
Segera setelah sampai di depan lobi Rumah Sakit, Tuan besar Nugraha melangkah pasti menuju ruangan dimana menantunya dirawat.
Sepasang mata dengan tidak sengaja melihatnya. Kemudian, dengan segera pemilik mata itu membuntutinya dengan langkah pelan.
Disana, Leo baru saja menghabiskan satu porsi nasi goreng yang sebenarnya tidak ingin dia telan. Dia mengambil segelas air putih lalu meminumnya. Yuna menatapnya dengan puas, dia berhasil membuat Leo menghabiskan satu porsi nasi goreng.
Pelan, pintu ruangan terbuka dan Tuan Nugraha melangkah masuk ke dalam. Pemilik mata itu berhenti tak jauh dari ruangan. Tersenyum lalu pergi.
Menyadari papanya datang Leo segera berdiri dan memberi salam. Papa menghampiri Yuna dan mengusap rambutnya dengan perhatian.
"Bagaimana keadaan mu nak?" Tanya beliau.
"Baik Pa, ini hanya demam biasa," jawab Yuna. Papa mengangguk dan kemudian duduk di bangku di samping ranjang Yuna.
"Jaga kesehatan, kau bukan hanya satu tubuh dan satu jantung. Ada jantung lain yang berdetak bersama dengan degupan jantung mu," nasihat Papa penuh kelembutan seorang Ayah pada putrinya. Beliau menatap Yuna. Tentu beliau juga tidak ingin Yuna Kenapa-napa.
Yuna mengangguk, "Baik Pa," jawab Yuna. Leo duduk di ranjang bersama Yuna, tangannya mengambil tangan Yuna dan menggenggamnya.
"Sayang kau harus dengar itu," ucap Leo. Terkadang Yuna sangat susah untuk menurut padanya. Berapa kali dia bilang untuk jangan ceroboh tetapi tetap saja, Yuna selalu ceroboh pada dirinya sendiri. Yuna menatap Leo dan mengangguk.
"Baik, Tuan suami," jawabnya patuh.
"Aku akan menghukum mu jika kau sampai jatuh sakit lagi," ancam Leo. Ibu jarinya mengusap telapak tangan Yuna dengan lembut.
"Kau juga jangan sering mengerjainya," sahut Papa. Yuna dan Leo dengan kompak menoleh ke arah Papa. Papa menatap Leo dengan senyum tertahan. "Anak muda, kau sering mengerjainya bukan tengah malam?"
Leo dan Yuna membeku dengan wajah yang terkejut mendengar Papa mengucapkan itu. Papa sedang meledek? Leo dan Yuna saling menoleh dengan kompak , menatap satu sama lain. Kemudian, Leo kembali menoleh ke arah Papa, sementara Yuna menunduk menempelkan keningnya dipundak Leo. Dia menyembunyikan wajahnya.
"Itu sesuatu yang wajar Pa," jawab Leo. Papa tersenyum.
"Jangan terlalu malam, apalagi berkali-kali," ujar Papa dengan tawa pelan yang membuat Yuna merapatkan matanya, dia merasa malu.
"Aku laki-laki yang penuh gairah, bagaimana bisa aku tidak melakukannya berkali-kali?" Jawab Leo menanggapi Papanya. Yuna semakin memejamkan matanya, tangannya mengeratkan genggaman pada tangan Leo seolah bilang, 'Jangan bahas.'
Papa tertawa ringan mendengar jawaban Leo.
"Kau harus bisa menahannya anak muda," ucap Papa masih dengan tawa ringan.
"Tidak bisa Pa, dia selalu menggoda ku," jawab Leo. Jawaban ini langsung membuat Yuna mengangkat wajahnya dari pundak Leo dan memukul pundak dengan kencang. Apa-apaan dia ini, menyebalkan, batin Yuna. 'Awas saja aku tidak akan memberi mu lagi,' batin Yuna.
Papa tertawa terbahak-bahak dengan itu.
"Jangan percaya Pa, aku tidak pernah menggodanya," ucap Yuna membela diri.
"Mana ada, kau saja yang begitu mudah tergoda pada ku. Padahal aku tidak melakukan apapun," jawab Yuna menyangkal. Dia menatap Leo dengan bibir yang mengerucut.
"Ya, setiap gerakan mu begitu menggoda ku sayang," jawab Leo yang membuat Yuna langsung memerah. Dia menarik tangannya dari genggaman tangan Leo lalu meletakkannya di wajah Leo. Ia menutup wajah Leo dengan telapak tangannya.
Papa tertawa terbahak-bahak melihat mereka berdua. "Ok, hentikan," ujar beliau yang langsung menyadarkan Yuna. Dia segera menarik tangannya dari wajah Leo. Sementara Leo langsung menangkap wajah Yuna kemudian menariknya sedikit di bagian pipi.
Mereka berdua sangat manis, Papa bahagia melihat ini. Leo yang tertawa penuh dengan kebahagiaan membuat hatinya begitu hangat. Tentu saja, kebahagiaan orang tua adalah ketika melihat anak-anaknya bahagia.
"Pa, Mama tahu tentang ini?" Tanya Leo. Leo berharap mamanya tidak perlu tahu. Tapi ternyata Papa mengangguk.
"Ya," jawab beliau. "Papa memberi tahu Mama," lanjutnya.
"Seharusnya Papa tidak perlu memberi tahu Mama tentang ini," ucap Leo.
"Mama harus tahu tentang ini, agar ada yang menemani mu menjaga Yuna," jawab Papa.
____
Catatan penulis ( Curhatan π₯° )
Terima kasih untuk semuanya yang masih setia menunggu. I luv you.
Sukai karyaku tapi jangan di plagiat. Ok.
Sukai karyaku tapi jangan di jiplak. Ok.
Sukai karyaku tapi jangan ditiru adegannya, ( dibuat ulang dengan nama yang berbeda) Ok.
Berkaryalah dengan indah dan memakai etika.
Boleh terinspirasi tapi jangan plagiat. Ok.
#Efek Habis Ada Karya Salah Satu Teman Yang Karyanya di Share di Fb dan diakui sebagai karya itu orang.
Terima kasih. πππ
Jan lupa like komen ya teman. Jempolnya di goyang.
Maaf Upnya sedikit. Next nanti sore ya insyaallah. Bab Babang Vano. Terima kasih.