Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Bab 353_Tidur Lelap


"Setiap malam, peluk aku seperti ini," ucapnya. "Jangan pernah jauh lagi dariku. Kau tidak tahu bagaimana menderitanya aku saat tengah malam aku terbangun dalam ketakutan dalam hatiku. Jangan mencoba untuk jauh lagi dariku," lanjut Yuna. Leo menundukkan kepalanya dan membuat kecupan kasih dikening Yuna.


"Maaf sudah membuatmu khawatir sayang," ucap Leo. Dia mendekap Yuna.


"Jangan hanya meminta maaf tapi kau juga harus bertekad untuk segera sembuh. Kau berjanji akan menemaniku menyaksikan salju," balas Yuna. Tangannya semakin memeluk Leo erat. Menyandarkan kepalanya di dada Leo, menghirup aroma tubuh Leo dalam-dalam dan membiarkannya memenuhi rongga dadanya. Dia sangat rindu aroma tubuh ini, sangat rindu pelukan ini, dan teramat rindu malam dengan penuh kasih. Yuna telah terbiasa dengan apapun yang ada Leo didalamnya. Kasih, perhatian, kemanjaan, semuanya ... dia bak ratu setiap hari. Termanjakan oleh perlakuan Leo padanya.


"Hmm, aku pasti akan menepatinya," jawab Leo. "Aku akan membawamu pada malam saat pertama kali salju turun."


Yuna mengangguk. "Teruslah jaga dirimu, jaga kesehatan, jangan egois dengan dirimu sendiri, jangan membahayakan dirimu sendiri. Jika kau masih saja seperti dulu yang tidak mau mengerti dirimu, pengobatan ini akan sia-sia. Bagaimana jika terjadi sesuatu padamu? Bagaimana dengan ku? Bagaimana aku harus menjalani hidup jika tanpamu. Bagaimana dengan malaikat kecil mu? Jadi ku mohon, terus jaga diri mu dengan sangat baik."


Leo mendekapnya dengan kasih, mencium keningnya berkali-kali. Dia berjanji akan menjaga dirinya dengan sangat baik.


Yuna menguap, dan sepertinya baru kali ini dia merasakan ngantuk. Biasanya, matanya bahkan seolah enggan untuk terpejam.


"Tidurlah, aku akan terus memelukmu," ucap Leo. Yuna mengangguk.


"Selamat tidur," ucapnya. Dia mendongak sebentar dan mencium bibir Leo singkat.


"I love you," bisik Leo lembut di telinga Yuna. Bibir Yuna melengkung dengan bahagia. Dia mengangguk, dan menjawabnya dalam hati.



Malam-malam sepi nan dingin itu telah terlewati. Dia berharap, itu adalah akhir dari kesepiannya tanpa Leo, akhir dari rasa gelisahnya. Dia berharap, ini adalah awal kebahagiaan yang tak berujung, kebahagiaan yang tidak akan terusik oleh apapun.


Matanya terasa begitu lelah. Hatinya bahagia oleh dekap hangat yang dia rasakan dari Leo. Hingga Yuna sungguh terlelap.


Leo terus memeluknya, hingga dia juga terlelap. Sama. Iya, sama. Leo pun sama dengan Yuna. Dia menderita melewati malam hampa tanpa Yuna. Melewati hari tanpa celoteh anaknya. Dia juga sangat menderita ketika menatap wajah Mamanya yang penuh kecemasan. Ya, pengobatan ini tinggal separuhnya lagi. Jika dia tidak menjaga dirinya sendiri, maka akan sia-sia dan mungkin malah akan merugikan dirinya sendiri.


Malam hangat dengan peluk kasih, membawa satu mimpi yang indah. Keindahan yang seolah terus meninabobokan dan membuai.


Pukul setengah lima pagi, Leo bangun. Dia tersenyum memperhatikan Yuna yang terpejam, dia menunduk dan mencium kening Yuna dengan lembut. Kemudian, dia beranjak dan masuk ke kamar mandi.


Yuna masih tidur saat Leo keluar kamar mandi. Dia kembali naik ke atas ranjang dan memperhatikan wajah halus Yuna.



Leo memperhatikannya dengan seksama, wanita miliknya yang tertidur lelap. Dia menunduk untuk mencium bibir Yuna. Tidak ada respon, dia mengulanginya lagi, mencium lembut bibir merah muda Yuna. Kemudian, dengan penuh kasih, dia kembali menyelimuti Yuna. Membiarkan wanitanya masih terbuai mimpi. Leo beranjak tetapi tangannya tertahan oleh sebuah genggaman tangan.


"Mau kemana?" suara Yuna mencegahnya untuk pergi. Leo kembali menoleh ke arah Yuna. Yuna yang menatapnya dengan tatapan mata yang masih sipit.


"Apa aku membangunkan mu?" tanya Leo. Dia mengambil tangan Yuna dari lengannya dan membalik badan menjadi menghadap Yuna.


Yuna mengangguk pelan, "Bukankah kau memang sengaja untuk membangun ku?" tanya Yuna. Dia mengulurkan tangannya dan menarik pelan kerah baju Leo.


"Aku hanya berniat menciummu, bukan membangunkan mu," jawab Leo. Dia mengikuti tarikan Yuna. Kini ... hidung mereka bertemu, saling bergesekan.


"Umm, tapi ciuman mu tidak hanya sekali," ucap Yuna. Dan ... Cup, Leo kembali mencium bibir Yuna.


"Hanya seperti itu," katanya, dia mempraktekkan ciumannya tadi. Bibirnya masih menempel di atas bibir Yuna.


"Bukan, bukan seperti itu. Kau lebih menekannya lagi," jawab Yuna.


Leo tersenyum lebar, "Jadi kau merasakannya? Tapi kau pura-pura tidak merespon? Hmm?" tangan Leo menelusup ke dalam baju tidur Yuna. Mengusap perut Yuna dengan halus. "Apa kau ingin lebih sayang?"


"Sayang, berhenti," Yuna melepaskannya ciumannya, tetapi hidung mereka masih bertemu.


"Kenapa?" Leo bertanya dengan suara seraknya karena mulai menginginkan Yuna.


"Umm, aku takut jika kau---"


"Kita bisa melakukannya dengan pelan-pelan sayang," jawab Leo. Dia langsung menyerbu Yuna. Mengerakkan tangannya dengan semakin liar.


Pagi hari yang panas dengan kelembutan.


_____________________


Malam minggu di Ibu Kota.


Vano dan Neva duduk di bangku bioskop. Mereka tengah menyaksikan film horror lokal terbaru. Yang dimainkan oleh seorang aktris yang terkenal keseksiannya.


"Aku tidak ingin menonton filmnya, menyeramkan," ucap Vano setelah film dimulai.


"Apanya yang seram? Baru juga dimulai, belum ada setan keluar," kata Neva. Dia mengambil pop corn lalu memakannya.


"Tetap saja, aku tidak menyaksikannya," sahut Vano tak mau kalah, "lebih baik menyaksikan kecantikan bidadari disampingku," lanjutnya.


Neva langsung menoleh ke arah Vano dengan senyum yang tertahan.


"Jangan mulai menggombal Tuan muda," ucap Neva malu.


"Siapa yang menggombal?" Vano menatap wajah Neva. Temaram lampu membuatnya semakin jeli memperhatikan wajah Neva.


Tidak ingin berdebat, Neva menelusup tangannya pada lengan Vano. Dia memeluk lengan Vano erat lalu menyandarkan kepalanya di bahu Vano.


"Sssttt, kita nonton saja," ucapnya.


Film mulai berkisah. Sebuah kisah tentang wanita cantik yang sangat seksi. Naasnya, dia dijebak oleh pacarnya sendiri untuk melakukan hubungan terlarang lalu direkam dan disebar luaskan.


Langkah gemulai sang aktris begitu menggoda, dengan baju tidur yang menampakkan lekuk tubuhnya.


"Astaga ...." Neva memekik. Dia menggelengkan kepalanya dengan kesal. "Horror macam apa ini," ujarnya. Film horror yang juga menjual keerotisan. Dia tidak suka. Neva segera mengangkat tangannya untuk menutupi mata Vano. "Jangan lihat," ucapnya tegas.


Vano terkekeh, telat. Batinnya. Dia sudah melihat adegan panas di layar lebar didepannya. Adegan yang membuatnya menahan nafas.


Neva mencerocos kesal dengan film horror satu ini.


"Kita keluar saja, aku tidak ingin melanjutkan nonton," ucapnya. Dia menarik tangannya dari mata Vano. Namun ... Vano langsung menangkap tangannya, menggenggam jemari Neva dengan usapan lembut. Neva menoleh ke arahnya. Mata Vano yang menatap lekat wajahnya.


___________________


Catatan penulis πŸ₯°πŸ™


Jangan lupa sun jempolnya ya kawan tersayang πŸ₯°πŸ™ Padamu. Like koment jangan lupa.


Terima kasih.