
"Ya," jawab Papa dengan senyum di seberang sana. "Tapi bukan dia yang spesial," lanjutnya. "Ada gadis cantik yang akan Papa kenalkan pada mu," ujar Papa lagi menjelaskan. "Kita sudah ada di jalan dan sebentar lagi sampai," kata papa Mahaeswara lagi. Lalu panggilan itu berakhir.
Vano langsung membawa pandangannya pada gadis di depannya. Menatap gadis itu dengan hangat. Si gadis yang tengah tertawa kecil bersama Mamanya. Vano mengembalikan ponsel milik mamanya.
"Sudah bicaranya sama Papa?" Tanya mama Mahaeswara. Vano mengangguk pelan tanpa membuka mulutnya. Dia masih memperhatikan Neva. Tatapan matanya mendapat balasan, seolah bertanya, 'Kenapa?' Vano menggeleng pelan. Kemudian, Mama memberi waktu untuk mereka berdua.
"Sayang, nanti makan malam bersama," ujar Mama pada Neva kemudian beranjak pergi.
Vano beranjak dari duduknya dan berpindah untuk duduk di samping Neva.
"Hhmm, Mama sangat menyukai mu bukan?" Ujar Vano. Dia menatap gadisnya. Kenapa dia membawa Neva kerumah pada waktu yang tidak tepat. Dikenalkan dengan seorang gadis? Semoga bukan seperti apa yang dia pikirkan. Awalnya tidak pernah terpikirkan sedikit pun olehnya tentang pertentangan orang tua pada sebuah hubungan, tetapi obrolannya dengan Neva beberapa saat yang lalu membuat dirinya ikut memikirkan itu. Apalagi setelah berbicara dengan papanya melalui panggilan telepon.
"Hmm aku sangat bersyukur karena Tante Mahaeswara begitu baik pada ku, hatiku rasanya begitu hangat dan rasa grogi ku teratasi," jawab Neva. Dia tersenyum dengan lebar, tapi kemudian, senyum itu langsung berubah menjadi kecemasan ketika ia memikirkan tentang bagaimana reaksi Papa Vano kepadanya. "Bagaimana dengan Om Mahaeswara nanti? Apa dia akan menyukai ku atau tidak?" Ujar Neva bertanya pad Vano. Dia menatap Vano dengan kecemasan. Vano tersenyum tipis mendengar pertanyaan Neva padanya, ia meraih satu tangan Neva dan menggenggamnya.
"Papa juga pasti sangat menyukai mu, seperti halnya Mama," jawab Vano mencoba menenangkan hati Neva dan juga hatinya sendiri.
"Semoga," ujar Neva dengan penuh harapan.
"Pasti," sambung Vano dengan keyakinan. Tangannya mengusap punggung tangan Neva dengan lembut. Dia menggeser duduknya untuk lebih dekat dengan Neva, "Jika beliau tidak merestui kita, bukankah kita bisa kawin lari," ucap Vano dengan senyum menggoda. Itu membuat Neva langsung tersenyum malu dan memukul dada Vano. Mereka berdua saling tertawa.
"Kak Vano," panggil Neva. Dia menatap Vano.
"Hhmm," jawab Vano dengan membalas tatapan mata Neva padanya. Neva mengambil nafasnya dengan dalam dan mengeluarkannya dengan perlahan.
"Hmm, setiap dan semua orang tua pasti menginginkan pasangan yang terbaik untuk anak-anaknya. Jika nanti Om Mahaeswara tidak menyukai ku, apa kau akan meninggalkan ku?" Neva bertanya dengan sedih. Apakah semua gadis seperti dirinya saat akan dikenalkan dengan orang tua kekasihnya. Apakah semua gadis memiliki ketakutan yang sama dan kecemasan yang sama seperti dirinya saat akan bertemu dengan calon mertua untuk yang pertama kali.
Mata Vano masih sangat teduh menatap. "Gadis, bagaimana perasaan mu pada ku? Kau percaya pada ku bukan?" Jawabnya dengan kembali bertanya. Mata mereka masih saling menatap. Neva mengangguk dengan tangannya yang mempererat genggaman. Percaya, ya, tentu saja percaya.
Tak lama, suara ramai dari luar terdengar. Suara Nyonya Mahaeswara yang menyambut tamu istimewa yang di bawa oleh suaminya.
"Om Mahaeswara dan tamu yang di jemput Om sepertinya sudah datang," ucap Neva setelah dia mendengar suara ramai dari luar.
"Iya," jawab Vano, "Kau mau ikut keluar?" Tanyanya menawari.
Neva menggeleng pelan, "Tidak, aku disini saja," jawab Neva. Kemudian, Vano izin sebentar untuk menemui tamu Papanya.
Dia melangkah ke depan, ke ruang tamu.
"Nah, kenalkan ini putraku," ujar Tuan Mahaeswara setelah Vano sampai di ruang tamu. "Vano, kenalkan, ini Om Iskandar teman Papa."
"Selamat malam Om, Tante, dan Nona," sapa Vano dengan sopan. Nona cantik itu tersenyum membalas sapaan Vano padanya.
"Dia lebih tampan dari pada yang pernah ku lihat di televisi," ujar Iskandar dengan senyum dan menatap Vano.
"Tentu saja, putra siapa dulu," jawab Tuan Mahaeswara dengan tawa yang juga disambut tawa oleh Iskandar.
Kemudian, Tuan Mahaeswara menatap Putri dari temannya dengan senyum. Dalam hati ia berharap agar nona cantik ini bisa berjodoh dengan putra semata wayangnya.
"Nah, Vano. Kenalkan, nona cantik ini adalah putri dari om Iskandar," ujar Tuan Mahaeswara memperkenalkan putranya pada nona cantik yang berdiri tepat di depan Vano. Nona cantik dengan bentuk tubuh yang indah. Dia ramping dengan beberapa bagian yang menonjol.
"Selamat malam Nona, saya Vano," sapa Vano memperkenalkan diri.
"Hai, Tuan muda Vano, selamat malam. Saya Devia" sahut nona cantik itu dengan senyum. Kemudian, Nyonya Mahaeswara mempersilahkan duduk tamunya.
Disana, diruang tengah. Neva memainkan ponselnya, dia bermain game tetapi sebenarnya dia tidak menikmati game ini. Dia memikirkan banyak hal. Game ini sama sekali tidak membantunya untuk mengatasi rasa cemas dalam dirinya. Dia kemudian menggeser duduknya untuk lebih dekat ke arah ruang tamu, ia menguping.
Para Tuan dan Nyonya berbincang. Kemudian tak lama Nyonya Mahaeswara meninggalkan mereka dan melangkah masuk, mendengar langkah kaki yang mendekat, Neva segera menarik dirinya dan duduk dengan benar.
"Sayang, maaf pinjam Vano nya sebentar ya," ucap Nyonya Mahaeswara pada Neva.
"Tidak apa-apa, Tante. Tuan rumah harus menyambut dengan baik tamunya," jawab Neva dengan senyum.
"Hmm, kau manis sekali sayang," ujar Nyonya Mahaeswara. Kemudian beliau berjalan ke ruang makan.
"Ya," jawan Nyonya Mahaeswara.
"Apa Tante akan menyiapkan makan malam? Izinkan aku membatu," ucap Neva.
Nyonya Mahaeswara tersenyum mendengar itu. Sebenarnya, dia ke ruang makan hanya untuk memberi tahu asisten rumah tangganya untuk segera menyiapkan hidangan tetapi karena Neva menawari untuk membantu maka dengan senang hati beliau akan menatapnya sendiri.
"Yuk," jawabnya. Neva mengangguk dan kemudian mengikuti Nyonya Mahaeswara. Mereka berdua asik menata piring, sendok, garpu dan gelas-gelas. Tentu Neva sangat hafal dan pandai dengan tata menata perlengkapan makan ini. Mama mengajarinya mandiri, Mama ingin putrinya tahu tentang dapur dan tidak hanya menyantapnya saja. Neva adalah seorang wanita, dia harus pandai melayani suaminya dalam segala hal, itu yang mama pikirkan. Dia tidak mendidik putrinya menjadi wanita yang manja karena bergelimang harta. Tidak hanya pada Neva, Mama juga memberlakukan itu pada putranya. Seorang suami harus pandai membuat istrinya bahagia. Suami tidak hanya dilayani tetapi seorang suami juga melayani.
Nyonya Mahaeswara tersenyum memperhatikannya. Ada rasa kekaguman tersendiri dalam hatinya. Tidak semua putri dari keluarga kaya mau melakukan ini. Dia merasa tidak salah jika menginginkan Neva sebagai calon istri putranya.
"Bagaimana kabar Mama, Neva?" Nyonya Mahaeswara bertanya disela-sela kesibukan tangannya meletakkan serbet pada tiap-tiap kursi.
Neva menghentikan tangannya dan menatap Nyonya Mahaeswara. "Mama baik Tante, masih dengan hobinya yang suka gosip," jawab Neva. Nyonya Mahaeswara terkekeh mendengarnya.
Lalu mereka saling ngobrol dengan seru sambil terus menata hidangan makan malam.
"Selesai," seru Nyonya Mahaeswara. Kemudian mereka toss karena menyelesaikan pekerjaan ini dengan baik dan cepat. "Tante panggil mereka dulu ya. Yuk ikut," ajak Nyonya Mahaeswara.
"Neva menunggu disini saja Tante," jawab Neva pelan. Nyonya Mahaeswara mengangguk dan kemudian melangkah keluar.
Neva tersenyum memperhatikan hidangan makan malam ini. Dia merasa sangat berterima kasih pada Mamanya, dia akan memeluk mamanya setelah pulang nanti.
Tak lama, terdengar langkah kaki yang mendekat dengan suara tawa renyah yang mengiringi, dengan obrolan ringan yang mengikuti.
"Mari, mari," suara Tuan Mahaeswara yang pertama kali Neva dengar. Jantungnya mulai berdetak dengan kencang lagi, telapak tangannya kembali terasa sangat dingin, kedua telapak tangan itu saling terkait, mencoba melawan rasa cemas dan khawatir yang kembali merayap dalam hatinya.
Perlahan, Tuan Mahaeswara dan tamunya telah sampai di ruang makan. Mereka menghentikan langkahnya ketika melihat Neva berdiri didepan meja makan.
Neva, gugup. Tentu saja, sangat gugup dan bahkan teramat cemas. Semua mata menatapnya. Dengan segera, Vano yang berjalan paling belakang, segera melangkah ke arahnya.
Neva membungkukkan badannya untuk memberi salam pada semuanya.
"Selamat malam, Om Mahaeswara, Tuan, Nyonya dan Nona," ucapnya ramah namun gemetar. Sebenarnya dia bukan orang yang mudah gugup, dia sering kali bertemu dengan orang-orang besar dan beberapa konglomerat negara ini tetapi ini terasa sangat berbeda.
"Dia .... " Tuan Iskandar menatap Neva dan menoleh ke arah Tuan Mahaeswara. "Bukankah dia putri dari keluarga Nugraha?" tanyanya pada Tuan Mahaeswara.
"Iya," jawab Tuan Mahaeswara. "Keluarga kami berhubungan dengan baik, jadi anak-anak juga saling berteman dengan baik," lanjut Tuan Mahaeswara menjelaskan.
Tuan Iskandar bernafas dengan lega karena mereka hanya berteman. Begitu juga dengan Devia. Sebenarnya dia adalah salah satu penggemar Vano. Dia mengikuti semua akun sosial media milik Vano. Mendengar jika orangtuanya berniat menjodohkan dirinya dengan Vano, tentu saja dia sangat bahagia.
Tuan Iskandar mengangguk dan menatap Neva.
"Ya, mereka hanya berteman," ujar Tuan Mahaeswara lagi untuk meyakinkan Tuan Iskandar.
Tangan Vano menggenggam jemari Neva. Namun kemudian tangan itu melepaskannya. Neva menunduk, hatinya terasa sakit. Dia paham arti dari ucapan Tuan Mahaeswara. Iya, dia sangat paham dan mengerti. Dia baru saja bahagia setelah melewati liku dan perasaan rumit yang dia miliki. Tidak bisakah rasa bahagia itu terus bersamanya?
Vano melepaskan genggaman tangannya, tetapi kemudian tangan itu berpindah ke pundak Neva. Dia merangkul Neva dengan lembut dan penuh kasih.
"Papa, perkenalkan. Gadis ini adalah calon istri ku dan itu artinya dia adalah calon menantu mu," ucap Vano dengan tegas tetapi dengan suara yang lembut.
___
Catatan Penulis ( Curhatan 🥰 )
Hay Hay masih betah di rumah kan ya temen2.
Terima kasih untuk semuanya yang masih setia menunggu kisah ini.
Jangan lupa jempolnya di goyang ya sahabat Sebenarnya Cinta 💖
Terima kasih untuk like, koment dan vote temen2 semua. Aku padamu... luv.