Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Bab 132_Dua Keluarga


Malam yang sangat di nantikan oleh dua keluarga. Makan malam bersama, mereka sudah mengosongkan salah satu restoran mewah di Ibu kota.


"Sayang... makan malam ini, bukan hanya makan malam keluarga kita, tapi Papa mengundang satu keluarga lagi," Leo menjelaskan. Namun, dia tidak memberi tahu jika keluarga yang akan makan malam bersama adalah keluarga Mahaeswara dan pasti ada Vano disana.


Yuna mengangguk mengerti. "Kau tenang saja, aku tidak akan mempermalukan mu," jawab Yuna dengan semangat. Dia pernah belajar table manner dulu, meskipun dia belum pernah mempraktekkannya secara langsung di sebuah acara. Dia juga sudah mempelajari bagaimana cara makan ala anak-anak orang kaya dari kebiasaan Leo. Yuna langsung membayangkan Ketika Leo dengan anggun duduk di kursi dan ketika Leo menyuap makanan kedalam mulutnya, dan bahkan cara Leo ketika mengunyah makanan.


Sebenarnya, Leo sangat enggan datang ke acara malam ini. Itu karena dia tahu akan ada Vano di sana, tapi akan menjadi kekanak-kanakan jika dia tidak menghadiri makan malam ini hanya karena ada Vano.


Lima belas menit kemudian, Leo memarkirkan mobilnya dan membukakan pintu untuk Yuna. Yuna dengan penuh senyum menyambut uluran tangan Leo. Mereka berjalan masuk ke dalam seperti sepasang Kaisar dan Ratu, melangkah penuh aura yang kuat dan menawan.


Dua keluarga sudah berkumpul, Yuna dan Leo telat tiga menit. Mereka berdiri tepat di belakang tempat duduk dimana seseorang menyandarkan sedikit punggungnya, seseorang itu telah menunggunya dari tadi. Yuna menyapa Papa, Mama dan Tuan beserta Nyonya Mahaeswara. Dia tidak memperhatikan pemilik punggung yang berada tepat di depannya.


"Selamat malam, semuanya...," Yuna menyapa dengan ramah. Dia dan Leo membungkukkan badannya. Mereka mengangguk dengan senyum sebagai tanggapan. Seseorang itu tidak mengangguk, dia hanya melengkungkan bibirnya dengan rasa bahagia dalam hatinya. Akhirnya, dia bertemu dengan gadis yang dia rindukan. Meskipun dalam suasana seperti ini, meskipun sang gadis bersama dengan pemiliknya. Tak apa... yang penting adalah, dia bisa melihatnya.


Leo dan Yuna kemudian berjalan menuju tempat duduk mereka. Leo dengan elegan mempersilahkan Yuna untuk duduk. Yuna belum menyadari bahwa ada Vano diantara mereka. Yuna duduk di tempat duduk yang Leo persilahkan untuknya. Leo dengan perhatian menaruh serbet di pangkuan Yuna, setelah itu baru dia duduk dengan elegan.


"Terima kasih sayang," ucapnya berbisik pada Leo yang duduk di sebelahnya.


Vano memperhatikan dengan tenang. Yuna menggunakan gaun berwarna hitam, itu terlihat cocok dan elegan di kulitnya yang putih, dia memakai anting berwarna hijau berbentuk buah pir, dengan tatanan rambut yang menawan dan wajahnya yang dirias dengan natural, itu sungguh membuatnya terlihat sangat cantik.


Leo memperhatikan Vano yang sedari tadi memperhatikan Yuna, dia diam dan tidak melakukan apa-apa, meskipun dia sangat tidak suka dengan pandangan Vano pada Yuna.


Yuna mengangkat wajahnya dan tersenyum menyapa semuanya. Perlahan, sepasang bola matanya menangkap wajah yang begitu akrab dalam pandangannya. Wajah halus dengan senyum khas tengah menyapanya. Mata mereka bertemu sepersekian detik, menyapa dalam diam sebelum akhirnya Yuna menundukkan pandangan. Vano duduk bersebrangan dengannya.


Leo tahu saat ini Yuna sudah menyadari keberadaan Vano. Tangannya mengulur dan menggenggam tangan Yuna di bawah meja panjang itu. Dia sesekali mengusap punggung telapak tangan Yuna.


Vano tak melepas pandangannya sama sekali. Dia tidak takut dengan pandangan Leo yang seakan memperingatkannya. Dia merasa bahagia melihat Yuna benar-benar baik-baik saja. Hatinya yang diliputi kecemasan perlahan sirna. Malam itu Yuna benar-benar terlihat sangat sedih, kemudian dia menghilang dan sangat sulit untuk dihubungi, itu sungguh membuat Vano gelisah setiap waktu.


Makanan pembuka sudah siap. Yuna memperhatikan soupe yang ada di depannya dan peralatan makan yang tertata rapi.


'Ada satu sendok berukuran sedang dan dua pisau di bagian kanan. Kemudian, ada satu sendok berukuran normal dan dua garpu di bagian kiri. Kemudian, ada satu sendok berukuran kecil dan satu garpu di bagian atas. Makanan pembuka adalah soupe... jadi, sendok sebelah kanan kan yang harusnya ku gunakan. Astaga aku pernah mempelajarinya tapi kenapa sekarang aku menjadi grogi...,'


"Kau tidak perlu menggunakannya, aku akan menyuapi mu," si Tuan suami berucap pelan. Dia sangat hafal ketika sang Nyonya berbicara dalam hati. Astaga... itu bukan ide yang baik. Yuna langsung menoleh ke arahnya.


"Yang benar saja, jangan gila. Ini bukan di rumah, okey. Itu akan terlihat kekanak-kanakan. Aku tidak setuju." dia berbisik.


Tanpa mengeluarkan kata, Leo memberikan makanan miliknya untuk Yuna. 'Apa?! dia sungguh melakukan ini? Dasar kekanak-kanakan. Ini membuat ku malu.'


Yuna sedikit mengangkat wajahnya dan memperhatikan semuanya, mereka dengan tenang menyantap makanan dan tidak mengeluarkan suara apapun. Matanya sedikit melirik Vano yang tidak memakan hidangannya.


Tidak bisa menolak, Yuna membuka mulutnya dan menerima suapan dari Leo. Lagi dan lagi hingga makanannya habis. Leo dengan perhatian menyeka bibirnya setelah Yuna menghabiskan satu mangkuk soupe.


"Tidak apa-apa, ini baru makanan pembuka."


"Tetap saja, kau harus makan soupe ini juga. Ambil soupe milikku dan makanlah, aku tidak akan memaafkan mu jika sampai kau tidak makan."


"Sayang, berhentilah berbisik. Jangan berbisik di depan orang banyak itu akan menimbulkan kesan kurang sopan dan bahkan mungkin prasangka buruk," Leo menegurnya dengan halus.


"Baik," Yuna menjawab dengan patuh.


Makan malam pembuka selesai.


"Maaf... aku tidak tahan untuk mengomentari pasangan baru ini...," Nyonya Mahaeswara tersenyum memperhatikan Yuna dan Leo. "Kamu manis sekali nak...," lanjutnya memuji Leo. Leo tersenyum ramah menanggapi pujiannya.


Kemudian, berlanjut makanan utama dan makanan penutup.


Setelah acara makan yang menegangkan bagi Yuna ini, kini suasananya menjadi sedikit santai. Mereka mengobrol seperti biasa. Yuna lega karena mereka lebih fokus pada kehamilan Nora, Mama dan Papa tentu sangat bahagia.


"Sayang, apa kau ingin sesuatu?" Leo menatapnya.


"Tidak ada," Yuna menggeleng.


"Jika kau merasa tidak nyaman, kita bisa pulang sekarang," Leo mengusap tangannya dengan lembut di bawah meja.


"Tidak apa-apa, rasanya tidak sopan jika kita pulang duluan," jawab Yuna. Mereka saling bertukar pandang dengan manis.


"Kak Yuna, yuk ikut aku," Neva berdiri dan mengajak Yuna meninggalkan meja utama. Yuna dengan senang hati menyetujuinya. Dengan meninggalkan meja utama, itu berarti dia tidak berhadapan langsung dengan Vano. Neva mengajak Yuna ke taman samping, mereka duduk di samping kolam renang.


"Tuan muda Vano, bisakah kau menyimpan pandangan mu itu dari istri ku?" suara Leo terdengar mencekam. Dia sangat tidak suka seseorang memandang istrinya, terlebih itu adalah Vano. Seseorang yang pernah dekat dengan Yuna. Leo memiliki ketakutan dalam dirinya, ketakutan tentang ditinggalkan dan kehilangan. Ketakutan itu membuat dirinya menjadi pecemburu dalam segala hal. Membuat dirinya menghawatirkan hal-hal kecil tentang Yuna.


"Kenapa? Apa kau takut aku berhasil mengambilnya dari mu? Apa sekarang kau merasa tidak percaya diri, Tuan muda Leo!."


"Yang benar saja. Aku hanya takut kau akan terlalu kecewa dan patah hati. Jadi, simpan saja angan mu untuk mengambilnya dari ku."


"Vano...," Nyonya Mahaeswara memanggil putranya dan itu membuat perang mulut dan tatapan mata antara tuan muda berakhir.


Vano berdiri dan menghampiri Mamanya yang sedang berbincang-bincang dengan Nyonya Nugraha.


"Ini... Mama ada hadiah buat Neva. Mama lupa memberikannya. Tolong dong sayang... antar ini untuk Neva," Nyonya Mahaeswara memberikan bingkisannya pada Vano dan menunjuk Neva yang berada di samping kolam renang. Namun, pandangan mata Vano tidak tertuju pada Neva tetapi pada sosok yang duduk di sebelah Neva. Dengan segera dia menerima bingkisan Mamanya dan menuju kolam renang.


Leo tahu jika Vano akan menuju kesana. Dia segera berdiri dan melangkah. Namun, suara Papa menghentikannya. Papa memintanya untuk duduk bersama dan membicarakan bisnis dengan Tuan Mahaeswara dan Dimas. Tidak bisa menolak, dia dengan berat hati menghentikan langkahnya dan duduk bersama. Matanya terus menatap Vano yang sekarang sudah sampai di belakang Neva dan Yuna. Hatinya menjadi sangat gelisah.