Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Part 87. Paksaan


Dhilla mengangguk tersenyum mendengar permintaan maaf dari sahabatnya.


Tak lama berselang, seluruh siswa diminta untuk berkumpul di lapangan sekolah. Ternyata pengumuman terkait dengan camping sekolah.


Berbagai macam reaksi yang terjadi.


" Ra' kamu ikutan camping nggak?" tanya Hesti saat mereka sudah dibubarkan dari lapangan.


" Nggak tahu nih, aku paling malas kalau disuruh camping". jawab Tiara ogah-ogahan.


" Yaa nggak seru dong jadinya". wajah Hesti berubah murung.


" Iya, Ra' ikut yuk. Kapan lagi kita bisa nginap bareng di tempat lain?" bujuk Dhilla penuh harap.


" Em . . gimana ya? nanti lihat deh nggak janji". ucap Tiara kemudian merasa nggak tega melihat kedua sahabatnya yang sudah terlanjur berharap.


" Pokoknya nggak mau tau, Ara wajib ikut!" ujar Hesti setengah memaksa.


" Duh, iya deh iya ". jawab Tiara akhirnya dengan mimik tersiksa.


" Yee . . . senangnya". Hesti berjingkrak kegirangan tak peduli dengan mulut manyun Tiara.


Dhilla tersenyum melihat tingkah kedua sahabatnya.


Sebenarnya Tiara paling malas kalau harus berpisah dari kasurnya, hehehe. Ditambah lagi harus repot-repot persiapkan perlengkapan lainnya.


Tapi terpaksa deh, demi kedua sahabatnya.


" Apaan sih rame banget?" tanya Rio yang muncul tiba-tiba. Sontak Hesti berubah mode kalem.


" Eh, Rio pas banget kamu datang. Kamu ikut camping kan besok?"


" Em . . . nggak tau juga nih ". jawab cowok tampan itu seraya menggaruk kepalanya yang tak gatal.


" Kok nggak? nggak seru dong ". Hesti memasang wajah cemberutnya.


Rio menoleh ke arah Tiara dan Dhilla seolah meminta bantuan namun keduanya pura-pura tak mengerti.


Keduanya malah asik mengobrol sambil cekikikan.


Huh dasar cewek !


" Oke nanti gue kabarin ya kalo jadi". jawab Rio akhirnya.


" Nggak ! aku mau jawaban yang pasti sekarang juga !". Hesti ngotot.


" Rasain Rio, sekarang giliran kamu yang jadi korban si pemaksa ". Desis Tiara di dekat telinga Dhilla.


Keduanya menahan tawa yang hampir meledak.


Detik demi detik berlalu dan Hesti masih menunggu jawaban pasti dari kekasihnya.


Di sisi lain ia tidak mau dianggap remeh oleh ketiga gadis itu walaupun sebenarnya hal itu tidak akan pernah terjadi namun gengsinya yang terlalu tinggi di depan Hesti membuatnya kesulitan sendiri akhirnya.


" Oke, gue ikut mau lo ". jawab Rio dengan pasrah.


Hesti tersenyum senang. Ingin rasanya ia memeluk Rio saat ini tapi ia masih waras, ini masih ada di dalam kelas.


" Ah senangnya, makasih ya ". balas Hesti dengan senyum kemenangannya.


" Ya udah, gue ke kelas dulu ya ?". pamit Rio.


" Bye !" balas Hesti.


Rio bergegas pergi dari situ dengan maksud mencari Zian.


Tiba di kelasnya, Zian tak ada. Ia melanjutkan langkahnya menuju ke balkon atas tempat Zian menghabiskan waktunya.


Benar saja, cowok tampan itu sedang asik duduk bersandar di tembok sambil membaca sebuah buku.


Zian hanya melirik sebentar ke arahnya.


" Bro, besok ikutan nggak?" tanya Zian menyerupai Hesti.


Hehehe.


" Ke mana ?" tanya Zian tanpa menoleh.


" Camping sekolah ".


" Oh ".


" Ikut nggak ?"


" Nggak ". jawab Zian singkat.


Rio menghembuskan nafas berat.


" Ada masalah ?"


" Nggak sih cuma . . . boleh nggak gue ikutan ?"


" Kenapa nggak ? terserah lo ".


" Oke ".


" Bener nih nggak mau ikut ? Tiara ikutan lo. kalo gitu gue cabut dulu ya ". pamit Rio.


\*\*\*\*\*