besar ini." tolak bi lina.


"kenapa begitu kita sama manusia kan? udah ayo sini." ucap Airin sambil melambai.


mereka masih saja diam di tempat, Airin pun mendekat dan mendorong kecil ke tubuh pembantunya agar mau diajak makan di meja yg besar itu.


"tidak boleh ada yg menolak, ayo cepat kita makan, tidak perlu sungkan, kita satu rumah itu artinya kita keluarga." Airin tersenyum, dibalas mereka.


'sungguh mulia hati majikan saya, semoga ia dihindarkan dari mata jahat pesaing tuan Reza' ucap bi lina dalam hati yg merasa dekat dengan anaknya walau itu majikannya.


'kau berhati yg lembut dan mengasihi nona, semoga kalian langgeng dan terus mencintai' ucap bi sari salam hati.


'cantik, baik, manis dan tidak memandang orang dari penampilannya, walau kita pembantu masih saja menghargai, jika saya TKW mungkin saya sudah mati ditelan majikan yg laknat itu' ucap bi rahmi dalam hati.


mereka pun makan dengan tenang sesekali Airin menanyakan pribadi Reza maupun gerak geriknya setiap hari.


ingatt!! manusia punya derajat yg sama, jangan menghina orang yg rendah, karena roda masih berputar begitu dengan takdir yg mengasihi dengan kesedihan maupun kebahagiaan 🙏


selamat membaca🤗