Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Bab 263_Kau Nakal


"Aku bilang jangan mencium ku," Neva memprotes.


"Kau menggemaskan jika cemburu," jawab Vano. "Kau salah paham, dengarkan aku," lanjutnya.


"Aku melihatnya sendiri," jawab Neva ketus.


"Apa yang kau lihat?" Tanya Vano.


"Kak Vano mengusap pipi dia," jawab Neva.


"Mengusap?" Vano memicingkan matanya sebentar untuk berfikir dan mengingat kapan dia mengusap pipi Arnis. Dia kembali menatap Neva dengan lekat. "Aku bukan mengusap pipinya, aku hanya mengambil semut kecil di pipinya," jelas Vano penuh perhatian.


"Tapi itu tidak terlihat seperti sedang mengambil semut," tukas Neva. Dia melihatnya sendiri tadi.


Vano menatapnya dengan lembut dan berkata, "Kau bersama Raizel dan tidak mengangkat panggilan dariku," kalimatnya itu seperti skak matt untuk Neva. Dia berkedip dengan cepat dan langsung menepuk keningnya pelan.


"Ponselku tertinggal di rumah," jawab Neva pelan. Dia mengigit bibirnya dan menyadari bahwa dia juga salah karena tidak memberi tahu Vano terlebih dahulu. Dia tidak ingin kecurigaan yang ia miliki dilempar kembali padanya. "Aku tidak sempat membawanya. Raizel ulang tahun hari ini, jadi aku tidak tega untuk menolak ajakannya. Maaf tidak memberitahumu terlebih dahulu," ujar Neva menjelaskan kenapa dia bersama Raizel.


Vano mengangguk, "Tidak apa-apa, kalian berteman."


"Kak Vano tidak marah?"


"Tidak," jawab Vano. Tangan Neva terangkat dan memukul dada Vano dengan kesal.


"Jahat," ucapnya dengan cemberut.


"Jahat kenapa?" Tanya Vano. Tangannya menangkap tangan Neva yang ada di dadanya.


"Kau tidak marah saat memergoki aku dan Raizel duduk bersama. Kau tidak cemburu padaku, itu berarti kau tidak sayang," Neva berucap dengan cemberut. Vano tertawa mendengar itu.


"Kamu sudah menjelaskannya tadi gadis, aku juga melihat sendiri ada kue ulang tahun dimeja kalian tadi," jelas Vano.


"Kak Vano tidak cemburu?"


"Aku cemburu, aku tidak suka dia menggandeng tanganmu," jawab Vano.


"Dan aku sangat cemburu saat Kak Vano dekat dengan wanita lain," sahut Neva. Vano mengangguk dengan senyum. Tangannya masih menggenggam tangan Neva.


"Maafkan aku." ucapnya. Neva mengambil nafasnya dan mengangguk. Kemudian, Vano kembali melakukan mobilnya.


Di sana, di kedai ice cream. Arnis memakan ice cream dengan kesal karena Vano meninggalkannya dan Vano bahkan tidak mengangkat panggilannya. Mulutnya mengomel dengan terampil dan tanpa henti. Dia berjanji akan menghajar Vano setelah ini.


Sementara Raizel, sudah kembali sejak Neva dan Vano meninggalkan kedai itu.


Vano tidak membawa mobilnya menuju ke arah rumah Neva tetapi menuju kearah rumahnya.


"Kenapa kesini?" Neva langsung bertanya. Dia menoleh ke arah Vano.


"Bertemu Mama," jawab Vano.


"Kak Vano," Neva memanggil dengan nada merajuk. Dia hanya memakai kaos lengan pendek saat ini. Rasanya ini kurang sopan untuk bertemu dengan calon mertua.


"Apa," jawab Vano


"Aku ...." Neva menggantung ucapnya. Ia mencari alasan yang tepat.


"Kau mempermasalahkan baju mu lagi?" Tanya Vano. Neva pernah seperti ini sebelumnya.


Neva mengangguk, "Iya," jawabnya.


"Tidak apa-apa. Mama tidak akan memprotesnya," ujar Vano dengan perhatian. Neva mengangguk dengan ragu untuk menyetujui datang ke rumah Vano dengan kondisi dia yang hanya memakai kaos lengan pendek.


Perlahan, mobil Vano parkir di halaman rumahnya.


Kemudian, mereka berdua masuk ke dalam rumah. Nyonya Mahaeswara menyambut Neva dengan bahagia.


"Aku tinggal sebentar ya, tidak apa-apa bukan jika kau bersama Mama?" Tanya Vano yang dijawab anggukan oleh Neva. Kemudian, Vano naik ke atas ke kamarnya, sementara Neva duduk dengan Nyonya Mahaeswara di ruang tengah. Mereka ngobrol dengan seru. Nyonya Mahaeswara memiliki banyak topik untuk dibahas. Hingga tak terasa Vano sudah kembali bersama mereka. Dia duduk di samping Neva.


Indra penciuman Neva langsung merespon, aroma wangi yang begitu memanjakan hidungnya. Dia langsung menoleh ke Vano. Melihat wajahnya yang bersih setelah mandi, rambut basah yang tersisir rapi. Jantungnya berdegup. Neva segera mengalihkan pandangannya.


"Mama kedalam dulu," ujar Nyonya Mahaeswara dan langsung meninggalkan mereka berdua.


"Mama tidak memprotes baju mu bukan?" Tanya Vano yang dijawab anggukan oleh Neva. Tangan Vano terangkat untuk di letakkan di pundak Neva. Ia merangkulnya. Jantung Neva semakin berdegup.


"Kak," panggil Neva rendah.


"Hmm," jawab Vano. Tapi Neva tidak melanjutkan ucapannya, dia diam. Sejujurnya ia ingin bilang 'Aku merindukan mu,' tapi dia malu untuk mengungkapkan itu. "Apa?" Tanya Vano setelah menunggu Neva untuk berbicara lagi tapi ternyata gadis ini malah diam.


"Tidak ada," jawab Neva.


Vano menurunkan kepalanya dan berbisik, "Aku merindukan mu," suaranya yang halus merambat kedalam jantung dan hati Neva secara bersamaan. Bibirnya tersenyum dengan rona merah di pipinya. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Vano. Aroma wangi tubuh Vano semakin jelas dihidungnya.


"Tapi aku tidak merindukan mu," jawab Neva dengan senyum tertahan di bibirnya. Dia berbohong.


"Hhmm, aku tidak percaya," jawab Vano. "Degupan jantung mu begitu kencang," lanjutnya. Neva langsung mengangkat kepalanya dan menatap Vano.


"Serius Kakak mendengarnya?" Neva bertanya dengan kaget. Vano terkekeh dan mencubit pipi Neva.


"Jadi, apa kau sungguh tidak merindukan ku?" Tanyanya. Matanya menatap Neva dengan lekat seolah dia hanya ingin menatap gadis ini saja. Sorot mata yang indah hingga membuat Neva menunduk dengan malu.


"Kenapa kau harus bertanya, seharusnya kau sudah tahu tentang itu," jawab Neva dalam tunduk wajahnya.


Sudut-sudut bibir Vano terangkat membentuk senyuman. Ia mengulurkan kedua tangannya dan memeluk Neva. Cinta yang datang dan menguasai hati. Menitipkan satu rasa pada sang kekasih. Ia berharap, rasa ini terus tumbuh bersama dan menjadikan gadis ini sebagai miliknya dengan perasaan dan ikatan yang sempurna.


"Gadis, mari kita menikah," bisik lembut ditelinga sang gadis. Ungkapan perasaan yang membawa keindahan. Wajah Neva semakin bersemu merah. Ia mengigit bibirnya untuk tidak tersenyum dengan lebar. Jantungnya semakin berdegup tak karuan.


"Katakan itu didepan orang tuaku," jawab Neva pasti.


"Tentu," ucap Vano dengan kesungguhan. "Apa ada syarat lagi gadis?"


"Hmmm, tidak ada. Cukup katakan itu didepan orang tuaku," jawab Neva.


"Baik," ucap Vano. "Kau sudah makan?" Tanyanya. Neva menggeleng.


Vano melepaskan pelukannya dan mengangkat wajah Neva dengan kedua tangannya. Membuat wajah Neva menatapnya.


"Kau mau makan di luar?" Tanya Vano.


Neva menggeleng, "Tidak," jawabnya. "Melihat mu bersama dia membuatku tidak ingin makan apapun," lanjutnya.


"Aku sudah menjelaskan jika itu hanya kebetulan dan yang kau pikir mengusap pipi itu hanya mengambil semut kecil di pipinya," Vano menjelaskan lagi. Neva masih mengerucutkan bibirnya. Lalu Vano dengan sengaja memonyongkan bibirnya dan mendekatkan kearah bibir Neva, seolah ia ingin menciumnya.


"Aaaa ...." Neva menggeleng dan mengulurkan tangannya untuk menutup bibir Vano agar tidak sampai di bibirnya. Vano terkekeh dan mengambil tangan Neva dari bibirnya.


"Aku bercanda," ucap Vano.


"Awas aja jika berani," ancam Neva.


"Tidak berani," jawab Vano sambil menguncupkan kedua tangan. "Kecuali terpaksa," lanjutnya dengan menggoda. Neva langsung memukuli bahunya dengan bertubi. Vano tertawa terbahak-bahak mendapat pukulan itu.


Kemudian, mereka berdua makan diluar bersama dan Vano mengantar Neva pulang pada pukul 21.30.


____


Ditempat lain di malam yang sama. Di rumah Tuan muda Leo.


Leo baru saja selesai mandi dan dengan masih memakai jubah handuknya ia duduk di sofa di samping Yuna. Dia memperhatikan televisi sebentar lalu beralih memperhatikan Yuna. Tangannya terangkat dan membenarkan rambut Yuna, meletakkannya di telinga Yuna dengan pelan.


"Belum ngantuk?" Tanyanya.


"Huum, belum." Jawab Yuna tanpa menoleh ke arah Leo. Ia masih asik memperhatikan televisi. Leo beranjak dari duduknya dan keluar kamar. Ia turun dan menuju dapur. Ia mencari mie instan tapi tidak ada. Dia ingat bahwa dia masih memiliki dua mie instan rasa soto tapi dia tidak menemukannya.


Pada akhirnya, dia hanya membuat segelas susu coklat untuk Yuna.


"Terima kasih," ucap Yuna setelah menerima segelas susu dari Leo.


Leo mengangguk dan kembali duduk di samping Yuna. Tangannya mengulur dan mengusap perut Yuna dengan lembut.


"Sayang, apa yang kau rasakan?" Tanya Leo dengan perhatian. Yuna meletakkan gelas diatas meja dan membalas tatapan Leo padanya.


"Pinggang ku terkadang terasa sangat pegal," jawab Yuna. Tangan Leo langsung berpindah ke pinggang Yuna, menyentuhnya dengan lembut.


"Aaaa," Yuna berteriak pelan dan menggeliat, "Itu geli," ucapnya. Dia mengambil tangan Leo dan meletakkannya di pinggang bagian belakangnya. "Disini," ujarnya. Leo mengangguk dan dengan pelan dia memijit disana.


"Apa ini enak?" Tanyanya.


"Sedikit," jawab Yuna. "Ada yang lebih enak dari ini," lanjutnya menirukan ucapan Leo kemarin.


"Kau ...." Leo menatapnya dengan tatapan mata yang menggoda dan tangannya langsung meluncur ke ikatan piyama Yuna. "Aku akan memberikan yang kau inginkan Ratuku," lanjut Leo dan saat itu juga tangannya sudah berhasil membuka ikatan piyama Yuna.


"Sayang, aku bercanda," ujar Yuna. Ia menutup tubuh bagian depannya dengan kedua tangannya.


"Tidak ada bercanda, kau merayuku," Leo menolak alasan itu.


"Au, au, pinggang ku," Yuna memekik dengan ekspresi meringis kesakitan. Wajah Leo langsung berubah menjadi cemas. Yuna menahan senyum dengan itu.


"Yang mana, aku akan memijitnya," ucapnya dengan perhatian. Tangan kanannya mengusap perut Yuna, sementara tangan kirinya memijit pinggang Yuna. "Enakan?" Tanyanya.


"Huum," jawab Yuna dengan anggukan.


"Menghadap kesana," pinta Leo. Yuna menurut, ia menggeser duduknya hingga posisinya membelakangi Leo. Tangan Leo dengan pelan dan hati-hati memijit pinggang Yuna. Pijatan tangannya membuat Yuna keenakan. Dia mengambil ponsel yang ada di atas meja dan membuka kamera pada ponselnya. Mengarahkan kamera itu pada wajah mereka berdua.


"Tukang pijit baru," serunya dengan senyum lebar. "Dia sangat tampan dan terampil, duh duhhh ...." ucapnya lagi. Leo membuat bibirnya seolah bilang 'Muach' pada kamera. Setelah membuat Vidio, Yuna mengambil beberapa foto mereka berdua.


Setelah beberapa menit, Leo menyudahi pijatannya dan langsung memeluk Yuna dari belakang. Ia menyandarkan kepalanya di pundak Yuna dan sedikit membuat kecupan di leher Yuna.


"Sayang," panggilannya rendah.


"Ya?"


"Berapa lama waktu wanita saat nifas?" Tanya Leo. Dia sudah membaca buku tentang itu tapi rasanya ia tidak ingin mempercayai. Aneh bukan?


"Biasanya, empat puluh hari," jawab Yuna yang langsung membuat Leo lemas. Jadi sungguh dibuku itu benar. "Tapi itu bisa tergantung masing-masing orangnya. Ada yang juga yang kurang dari empat puluh hari," sambung Yuna.


"Berapa hari kurangnya?" Tanya Leo segera.


"Umm, ada yang masa nifasnya dua puluh lima hari, ada yang tiga puluh hari," jawab Yuna.


"Itu masih sangat lama," Leo memprotes. "Tidak adakah yang lebih sedikit dari itu, satu minggu saja seperti yang sering kau sebut lampu merah," lanjutnya. Yuan tertawa terbahak-bahak mendengar protes Leo. Tangannya terangkat dan mengusap rambut Leo dengan gemas.


"Tidak ada," jawabnya dengan sengaja.


"Jadi aku harus puasa selama itu?"


"Ya," jawab Yuna dengan tawa yang tertahan.


"Membuat ku frustasi," ujarnya dengan cemberut. Bibir seksinya semakin imut ketika dia merajuk.


"Hahaaa, kau masih bisa mencium ku. Ya kan?"


Leo mengangguk, "Benar," ucapnya. Dia melepaskan pelukannya dan membuat Yuna menoleh ke arahnya. "Seperti ini," Leo langsung mencium bibir Yuna. Melekat dan saling terpaut.


"Kau nakal," ujar Yuna. Ia menghindar sebentar.


"Aku bahkan lebih nakal dari ini," jawab Leo. Ia langsung menyerbu Yuna dengan rakus.


____


Catatan Penulis


Terima kasih untuk semuanya yang masih setia menunggu kisah ini πŸ₯° Padamu kesayangan πŸ₯°πŸ˜˜


Jan lupa like komen ya kesayangannya Nanas πŸ₯° Yang ada poin Vote juga... 😘😘 Luv luv πŸ₯°πŸ˜˜πŸ™ Terima kasih Sahabat Sebenarnya Cinta 🌹 Padamu πŸ₯°