
Leo masuk kedalam lift dan memencet angka 4.
"Uhum," dia berdehem dengan senyum. Dia akan gantian mengomeli Yuna setelah ini.
Ting. Pintu lift terbuka. Dua orang pelayan langsung menyambutnya begitu lift terbuka. Mereka berdua membungkukkan badannya dengan sopan. Kemudian, membukakan pintu ruangan yang telah di pesan untuknya.
Pintu ruang itu terbuka pelan dan teratur, memperlihatkan seseorang yang sudah berdiri disana menunggunya. Dia memakai heels, gaun berwarna putih tanpa lengan. Gaun putih yang dengan apik nan cantik menampakkan pundak halus Yuna. Yuna juga memakai satu set perhiasan hadiah dari Mama dan menata rambutnya ke atas. Rambut adalah bagian yang harus ia tata dengan benar malam ini. Ia tidak ingin satu helai rambut pun menghalangi kecupan yang pasti akan ia dapatkan.
Yuna tersenyum dengan manis menyambut suaminya. Dia sedikit terkejut dengan kedatangan Leo yang memakai pakaian formal dan membawa buket bunga. Kemudian, dia tersenyum lebar. Apakah Tuan suami mengetahui Prank nya? Batin Yuna.
Leo melangkah dengan pasti menuju wanita yang mendebarkan jantungnya, menguasai hatinya. Matanya tidak dibiarkan untuk menatap sekitar. Dia hanya menatap sosok cantik yang ada di depannya. Bibirnya melengkung dengan indah kemudian ia menyerahkan buket bunga ditangannya.
"Terima kasih," ucap Yuna menerima bunga dari Leo. Tangan mereka bertemu, dan Leo langsung menarik pinggang Yuna untuk menempel di tubuhnya. Ia menunduk dan menyatukan bibirnya. Menyesapnya dengan kesal, gemas tapi penuh kasih. Tangan Yuna melingkar di leher Leo. Ia menyambut ciuman itu. Saling membalas penuh cinta.
"Kau menipuku, hmmm?" Leo melepaskan ciumannya tetapi hidung mancung mereka masih bertemu. Nafas mereka masih saling menyapa.
Yuna menggeleng pelan. Dan Leo menciumnya lagi. Menggelitik halus kedalam mulutnya. "Katakan, kau menipunya," katanya lagi yang dijawab gelengan kepala oleh Yuna. Dan Leo menciumnya lagi. Menciumnya lagi dan lagi hingga Yuna hampir kehabisan nafas. Leo sangat kesal dan gemas padanya. Yuna hampir membuat jantungnya meledak karena berpura-pura marah dan meninggalkannya.
"Kau pikir itu lucu? Hmm?" tanyanya lagi. Yuna menggeleng lagi. Dan Leo melahap bibir Yuna lagi dengan rakus. "Katakan, kau menipuku," ucap Leo. Bibirnya masih menempel disana.
"Huum," pada akhirnya Yuna mengangguk. Dan Leo langsung mengigit lehernya dengan sangat kesal. Menjelajahi leher mulus Yuna dengan bibirnya.
"A- aku minta maaf," ucap Yuna dengan nafas tersengal.
"Jadi kau sudah merencanakan ini? Kau puas mengerjaiku?" Leo melepaskannya. Dia menatap Yuna dengan intens. Dan Leo kembali menunduk untuk mengambil ciumannya lagi, tapi Yuna segera berpaling.
"Sayang, kita duduk dulu okey," ucap Yuna.
"Tidak, aku belum puas menghukummu," jawab Leo.
"Kau boleh menghukumku lagi, nanti di rumah," ucap Yuna. Dia memberi isyarat mata jika ada pelayanan yang berdiri berjejer untuk melayani mereka. Leo menunduk lagi dan mengambil ciuman singkat.
"Baik. Kau harus menerima hukuman nanti," jawab Leo. Kemudian, mereka berdua duduk di tempat yang telah di siapkan.
Seorang pelayan wanita dengan anggun meletakkan cemilan pembuka mereka dan air mineral. Mereka tidak minum wine jadi Yuna memang memesan air mineral. Eit, jangan mengira jika air mineral ini murah. Β Aqcua di Cristalo Tributo a Modligiani sebotol air putih yang sumbernya berasal dari mata air di Fiji dan Perancis ini dibanderol dengan harga USD 60.000.
"Sepertinya Prank ku gagal," ucap Yuna dengan memanyunkan bibirnya.
"Apanya yang gagal? Kau hampir membuat ku mati beberapa menit yang lalu," jawab Leo kesal. Dia masih sangat kesal pada Yuna.
"Tapi kau kesini sudah berpakaian dengan rapi, itu artinya kau sudah mengetahuinya rencana ku."
"Hhh, dasar. Kau nakal," Leo mendekat ke arah Yuna dan mengigit daun telinga Yuna pelan. Rasanya dia ingin memakan Yuna hingga puas untuk meluapkan kekesalannya.
"Jadi sungguh, kau sudah mengetahuinya?"
"Tidak, Papa yang memberikan ini tadi di bawah," jawab Leo. Yuna langsung menoleh ke arah Leo.
"Benarkah?" tanyanya yang dijawab anggukan pasti oleh Leo. "Papa ter keren," Yuna bertepuk tangan untuk Papa.
"Kalian bersekongkol mengerjaiku," tangan Leo meraih jemari Yuna lalu menggenggamnya. "Jadi, marahmu malam itu akting?"
"Marah sungguhan," sahut Yuna segera. "Aku tidak suka sesuatu yang berhubungan dengan mantan pacarmu. Mulutmu, jangan pernah menyebut namanya, hatiku sakit mendengarnya," jawab Yuna. Leo mengangguk. Yuna mengambil satu stroberi coklat lalu memberikannya pada Leo.
"Apa kau ingat jika aku pernah berjanji untuk mentraktir mu makan malam di restoran paling mahal di negara ini?" tanya Yuna.
Yuna mengangguk. Dia menatap Leo. "Ku penuhi janjiku padamu," ucapnya. Leo tersenyum dan mengusap pipi Yuna dengan kasih.
"Terima kasih," ucapnya. "Kau hebat bisa mendapatkan tempat disini. Biasanya para konglomerat bahkan memesannya satu tahun sebelumnya," ujar Leo. Restoran ini terkenal akan kemewahannya. Hanya ada 10 tempat yang mereka sewakan setiap harinya. Jadi memang harus mengantri panjang untuk bisa makan di tempat ini.
"Ya, tentu saja," jawab Yuna dengan bangga. Dia tersenyum lebar, "Apa kau lupa, jika aku memiliki perdana menteri?" Yuna mengedipkan matanya.
Leo tertawa lebar, "Jadi ini ada campur tangan beliau?"
"Hu'um," Yuna mengangguk. Lalu nyengir memamerkan giginya. "Ini demi dirimu, sayang," ucap Yuna.
"Ohhhh ... so sweet," Leo mencubit gemas pipi Yuna.
Kemudian, pelayanan datang lagi. Dia dengan hati-hati meletakkan sajian tertutup di atas meja. Setelah itu, dia pergi.
"Waaww, apa ini? Kenapa di tutup?" tanya Yuna heran. Leo mengangkat bahunya. Dia juga tidak tahu isinya apa. Leo menyesap minumannya dulu sebelum membuat menu tertutup itu.
Kemudian, tangannya dengan pasti membuka menu itu. Awalnya dia mengira bahwa menu ini adalah menu private semacam White Truffle atau Kobe Beef mungkin, dan ternyata dia salah.
Leo memutar pandangannya pada Yuna setelah menemukan kotak ada dibalik tutup menu itu.
Yuna tersenyum, "Untukmu," ucapnya. Sebuah jam tangan yang ia beli untuk Leo. Leo menatapnya dengan haru.
"Terima kasih," ucapnya yang dijawab anggukan oleh Yuna.
"Semoga kau suka. Aku sudah memperhatikan semua jam tangan yang kau miliki, dan sepertinya model ini kau belum punya," ujar Yuna. Leo mengangguk. Melihat kotaknya saja, sebenarnya dia sudah tahu bentuk dari jam tangan yang Yuna pilih. Leo segera membukanya.
Sebuah jam tangan kombinasi antara case batu safir dan piringan dasarnya terbuat dari titanium grade.
"Wawww ...." Leo berucap takjub. Dia mengambil jam tangan itu lalu memakinya, "Sangat keren," ucapnya. Yuna mengangguk.
"Pakai apa saja, kau selalu keren," jawab Yuna. Leo menoleh ke arah Yuna lagi.
"Kau sangat kaya Nyonya," ucap Leo. Harga jam tangan ini tidak main-main. Yuna tertawa lebar mendenger itu.
"Hmm sepertinya aku juga mulai sedikit gila seperti mu dalam menghabiskan uang," jawabnya.
Leo ikut tertawa mendengar jawaban Yuna. Kemudian, dia berdiri dan menawarkan tangannya.
"Tuan putri, maukah kau berdansa dengan ku?" tanya Leo. Yuna menatapnya dan kemudian memberikan tangannya untuk menyambut uluran tangan Leo.
Tangan mereka bertemu, menyatu dengan harmonis. Pelan, suara instrumen tentang cinta langsung terdengar dengan romantis menemani dua insan yang mendekap dan menggenggam erat.
__________________
Sementara disana. Di rumah besar keluarga Nugraha. Berbaris dengan rapi Vano, Neva, Dimas, Nora, dan Mama. Mereka tengah menunggu kabar dari Papa atau Leo. Kenapa Yuna bisa sampai meninggalkan rumah tanpa kabar.
____________
Catatan Penulis π₯°π
Woooohhh Up tengah malam π²π²ππ
Jangan lupa like koment vote ya kawan tersayang π₯° Terima kasih π₯°π Ummm ... boleh dong share SC ke temen2 yang lain π₯°π₯°π Ilupyu π