Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Bab 310_Bola-bola Coklat


Neva membuka cemilan yang ia bawa, sementara Vano membuka minuman kaleng.


Neva mengambil satu keripik lalu memberikannya pada Vano, kemudian menyuap untuk dirinya sendiri. Mereka berdua saling bercerita, menikmati malam berbintang dengan canda. Terkadang jemari itu menyentuh pipinya, saling bertukar senyum penuh cinta.


Vano melihat jam ditangannya. Pukul 22.30


"Sudah malam," ujarnya. Neva mengangguk lalu mengambil minuman kaleng dan menyesapnya.


"Rasanya waktu berputar dengan sangat cepat," ujarnya. Dia membersihkan tangannya menggunakan tissue.


Tangan Vano mengusap pipi Neva lagi, "Besok kita bertemu lagi. Aku akan menjemputmu," ujar Vano.


Neva mengangguk, tangannya terangkat dan diletakkan di atas panggung tangan Vano yang ada di pipinya. "Baik. Pagi-pagi ya," kata Neva. Dia menawar. Jika bertemu pada malam hari maka kebersamaan mereka hanya sebentar, begitu pikiranya.


"Siap Nona, kau mau ku jemput jam berapa?"


"Bagaimana jika kita bersepeda pagi?" usul Neva. Besok adalah hari libur jadi sepertinya bersepeda sangat cocok untuk menghabiskan pagi bersama.


"Ok," jawab Vano. Vano menarik tangannya lalu dia memakaikan hoodie pada Neva. "Hadiah yang kau janjikan belum ku terima," Vano tersenyum saat mengucapkan itu. Neva terkekeh.


"Hmmm tenang saja, aku tidak akan ingkar janji," kata Neva. Kemudian dia berdiri, lalu menempatkan dirinya tepat didepan Vano. Vano masih duduk, dia menggenggam kedua tangan Neva. Wajahnya mendongak untuk menatap gadis cantiknya. Angin malam dengan malu-malu menggoda mereka berdua, menyusupkan rasa dinginnya pada dua insan ini, membuat kedua tangan itu semakin menggenggam dengan erat.


Neva membungkuk, lalu dengan jantung yang berdebar dia membuat kecupan manis di pipi kanan Vano, sebagai hadiah tantangan yang Vano menangkan.


Vano ingin menangkapnya, membuat Neva hangat dalam pelukannya tetapi tidak, dia tidak melakukan itu, dia menahan untuk memeluk gadis ini.


"Sudah," ucap Neva. Dia hanya membuat satu kecupan di pipi Vano.


"Yang ini belum," Vano menyodorkan pipi sebelah kirinya. Jari telunjuknya menunjuk pipinya sendiri dengan manja.


Neva terkekeh. Dia lalu mengambil nafasnya panjang dan berteriak, "Aku malas mandi dan aku sangat bau."


Vano tertawa melihat kecurangan Neva padanya.


"Kau curang," protesnya. Dia segera berdiri dan langsung mencium pipi Neva dengan dalam. Tangannya memegang kepala Neva, hingga membuat gadis itu tidak bisa bergerak. "Muach. Aku mengambil hadiahku sendiri," kata Vano dengan kemenangan.


"Kau," Neva memelototinya. Vano terkekeh.


"Mau ku antar pulang ke rumah atau kembali kerumah Kak Lee?" tanya Vano. Tangan mereka kembali bersatu.


"Sebentar aku telfon mama dulu," jawab Neva. Dia kemudian membuat panggilan pada mamanya. Setelah bertukar beberapa kata, Neva mengakhiri panggilannya. "Ke rumah Kak Lee," kata Neva.


Kemudian, mereka berdua kembali ke rumah Leo. Namun sebelum itu mereka berhenti di sebuah toko. Membeli beberapa buah tangan.


"Apa ini cukup?" tanya Vano. "Jika kurang, ada satu toko lagi didekat sini," lanjutnya.


"Cukup, ini sudah cukup. Kak Lee dan Papa tidak suka cemilan ringan, mereka lebih suka buah. Dan ini sudah cukup," jelas Neva. Vano membeli dua tentengan. Satu berisi buah dan satu lagi berisi cemilan.


Kemudian, Vano membawa mobilnya ke rumah Leo.


Sesampainya di sana. Vano membawa dua tentengan itu.


"Papa pasti senang bertemu denganmu," ucap Neva sebelum tangannya membuka pintu. Vano mengangguk dengan senyum. Kemudian mereka berdua masuk ke dalam rumah.


"Selamat malam," Vano memberi salam dengan hormat pada semuanya. Semua anggota keluarga ada di ruang tengah, kecuali Baby Arai yang ada di kamarnya.


"Malam," jawab Papa dengan ramah mewakili semuanya.


Neva dan Vano duduk berdampingan. Dia membuka buah tangan yang mereka beli.


Yuna beranjak, dia berniat untuk mengambil pisau setelah dia memperhatikan ada apel dan pear.


"Sini," Yuna meminta buah itu dari Neva. "Biar ku cuci dulu lalu memotongnya," lanjutnya yang membuat Leo langsung menoleh ke arahnya.


"Yuna," panggil Leo singkat. Yuna menoleh dan membalas tatapan Leo. Kemudian dia mengambil buah yang sudah Neva siapkan.


"Sini, biar Mama saja," sahut Mama. Beliau mengambil buah itu lalu beranjak ke dapur.


"Sudah saatnya kau membiarkan Bi Sri tetap tinggal di sini tanpa menyuruhnya bolak-balik," ujar Papa. "Rumah ini sangat luas, jika kau tidak nyaman. Bi Sri bisa tinggal di rumah samping," lanjut Papa.


"Aku akan memikirkannya," jawab Leo. Kemudian, mereka bertiga, Papa, Leo dan Vano mengobrol tentang bisnis. Sementara Neva membuka tentengan yang satu lagi. Beberapa keripik kentang, keripik buah, pop corn dan coklat.


"Waahhh, kau tahu saja apa yang kusuka, Neva," ujar Yuna setelah melihat bola-bola coklat yang baru saja Neva letakkan di atas meja. Neva termangu beberapa saat setelah mendengar ucapan Yuna. Bukan dia yang memilih ini. Hatinya berdesir, ngilu. Vano yang memilih coklat ini, batinnya. Dia menatap Yuna dengan dalam lalu menunduk. Ada sesuatu yang sakit dalam hatinya.


Yuna menarik senyum dibibirnya. Dia menyadari tatapan Neva yang berubah padanya.


"Hahaa apa kau hanya kebetulan saja?" Yuna melanjutkan dengan nada yang ceria. Dia menyembunyikan rasa ketidakenakannya pada Neva.


Neva tersenyum tipis. Kebetulan saja? Hmm mungkin iya hanya suatu kebetulan Vano mengambil coklat itu. Tapi bagaimana jika ternyata Vano sengaja memilihnya?


"Hahaa iya hanya kebetulan," jawab Neva dengan tawa yang ia paksakan. Dia membuka keripik dan mencari kesibukan agar dia tidak memiliki prasangka buruk terhadap Vano.


"Ini ...." Neva mendorong tiga kotak bola-bola coklat diatas meja kearah Yuna. "Ini untuk Kak Yuna semua," ucapnya datar.


Yuna tersenyum samar, dia tau Neva sedang tidak nyaman dengannya. "Terima kasih banyak Neva ...." jawab Yuna dengan nada yang biasa meskipun menyimpan lara. Sampai kapan dia berhenti dicurigai? Tidak bisakah masa lalu itu benar-benar terkubur? Yuna menarik mundur dirinya, dia memeluk Leo.


Leo membalas pelukan Yuna, meskipun dia masih bertukar pikiran dengan Papa dan Vano. Yuna menjadi diam dan tidak melakukan apa-apa selain memeluk Leo.


"Kenapa?" Leo bertanya pada Yuna saat Papa berbicara dengan Vano. Dia mencium rambut Yuna.


"Hmm? Tidak," Yuna menggeleng. Leo memperhatikan cemilan diatas meja.


"Ada bola-bola coklat. Biar ku buka satu untuk mu," ucap Leo setelah dia melihat ada bola-bola coklat kesukaan Yuna diatas meja. Yuna segera menggeleng. "Kau ngantuk?" tanya Leo dengan perhatian. Yuna menggangguk berbohong.


Mama datang dengan potongan buah ditangannya. Beliau meletakkannya di atas meja.


Tapi tak lama Leo pamit pada semuanya untuk lebih dulu keatas.


Yuna kemudian pamit pada semuanya.


"Kenapa tidak bilang dari awal jika kau ngantuk?" kata Leo saat mereka berjalan menuju kamar. Yuna diam tidak menjawabnya. Dia hanya pura-pura ngantuk sebenarnya. Dia tidak nyaman dengan pandangan Neva padanya tadi.


Tangan Leo pelan membuka pintu kamarnya lalu menutupnya kembali. Dia langsung menarik Yuna, memegang tengkuknya dan mencium bibirnya. Menciumnya dengan dalam dan penuh tuntutan. Yuna membalasnya, dia memeluk pinggang Leo dengan erat.


"Besok kita ke kastil," ujar Leo setelah menyudahi ciumannya. Yuna mengangguk. Mata tajam Leo menatap Yuna. "Aku akan menyembunyikanmu dari dunia," lanjut Leo lagi. Dia menunduk dan menempelkan bibirnya di telinga Yuna, "Lalu menikmatimu semauku," bisikan mesum yang membuat wajah Yuna memerah.


Kemudian Leo membawa Yuna ketempat tidur. "Tidurlah, tidak enak jika meninggalkan mereka terlalu lama," ujar Leo.


"Hu'um, kembalilah kebawah," jawab Yuna. Dia mematuk bibir Leo sekali lagi.


Kemudian, Leo kembali bergabung di ruang tengah.


Mereka baru selesai berbincang saat pukul menunjuk 01.15. Mama bahkan sudah terlelap di kamarnya. Sementara Neva masih duduk di samping Vano, sesekali dia memberi suapan buah pada Vano. Dia mencoba menghalau segala macam pikiran buruknya, dia tidak ingin memiliki pemikiran itu. Mungkin saja benar apa yang dikatakan Yuna, jika itu hanya kebetulan.


Kemudian, tak lama Vano pamit. Neva mengantarnya ke luar.


"Hati-hati, sayang," ucap Neva saat Vano sudah berdiri di samping mobilnya.


"Sampai ketemu besok pagi," jawab Vano. "Buruan tidur, besok bangun pagi-pagi, okey."


Neva mengangguk.


_______


Catatan Penulis πŸ₯°


Hallo sahabat Sebenarnya Cinta πŸ’– Kesayangan othor... Yang belum ngasih rate mohon kesediaannya ngasiiihhh Rate bintang lima ya. πŸ₯°πŸ™ Terima kasih. Aku padamu. Luv luv πŸ₯°


Jangan lupa like komen ya kawan tersayang πŸ₯° Aku tidak punya apa2 selain ucapan terima kasih,πŸ₯°πŸ™ Terima kasih sangat untuk temen-temen yang masih begitu sabar dan setia menunggu kisah ini.