
Korea, Jepang atau Paris? Pada akhirnya, dia memilih di rumah saja. Mengingat bagaimana kondisi dunia saat ini.
"Baik, Mama akan menyampaikan ini pada keluarga Mahaeswara," ujar Mama menyetujui keputusan ini.
"Bagaimana jika kita makan malam bersama saja untuk membahas ini?" Papa memberikan pendapat. "Agar keputusan tidak diambil sepihak," lanjut beliau.
Mama mengangguk, "Ya, itu yang paling tepat Pa," jawab Mama.
"Jangan menunda-nunda lagi," sahut Dimas. Ia memberikan Baby Dim yang sudah tertidur kepada Nora. Kemudian, Nora beranjak dari tempat duduknya dan membawa anaknya ke dalam kamar Baby Lee. Dia duduk di atas ranjang di samping Yuna. Mereka berdua berbincang tentang ibu muda yang baru saja memiliki bayi.
Sementara di ruang tengah masih membahas pertunangan. Mereka sepakat untuk mengadakan makan malam besok.
Leo meminta izin untuk tidak hadir, karena dia tidak mungkin meninggalkan Yuna di rumah sendiri sedangkan dia menghadiri makan malam keluarga. Neva menatapnya dengan sedikit kecewa tapi dia tidak bisa menyalahkan kakaknya juga. Bukan hanya Neva yang sedikit kecewa dengan izin ketidak hadiran Leo pada acara makan malam nanti tapi juga Papa, Mama dan Dimas.
"Ini hanya menentukan waktu dan tempatnya, bukan lamaran. Seharusnya Papa dan Mama saja juga sudah cukup," ujar Leo.
"Makan malam bukan hanya untuk merundingkan waktu dan tempat tetapi lebih kepada agar dua keluarga semakin dekat, bukan hanya pada Papa dan Mama tetapi semua keluarga," Papa segera menyahutnya. Leo dalam masalah ini, masih tetap Leo yang dulu. Tidak begitu tertarik dengan keramaian. Terlebih jika dia harus meninggalkan Yuna dirumah sendiri bersama bayinya.
"Ok, kau ingin kita makan malam dimana agar kau bersedia untuk ikut?" Dimas kini yang menyambung papanya.
"Aku tidak mungkin meninggalkan Yuna sendiri di rumah Kak," Leo membalas tatapan Dimas padanya.
"Bagian mana yang sendiri? Ada banyak asisten rumah tangga, kau juga mengambil tenaga ahli untuk ikut menjaga putramu," Dimas menyahutnya lagi. Leo tidak sependapat dengan itu, Yuna sendiri jika tanpanya. Pun jika seluruh dunia menemani Yuna.
"Acara ini hanya sebentar saja Lee, kau terlalu berlebihan. Ini seperti saat kau pergi kerja lalu kembali saat waktunya kembali itu tidak terhitung meninggalkan istri mu sendiri kan?" Dimas menyahut lagi. Adiknya ini memang sangat berlebihan jika menyangkut wanitanya. Lama-lama dia menjadi sangat kesal. Sepertinya laki-laki didunia ini hanya Leo saja yang begitu menempatkan wanitanya diatas segalanya. Itu sedikit menyebalkan untuk Dimas yang berpikiran terbuka. Dia yakin jika Leo akan gila jika Yuna meninggalkannya. Mencintai dengan hati, hidup dan jiwanya, itu mengerikan.
Dimas dan Leo masih saja berdebat tentang itu tetapi kemudian mereka berdua diam saat Mama dengan lembut menengahi mereka berdua. Mama tahu bagaimana watak putranya, Mama hafal jika Leo tidak akan bisa dibantah jika itu tentang wanitanya.
"Makan malam tidak harus di luar bukan? Yuna baru saja melahirkan dalam proses persalinan yang begitu panjang, wajar jika Lee begitu mencemaskan dia," ujar Mama dengan perhatian. "Untuk garis tengahnya, bagaimana jika kita makan malam di sini saja? Kita bisa menyewa chef hebat untuk menyajikan makan malam, bagaimana?" Usul Mama. Leo menyetujuinya pun dengan yang lain. Ini lebih baik dan sangat baik. Leo tetap ikut tanpa meninggalkan Yuna, dan Yuna juga bisa ikut dalam acara ini.
Jika Yuna tahu bahwa Leo berdebat tentang ini, dia pasti akan mengomelinya, ketrampilannya dalam mengomel sudah tidak diragukan lagi. Untung saja dia tidak berada di ruang tengah. Ini menyelamatkan Leo dari omelan Nyonya muda.
Pukul 11 malam, Papa, Dimas dan Nora kembali kerumah besar keluarga Nugraha. Sementara Mama dan Neva menginap di rumah Leo. Mama meminta izin untuk bisa membawa Baby Arai tidur bersamanya. Dua jam sekali, Mama berjanji akan datang ke kamar Leo untuk mengantar Baby Arai untuk ASI. Biarlah untuk malam ini Mama yang begadang.
_Di kamar Leo.
"Keputusan yang sangat bagus," ujar Yuna setelah Leo menjelaskan bahwa acara makan malam akan diadakan di rumah mereka. Tentu dia bercerita dengan memotong adegan alasan kenapa pada akhirnya keputusan itu diambil.
"Apa yang akan kita hadiahkan pada mereka?" Tanya Yuna. Ia menyandarkan kepalanya di dada Leo. Tangannya memeluk pinggang Leo.
"Kita bahas nanti saja," jawab Leo. "Sudah larut, tidurlah, kau harus bangun lagi nanti. Jaga kesehatan," lanjut Leo dengan perhatian. Yuna mengangguk. Leo mengusap rambutnya dan meninggalkan kecupan di kening Yuna sebelum dia juga terpejam.
____
Meja panjang elegan itu sudah penuh dengan alat makan yang tertata dengan rapi. Dua keluarga sudah berkumpul. Mereka duduk di tempatnya masing-masing dengan hidmat. Hanya tinggal Yuna saja yang belum hadir dan ikut bergabung dalam meja panjang elegan itu. Meski ini di rumahnya sendiri tetapi dia terlambat, itu karena dia harus memberi ASI dulu pada bayinya.
Yuna menuruni tangga dengan perlahan, ia meninggalkan Baby Arai bersama perawatannya. Ia berjalan menuju ruang makan.
"Malam," jawab semuanya.
"Duduk, nak," ujar Mama. Yuna mengangguk. Ia membawa pandangannya pada Leo. Leo ada di seberang sana sebelah Kak Dimas. Ia berjalan dengan senyum menuju tempat duduknya di samping Leo. Mata mereka bertemu, meski mereka berdua sudah saling bersama untuk sekian waktu tetapi ketika pandangan mata itu bertemu, degupan jantung masih saja seperti genderang. Yuna sudah membawa langkahnya dengan sangat hati-hati tetapi langkahnya menjadi tidak seimbang saat kaki kanannya tersandung oleh kakinya sendiri. Si Nyonya ceroboh.
Melihat Yuna tidak menguasai langkahnya, Leo dengan cepat beranjak dari duduknya untuk menangkap Yuna.
Tap.
Seseorang yang lebih dekat terlebih dahulu menangkap tubuh Yuna. Tangannya melingkar sempurna di pinggang Yuna. Ia memeluk pinggangnya dan menahan tubuh Yuna dengan satu kakinya. Sedangkan tangan Yuna refleks melingkar di leher seseorang itu, mereka seperti sedang melakukan dansa. DEJAVU .... ini pernah terjadi dalam pesta kala itu. Pertemuan pertama Yuna dengan Vano.
Leo segera menarik lengan Yuna dengan keras untuk melepaskan pelukan itu.
"Sayang, maaf," Yuna berkata dengan takut. Leo tidak menjawabnya tetapi ia mengeratkan giginya. Otaknya menggila dengan amarah yang hampir meledak. Bug ... dia melayangkan tinjunya pada wajah Vano. Vano ingin meminta maaf tetapi Leo tidak memberinya kesempatan untuk itu. Ia dengan amarahnya yang memuncak terus menghajar wajah Vano.
"Bren9s3k" ia memaki dengan kebencian. Nafasnya tersengal karena amarahnya.
"Hentikan," Yuna mencoba untuk melerai mereka.
"Yuna milikku, aku akan mematahkan tanganmu karena kau berani menyentuhnya," ujarnya dengan sorot mata yang berubah menjadi iblis.
Plak. Yuna menamparnya. Leo segera membawa pandangannya pada Yuna. Kenapa, kau membelanya, kenapa ini terjadi lagi, Leo menatapnya dengan sendu, ia menangis.
Lalu ....
"Sayang, sayang, kau kenapa?" Yuna mencubit dengan keras pipi Leo. Leo merasakan sakit dipipinya, ia membuka mata dengan nafas yang terengah-engah. Ia menatap Yuna dengan diam beberapa detik lalu langsung memeluknya dengan erat. Dia bernafas dengan lega meski masih diliputi ketakutan.
"Kau mimpi buruk?" Yuna membalas pelukannya. Ia mencium pipi yang baru saja dia cubit. Dia sudah berusaha untuk membangunkan Leo yang dalam tidurnya terlihat sangat tidak nyaman tetapi tidak berhasil, hingga dengan terpaksa ia mencubit pipinya. "Kau mimpi buruk?" Yuna mengulangi pertanyaannya. Leo mengangguk pelan.
"Sangat buruk," jawab Leo.
"Hanya mimpi, tenang okey," Yuna menenangkannya. Ia mencium pipi Leo lagi. Ini masih larut malam untuk bertanya apa mimpi itu. Yuna hanya terus menenangkannya. Memeluknya dengan kasih dan membisikkan ucapan cinta untuk Leo. Suaranya bagai sihir dengan kata cinta sebagai mantranya. Hati Leo mulai tenang, nafasnya mulai teratur meskipun dia tidak mengeluarkan sepatah kata pun.
_____
Catatan Penulis π₯°
Terima kasih untuk sahabat semuanya π Terima kasih udah ngasih pendapatnya. Padamu ... πππ
Author akan berusaha memberi yang terbaik.
Ilupyu kawan tersayang nanas ππ
Jangan lupa like komen ya kesayangan. Jika berkenan silahkan vote ππ Terima kasih πππ