Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Bab 207_Bimbang


Sarapan pagi selesai dan seperti biasa Leo menyeka ujung bibirnya dengan anggun, dia juga melakukannya untuk Yuna.


Mata itu terus memperhatikan dalam tundukan kepalanya. Mata itu, menyimpan kekaguman seperti Yuna saat pertama kali memperhatikan Leo ketika makan. Ketika sendok itu perlahan masuk ke dalam mulut, kemudian mengunyah makanan, bibir seksi yang seolah tengah berdansa dengan irama lembut dan hingga menyeka ujung bibir. Tidak ada yang tidak anggun dari makhluk indah satu ini. Dia tersenyum dalam diam melihat itu.


"Kau sudah selesai Alea?" Suara Leo menyadarkannya. Alea segera mengangkat wajahnya dan menatap Leo.


"Emm, sudah Tuan muda Lee," jawabnya dengan senyum.


"Albar akan mengantar mu," ucap Leo padanya. Alea mengangguk pelan.


"Ini masih terlalu pagi, kenapa buru-buru?" Sahut Yuna. "Kita belum menyelesaikan drama Korea yang kita tonton kan? Kita selesaikan hari ini," lanjut Yuna.


"Hahaaa, baiklah," ucap Alea senang.


Kemudian, mereka bertiga keluar dan langsung di sambut oleh suara nyaring dari luar. Neva berlari dari ruang tamu dan langsung menuju ruang tengah. Dia menghentikan langkahnya sebentar dan menatap Kakaknya. Kemudian, dia segera menghamburkan pelukannya pada Leo.


"Kak Lee," gumamnya. Dia sangat bersyukur bahwa Leo baik-baik saja.


Leo membalas pelukannya dan mengusap punggungnya dengan perhatian. Dia menunduk dan berbisik.


"Aku akan menukar mu dengan adik yang lain jika kau sampai membocorkannya," Leo berbisik dengan sangat pelan.


"Tidak akan berani," jawab Neva.


"Bagus," ucap Leo. Kemudian, dia melepaskan pelukannya.


"Kau mau hadiah apa untuk wisuda mu?"


"Aku masih memikirkannya. Aku akan akan meminta yang paling mahal," jawab Neva. "Oh, hai... Kak Alea," sapa Neva.


"Hai, Nona Neva," jawabnya dengan senyum. Kemudian, Neva mendekati Yuna dan mencium pipinya. Lalu tangannya menyentuh perutnya.


"Selamat pagi baby Lee, sapa aku dengan tendangan mu," ucapnya. Namun dia harus kecewa karena sapaan paginya dicuekin. Yuna tertawa terbahak-bahak melihat Neva yang cemberut.


"Sedih, cinta ku tak terbalas," ucapnya dengan teraniaya. Lalu dia menoleh ke arah Kakaknya.


"Sepertinya dia akan sedingin diri mu nanti, Tuan muda," ucapnya pada Leo.


"Tidak. Dia akan ramah seperti mommy nya," jawab Leo segera. Tangannya terangkat dan mengusap rambut Yuna dengan kasih. Yuna menoleh dan tersenyum padanya.


"Aaah, hentikan. Kalian akan membuat ku gila jika sudah saling menatap," Neva langsung menyerobot ke tengah di antara Leo dan Yuna.


Alea tertawa ringan melihat mereka bertiga. Begitu harmonis. Tangannya terangkat untuk di letakkan di dadanya yang terasa berdebar namun sakit. Debaran yang rasanya begitu menakutkan. Logika dan perasaannya mulai berperang.


Kemudian, Leo naik ke atas dan menuju ruang belajar. Dia masih belum masuk kantor hari ini jadi dia akan bekerja di rumah.


Sementara Yuna, Alea, dan Neva duduk di sofa di ruang tengah. Mereka bertiga menonton drama Korea.


"Yuna, bagaimana kau bisa bertemu dengan Tuan muda Lee?" tanya Alea di sela-sela tontonannya.


"Hmm?" Yuna menoleh ke arahnya. "Bertemu dengan dia?" Tanya Yuna untuk memastikan. Alea mengangguk. Neva menoleh untuk menatap Alea.


"Sejauh yang ku tahu, Tuan muda Lee memiliki kekasih sedari kecil tetapi ternyata dia menikah dengan mu," lanjut Alea.


"Iya, namanya Kiara," jawab Yuna. "Leo begitu mencintainya__"


"Kak Yuna wanita yang cantik" Neva memotong ucapan Yuna. Dia tahu Yuna tidak suka ketika nama itu diungkit. "Tentu mata kakak ku langsung terpesona," lanjut Neva. "Iya kan bidadari?" Dia menyenggol lengan Yuna pelan dengan senyum.


"Hahaha.... iya, iya," jawab Yuna dengan tawa.


"Wahh, siapa yang tidak jatuh cinta pada bidadari?" sambung Alea. Dan mereka bertiga meneruskan menonton drama Korea dengan hening, hanya ada suara Neva yang memakan cemilan ringan. Krauk.


Beberapa menit kemudian, Yuna beranjak dari duduknya.


"Mau kemana Yuna, apa kau mau sesuatu? Biar ku ambilkan untuk mu," ucap Alea ketika melihat Yuna beranjak.


"Tidak ada, aku mau ke atas," jawab Yuna dengan senyum. "Kalian lanjutkan nontonnya," sambungnya yang di jawab anggukan oleh Neva. Alea memperlihatkan Yuna yang perlahan menaiki tangga, kemudian dia kembali memperhatikan tv ketika Yuna tak terlihat lagi.


Yuna melangkah menuju ke ruang belajar. Pelan, dia membuka pintu tanpa mengetuknya. Menyadari kesalahannya, Leo segera mendongak dan menatapnya yang dengan pelan menghampirinya. Saat ini, Leo tengah mengadakan konferensi online pada jajaran eklusif di kantornya.


Layar besar di sana memperlihatkan wajah bossnya yang tidak menatap mereka lagi tetapi melihat ke arah yang lain. Asisten Dion memiliki firasat indah dan nakal tentang ini.


Tangan Leo mengulur dan menyambut Nyonya. Kemudian, Yuna langsung duduk di pangkuannya begitu saja membelakangi kamera laptop yang masih menyala dan terhubung pada layar besar di sana. Semua mata yang berada di ruang itu langsung menajam mata, menahan nafas dan tak ingin melewatkan sesuatu yang indah yang akan terjadi.


"Kau sudah selesai menonton drama kesukaan mu," tanya Leo. Dia mengangkat tangannya untuk membenarkan rambut Yuna dan meletakkannya di telinga.


"Aku tidak bisa fokus menonton," jawab Yuna dengan suara manja. Dia memainkan rambut Leo. "Sayang," panggilannya dan mendekatkan wajahnya.


Klik. Konferensi online selesai.


"Yeaachh...." seru mereka yang menahan nafas dengan kecewa.


Yuna mendekatkan wajahnya dan mencium bibir Leo dengan singkat. Kemudian, memeluknya.


"Kenapa?" Tanya Leo. Tangannya berpindah di punggung Yuna dan mengusapnya dengan lembut. Yuna tidak memberi jawaban, dia hanya menggeleng pelan dalam pelukannya.


Pertanyaan Alea mengusik hatinya. Kiara?


"Aku sayang kamu, Leo," bisik Yuna pelan bahkan nyaris tanpa suara.


__ Di ruang tengah.


"Sudah jam delapan, aku harus kembali," Alea melihat jam di pergelangan tangannya.


"Kakak mau balik sekarang?" Tanya Neva. Dia meletakkan cemilannya di meja.


"Iya, aku harus membuka rumah bunga," jawab Alea. "Apakah Yuna masih lama di atas? Aku mau pamit padanya," ucapnya.


"Hahaa... jangan tanyakan dia. Mereka tidak perduli apa pun jika sudah berdua. Aku akan menyampaikannya pada Kak Yuna nanti," jawab Neva. Alea mengangguk dan pamit pada Neva.


"Bye Kak Alea...." Neva melambai pada Alea. Dia mengantar Alea ke halaman. Perlahan mobil keluar dari gerbang. Supir Albar menyalahkan Audionya. Kali ini dia memutar lagu dari Al Ghazali Lagu Galau.


"Albar," Alea memanggil supir Albar dengan pelan.


"Iya," jawab supir Albar. Dia melihat ke arah spion.


"Bagaimana hubungan Tuan muda Lee dan Nyonya muda?" Tanya Alea. Supir Albar tersenyum mendapat pertanyaan ini. Hubungan bossnya??


"Nyonya muda adalah kunci dari senyum Big Boss. Hanya pada Nyonya muda Big Boss begitu lembut dan mereka sangat romantis...." jawab supir Albar dengan senyum merona karena membayangkan adegan ketika Nyonya mudanya mengejar dan menghentikan mobil dan juga kemanjaan Big Boss sore itu. Keharmonisan yang membuatnya ngiler.


Alea mengangguk, "Mereka pasangan yang serasi dan sangat harmonis. Mereka saling mencintai dengan begitu indah," ucap Alea.


_Neva kembali ke ruang tengah dan merebahkan dirinya di sofa. Dia membuka chatnya. Dari Lula.


"Ayo nonton Non," pesan Lula.


"Aku di rumah Kak Lee. Dia baru saja kembali dan aku merindukannya hhaaa... sorry, mungkin lain kali," balasnya. Kemudian, dia membuka pesan dari Raizel.


"Nanti malam, kau di rumah atau di rumah Tuan muda Leo?"


"Di rumah. Jangan berani macam-macam kau. Ada Mama dan Papa. Kau akan habis jika bertemu mereka berdua," balas Neva.


"Simpan mimpi mu itu," balas Neva dengan emot melotot.


Kemudian, dia membuka chat dari Vano.


"Gadis, bisa makan siang bareng?" tanyanya dalam pesan. Mata Neva langsung melebar membaca ini, dia langsung terbangun dan duduk. Matanya mengulangi membaca pesan itu.


"Makan siang bareng?? Berarti ketemu? Tidak, tidak. Tidak boleh. Lusa aku wisuda, kemudian aku pergi. Kenangan bersamanya sudah cukup." Neva menggumam sendiri. Dia menyandarkan punggungnya dan memejamkan matanya.


"**Lalu.... bunga dalam dekapan ku ini, apa artinya?"


"Cinta."


Sepotong percakapan itu melintas dalam fikirannya. Cinta... dia menggumam dengan senyum tipis di bibirnya.


"Terima kasih untuk perasaan mu pada ku," ujung matanya mengeluarkan air mata. Dia akan pergi, meninggalkan semuanya. Semua yang pernah terjadi, semua yang pernah terlewati. Dekapan hangat malam itu... "Maafkan aku."


Ponselnya bergetar lagi. Dia segera membuka matanya dan menyeka ujung matanya.


"Aku kosong lima jam. Apa kau ada ide untuk bersenang-senang?" Pesan dari Raizel. Neva melihat ke arah tangga dan tidak ada tanda-tanda bahwa Kakaknya akan turun.


"Ayo ke pantai," balas Neva.


"Okey," balas Raizel.


"Jemput aku di rumah Kakak ku," balas Neva lagi.


"Siap," Raizel langsung. Membawa mobilnya sendiri tanpa Bro supir dan asistennya.


Kemudian, Neva kembali membuka chat Vano.


"Maaf Kakak, aku lagi ada urusan," balasnya dengan sangat berat. Setelah mengirim pesan itu, dia mendengar langkah kaki menuruni tangga.


"Kau belum pulang?" Tanya sang pemilik langkah setelah berhasil menapaki seluruh tangga.


"Astaga, Kakak mengusir ku," jawab Neva cemberut. Dia menunggu dari tadi dan mendapat pertanyaan seperti itu? Keterlaluan. Leo tidak memberi jawaban dan langsung melangkah ke dapur. Dia mengambil buah dan segelas air. Kemudian, dia menuju ruang tengah dan duduk di sofa di samping Neva.


"Apa ada sesuatu?" tanyanya. Dia menyalahkan televisi dan menonton berita. Neva menoleh ke arahnya dan langsung terkejut dengan wajah yang memerah. Kenapa dia yang malu? Ada tanda merah di leher Kakaknya.


"Astaga, ternyata Kak Yuna bisa ganas," batinnya.


Pletak... tangan Leo memukul kepala Neva dengan keras.


"Apa yang kau lihat?" Ucapnya. Neva tertawa ringan dan meminta apel di tangan Kakaknya.


"Hahaaa... tidak ada," jawabnya sambil mengigit apel. "Kak...." Panggilannya setelah mengunyah apel dan menelannya.


"Apa?" Jawab Leo tanpa menoleh ke arahnya.


"Ada yang ingin ku ceritakan," ucap Neva pelan, dia takut Kakaknya ngamuk.


"Apa?"


"Tapi... Kak Lee harus janji, jangan marah," ucap Neva memberi syarat.


"Okey," jawab Leo. Dia tidak suka tarik ulur. Marah atau tidak, itu tergantung pada apa yang Neva ceritakan.


"Hmmm," Neva sedikit menjauh dari Leo. Dia menggeser duduknya. Dia akan segera kabur jika nanti Kakaknya marah. "Aku, sudah bicara pada Kak Yuna jika aku mengetahui hubungan dia dan Kak Vano," ucap Neva hati-hati dan Leo langsung membawa pandangannya pada Neva. Dia menatap Neva dengan sangat tajam. Lalu... tangannya terangkat dan menjewer telinga Neva.


"Auu, Auuu...." Neva memegangi telinganya, "Sakit Kak Lee," dia memekik keras.


"Kenapa kau berani mengungkit itu padanya?" Ujar Leo dengan menyatukan gigi atas dan bawahnya. Bagaimana perasaan Yuna saat itu? Dia pasti merasa bersalah dan bersedih. Leo menjadi tidak tenang. Dia melepaskan tangannya dari telinganya Neva.


"Aku minta maaf," ucap Neva sambil mengusap telinganya.


"Seharusnya kau bisa menahannya. Kau tahu dia jauh dari ku. Jika dia menangis setelah itu apa kau tahu," ucap Leo dengan menatap tajam Neva yang menunduk di depannya. "Kau tidak tahu bagaimana dia menyalakan dirinya tentang itu. Kenapa kau malah mengungkitnya disaat aku tidak ada disampingnya," lanjut Leo.


"Aku minta maaf Kak," ucap Neva pelan. Dia mengangkat wajahnya dan menatap Leo dengan sedih. Neva ingat jawaban Yuna waktu itu. Bukan salah Leo, bukan juga salah Vano tetapi salahnya. Dia yang membuat Vano hadir dalam hidupnya.


Beberapa menit mereka berdua saling diam. Leo memijit keningnya pelan. Dia terlalu menghawatirkan Yuna.


"Jadi bagaimana kau dengan Vano?" Tanya Leo. Dia menatap Neva. Namun, sebelum Neva mampu menjawab, suara langkah kaki menuruni tangga dan mendekat. Neva langsung merubah ekspresinya menjadi ceria.


Pelan, Yuna menghampiri mereka dan duduk di samping Leo.


"Apa aku mengganggu kalian?" tanyanya. Karena setelah dia datang, mereka berdua menjadi diam.


"Tidak," jawab Neva segera.


Leo mengulurkan tangannya dan menyeka bibir Yuna dengan lembut. "Kau habis makan kripik?" Tanyanya.


"Hu'um," jawab Yuna mengangguk. Neva tahu, betapa Kakaknya sangat mencintai Yuna, bahkan lebih dari dirinya sendiri. Dia tersenyum dan semakin yakin untuk pergi. Hanya itu yang bisa membuat dirinya bisa menghindari Vano.


Ponsel Neva berdering, panggilan masuk dari Raizel.


"Aku ada di seberang seperti biasa," ucap Raizel setelah panggilannya terhubung. Dia memakai kaca mata hitam.


"Okey, tunggu aku," jawab Neva. Kemudian memutus panggilan. "Kak Lee, aku keluar dulu," ucap Neva. Leo langsung menoleh ke arahnya.


"Dengan siapa? Kemana?" Tanyanya. Dia takut adiknya bergaul dengan orang yang tidak benar.


"Sayang," Yuna meraih lengannya. "Itu urusan anak muda. Biarkan anak muda melukis masa-masa mudanya dengan indah," ucap Yuna.


"Kak Yuna... aku akan mentraktir mu nanti hahaa.... bye bye," ucap Neva dan beranjak. "Kak Lee, aku mencintai mu," ucap Neva sambil menjulurkan lidahnya, "Weekk...."


"Kau harus menjelaskannya nanti," ujar Leo.


"Okey, sekarang aku kencan dulu. Adik mu ini sangat laku kau tahu...." ucap Neva dengan kePeDe-an tinggi. Dia membungkuk dan mencium pipi Yuna dan mengusap perut Yuna lembut. "Bye Baby Lee, muach," ucapnya dan kemudian melangkah keluar untuk menemui Raizel.


___


Catatan Penulis ( Curhatan ๐Ÿฅฐ )


Maaf baru Up kawan ๐Ÿ™ ๐Ÿ˜Š


Yang rindu Bang Vano besok doi ya munculnya.


Tengkyu. (Keluar sesuai porsinya ya. Apa bang Vano bikinin lapak sendiri. heheee๐Ÿ˜†๐Ÿ˜…)


Selamat membaca.


Thornya merem dulu ๐Ÿ˜ด๐Ÿ˜ช


Jangan lupa sun manjah dari si jempol yach.


Koment koment koment.... okey. Tengkyu.


Luv luv๐Ÿฅฐ๐Ÿฅฐ๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜