
Pagi hari...
Yuna mengerjap-ngerjapkan matanya. Dia langsung menemukan Leo yang tersenyum menyapa paginya, ia segera bersembunyi di dada Leo. Jika mengingat moment semalam, dia masih merasa malu.
Leo mengusap rambutnya dengan pelan dan penuh kasih.
"Apa tidur mu nyenyak?" tanya Leo sambil mengecup rambut Yuna. Yuna menjawabnya dengan anggukan. "Mandi... aku sudah menyiapkan air hangat untuk mu," ucap Leo dan Yuna kembali mengangguk dalam pelukannya.
Yuna kemudian mengangkat wajahnya dan segera berpaling dari tatapan Leo, ia menarik selimut dan segera berdiri.
"Aku sudah membelikan mu baju. Jadi, kau tak perlu memakai baju yang kemarin," ucap Leo, dan Yuna langsung menoleh ke arahnya. Yuna ingat, dia kesini begitu saja ketika Leo membawanya.
"Terima kasih," ucapnya dan segera berlari ke kamar mandi. Leo tersenyum geli melihat Yuna yang malu-malu padanya, itu terlihat sangat imut.
Dia duduk di sofa dan membaca pasar saham dari ponselnya. Tak lama, Yuna keluar dan sudah memakai baju yang Leo beli untuknya. Dres Vintage dengan bagian leher yang tinggi, itu bisa menutupi bekas kecupan yang Leo ciptakan di leher putih Yuna.
"Sini...," Leo tersenyum melambainya. Yuna dengan malu-malu berjalan kearahnya. Dia kemudian duduk di sebelah Leo.
Leo menatapnya dengan pandangan penuh kekaguman, tangannya terangkat untuk membenarkan rambut Yuna dan menaruhnya di telinga.
"Kau sangat cantik," pujinya dengan suara lembut. Membuat Yuna tersipu dan semakin menyembunyikan wajahnya. Leo tersenyum melihatnya, dia tahu jika Yuna sedang malu saat ini. Dia mendekat dan mengusap pundak Yuna dengan lembut.
"Sayang... ayo pulang ke rumah kita," ucapnya.
"Aku pamit dulu dengan Ayah dan Nenek," Yuna mulai sedikit mengangkat wajahnya.
"Iya."
"Aku juga ingin menemui Adel."
"Iya."
"Leo...," akhirnya Yuna mengangkat wajahnya dan menatap Leo. Yuna masih saja khawatir, dia masih saja cemas. Leo membalas tatapan matanya, mereka saling berpandangan. "Apa kau akan berubah lagi jika kita kembali ke Ibu kota? Apa perasaan mu pada ku akan goyah lagi jika kau kembali bertemu dengannya?" suara Yuna sangat cemas ketika menanyakan itu.
Leo menarik nafasnya panjang. Dia tahu kekhawatiran Yuna, dia mengerti kecemasan Yuna. Ia meraih tangan Yuna dan mengenggamnya.
"Sayang... aku mencintai mu, hanya mencintai mu. Tidak ada dia, tidak akan pernah ada. Aku akan terus memegang janji ku, aku tidak akan mengecewakan mu, aku tidak akan menghianati mu, hingga aku tak bernyawa," suasana menjadi sentimentil, Yuna kembali berkaca-kaca. "Yuna... pada kehidupan ini, mungkin aku tidak sempurna untuk mu. Tanpa ku sadari, aku sering menyakiti mu, aku sering mengabaikan mu, dan jika dipikirkan, kesalahan ku sangat banyak pada mu. Namun, kau harus tahu... aku sungguh menyesali setiap tindakan ku yang menyakiti mu. Kau harus tahu, bahwa aku mempunyai cinta yang besar untuk mu. Aku mencintai mu sayang," ucap Leo dengan ketulusan dalam hatinya.
Yuna langsung menghambur ke dalam pelukannya dan menangis. Dia merasa menjadi sangat cengeng belakangan ini, menjadi lebih sering menangis oleh hal-hal kecil yang membuat hatinya tersentuh. Dia hanya ingin terus bahagia, dia ingin terus bersama Leo, dia tidak ingin seseorang mengambil Leo darinya. Perpisahan kemarin sangat membuatnya menderita, semua yang dia lihat ada Leo disana, bahkan dalam gelap pandangannya ketika dia terpejam. Cinta membuatnya sangat lemah.
"Sayang... terima kasih sudah memberi ku kesempatan untuk menebus kesalahan ku," Leo mendekapnya erat, dia tidak ingin ada perpisahan lagi diantara mereka. Kesempatan yang Yuna berikan padanya seperti memberi kehidupan kedua untuknya, ia seperti telah terbangun dari mati suri. Dia akan mengabdikan seluruh cintanya hanya untuk Yuna, dia membuat janji pada dirinya sendiri.
"Aku membelinya semalam. Aku keluar ketika kau sudah tidur," jawab Leo.
"Apa itu juga yang kau lakukan dulu? Membeli syal rajut untuk ku, ketika aku sudah tertidur," Yuna bertanya lagi.
"Iya."
"Tapi waktu itu sudah lewat tengah malam. Dimana kau mendapatkan syal itu?"
"Aku mengelilingi seluruh penjuru kota K."
Yuna menjadi terharu. Dia bisa membayangkan betapa susahnya mencari syal rajut itu, ia ingat, Leo baru kembali ketika pagi sudah menyapa. Itu berarti, dia tidak tidur semalaman hanya untuk mencari syal rajut itu. Yuna mengangkat wajahnya dan menatap Leo penuh haru, mata mereka bertemu. Leo menunduk dan mencium bibir Yuna, menciumnya dengan sangat dalam, dan kemudian berubah menjadi ciuman yang panas di pagi hari. Hingga, dia berhasil menanggalkan baju yang baru saja terpasang di tubuh Yuna. Leo dengan hati-hati membawa istrinya keranjang dan itu terjadi lagi. Surga cinta di pagi hari yang indah.
***@***
Leo memarkirkan mobilnya di halaman rumah orang tua Yuna. Mereka kemudian berjalan masuk. Leo dengan perhatian memeluk pinggang Yuna hingga mereka sampai di ruang utama.
Ayah menunda meeting di pabrik pagi ini, beliau dengan senang hati menunggu dan menyambut menantu kebanggaannya. Semua anggota keluarga berkumpul di ruang utama.
Nenek merasa sangat lega dan sangat bahagia melihat mereka berdua kembali bersama. Nenek tidak henti-hentinya mengucap syukur dalam hatinya. Wajah Yuna yang berdiri di samping Leo terlihat sangat cerah dan bahagia, itu berbeda dengan kemarin, ketika dia datang dan menunduk.
Ayah segera berdiri menyambut menantunya. Leo dan Yuna segera memberi salam pada semuanya.
"Leo... Ayah meminta maaf karena Yuna membuat mu khawatir. Dia memang susah di atur, dia sangat nakal...,"
"Ayah....," Leo menatap Ayah. " Terima kasih sudah mendidiknya dengan cara Ayah. Aku berterima kasih untuk cinta Ayah padanya. Ayah... tolong jangan bilang dia gadis nakal dan susah di atur, dia tidak seperti itu, dia sangat baik. Ku mohon... jika nanti dia melakukan suatu kesalahan, tolong jangan hukum dia, tolong jangan menyakitinya, tolong jangan membuatnya menangis," suara Leo menjadi serak ketika mengucapkan permintaannya pada Ayah. Dan Yuna menatap wajahnya dari samping dengan perasaan haru, matanya kembali berkaca-kaca.
"Ayah... aku berterima kasih karena Ayah memberikan ku restu untuk membawanya. Aku berjanji akan selalu menjaganya, aku berjanji akan selalu membuatnya bahagia, aku berjanji tidak akan membuatnya terluka, aku berjanji akan selalu mencintainya, sepanjang hidup ku, bahkan ketika aku sudah tak bernyawa, aku akan tetap mencintainya."
Yuna langsung memeluknya dan menangis. Begitu juga nenek dan ibu tirinya.
Ayah diam memperhatikan putrinya yang memeluk Leo. Beliau tersenyum dan menitikkan air mata, Ayah bersyukur bahwa putrinya mendapatkan laki-laki yang begitu mencintainya, yang akan membuatnya terus bahagia sepanjang hidupnya, Ayah sangat bahagia. Ucapan Leo menyentuh hatinya.
Kebahagiaan orang tua adalah melihat anak-anaknya bahagia bersama dengan orang yang dia cintai dan mencintainya. Ayah tidak kuat lagi membendung air mata kebahagiaannya. Beliau melangkah dan memeluk Leo dan Yuna dengan tangis bahagia.
"Anak-anak ku... semoga kalian selalu di limpahi kebahagiaan yang tiada tara," ucap Ayah penuh haru.
***@****