Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Part 47. Fighting


" Anak-anak ! sampai di sini dulu pelajaran hari ini. Jangan lupa belajar yang rajin di rumah ! Hari Senin kita mulai ulangan semester ganjil ! Semua sudah dapat jadwalnya kan?" Tanya pak guru Sudirman wali kelasnya Tiara.


" Sudah paaaak !! jawab anak-anak serempak.


"Jangan lupa belajar ya!"


"Iya paaaak !!


" Baiklah, sampai jumpa minggu depan ". ujar pak guru seraya bergegas pergi.


Seluruh siswa pun mulai keluar dari kelas bergegas pulang.


Begitu juga dengan Tiara dan kedua sahabat nya.


\*\*\*\*\*


Senin lagi.


Tiara melangkahkan kakinya menuju ke sekolah dengan penuh semangat walau pun dalam hatinya ada sedikit was-was dengan soal ulangan yang bakal dihadapinya.


Maklumlah ini kali pertama ia mengikuti ulangan semester di sekolah menengah atas.


Di sekolah tak ada yang tahu kemampuan otaknya. Ia sendiri tidak pernah memamerkan prestasi belajarnya sejak ia bersekolah di sekolah dasar. Dialah pemilik peringkat teratas di sekolah dasar hingga Sekolah Menengah Pertama.


Sayangnya semua itu tidak membuatnya percaya diri untuk membaur dengan teman-teman sekolahnya. Itu karena dia selalu merasa tak percaya diri dengan kondisi fisiknya yang biasa saja.


Itulah sebabnya ia merasa heran dengan Ilham yang bisa menyukainya. Padahal sudah memiliki Nayla yang spek bidadari.


Seperti yang telah diinformasikan oleh Pak guru, hari ini adalah hari pertama ulangan semester.


Sebagian siswa terlihat tegang menunggu. Berbeda dengan siswa yang bawaannya santai. Mereka seolah tak peduli dengan nilai raport mereka nantinya.


Kalau Tiara, jangan ditanya lagi. Seharian kemarin berkutat dengan buku-buku pelajarannya. Tak dipedulikannya handphonenya yang berdering berulang kali. Yang dia pedulikan sekarang hanyalah nilai rapornya. Harus memuaskan pokoknya.


Bukankah itu adalah sifat alaminya seorang Pisces? Dia akan tergila-gila dengan orang yang disukainya namun akan berubah seratus delapan puluh derajat ketika disakiti.


Dan entah, ia sendiri bingung dengan perasaannya saat ini terhadap Ilham. Jujur, masih ada ngilu yang muncul di sana, di sudut hatinya di saat teringat sosok Ilham tapi berusaha ia singkirkan dari benaknya.


Bel masuk berbunyi.


" Hem . . " gumamnya saat membaca tulisan di atas kertas biru laut itu.


" Fighting !" itulah kata penyemangat yang tertulis. Tiara membulatkan matanya.


" Ra, kenapa?" tanya Hesti yang sedari tadi melihat tingkah anehnya.


" Ini ". ucap Tiara sambil memperlihatkan kertas itu.


" Dari siapa?" jiwa kepo Hesti mulai meronta.


Tiara hanya mengangkat bahu tanda tak tahu.


" Kak Ilham kali' !" celetuk Dhilla yang masuk dengan tergopoh-gopoh.


" Nggak mungkin ah! kita kan lagi break". balas Tiara dengan raut muka datar.


" Yakin?"


" Yakinlah, itu kan bukan tulisannya". jawab serius.


" Hem . . siapa lagi yang matanya udah rusak?" tanya Hesti mulai menggoda sahabatnya.


" Maksudnya?" tanya Dhilla tak mengerti.


" Ya iyalah, apa sih yang mereka lihat dari bocah ini? mau napas aja susah karena hidungnya tenggelam gitu. Heran deh cowok-cowok ganteng jaman sekarang, seleranya pada aneh-aneh gitu". celetuk Hesti tanpa merasa bersalah.


" Astaga Hes, kok kamu ngomongnya gitu sih? Tiara kan sahabat kamu juga". timpal Dhilla yang tak paham dengan maksud Hesti.


Tiara hanya tergelak mendengarnya.


" Tuh Ara aja tau kalo aku tuh cuma becanda, mbak Dhilla. Hehehehe". sahut Hesti sambil memeluk Tiara.


" La' kamu kaya' nggak kenal aja sama Hesti". "Syukurlah kalo becanda doang". Dhilla menghela napas lega.


\*\*\*\*\*