Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Part 63. Limited Edition


Erwin merasa tersinggung mendengar suara ketus Rio tadi namun berusaha ditahannya. Ia tidak mau menunjukkan kemarahannya di depan kak Nia dan rombongannya demi menjaga imejnya.


Setelah kepergian Tiara, Erwin mendekati kak Nia dan mulai bertanya tentang Tiara.


Tiara sendiri dibawa Zian ke dalam mobilnya yang terparkir tak jauh.


Sepanjang jalan tadi, Zian memegang tangannya dengan erat seolah takut Tiara menghilang.


Ia sampai uring-uringan tadi saat melihat gadis itu duduk berdekatan dengan cowok lain.


" Nah, dah sampai". ucapnya seraya memberikan kode kepada Rio yang segera membuka pintu mobil mewah itu.


" Wah punya siapa nih makanan, banyak banget?!" seru Tiara ketika melihat berbagai macam makanan terhidang di dalam mobil itu. Matanya membelalak lebar melihat pemandangan di depannya.


" Makanan ini sengaja gue siapin untuk lo makan, dari tadi belum makan kan?" tebak Zian benar.


Iya tadi nggak sempat makan bakso karena keburu gugup ditatap Erwin, jawabnya dalam hati.


" Nggak usah mikirin cowok tadi !" ujar Zian ketus seolah tahu yang dipikirkannya.


" Ng . . nggak, siapa juga yang mikirin dia. Aku cuma mengingat bakso tadi yang dimakan kak Nia". jawabnya mengelak.


" Awas lo kalo berani mikirin dia". ucap Zian sambil menjitak dahinya.


Pletok !


" Aduh! " pekik Tiara sontak memegang dahinya yang terasa panas.


" Eh, maaf sakit ya?" Zian refleks meniup dahi mungil itu dengan sayang.


Napasnya terasa hangat menyentuh permukaan kulit gadis itu.


Tiara refleks menahan napas saking dekatnya wajah tampan itu.


" Manjanya udahan ya, makan dulu sana nanti keburu dingin makanannya". ujar Zian setelah menjauhkan wajahnya dari gadis di depannya.


Susah payah ia menahan riuh di hatinya agar tetap terlihat biasa di depan Tiara.


" Kamu dan Rio nggak makan?" tanya Tiara saat melirik Rio yang berdiri tak jauh dari situ.


" Udah, lo makan aja sampe kenyang. Nggak usah mikirin gue dan Rio". balas Zian yang seketika dipelototi Rio yang masih mendengar obrolan keduanya.


Perut Rio sedari tadi belum diisi karena sibuk ke sana kemari untuk mencari makanan yang mungkin disukai gadis pujaan Zian.


Jadi, wajar kalau makanan yang ada di dalam mobil itu bermacam-macam. Padahal tidak semuanya disentuh gadis itu.


" Oke". ucap Tiara kemudian melanjutkan makannya dengan lahap.


Zian hanya duduk menunggu sambil sesekali melihat keadaan sekitar pantai yang mulai ramai dengan pengunjung.


" Alhamdulillah, udah kenyang". ucap Tiara sambil mengusap perutnya.


" Beneran?" Zian memastikan ucapan gadis itu.


" Iya nih, udah kenyang banget. Makasih ya udah dibawain makanan". ucap Tiara seraya memamerkan senyum manisnya.


" Kenapa banyak yang nggak dimakan?" tanya Zian.


Jarinya menunjuk beberapa piring makanan yang masih utuh.


" Oh, maaf aku nggak bisa makan daging ayam ataupun daging lainnya. Bisanya makan ikan, telur, tahu atau tempe doang. Kenapa, emang?" Tiara balik bertanya heran.


" Nggak apa-apa sih, cuma heran aja karena setahu gue cewek-cewek tuh doyannya sama daging ayam. Makanya ayam KFC dan mie ayam abang-abang tuh laku terus diserbu kaum cewek".


" Kecuali aku, hehehe. . . "


"Hem . . gadis limited edition nih". gumam Zian.


" By the way, kapan rencananya pulang?"


" Lusa kak, besok ke Pelni untuk beli tiket".