
"Papa, perkenalkan. Gadis ini adalah calon istriku dan itu artinya dia adalah calon menantu mu," ucap Vano dengan tegas tetapi dengan suara yang lembut. Neva mengangkat wajahnya sedikit dan membawa pandangannya pada Vano. Ia menatap Vano dari samping. Dadanya berdegup dengan penuh haru. Dia mengulang ucapan Vano dalam hatinya, mengulangnya lagi dan lagi. Calon istri. Sesuatu yang begitu indah dalam pendengaran dan hatinya. Sebuah kata yang lebih indah dari kekasih.
Sementara itu, Tuan Mahaeswara langsung terkejut dengan pengakuan putranya itu, terlebih lagi adalah Devia. Bagaimana bisa seseorang yang akan dijodohkan dengannya ternyata sudah memiliki calon istri. Semua mata menatap tajam pada dua anak manusia yang berdiri di depan mereka. Tuan Mahaeswara menggeleng.
Begitu juga dengan Iskandar dan istrinya. Perjodohan yang telah mereka rencanakan terancam gagal jika wanita yang berdiri di samping Vano adalah benar calon istrinya.
"Bagaimana kau bisa menjodohkan putramu dengan putriku jika ternyata putramu sudah memiliki calon istri Mahaeswara?" Tuan Iskandar langsung bertanya dengan nada yang kecewa pada Tuan Mahaeswara.
Nyonya Mahaeswara melebarkan matanya. Suaminya berniat menjodohkan Vano dengan Devia. Yang benar saja, Nyonya Mahaeswara menggeleng tidak setuju.
"Tidak, Mereka hanya berteman. Putraku belum memiliki calon istri," jawab Tuan Mahaeswara tegas.
Patah hati dengan sangat dalam, mata Neva langsung berkaca-kaca mendengar itu. Dia menunduk dan setetes air mata jatuh. Dia ditolak. Rasa bahagia itu menjauh dari dirinya dan langsung diganti dengan rasa yang begitu menusuk dalam hatinya. Perih.
"Pa .... "
"Diam," Tuan Mahaeswara langsung memotong ucapan Vano. Beliau menatap Vano dengan sorot mata yang tajam. Mata Papa dan Anak itu beradu.
Nyonya Mahaeswara yang sedari tadi diam, akhirnya maju dan melangkah. Beliau menempatkan dirinya di samping Neva. Tangan mengulur dan menyentuh pundak Neva. Tangannya berada tepat di sebelah tangan Vano.
"Benar, gadis ini adalah calon menantu kami. Gadis ini adalah gadis satu-satunya yang putra kami cintai," ujar Nyonya Mahaeswara. Neva mengigit bibirnya, ia menahan sesuatu yang terasa sangat sesak di dadanya. Dia menarik nafasnya dengan dalam berkali-kali.
"Jaga ucapan mu Ma," Tuan Mahaeswara memperingatkan Istrinya dengan tegas. Nyonya Mahaeswara menoleh ke arah Vano, memperhatikan putranya itu dari samping. Kemudian membawa pandangan matanya pada suaminya.
"Aku merestui mereka dan bahkan aku yang begitu menginginkan gadis ini untuk bisa menjadi menantu ku. Putraku adalah putra ku, aku yang mengandungnya, aku yang melahirkannya, aku yang menyusuinya. Tidak ada yang boleh menyakitinya bahkan jika itu dilakukan oleh Papanya sendiri," ujar Nyonya Mahaeswara lagi. Beliau menatap suaminya dengan pandangan mata yang sendu. Tuan Mahaeswara menarik nafasnya dengan dalam. Kenapa Istrinya sampai membawa-bawa itu.
Keluarga Iskandar bersungut-sungut. Mereka merasa dipermainkan. Jika putra Mahaeswara telah memiliki calon istri lalu kenapa sang Papa malah berniat menjodohkan dia dengan putrinya.
"Kau mempermainkan kami Mahaeswara," ujar Tuan Iskandar dengan marah. Keluarganya telah jauh-jauh datang ke Ibu Kota dan malah mendapat kekecewaan ini.
"Bukan seperti itu Iskandar, aku sungguh tidak tahu tentang ini, aku mohon maaf," ucap Tuan Mahaeswara penuh dengan permohonan maaf. Beliau membungkuk dan kembali meminta maaf.
"Kau benar-benar mempermainkan kami, aku sangat kecewa padamu," ujar Tuan Iskandar lagi dengan marah dan kecewa. Kemudian, mereka pamit dan langsung melangkah keluar. Tuan Mahaeswara membuntuti mereka dan berkali-kali memohon maaf.
Nyonya Mahaeswara mengusap punggung Neva dengan perhatian, "Tidak apa-apa sayang, tidak perlu bersedih. Om Mahaeswara baik kok, hanya saja saat ini mungkin terjadi miskomunikasi. Tante akan menjelaskannya," ucapnya penuh perhatian. Kemudian, beliau melangkah dan meninggalkan Vano dan Neva.
Vano tidak berbicara sepatah kata pun, dia langsung menarik Neva dalam pelukannya. Dan tangis Neva langsung pecah begitu saja. Rasa tidak diterima teramat menyakitkan. Mereka baru saja berhasil menyakinkan hati Leo yang seolah membeku dengan maafnya pada Vano, lalu saat ini mereka harus menghadapi penolakan dari orang tua. Mereka berdua diam dan saling memeluk hingga beberapa menit.
Vano mendekap erat gadis dalam pelukannya. Jika Papanya tidak merestui mereka, Vano tidak mungkin meninggalkannya tetapi bagaimana dengan Neva. Gadis ini sangat tidak suka dengan sebuah hubungan yang didalamnya ada pertentangan. Apakah dia akan ditinggalkan?
"Kak," panggil Neva serak.
"Ya," jawab Vano rendah.
"Tolong antar aku pulang," pinta Neva. Dia melepaskan pelukannya lalu menunduk menyembunyikan wajahnya yang sembab. Vano memegang pipi Neva dengan lembut dan membawa wajah itu untuk menatapnya. Telapak tangannya menyeka sisa air mata di wajah cantik kekasihnya.
"Maafkan aku," ucapnya. Neva menggeleng.
Kemudian, Nyonya Mahaeswara kembali menghampiri mereka.
"Sayang, Papa menunggu kalian di ruang tengah," ujar Mama.
____
Catatan Penulis ( Curhatan π₯° )
Hallo, maaf jika sedikit dan nggak ada bonus ya. Nanas lagi ngerjain sesuatu dan harus segera diselesaikan. Tadinya mau nggak Up tapi aku tahu jika rindu itu berat (Seperti yang dikatakan kang Dilan)
Jadi meskipun sedikit, Nanas usahain untuk Up buat Sahabat Sebenarnya Cinta π
Yang rindu bang Vano.
Buat yang rindu Bang Lee, tahan sebentar lagi ya.
Terima kasih untuk dukungannya pada kisah ini Sahabat Sebenarnya Cinta π
SSC πΉ aku padamu. Luf you full.
Jangan lupa jempolnya di goyang ya kawan.
Like komen vote. Okey π Terima kasih SSC πΉ