
Pukul enam belas lebih empat puluh delapan menit, mobil Leo telah sampai di depan rumah bunga milik Alea. Yuna memintanya untuk menjemput disini. Albar yang berada tak jauh dari lokasi segera menghampirinya dan memberi salam. Setelah bertukar beberapa kata, ia kembali, dan tugas hari ini selesai. Huff... Albar bernafas dengan lega.
Mengetahui Leo telah datang, sang pemilik rumah bunga segera menyambutnya, ia membukakan pintu untuk Leo.
Dengan senyuman indah dia menyapa, "Selamat sore Tuan muda Lee," sapanya lembut. Leo mengangguk sebagai tanggapan. Kemudian ia masuk dan langsung menuju Yuna. Yuna langsung berdiri setelah Leo dekat dengannya.
"Apa kau lelah sayang?" tanya Leo. Tangannya mengusap perut Yuna lembut dan mencium keningnya. Yuna menggeleng pelan. Dalam hati ia berkata, jika pertanyaan itu seharusnya terbalik, seharusnya dia yang menanyakan itu pada Leo. Namun, dia tidak mengungkapkannya. Di dalam mulutnya sudah penuh dengan omelan yang akan meledak sebentar lagi, dalam otaknya seolah ada gunung berapi hingga membuatnya merasa terus sangat panas. Dia menahan semuanya disini, ia tidak mungkin ngomel-ngomel di tempat orang.
"Apa kau mau langsung pulang? Atau mau kemana?" Leo bertanya dengan suaranya yang halus. Ia belum menyadari jika Nyonya-nya akan menghajarnya nanti. Yuna mengangguk. Itu membuat Leo mengerutkan alisnya, dia punya dua pertanyaan dan di jawab anggukan oleh Yuna, jadi mana yang dia setujui?
"Kau ingin jalan-jalan?" tanyanya. Yuna menggeleng. "Mau langsung pulang?" tanyanya lagi. Yuna mengangguk. Dari sini, Leo mulai menyadari ada yang tidak beres dengan Yuna. Dengan memeluk pinggangnya, Leo membawanya menuju mobil.
"Terima kasih Alea," ucapnya pamit pada Alea.
Alea mengangguk dengan senyum, "Sama-sama Tuan muda Lee," jawabnya, "Yuna... besok kesini lagi, okey," lanjutnya berbicara pada Yuna. Yuna menjawabnya dengan anggukan.
Mobil melaju dengan pelan.
"Apa ada sesuatu yang terjadi?" tanya Leo memulai. Yuna langsung menoleh kearahnya, matanya menatap Leo dengan tajam.
"Berapa uang yang kau habiskan untuk membeli bunga itu?" tanyanya langsung pada inti. Leo langsung tertawa dengan pertanyaan ini, dia tahu jika Yuna akan menggila jika tahu harga bunga itu.
"Jadi, Alea memberi tahu mu?" Leo menoleh kearahnya sebentar dan kemudian kembali fokus pada jalanan yang padat.
"Dia hanya mengira-ngira. Aku yakin itu lebih mahal dari perkiraannya. Dua puluh tangkai? Aaah, kau membelinya ribuan tangkai. Leo..., jadi berapa yang kau habiskan?" tanya Yuna penasaran setengah mati.
"Tidak banyak sayang," jawab Leo. Tangannya mengulur dan meraih tangan Yuna namun Yuna menepisnya. "Sungguh," lanjut Leo. Ia mencoba meraih tangan Yuna lagi, tetapi Yuna masih menepisnya.
"Berapa nilai banyak dan sedikit yang kau terapkan pada uang mu?"
"Bukan begitu sayang. Aku bahagia jika kau menyukai sesuatu yang ku berikan." Leo mencoba menjelaskan.
"Aku suka semua yang kau berikan padaku Leo, semuanya tanpa terkecuali. Bahkan jika kau memungutnya dari tempat sampah. Sesuatu yang ku suka tidak bisa di nilai dengan mahal atau murah. Aku suka semua yang kau berikan padaku, kau tidak perlu membuang-buang uang mu, hanya untuk membeli sebuah bunga. Milyaran kau habiskan hanya untuk sesuatu yang akan layu beberapa hari kedepan, kau benar-benar murah hati Tuan muda," Yuna mencerocos dengan sangat terampil, ia menatap Leo dari samping dengan pandangan kesal. Sementara Leo fokus pada jalanan, tetapi telinganya mendengar semua yang bibir itu ucapkan tanpa satupun yang terlewat.
"Kau bangun lebih pagi dan tidur lebih larut, kau bekerja dan bekerja, lalu kau dengan begitu mudah menghamburkan uang sebanyak itu hanya untuk membeli sebuah bunga. Kau bahagia? Aku bahkan sangat kesal pada mu," Yuna bersungut-sungut. Dia membayangkan uang itu yang berubah menjadi bunga lalu tujuh hari kemudian layu, mengering dan terbuang. Leo hanya mendengarnya dan tidak menjawab apapun. Sementara Yuna masih saja terampil membuat bibirnya terus berpuisi menyuarakan isi hatinya yang teramat kesal dengan tingkat Tuan suami yang menghamburkan uang.
Bibir terampil itu berhenti ketika mereka sampai di halaman rumah. Leo segera keluar dari mobil dan segera membukakan pintu mobil untuk Yuna.
"Terima kasih," ucap Yuna singkat. Leo mencoba memeluk pinggangnya tetapi ia masih mendapatkan penolakan dari Yuna. Leo menatapnya dengan pandangan yang kecewa karena Yuna terus menolaknya.
"Jangan berbicara dan menyentuh ku, kau menyebalkan," ucap Yuna dan langsung meninggalkan Leo untuk masuk ke dalam rumah. Ia langsung masuk ke kamar. Leo menyusulnya tetapi tidak berbicara apa-apa, dia diam.
Ketika makan malam, mereka masih saja diam. Mereka makan dengan saling membisu. Leo membuat susu untuk Yuna dan menaruhnya di atas meja. Kemudian, ia segera naik keatas dan menenggelamkan diri pada kerjaan yang belum dia selesaikan. Seharusnya ia pulang pukul sembilan malam tetapi Yuna memintanya untuk segera kembali, jadi dia mengesampingkan kerjaannya dan segera kembali. Tetapi Yuna malah mengomelinya habis-habisan.
Di ruang tengah, Yuna menyaksikan acara talk show dengan bintang tamu band idolanya. Ia duduk di sofa dengan bersila dan memakan biji kopi sangrai. Entah kenapa, biji kopi ini terasa sangat lezat di lidahnya, ini bahkan lebih enak dari coklat yang berlapis emas dua puluh empat karat itu. Dia terus menerus melirik jam yang menggantung di dinding di atas televisi. Dia menghitung detik perdetik, menit permenit, hingga dua jam dan Leo masih berada di ruang belajar. Yuna terus menerus memperhatikan tangga, ia berharap Leo akan turun dan menemaninya nonton televisi. Ia menghembuskan nafasnya dengan sedih, sampai kapan Tuan suami diam? Dia merasa sangat kesepian.
Bayangan Leo yang tengah berjalan keluar dari arah dapur tertangkap oleh mata Yuna. Dia segera kembali berpaling dan berpura-pura tidak memperhatikannya. Setelah dari dapur, Leo pasti akan menghampirinya, batin Yuna. Tapi ah sial... Leo berjalan melenggang begitu saja, dia menaiki tangga dan kembali ke atas. Yuna bertambah kesal dengan itu, dia mengunyah biji kopi sangrai dengan perasaan marah hingga ubun-ubun.
"Ya... diamlah, diam saja, jangan perduli pada ku. Menyebalkan... Kau menyebalkan Leo, sangat menyebalkan," dia meneriaki Leo. Tentu saja Leo tidak mendengar ini, karena dia sudah kembali tenggelam dalam ruang belajarnya.
Tiga puluh menit... Yuna mematikan televisinya dan berjalan keatas untuk menuju kamar. Ia duduk di sofa di dalam kamarnya. Kedua bola matanya memperhatikan bunga yang menurutnya tidak masuk akal ini. Kenapa Leo rela mengeluarkan begitu banyak uang hanya untuk membeli bunga ini.
Ia mengingat ketika Leo menggendongnya menapaki lantai hingga lantai empat, ia ingat apa yang laki-laki itu ucapkan padanya, dan tatapan penuh cinta ketika memberikan bunga ini untuknya. Ketika semua warna dan aksara tidak mampu mendefinisikan bagaimana indahnya cinta mereka. Sudut bibir Yuna terangkat membentuk senyuman bahagia. Ia mencium Juliet Rose yang telah ia susun pada vas bunganya.
Juliet Rose, menyimpan pesona dan kecantikan yang luar biasa, memiliki bentuk kelopak yang indah, kelopak yang terlihat seperti pusaran yang dibungkus oleh kelopak yang lebih kokoh, dengan harumnya yang khas dan warna persiknya yang lembut menjadikan bunga ini sangat cocok untuk ungkapkan cinta yang tulus.
Juliet Rose, adalah bunga yang dibudidayakan oleh David Austin. Bunga ini termasuk bunga langka yang tidak bisa mekar di mana saja. Bunga ini membutuhkan waktu setidaknya lima belas tahun untuk penelitiannya, hingga bisa memanennya.
Yuna beranjak dari duduknya kemudian masuk ke dalam kamar mandi. Ia membersihkan dirinya secara menyeluruh dan menggosok giginya hingga tiga kali. Dia takut aroma kopi masih tersisa di mulutnya. Ia meraih gagang pintu kamar mandi dengan harapan, sudah ada Leo di kamarnya.
Namun, dia harus kecewa karena tidak ada Leo di kamar. Ia segera mengganti bajunya. Ia memakai piyama dress tanpa lengan berwarna hitam, warna hitam selalu cocok ketika menempel di tubuhnya yang putih. Piyama dress minim di atas lutut dan berdada rendah, dia sengaja memilih ini.
Ia menarik nafasnya panjang sebelum membuka pintu ruang belajar. Pelan, tangannya menyentuh gagang pintu dan membukanya.
Leo segera mendongak ketika mendengar pintu terbuka. Hatinya menjadi sangat bahagia, setelah sebelumnya begitu menderita. Ia sangat bahagia, Yuna datang ke ruang belajarnya. Sejujurnya ia ingin mendekati Yuna dari tadi tetapi dia menahannya, dia tidak ingin Yuna semakin kesal dengannya.
Yuna melangkah pelan menujunya. Leo yang masih duduk segera mengulurkan kedua tangannya dan Yuna langsung menyambut uluran tangan itu. Kedua tangan itu bertemu, saling menyentuh dan saling menggenggam. Leo menarik tangan Yuna untuk mendekat. Dan Leo langsung memeluknya begitu dia sampai di depannya. Leo membenamkan wajahnya di perut Yuna dan menciuminya. Tangan Yuna terangkat dan mengusap rambut Leo dengan lembut.
"Sayang, maafkan aku," ucap Leo.
"Aku yang salah," jawab Yuna. Leo mendongak dan menatapnya, mata mereka bertemu. Leo menyunggingkan bibirnya dan mengangkat Yuna, ia menyingkirkan semua yang ada di mejanya, ia membuat Yuna duduk di atas meja. Posisi Yuna saat ini lebih tinggi darinya.
"Sayang, aku minta maaf karena begitu bawel pada mu," ucap Yuna. Kedua telapak tangannya memegang pipi Leo. Leo mengangguk dengan senyum hangat. Ia menggenggam tangan Yuna yang berada di pipinya. Matanya menatap Yuna penuh kasih.
"Yuna..., jumlah uang yang ku habiskan untuk membeli bunga itu, aku bisa mencarinya lagi. Tapi moment indah dan pandangan takjub matamu pada sesuatu yang ku beri itu tidak bisa kucari. Bagaimana cara aku mencarinya...," ucapnya, "Aku ingin kamu bahagia bersama ku. Izinkan aku membahagiakan mu dengan cara ku," lanjut Leo dengan ketulusan dari dalam hatinya. Ini sangat menyentuh hati Yuna, membuatnya meleleh tak tertahan, membutnya terharu dengan penuh rasa cinta yang membuncah.
Ia menyesal telah berbicara begitu banyak untuk mengomeli laki-laki yang begitu mencintainya.
"Sayang, aku minta maaf," ucapnya. Leo tersenyum dan mengangguk. Kemudian, ia berdiri, dan menatap wajah cantik bak bidadari yang ia miliki. Tangannya terangkat untuk membenarkan rambut Yuna. Kemudian, ia menunduk dan mencium pundak indah milik Yuna.
"Sayang, kau sangat cantik malam ini," dia berbisik di telinga Yuna. Ia sengaja menghembuskan nafasnya disana. Membuat wajah Yuna seketika berubah menjadi merah. Belum sempat ia bereaksi apapun. Lidah Leo sudah lebih dulu menari pada daun telinganya, begitu rakus seolah dia sedang menjilat ice cream terlezat yang pernah ada di dunia. Bulu kuduk Yuna berdiri merasakan geli di sekujur tubuh. Leo menyingkirkan semua yang ada di atas meja, ia membuat Yuna tidur di atas disana.
"Umm, sayang," suara Yuna tercekat namun sangat seksi. Dan itu membuat Leo semakin gila. Namun dia tidak cukup gila karena masih memikirkan kondisi Yuna yang tengah hamil muda. Dia cukup lembut melakukannya.
Dulu, Yuna begitu takut untuk menggoda Leo tapi belakangan, ia malah menjadi sangat suka. Dia sangat suka ketika ketika Leo begitu menginginkannya, begitu intim dengannya. Ia sangat suka dimanjakan dan kemudian meleleh dalam pemujaan penuh kasih dan cinta Leo padanya.