
Siang hari di kantor Vano.
Arnis menunggu di sofa depan, dia memainkan ponselnya. Lima menit kemudian, Neva datang dengan membawa makan siang di tangannya. Ini adalah masakan Nyonya Mahaeswara, Nyonya ini semakin bersemangat. Neva memberi salam pada resepsionis dan kemudian di persilahkan duduk di sofa depan.
Neva sedikit, terpaku ketika melihat Arnis duduk disitu.
'Gadis yang ku lihat malam itu, sungguhkah mereka tidak pacaran? Bukan pacar, tidak berarti mereka tidak akan pacaran bukan?'
Neva duduk bersebrangan dengan Arnis.
Mengetahui, ada yang duduk di depannya, Arnis menghentikan kesibukan bersama ponselnya. Dia mengangkat wajahnya dan menatap Neva.
"Hai gadis kecil," sapanya ramah.
"Hallo Kakak," jawab Neva ramah. Dan dia tidak suka panggilan Arnis itu. Apa iya, dia mirip anak kecil? Kenapa harus ada kecil dibelakang panggilan pada dirinya?!
"Wajah mu tidak asing, sebentar...," Arnis menatapnya dan mencoba berfikir. "Oh, hai... kau adiknya Leo? Apa aku benar?" Arnis dengan gembira menunjuk Neva. Neva mengangguk.
"Hallo... aku Arnis," Arnis mengulurkan tangannya.
"Neva, Kakak..." Neva menyambut uluran tangannya. Dan mereka mengobrol selayaknya teman yang sudah lama kenal. Pembawaan Arnis yang ramah dan cepat akrab membuat Neva tidak canggung lagi dengannya, namun dalam hati, dia menjadi ciut. Betapa Arnis sangat luar biasa dimatanya, dia pasti jadi sosok yang bisa membuat siapapun nyaman ada di sampingnya.
Mereka berdua tak luput dari bidikkan kamera resepsionis Kepo. "Mana yang kalian pilih?" tulisnya melengkapi unggahannya pada grup kepo.
"Hei, aku tahu gadis kecil itu. Dia adalah adik dari Tuan muda Leo J dan itu berarti dia adalah adik ipar dari Nona Yuna kesayangan," seseorang memberikan komentar ini. Dan komentarnya langsung mendapat balasan dari hampir semuanya penghuni grup.
"Apa Boss kita punya hubungan dengannya?"
"Dia yang sering di ajak Nyonya besar," resepsionis memberikan informasi.
"Aku kurang setuju dengan adik Tuan muda Leo J. Aku ingin Boss move on,"
"Aku suka yang tomboi, dia unik."
"Hubungan macam apa ini?"
"Sesuatu yang rumit kembali terjadi."
"Apa kita harus turun tangan lagi."
"Huss, jangan ikut campur atau kalian berakhir. Kita cukup menyemangati boss kita."
"Siaappp."
Neva memegang kotak makan yang ada di atas meja.
"Kak Arnis. Ini titipan dari Nyonya Mahaeswara untuk Tuan muda Vano. Aku... kebetulan ada perlu mendadak dan tidak bisa menunggu lama disini, aku titip ini untuk Tuan muda Vano ya Kak," ucap Neva sopan. Ibarat sebuah lagu... dia mundur alon-alon. Arnis mungkin orang yang sedang dekat dengan Vano, jadi kehadirannya disini saat ini mungkin tidak tepat.
"Oh, okey. Nanti aku sampaikan," jawab Arnis tak keberatan. "Hati-hati gadis kecil," ucapnya setelah Neva pamit. Neva melangkah keluar dan tersenyum tipis namun terasa pahit.
"Dia sungguh tinggi untuk ku gapai. Kak Yuna... betapa kuatnya diri mu hingga kau berhasil mengambil hati Kak Lee. Baru begini saja... rasanya aku sudah menyerah."
***@***
Tujuan yang terakhir adalah... Candi Prambanan. Kisah cinta yang melegenda dari tanah Nusantara, Indonesia. Tentang seribu candi, persembahan dan bukti cinta dari Bandung Bondowoso pada wanita yang dia cintai Roro Jonggrang.
Setelah mengambil beberapa foto, mereka duduk di taman.
"Yuna."
"Hmm."
"Jika Roro Jonggrang meminta seribu candi pada Bandung Bondowoso. Apa yang kau minta dari ku?"
"Dirimu dan hati mu," jawabnya cepat dan menoleh untuk menatap suaminya. Leo membalas tatapannya.
"Hmm? Kenapa?"
"Roro Jonggrang meminta seribu candi tapi tidak memiliki cinta dalam hatinya untuk Bandung Bondowoso. Ketika, Bandung Bondowoso hampir sempurna menyelesaikan seribu candi permintaan Roro Jonggrang, pada akhirnya dia tetap tidak bisa memiliki hati dan bahkan cinta dari Roro Jonggrang. Seribu candi hanya tak-tik Roro Jonggrang untuk menolak cinta Bandung Bondowoso. Itu bukan kisah cinta yang indah bukan?" Leo mengangguk. "Jadi... aku tidak apa-apa selain hati dan diri mu hanya untuk ku. Aku bahkan tidak butuh dunia seisinya jika kau telah memberikan cinta dan dirimu pada ku," Yuna berucap dengan terus menatap kedalam matanya, menghipnotis Leo dan menjerat hatinya.
Sekarang, wajah Leo yang memerah, bibirnya melengkung dengan indah.
"Sejak kapan kau berubah menjadi Nyonya puitis?" tanyanya.
"Sejak... aku jatuh cinta pada mu," jawab Yuna.
"Puftthh..." dan Leo langsung mencubit pipinya.
"Kau tidak kreatif Nyonya, kau mengikuti jawaban ku."
"Biarin, weekk," jawab Yuna dengan menjulurkan lidahnya.
"Jangan menjulurkan lidah mu, itu membuat ku tidak tahan untuk mengigit mu," Leo berbisik di telinga Yuna. Dan Yuna langsung menyikut perutnya.
__Malam hari, setelah mereka makan malam romantis, mereka menyusuri jalanan dengan berjalan kaki. Leo memeluk pinggangnya, dia takut Yuna merasa dingin. Tapi kemudian, Yuna berhenti dari langkahnya.
"Kenapa? Apa kau lelah? Kita bisa memesan taksi."
"Aku... ingin kau menggendong ku dipunggung mu."
Leo tersenyum mendengar permintaannya, tangannya terangkat dan mengusap rambut Yuna dengan penuh cinta, dia mendekat dan mencium keningnya.
"Naiklah," ucapnya setelah jongkok di depan Yuna. Dengan senyum bahagia, Yuna segera melingkarkan tangannya di leher Leo. Leo menggendong Yuna di punggungnya.
"Sayang, apa aku berat?"
"Sangat," jawab Leo menahan senyumnya dan Yuna langsung memukul punggungnya.
"Kau adalah laki-laki yang paling bodoh untuk hal-hal seperti ini, menyebalkan," Yuna menggerutu. "Biarlah aku berat dan aku akan membuat punggung mu bengkok karena menggendong ku."
"Tidak akan. Aku cukup kuat untuk terus menggendong mu bahkan jika di tambah dengan sepuluh anak kita."
"Berapa?"
"Sepuluh."
"Hahaa, ide bagus. Kau pasti akan menjadi pelatih yang hebat untuk tim kesebelasan kita."
"Hemm... tentu," Yuna menyandarkan kepalanya di pundak Leo. "Sayang..." suaranya berubah menjadi serius.
"Iya."
"Apa kau kecewa pada ku?"
"Aku tidak suka kau menanyakan itu. Mari saling mendukung dan berusaha. Tuhan sudah mengatur semuanya, kita hanya butuh bersabar sebentar," Leo berucap dengan penuh kasih. Dia tidak ingin Yuna merasa bersalah, dia tidak ingin istrinya merasa sedih dan cemas sedikitpun, Yuna harus selalu bahagia. "Sayang... mari nikmati kebersamaan kita tanpa memikirkan apapun."
"Hu'um," Yuna mengangguk. Leo membuat hatinya tenang. "Sayang, aku mencintai mu."
"Beri aku ciuman," jawab Leo menyodorkan pipinya. Tapi Yuna tidak mencium pipinya tetapi mencium leher Leo dengan sedikit menggigitnya, itu langsung memberi sinyal pada tubuh Leo.
"Nyonya, kau menggoda ku," ucapnya dan membawa Yuna berlari dengan tawa. Yuna memeluknya dengan erat.
Tuhan... terima kasih untuk anugrah yang indah ini, terima kasih telah menghadirkan dia dalam hidup ku.
Mereka saling mengagumi satu sama lain. Kisah awal yang tidak begitu manis menghadirkan cinta yang begitu dalam, menjadikan rasa cinta mengikat dan bahkan mengakar kuat di hati.
Sesampainya di hotel. Leo segera menutup pintu, dia mengangkat kedua tangan Yuna keatas dan mencium bibirnya. Tapi itu hanya sebentar karena Yuna menghindar.
"Kenapa?"
"Ummm, aku ingin coklat," jawabnya. Leo menaikkan alisnya.
"Coklat?" tanyanya memastikan. Yuna mengangguk dan menatapnya. Leo tidak menghiraukannya dan dia mencium bibir Yuna lagi.
"Ummm, aku tidak mau memberi mu ciuman sebelum kau memberi ku coklat."
"Astaga... ini tengah malam sayang. Kenapa kau ingin coklat? Atau... ini hanya trik mu untuk kabur setelah menggoda ku? Hmm?"
"Aku hanya ingin coklat, apa itu salah?" Yuna mengerucutkan bibirnya. Dia menatap Leo dengan kesal.
"Okey, aku akan membelinya," Leo menurut dan melepaskan kedua tangan Yuna.
"Tidak perlu. Sepertinya kau keberatan membelikan ku coklat."
"Kapan aku bilang keberatan?"
"Kau tidak langsung menjawab iya, itu berarti kau keberatan," Yuna berkata dengan kesal dan mendorong Leo. Dia berjalan masuk ke dalam dan duduk di sofa.
Leo membuntutinya dan duduk di sampingnya.
"Kau mau berapa coklat?" tanyanya perhatian.
"Aku bilang tidak perlu. Kau tidak perlu membelinya."
"Oh, okey," jawab Leo dan menyalakan Tv, namun Yuna segera merebut remote di tangannya.
"Leo... kau benar-benar keterlaluan," Yuna menatapnya dengan kesal. "Kenapa kau malah menonton Tv dan tidak segera membelikan ku coklat."
Leo menarik nafasnya dan menoleh kearah Yuna. "Aku sudah menawari mu tapi kau menolaknya."
"Kau tidak berniat membelikan ku."
"Kapan aku tidak berniat membelikan mu? Aku sudah menawari mu dan kau menolak, kau bilang tidak perlu."
"Okey, tidak perlu kau belikan. Sekarang atau besok, atau kapanpun. Kau tidak perlu membelikan ku apapun, dan juga... jangan perduli pada ku," ucap Yuna dengan sangat kesal. Dia segera berdiri dari sofa dan berbalik untuk menuju ranjang, tapi Leo segera memeluknya dari belakang.
"Sayang, kau mau coklat berapa? Apa dua puluh cukup?" Leo berucap pelan dan penuh kasih sayang, dia mencium rambut istrinya. "Kenapa hanya karena coklat saja membuat mu uring-uringan? Apa tamu mu akan segera datang? Berarti... malam ini kita harus melakukannya, sebelum aku menjadi gila karena harus menunggu satu minggu."
"Kau hanya tinggal keluar dan membelikan ku coklat. Kenapa harus berdebat dulu, itu membuat ku sangat kesal," Yuna merajuk.
"Okey, aku salah. Kau mau coklat berapa? Apa kau juga ingin kripik kentang?" tanyanya lembut. Yuna mengangguk dengan manja seperti anak kecil yang imut. "Baik, Nyonya tunggu ya," Leo melepaskan pelukannya. Kemudian, melangkah dan membuka pintu.
"Leo..." Yuna menghentikannya.
"Iya," jawab Leo dan membalik badannya.
"Ganti baju mu, kau terlalu tampan," ucap Yuna.
Leo menarik nafasnya. Kenapa baju saja menjadi masalah? Batinnya. "Baju mana yang harus ku pakai?" dia menurut saja, daripada Nyonya muda mengomel lagi.
Yuna melangkah mendekatinya. Memakaikannya jaket, memakaikannya masker dan bahkan menutup kepala Leo dengan Hoodie. Leo menahan tawanya dengan ini.
"Nyonya, di atas meja ada kaca mataku. Pakaikan untuk ku," ucapnya.
"Sangat bagus," Yuna menyetujui. Dia dengan cepat mengambil kaca mata itu dan memakaikannya untuk Leo.
Leo membungkuk menyamai tinggi Yuna. "Apa kau tidak ingin orang lain melihat ku?" tanyanya.
"Tentu saja, apa kau pikir cuma kau saja yang boleh cemburu? Aku tidak suka orang lain menatap wajah tampan mu."
Leo segera mencubit pipinya. "Setelah ini, aku akan memakan mu," ucapnya dan kemudian berbalik keluar untuk membeli coklat permintaan Nyonya.
Tiga puluh menit kemudian, dia kembali dengan membawa coklat pesanan Yuna. Dia berjalan menuju sofa dan memeluk istrinya dari belakang sofa.
"Ummuachh..." dia mencium pipi Yuna. Dan segera berpindah untuk duduk di sebelah Yuna. "Pesanan Nyonya dataaang...," ucapnya memamerkan apa yang dia bawa. Dia tidak tahu coklat seperti apa yang Yuna inginkan, jadi... dia membeli segala jenis coklat. Dia membeli dua tiap masing-masing merk coklat dan jenis coklat.
"Satu saja cukup, kenapa kau membelinya berlebihan?" Yuna menatapnya tajam setelah membongkar bungkusan yang Leo bawa.
'Salah lagi' dia menahan tawanya. Dia menatap Yuna dan dengan imut bilang. "Maaf." dia tahu jika dia menjawab panjang, maka Nyonya akan kesal lagi.
Okey, kata maaf singkatnya cukup membuat Yuna diam dan memakan bola-bola coklatnya. Leo menaruh tangannya di dagu dan memperhatikan Yuna yang begitu menikmati coklat di mulutnya.
"Apa?" tanyanya mengetahui Leo memperhatikan dirinya.
"Tidak ada, makanlah," jawabnya dengan senyum. Namun sedetik kemudian, dia menyerbu untuk mengambil coklat dari mulut Yuna, menjilatnya hingga tak tersisa.
Gadis... kau lebih dari sepotong coklat, begitu menawan dan nikmat. Ciuman gilanya membuat Yuna melupakan coklatnya. Dia lebih menyukai bibir lembut suaminya dari pada coklat. Dan mereka berdua kembali menggila malam ini.