
Supir Albar mengantar Nyonya muda ke sebuah restoran lokal di pusat Ibu Kota.
Mobil melaju dengan pelan, ini adalah waktu tersibuk di jalanan.
Yuna mengambil ponsel dari dalam tas miliknya dan membuat pesan pada Leo.
"Sayang, segeralah kembali, ada banyak hal yang ingin ku ceritakan pada mu," send.
"Apa kau sedang sedih saat ini?" balas Leo. Dia seolah tahu apa yang Yuna rasakan.
"Tidak, aku hanya terlalu Merindukanmu. Apa aku boleh tanya sesuatu pada mu?"
"Apa?"
"Apa kau baik-baik saja?"
"Tentu, kenapa kau memiliki pertanyaan itu?" Tanya Leo. Dia menyadari jika Yuna sudah mulai curiga dengan keadaannya. "Sayang, jangan khawatirkan apapun, aku baik-baik saja dan akan segera kembali," balasnya lagi sebelum Yuna membalas pesannya.
"Betapa hati rindu pada diri mu duhai kekasih ku.
Segeralah kembali pada diri ku duhai kekasih ku.
Aku sudah rindu lincah manja sikap mu.
Aku sangat rindu kasih sayang dari mu," suara merdu milik Ridho Rhoma mengalun merdu dari audio yang diputar. Yuna menyandarkan kepalanya dan memejamkan matanya. Tangannya mengusap perutnya pelan dan lembut.
"Gelisah hati gelisah sejak kepergian mu.
Tak sabar hati tak sabar menanti kedatangan mu."
"Albar, apa kau sengaja memutarnya?" Tanya Yuna dan masih menyandar.
Albar memamerkan giginya, "Iya...." jawabnya nyengir. "Sepertinya Nyonya muda sangat merindukan Tuan muda Leo, jadi saya memilih soundtrack ini," lanjutnya. Yuna terkekeh mendengarnya.
"Soundtrack nya bukan menghibur tapi malah semakin menambah rindu," ucap Yuna. Dia melihat kedepan.
"Maaf jika Nyonya muda tidak suka, aku akan menggantinya," ucap Albar merasa bersalah.
"Tidak perlu, biarkan," sahut Yuna. Dia menikmati lagunya, menikmati setiap lirik yang dinyanyikan begitu merdu.
"Ku coba menanti mu walau gelisah, ku kan selalu menanti.
Dengarkanlah kasih ku dengarlah sayang, ku ingin kau kembali,"
Pelan, suara Yuna menirukan alunan lagu itu. Sebelumnya dia tidak begitu perhatian dengan lagu ini, dia hanya menyukai lagu dari band kesukaannya. Setelah mendengarkan lagu ini diantara kemacetan dan kerinduannya pada Leo, dia menjadi suka lagu satu ini. Ternyata begitu indah dan dalam.
_Yuna lebih dulu sampai di restoran lokal tempat dia membuat janji dengan Vano. Tak lama, seseorang yang di tunggu telah datang.
"Hai, Yuna...." sapanya ramah pada Yuna setelah dia sampai di depan meja Yuna.
"Hai, silahkan duduk Vano," balas Yuna dengan ramah juga. Kemudian, Vano duduk di depannya. Mereka memesan minuman.
"Maaf jika menyita waktu mu, Vano," ucap Yuna memulai.
"Tidak, aku lagi santai," jawab Vano, "Apa ada sesuatu yang penting?" Tanyanya.
"Ya," jawab Yuna dengan anggukan kepala. "Aku ingin bertanya sesuatu pada mu," lanjut Yuna. Dia menatap Vano dengan serius.
"Apa?"
"Apa kau serius dengan Neva?" Tanya Yuna setelah mengambil nafasnya. Vano tersenyum mendengar pertanyaan itu.
"Lanjutkan," ucapnya. Dia membalas tatapan Yuna.
"Apa kau tahu jika dia mengetahui hubungan kita yang dulu?" Tanya Yuna hati-hati.
Vano mengangguk, "Iya, aku tahu. Dia bertanya sendiri pada ku," jawab Vano.
"Lalu?"
"Dia tidak ingin aku dan dia bersama, dia bilang... dia menyerah. Dia bilang hubungan kita... aku, dia, kamu dan Leo akan sangat rumit jika diteruskan," ucap Vano.
"Maafkan aku Vano," ucap Yuna.
"Kenapa minta maaf. Aku sudah berulangkali bilang pada mu pada mu bahwa itu bukan salah mu. Aku paling tidak suka ketika kau menyalahkan diri mu," ucap Vano tegas. Sepanjang bola matanya menatap Yuna. "Jika harus mencari siapa yang salah, maka aku juga salah. Aku tetap saja begitu egois mendekati mu yang telah termiliki. Bukankah aku bersalah dalam hal itu? Aku bahkan pernah mendeklarasikan perang pada Leo untuk mendapatkan mu, bukankah aku bersalah dalam hal itu__"
"Vano, hentikan," Yuna memotong ucapan Vano. Bukan Vano yang salah, bukan. Yuna menggeleng.
"Yuna. Siapa yang salah... Itu tidak penting. Ketika kau menyalahkan diri mu sendiri, apa itu akan merubah semuanya? Tidak kan? Itu telah kita lalui. Telah menjadi bagian dari masa lalu kita," ujar Vano. Yuna mengambil nafasnya dan membiarkannya sejenak.
"Lalu bagaimana hubungan mu dengan Neva, apa kau juga akan menyerah?" Tanya Yuna. Vano tidak segera menjawabnya. Dia menyesap sedikit minumannya dan kembali menatap Yuna.
"Minumlah, apa kau tidak haus?" Ujarnya sambil melirik minum Yuna yang masih utuh.
"Bagaimana aku bisa minum, aku begitu tegang," jawab Yuna. Vano terkekeh mendengarnya.
"Santai, santai...." ucapnya, "Minumlah agar kau tidak tegang," lanjut Vano mempersilahkan Yuna untuk meminum minumannya.
"Okey," jawab Yuna dan pelahan menyedot minumannya. Menyedotnya hingga setengah. Melihat itu membuat Vano menahan tawanya.
Setelah itu, mereka kembali duduk dengan santai dan saling menatap.
"Bagaimana hubungan mu dengan dia?" Tanya Yuna segera membahas lagi.
"Dia menolak ku," jawab Vano.
"Lalu?" Tanya Yuna. Dia ingin jawaban lebih, bukan hanya sekedar 'Dia menolak ku.'
"Dia bilang, kita tidak mungkin bisa bersama. Dia meminta ku untuk tidak mengharapkan cinta yang tidak mungkin bisa untuk bersatu," jelas Vano.
"Dia begitu mempermasalahkan hubungan kita di masa lalu," ujar Yuna dengan wajah yang muram.
Vano tersenyum.
"Dia tidak ingin aku hadir dalam sebuah hubungan yang didalamnya ada seseorang yang membenciku. Dan dia juga tidak ingin ada seseorang yang hadir dan membuat Kakaknya menderita. Kau bisa menarik kesimpulannya," jawab Vano.
"Karena dia begitu menyayangi Leo dan karena dia juga menyayangi mu," jawab Yuna. Yuna mengalihkan pandangannya. Dia sangat tahu bagaimana hubungan dua kakak beradik itu. "Bagaimana dengan mu Vano?" Tanya Yuna pada Vano. Dia kembali menatap Vano.
"Aku akan memperjuangkan dia," jawab Vano.
Yuna tersenyum mendengar itu. Wajah muramnya berubah perlahan. Dia ingin Neva bahagia, dia ingin Vano bahagia.
"Bagus," ujar Yuna dengan senyum.
"Apa Leo sudah kembali?" Vano bertanya setelah menyesap sedikit minumannya.
Yuna menggeleng pelan dan wajahnya kembali muram, bahkan lebih murah dari sebelumnya.
"Belum," jawab Yuna pelan.
"Apa ada sesuatu yang terjadi?" Tanya Vano menyadari perubahan wajah Yuna.
"Hmm? Tidak ada," jawab Yuna dengan menggeleng. "Oh iya.... ada yang harus ku beritahukan pada mu," ujar Yuna. Dia terdiam beberapa saat sebelum membuka mulutnya kembali. "Emmm, setelah wisuda nanti, Neva berencana untuk melanjutkan kuliah di luar negeri," ucap Yuna pelan dan hati-hati.
Ucapan Yuna ini, membuat Vano tertegun beberapa saat. Keluar negeri? Neva melanjutkan kuliah ke luar negeri?
"Dia berencana begitu?" Tanya Vano untuk meyakinkan. Dia menatap Yuna, meminta jawaban segera. Yuna mengangguk.
"Ya," jawabnya pelan.
Vano mengangkat tangannya dan menggosok pelan keningnya. Dia tersenyum dalam gelisah.
"Haha, terima kasih kawan," ucap Vano dengan tulus.
"Aku akan membujuk Leo untuk membantu kalian," tambah Yuna menyemangati Vano.
"Aku yakin kau pandai merayunya, hahaaa...." ucap Vano dengan tawa ringan.
"Ya, tentu saja. Bukan Yuna namanya jika tidak pandai merayunya, hahaaa," sambung Yuna dengan PeDe. Mereka berdua saling tertawa.
"Terima kasih untuk bantuan mu, kawan. Tapi kau tak perlu melakukan itu untuk ku," ucap Vano. Dia langsung menyambung sebelum Yuna mampu membalasnya. "Aku yang akan bicara sendiri padanya, aku akan meminta maaf padanya. Aku tidak ingin dia memaafkan dan menerima ku karena permintaan mu. Aku ingin dia dengan rela memaafkan ku dan menyerahkan adiknya pada ku," lanjutnya.
Yuna mengangguk mengerti. Memang sebaiknya begitu.
"Okey, baiklah. Yang terpenting adalah kau harus meyakinkan dua kakak beradik itu. Meyakinkan Leo dan juga meyakinkan Neva," ujar Yuna.
"Di mana Neva sekarang? Apa dia tidak bersama mu?"
"Dia pergi ke pulau s untuk mengunjungi Kak Nora," jawab Yuna. Vano mengangguk-angguk.
"Oh iya, dari mana kau dapat nomor ponsel ku?"
"Sttt, aku mencurinya dari Neva," ucap Yuna dengan bercanda. Dan Vano langsung tertawa terbahak-bahak.
"Jadi sekarang, kau jadi pencuri nomor ponsel? Hahaa."
Pertemuan senja berjalan dengan baik. Sesuai yang Yuna harapkan. Semoga dia bisa menebus kesalahannya pada Neva. Semoga dia bisa menghapus segala sesuatu yang rumit menjadi sedikit lebih mudah.
***@***
Di sebuah rumah. Ketika hujan mulai mengguyur, dan kebulan asap rokok seolah memenuhi ruangan, Alea bersiap menenteng tas miliknya. Supir Albar sedang dalam perjalanan untuk menjemput dirinya.
"Kau menginap lagi di sana?" Tanya sang Papa sambil meniupkan asap rokok dari bibirnya.
"Iya, Non Neva sedang berkunjung ke rumah Tuan muda Dimas," jawab Alea. Papanya terkekeh.
"Sepertinya kau semakin dekat dengan mereka," ujar Papa Alea. Kali ini, beliau mematikan rokoknya karena memang telah habis.
"Ya," jawab Alea. "Nyonya muda sangat baik, dia menganggap ku sebagai sahabatnya. Bukankah itu suatu kehormatan bagi ku Pa?" Lanjut Alea.
"Hahaaa.... sebaik itukah?" Papa Alea tertawa namun sekejap menjadi serius. "Apa Lee, masih di luar negeri?" Tanya Papa dengan menatap putrinya.
"Ya," jawab Alea.
"Kau harus bisa mengambil hatinya," ucap Papa dengan serius dan penuh penekanan.
"Apa yang Papa maksud? Papa jangan aneh-aneh, dan jangan tamak. Aku tidak mungkin ada di antara mereka. Aku tidak mungkin menyakiti hati Nyonya muda, aku tidak mungkin menyakiti hati keluarga Nugraha," jelas Alea. Pada dasarnya, dia memang tulus berteman dengan Yuna, dia juga tulus berteman dengan Neva. Dia tidak lagi menyukai Vano seperti dulu dia begitu menyukainya. Namun, yang tidak dia mengerti adalah wajah Leo dan sentuhan tangannya di sore itu membawa debaran hingga saat ini, bahkan tak jarang, wajah tampan itu hadir di mimpinya. Dia mencoba melawannya, dia tahu itu tidak akan baik. Dia tidak akan menyakiti Yuna, dia tidak akan membalas kebaikan dengan kejahatan.
"Istri Lee, bukan bagian dari keluarga Nugraha. Dia orang asing yang masuk kedalam keluarga itu," ujar Papa. Beliau mulai menyalakan rokok lagi tapi Alea segera mengambil rokok itu dan langsung mematikannya.
"Papa, aku tidak ingin menjadi orang jahat seperti Papa," ucapnya dan kemudian dia segera keluar rumah karena tepat saat itu, supir Albar sudah datang untuk menjemputnya.
Supir Albar berlari kecil membawa payung untuk Alea.
"Maaf Nona Alea, apa saya membuat Nona menunggu terlalu lama?" Tanyanya ramah pada Alea.
"Tidak," jawab Alea dengan senyum. Kemudian, mereka berdua masuk ke dalam mobil.
Seperti biasa, begitu mobil melaju, Albar langsung menyalakan audio dan memilih lagu yang dia sukai atau lagu yang menurut dia adalah soundtrack untuk seseorang. Kali ini, dia memilih lagu dari Andmesh Kamaleng dengan lagunya cinta luar biasa.
Satu setengah jam kemudian, mereka telah sampai di rumah Leo.
"Hallo Yuna," Alea dengan ceria memeluknya setelah dia masuk ke rumah.
"Hai...." balas Yuna dengan bersahabat. Dia sedang memakan biji kopi sangrai saat ini.
"Kau nonton apa?" Tanya Alea. Dia memperhatikan siaran TV. "Band idola mu bukan?" Kata Alea setelah memperhatikan siaran Tv.
"Iya," jawab Yuna. "Alea," Yuna memanggil Alea dengan pelan.
"Ya?" Jawab Alea. Dia menoleh ke arah Yuna.
"Boleh aku bertanya sesuatu?"
"Boleh, apa?"
"Kau pernah bercerita pada ku jika kau pernah menyukai seseorang saat kau masih duduk di bangku sekolah menengah pertama. Apa seseorang itu adalah Vano?" Tanya Yuna hati-hati. Dia selalu hati-hati dalam bertanya.
"Iya," jawab Alea dengan anggukan. "Tapi itu dulu Yuna," sambungnya segera. Yuna mengangguk.
"Apa kau tahu jika Neva menyukainya?" Tanya Yuna lagi.
"Iya, aku tahu. Dia pernah menulis sesuatu kemudian membuangnya dan aku dengan tidak sengaja menemukan kertas itu," jawab Alea menjelaskan. "Aku mendukung mereka. Mereka sangat cocok. Bukan begitu Yuna? Bagaimana menurut mu?"
Yuna mengangguk dengan senyum.
"Ya, mereka memang sangat cocok," jawab Yuna.
"Eh, tapi bagaimana dengan artis tampan itu? Raizel?" Tanya Alea. Dia ingat berita yang menghebohkan itu.
"Haahaa aku tidak tahu, mungkin gosip," Yuna menjawab dengan memamerkan giginya. Dia sendiri tidak tahu pasti bagaimana hubungan Neva dan Raizel. Mungkin hanya sebatas teman.
Alea membuka kamera dalam ponselnya dan mengarahkannya pada Yuna. Dia membuat satu foto Yuna yang tengah menyaksikan televisi sambil memakan kopi sangrai.
"Nyonya muda sedang menonton televisi," tulisnya untuk melengkapi foto yang dia kirim. Send. Dia mengirimnya untuk Leo. Tak lama, ponselnya bergetar mendapat balasan, Yess yes... dia girang bukan main mendapat balasan ini. Karena hampir semua pesannya tidak ada satupun yang di balas.
"Terima kasih, Alea," balasan dari Leo. Alea segera membalasnya.
"Sama-sama Tuan muda Lee. Aku akan menjaganya dengan baik," send. Satu menit, dan selanjutnya pesan itu tidak mendapat balasan lagi. Dia hanya mengirim pesan, tidak salah bukan? Dia hanya mengirim pesan dan tidak berniat untuk menggodanya. Dia cukup bahagia hanya mengirim pesan saja.
Tak lama, ponsel Yuna bergetar dan mendapat pesan baru.
"Sayang, kau sedang apa?" pesan dari Leo.
"Nonton Tv bareng Alea. Tuan suami, apa kau merindukan ku?" Balas Yuna. Entah berapa kali pertanyaan itu dia tanyakan. Namun, ia ingin terus bertanya, bertanya pada sesuatu yang dia sudah tahu jawabannya.
"Sangat merindukan mu, sayang," balas Leo. Dan Yuna langsung sentimentil dengan ungkapan rindu dari Leo, meskipun itu hanya sebuah tulisan.
"Aku tidak percaya, kau pembohong," balas Yuna. Dia mulai berkaca-kaca. Matanya mulai terasa panas.
"Aku siap mendapat hukuman dari mu," balas Leo. Dan itu membuat bibir Yuna terangkat membentuk senyuman tetapi air matanya menetes satu.
"Aku tidak akan menghukum mu, jadi ku mohon segeralah kembali," balasnya. Alea dengan perhatian memberinya tissu dan bahkan mengambil minuman untuk Yuna.
Yuna menunduk dan sesenggukan.
"Yuna," ucapnya pelan dan mengusap punggung Yuna dengan lembut.
"Aku merindukannya Alea," ucap Yuna dengan serak, "Aku merindukannya."
____
Catatan Penulis (Curhatan 🥰)
Bab 202 itu, Thor serahin jam 17.00 biasanya langsung naik, tapi hari ini nyampe bab 203 di serahin....bab 202 belum naik juga🥺
Kakak editor, jangan nakal dong, kan pembaca nungguin nih.
Sun jempol jangan lupa ya cinta... muach 😘😘