
Mereka telah tiba di kota K. Hati Yuna dipenuhi keharuan saat kakinya menginjak tanah kelahiran. Dia rindu rumah ini, rindu tanah kelahirannya. Kedua tangannya memeluk Baby Arai yang ada di gendongannya. Leo merangkul pundak Yuna dengan kasih, ia menunduk dan mencium rambut Yuna.
Ayah mempersilahkan mereka untuk masuk tetapi belum sampai Yuna dan Leo melangkah, seseorang sudah berlari dan menghampiri mereka.
"Kak Yuna ...." serunya dengan gembira. Dia berdiri di depan Yuna dan Leo. "Ohhh tampannya, astaga," pujinya pada Baby Arai. Sikecil itu menatap kearah lain, ia memperhatikan kucing kecil yang berbeda tak jauh dari tempat Mommy berdiri.
"Viona, yang sopan," ujar Ayah menegur Viona. Viona dengan segera merapatkan kedua kakinya dan berdiri dengan tegak tetapi menundukkan kepalanya.
"Selamat Siang, Kak Yuna, Kak Leo," sapa Viona dengan sopan, ia membungkukkan badannya.
"Siang," jawab Yuna dengan senyum. Yuna menatap Ayahnya sebentar lalu menatap Leo dari samping, ia ingat bagaimana hubungan Leo dan Kak Dimas, Mama dan Kak Dimas. Kemudian, ia memperhatikan Viona. Menatap adik tirinya itu dengan kasih, "Apa kabarmu Viona?" tanyanya.
"Baik Kak," jawab Viona. Yuna mengangguk lalu merentangkan satu tangannya, meminta Viona untuk mendekat. "Sini," ucapnya. Mendengar itu, Viona mengangkat wajahnya dan menatap Yuna. Yuna mengangguk dengan senyum. Leo menarik tangannya dari pundak Yuna dan menggeser sedikit posisinya untuk menjauh. Viona mendekat dan memeluk Yuna serta Baby Arai.
"Kak Yuna, aku merindukanmu," ucap Viona dalam pelukannya. Tangan mungil Baby Arai mendorong lengan Viona dari tubuhnya. Dia ingin memperhatikan kucing yang saat ini bergerak lincah memainkan tutup botol.
"Aku juga merindukanmu," jawab Yuna. Bagaimana kuliahmu? Hmm?" Yuna melepaskan pelukannya.
"Lancar Kak. Yang seru adalah banyak cowok yang naksir aku heheee," jawab Viona. Dia nyengir setelah menyelesaikan kalimat terakhirnya.
"Kita bicara didalam," sambung Ayah. "Nenek pasti tidak sabar untuk melihat uyutnya."
Yuna dan Viona mengangguk.
"Uaaa ooo uusss," Baby Arai menunjuk kucing yang masih bermain. Kedua kakinya bergerak seolah ingin turun dari gendongan Yuna dan merangkak kesana.
"Yuk, gendong Tante Yuk," Viona menawari. Dia mengulurkan kedua tangannya. Baby Arai menatapnya sebentar dan kemudian menyingkirkan tangganya. Dia tidak mau di gendong Viona. "Yaahh," ujar Viona kecewa. Dia mencoba membujuk lagi tapi Baby Arai masih tidak mau. Dia bahkan marah saat Viona mencoba mengambil paksa dirinya dari Yuna.
"Jangan dipaksa," ujar Ayah.
"Dia baru pertama melihat mu jadi masih asing," sambung Yuna. Baby Arai menatap Leo dan mengulurkan kedua tangannya, meminta gendong.
"Kemari," ujar Leo. Dia langsung menyambut kedua tangan anaknya. Mengambil Baby Arai dari gendongan Yuna.
"Jangan terlalu lama menggendongnya, kau masih harus sangat berhati-hati," ucap Yuna.
"Baik Momm," jawab Leo sambil menggerakkan tangan Baby Arai.
Kemudian, mereka semua melangkah masuk. Namun Baby Arai menunjukan kucing yang ia incar pada Daddy-nya.
"Kau mau bermain dengannya?" tanya Leo. Dia memelankan langkah kakinya. Kemudian, membiarkan Yuna dan yang lain masuk terlebih dahulu sementara dia melangkah menuju kucing yang dimaksud Baby Arai.
"Waaahh kucingnya gendut, seperti Baby Rai," goda Leo mencubit pipi gembul anaknya.
"Oaaa uss oo," Baby Arai tak sabar ingin menyentuh kucing gendut. Leo jongkok, ia mengulurkan satu tangannya untuk mengusap kepala kucing. Dia harus memastikan jika kucing ini aman untuk dipegang Baby Arai. Tangan Leo mengusap-usap kepala kucing dengan halus. Si kucing menjadi diam dan membiarkan tutup botolnya begitu saja.
"Meong," ujar Leo. Kucing itu menghadap ke arahnya. Membuat Baby Arai tertawa bahagia. Kakinya semakin tidak sabar ingin turun.
"Meong," ujar Leo lagi. "Meong, meong."
"Ooo oog mmm mmoo," Baby Arai berusaha mengikuti ucapan Daddy-nya. Setelah memastikan aman. Leo mengambil kucing itu dan menggendongnya juga.
"Usss mmm ooo," Baby Arai berceloteh dengan bahagia. Kedua tangannya mengusap-usap kucing gembul dengan gemas.
"Kita bermain didalam, ok. Uyut dan Oma sudah menunggumu," ucap Leo. Dia kembali berdiri dan melangkah masuk ke dalam rumah.
"Selamat siang Ibu, Nenek," Leo memberi salam pada Ibu sambung dan Nenek Yuna. Dia membungkukkan badannya. Baby Arai cuek dan masih asik dengan kucingnya. "Selamat siang Oma, Uyut," ujar Leo lagi sambil mencium lembut rambut harum Baby Arai. Tangannya memegang tangan Baby Arai untuk berhenti bermain dengan si kucing. Leo mengulangi ucapnya dan Baby Arai ikut mengangguk pelan dua kali memberi salam pada Oma dan Uyutnya.
"Wahhh pandainya," seru Ibu dengan takjub. Begitu juga dengan Nenek. Beliau mengusap-usap lengan Yuna dengan kasih. Nenek sangat, sangat bahagia dengan Yuna yang kembali dengan suami dan anaknya. Yuna memeluk Nenek dari samping dan mencium pipinya.
"Pernikahan Cinderella itu memang tidak ada Nek," ucap Yuna. Dia ingat wejangan nenek saat ia memutuskan untuk meninggalkan Leo dulu. "Kehidupan ini tidak semuanya berwarna putih dan cerah, kadang kala ada rintik sendu untuk membuat sebuah perjalanan kehidupan menjadi lebih berarti," lanjut Yuna. Nenek mengangguk dengan senyum.
"Kau sudah tahu tentang kehidupan ini, Nak. Jangan berputus asa, jalani dengan ikhlas dan kuat dan kau akan menjadi pemenangnya," Nenek mencium kening Yuna.
Disisi lain, Ibu dan Viona berusaha untuk membujuk Baby Arai agar mau turun dari gendongan Leo tapi anak imut itu masih enggan untuk mau berpindah dari daddy-nya. Kedua tangannya bahkan melingkar di leher Leo dengan erat.
"Ya, anak-anak memang begitu," jawab Ibu mengerti. Yuna mengangguk dengan senyum.
"Sayang, kemari. Daddy-nya lelah," ujar Yuna sambil mengulurkan kedua tangannya meminta Baby Arai untuk ikut dengannya. Namun ternyata dia mendapat penolakan. Baby Arai menggeleng beberapa kali. Tangannya menyingkirkan kucing yang ada di gendongan Leo dan ia kembali melingkar kedua tangannya di leher Leo.
"Hei, jangan begitu sayangku ganteng. Daddy harus segera istirahat, okey," Yuna mencoba membujuk anaknya. Tetapi Baby Arai masih tidak mau. Kedua tangannya malah memeluk Leo dengan erat.
"Sini, uyut pengen pangku kamu cah bagus, Uyut biasanya cuma bisa lihat lewat layar," ucap Nenek meminta Baby Arai untuk mendekat ke arahnya. Nenek tentu sudah tidak kuat jika menggendong Baby Arai, jadi Nenek ingin memangkunya saja.
Baby Arai diam dan mengeratkan pelukannya pada Leo. Dia tidak mau ikut siapa-siapa. Leo yang berinisiatif untuk maju dan duduk di samping Nenek, membuat Baby Arai dekat.
Nenek tidak memaksa Baby Arai untuk mau duduk di pangkuannya. Beliau hanya menyapa dan melakukan cilukba. Baby Arai mulai tertawa tapi masih enggan untuk lepas dari Leo. Setelah berbincang beberapa saat mereka pamit untuk istirahat.
Yuna menyiapkan air hangat untuk Baby Arai, sementara Leo membuka baju Baby Arai dan melakukan olahraga ringan sebelum mandi.
"Kau lelah?" tanya Leo pada anaknya. "Siapa yang lelah tepuk tangan," serunya. Dia bertepuk tangan dan Baby Arai langsung mengikutinya. "Siapa yang mau mandi tepuk tangan," Leo dan Baby Arai bertepuk tangan dengan kompak. "Siapa yang bau acem tepuk tangan," Baby Arai bertepuk tangan lagi tapi tidak dengan Leo. Dia tertawa dan menggelikitik perut anaknya. "Mana yang bau aceeem," katanya.
"Ayooo mandi," Yuna langsung berteriak setelah keluar dari kamar mandi. Dia mendekat dan mengambil Baby Arai dari Leo. "Bye Daddy, aku mandi dulu," ucap Yuna dengan melambaikan tangan imut anaknya. Kemudian, ia membalik badan dan melangkah menuju kamar mandi.
"Sayang," panggilan Leo menahan Yuna dari langkahnya.
"Ya?" Yuna membalik badan menatap Leo.
"Setelah selesai memandikan anakmu, ganti mandikan suamimu," ucap Leo nakal sambil mengedipkan matanya genit. Yuna melebarkan matanya dengan pipi yang memerah. Mesum. Batinnya.
"Uaaaahhhh, aku ngantuk sekali," tiba-tiba Yuna menguap. Kemudian, ia membalik badan dan segera masuk ke dalam kamar mandi. Bibirnya komat kamit menggerutu karena ucapan mesum Leo barusan. Dia memandikan Baby Arai dengan lembut dan perhatian.
"Selesai ...." seru Yuna. "Sudah mandi, wangi, seger ... langsung bobo. Okey," ucapnya sambil mengeringkan tubuh anaknya dengan handuk. Kemudian mereka keluar.
Yuna membawa Baby Arai ke atas ranjang. Leo sudah menyiapkan bajunya disana.
"Sttt, ternyata Daddy udah tidur lebih dulu," ucap Yuna setelah menempuh Leo tertidur dengan posisi tengkurap di kasur.
"Ammaa, oo," Baby Arai berceloteh sambil memainkan mainannya. Sebenarnya dia hendak merangkak naik ke atas punggung Leo tetapi Yuna menahannya. Setelah selesai memakaikan baju, Yuna lalu memberi ASI pada Baby Arai. Tak lama, tuan kecil tampan itu terlelap dalam tidurnya.
Pelan, sebuah tangan memeluk Yuna dari belakang.
"Apa dia sudah tidur?" tanya Leo berbisik halus di telinga Yuna.
"Hei, kau terbangun?"
"Aku tidak tidur," jawab Leo.
"Hhhh, kau pura-pura tidur," Yuna menggeleng dengan tingkah Leo yang pura-pura tidur. Yuna melepas ASI-nya dan membenarkan bajunya.
"Sayang ...." panggil Leo. Bibirnya sudah mulai berkelana di tengkuk Yuna. Tangannya yang nakal mulai menyusup perlahan.
"Grrrrhh," suara Yuna mendengkur. Leo langsung mematung.
"Jangan pura-pura tidur, Nyonya."
__________
Catatan Penulis π₯°π
Huuaaaa masih kangen. Siapa yang masih kangen. Salam hangat dari keluarga Leo Yuna.
Masih kangen ama pengantin baru juga?? Hmm?
sabar nunggu Ekstra part nanti ya. π₯°π
Tapi nggak Up tiap hari seperti biasanya sebelum END ya. Ekstra part akan Author Up saat ada waktu senggang. Buat obat rindu temen-temen. π₯°π
Obat rindu ... ada lima perkaranya. Eh. π€ kok malah nyanyi ππ€
Salam sayang Sahabat SC semuanyaa... muach muach. Maaf kalau ada typo-typo ya.