
"Pakai baju mu," ujar Yuna. Tangannya mengusap bahu Leo.
"Nanti," jawab Leo. Dia berhenti menggoda anaknya. Kemudian menggeser duduknya, ia meletakkan kepalanya di paha Yuna.
"Daddy nya nggak mau kalah," Yuna menggeser Baby Arai. Agar Leo lebih leluasa tidur di paha kanannya.
"Tentu saja," jawab Leo. Dia menepuk-nepuk pantat anaknya dengan gemas. "Jadilah anak yang paling bahagia," gumamnya sambil terus menepuk pantat anaknya.
"Pasti Daddy," Yuna yang menjawabnya. Leo tersenyum, dia mengangkat tangan kanannya dan meletakkannya di bibir Yuna. Mengusap bibir itu dengan lembut.
"Sayang, aku ingin ini," Leo berucap dengan manja. Suaranya merayu seperti anak kecil yang ingin permen. Sudut bibir Yuna terangkat. Kemudian, dia mengecup jari Leo yang ada di bibirnya. Leo menyukai kecupan itu. Jarinya terus saja bermain di sana. "Kapan kau bersih?" tanyanya.
"Tadi siang," Yuna menyudahi asi nya pada Baby Arai. Tangannya dengan telaten menyeka bibir Baby Arai agar tidak iritasi karena air susu.
Leo mengangkat kepalanya dari paha Yuna. Dia berdiri dan mengambil baju baru.
"Si ganteng," Yuna mencium anaknya dan kembali memakaikan bedak tipis di pipi baby Arai.
"Sini," Leo meminta Baby Arai dari Yuna setelah ia mengenakan baju. Dia mengambil Baby Arai dari pangkuan Yuna. "Muach, istirahatlah sayang," ucapnya setelah mencium bibir Yuna singkat. Yuna mengangguk dan mengusap pipi Leo.
Kemudian, Leo beralih ke Baby Arai.
"Hmm, hmm anak pintar, kau mengacaukan acara Daddy mu?" Leo mencium pipi anaknya dengan gemas. Menciumnya berkali-kali. Tangan mungil Baby Arai bergerak-gerak dan mengenai pipi Leo.
Leo meletakkan baby Arai di box bayi lalu mengganti popoknya. Dia sudah tahu caranya agar dia tidak terkena air mancur hangat lagi. Setelah selesai mengganti popok, dia kembali menggendong anaknya. Menempelkannya di dada dan mengusap punggung anaknya dengan lembut. Tak lama, mata indah milik baby Arai kembali terpejam.
Leo masih terus mendekapnya. Mengusap punggung nya. Dan sesekali ia menunduk untuk mencium kepala anaknya. Hatinya terasa sangat hangat. Dia bahagia. Memiliki Yuna dan malaikat kecilnya. Si kecil pengikat kuat cinta mereka. Dua makhluk ini seolah simbol keindahan dunia dalam hidupnya.
Setelah dirasa cukup nyenyak. Leo kembali menidurkan Baby Arai di dalam box bayi. Dia melakukannya dengan sangat hati-hati.
"Selamat tidur sayang," bisiknya dan meninggalkan ciuman di kening anaknya. Kemudian, dia duduk di ranjang.
Yuna sudah tidur saat ini. Leo memperhatikannya, mengusap pipi Yuna lalu mencium keningnya.
"Selamat tidur sayang," ucapnya. Dia menarik selimut yang masih tertata rapi di ranjang lalu menyelimuti Yuna. Dia juga ikut dalam satu selimut. Tangannya memeluk Yuna lalu ikut memejamkan matanya.
Pagi hari, saat Yuna terbangun sudah tidak ada Leo disampingnya. Dia segera ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Baby Arai masih terlelap. Yuna keluar kamar dan turun ke bawah. Dia menuju dapur.
"Selamat pagi Nyonya muda," sapa Bi Sri sopan.
"Selamat pagi Bi," jawab Yuna dengan senyum. "Umm, biar saya yang menyiapkan sarapan pagi ini," ucap Yuna.
"Tapi Tuan muda bilang, Nyonya tidak boleh ke dapur dan tidak boleh memegang pisau," Bi Sri keberatan dengan ide Nyonya muda nya. Dia selalu mengingat pesan Leo.
"Tidak apa-apa Bi. Aku akan hati-hati," jawab Yuna.
"Tapi ...." Bi Sri masih keberatan dengan ide Yuna. Tuan muda pasti akan marah besar jika Nyonya muda kena pisau, batin Bi Sri. "Biar saya yang menyiapkan semuanya Nyonya muda," Bi Sri masih keukeh untuk tidak membiarkan Yuna memasak sendiri.
Yuna mencoba menjelaskan pada Bi Sri untuk tidak melarangnya, dia juga berjanji akan hati-hati, dia bahkan menceritakan jika semalam dia sudah masak tetapi Bi Sri tidak berani untuk bilang iya pada Yuna. Sebelum Big Boss meng Acc ide Yuna maka Bi Sri akan tetep melarangnya.
Bi Sri tahu, jika terjadi sesuatu maka dia yang akan kena marah. Jadi, untuk lebih amannya menolak permintaan Yuna adalah keputusan yang terbaik.
Yuna mengangguk dengan kecewa. Dia kembali menaiki tangga dan menuju ruang belajar. Tangannya mengetuk pelan. Dia mengambil nafasnya dalam dan menyimpan rayuan. Pelan, tangannya membuka pintu ruang belajar. Ada Leo di sana tengah berdiri membaca buku.
Yuna masuk ke dalam dan Leo langsung menyambutnya dengan senyum. Dia menutup buku ditangannya.
Yuna dengan manja langsung menghamburkan dirinya dalam pelukan Leo.
"Kau sudah rapi," komentarnya. "Apa kau harus berangkat pagi hari ini?"
"Apa kau juga akan pulang terlambat?"
"Hmm belum pasti. Tapi akan ku usahakan untuk pulang secepatnya," Leo mengusap punggung Yuna lalu turun kebawah. Yuna memakai dres atas lutut. Kaki jenjangnya sangat menawan.
"Sayang," panggil Yuna dengan manja.
"Hmmm."
"Apa aku boleh meminta sesuatu?"
"Tidak," jawab Leo cepat. Yuna langsung mendongak dan menatap Leo dengan cemberut.
"Kenapa kau langsung menjawab tidak? Aku bahkan belum memberitahu mu apa sesuatu yang ku inginkan," ujar Yuna kesal. Tangan Leo semakin erat memeluknya. Dia tahu, jika Yuna kesal maka dia tidak akan mendapatkan pelukan. Wanita ini pasti akan menjauhkan dirinya.
"Kau pasti mau melanggar salah satu apa yang ku larang bukan?" jawab Leo dan sangat tepat. Yuna semakin mengerucutkan bibirnya. Dia memukul dada Leo. Tapi lalu dia kembali melingkarkan tangannya di pinggang Leo. Wajahnya masih mendongak untuk menatap Leo.
"Tuan suami," panggilannya menggoda. "Izinkan ak ...." belum sempat Yuna menyelesaikan kalimatnya, Leo sudah mengunci bibirnya. Yuna terdiam karena bibir yang ditutup oleh bibir Leo. Kaki Yuna menginjak pelan kaki Leo untuk membuatnya lebih tinggi. Tangan Leo dengan halus menarik resleting bagian belakang baju Yuna. Dia membuat kecupan pada kulit halus istrinya. Ketika dres itu perlahan terjatuh di lantai, saat itu juga nafas Leo berkarat. Bibirnya membuat tanda pada leher jenjang Yuna. Dan hanya cukup sampai di situ. Dering telepon membuat keduanya berhenti.
Panggilan masuk dari Papa. Leo tidak segera menjawabnya, dia kembali menunduk dan membuat kecupan manis di dada Yuna.
"Umm sayang, Papa telfon. Kau juga harus segera berangkat ke kantor bukan?" Yuna menahan tubuh Leo. "Umm setelah pulang nanti, aku akan cantik untuk mu," ucap Yuna melanjutkan. Leo enggan melepaskan Yuna sebenarnya. Dia sudah puasa sangat lama, kenapa masih saja tidak bisa. Namun pada akhirnya, dia melepaskan Yuna. Lalu mengangkat panggilan papa.
"Ya Pa," suara Leo kesal dan masih mengatur nafasnya. Papa tertawa terbahak-bahak di seberang sana.
Papa penganggu. Batin Leo kesal.
"Hai anak muda, sepertinya Papa mengacaukan pagi mu," ujar papa dengan tawa. Papa bisa mendengar dan mendeteksi suara Leo yang masih sedikit tergesa.
"Ya Papa mengacaukan segalanya," Leo menjawab dengan masam. Yuna mengambil blazer milik Leo yang ada di kursi kerja lalu memakai, tanpa menimbulkan suara Yuna mencium pipi Leo.
"Aku ganti baju dulu," ujar Yuna tanpa mengeluarkan suara hanya gerakan bibir. Leo mengangguk. Kemudian, dia berbincang beberapa hal pada papanya. Banyak yang harus dia kerjakan hari ini. Dia bahkan harus ke markas besar.
________
Di jalanan padat Ibu Kota. Vano mengendarai mobilnya. Di sampingnya ada Neva yang deg-degan karena saat pagi ini adalah pagi pertama dia kembali kuliah. Vano mengantarnya.
"Aku berharap tidak ada cowok ganteng di kampus mu," ujar Vano. Dia menoleh ke arah Neva sebentar. Wajahnya masam.
Neva terkekeh. "Kenapa? Kau takut aku tergoda?"
"Ya," jawab Vano jujur.
"Tidak akan ada yang lebih tampan dari mu," puji Neva. Sudut bibir Vano berkedut menahan senyum. Dia menebak jika gadis ini pasti akan menggombalinya. "Banyak sekali huruf dalam abjad tapi aku hanya suka empat huruf. V, A, N, O. Vano, aku hanya suka Vano, sukaaaa sekali," lanjut Neva dengan senyum sumringah. "Tidak ada yang lain," lanjutnya.
Kini Vano yang terkekeh. Tangan kanannya melepas setir dan mengusap rambut Neva dengan perhatian.
"Apa kau puas dengan jawaban ku?" Neva bertanya dengan mendekat dirinya kearah Vano.
Vano mengangguk, "Ya," jawabnya. "Semoga teman kampus lelaki mu kakek-kakek semua."
"Aaahh, astagaa. Nggak gitu juga kali," Neva memukul bahu Vano kencang. Mereka berdua saling tertawa.
_______
Catatan Penulis π₯°
Yuhuuuu akhirnya ... Liat wajah visual Abang Leo yang tamvaaan ππ Uhum ... Othor lagi nggak pelit bagi Abang Leo ππ€π€ Baik2in aja ya biar diUp tiap hari ππ€£π
Maaf jika ada yang kurang cocok dengan visual Leo. π₯°π Leo Lee ... Yess itu adalah dia.
Jangan lupa like komen ya kawan tersayang π₯°ππ Padamu, Luv luv.