Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Bab 235_Ditolong


Malam hari yang lalu, dimana Leo meninggalkan lokasi. Beberapa menit kemudian, mobil Tuan besar Nugraha parkir di depan pabrik kosong itu. Orang-orang Leo kaget mengetahui Boss besar datang.


"Selamat malam, Tuan besar Nugraha," sapa mereka. Tuan besar Nugraha mengangguk sebagai tanggapan. Dia segera melangkah masuk dan menemui Tuan Wijaya yang meringis kesakitan. Ketiga jarinya patah dan tangan kirinya juga patah.


"Nugraha," ucapnya dengan kesakitan. Dia bersyukur karena Nugraha datang menemukannya.


Mata Tuan besar Nugraha menatapnya dan memperhatikan kondisinya tetapi dia tidak mengatakan apa-apa.


"Nugraha, putramu mengerikan, ka ...."


"Tutup mulut mu, atau aku akan menambah rasa sakit yang kau terima saat ini," ujar Tuan besar Nugraha memotong ucapan Tuan Wijaya. "Bawa dia kerumah sakit," perintah Tuan besar Nugraha pada orang-orangnya.


"Baik," jawab dua orang yang dia bawa. Kemudian, dua orang itu membawa Tuan Wijaya ke mobil.


Tuan besar Nugraha, memperhatikan orang-orang Leo dengan seksama, "Jangan sampai Leo tahu jika aku menolongnya," ujarnya pada orang-orang Leo. "Kalian hanya perlu menjaga mulut kalian untuk hidup dengan tenang," lanjutnya.


"Baik, Tuan besar," jawab mereka bersamaan.


Tuan besar Nugraha mengangguk kemudian melangkah keluar. Dia masuk ke dalam mobil dan memerintahkan supirnya untuk pergi ke rumah sakit dimana dia menyuruh orang-orang membawa Wijaya.


Dia tidak menyalakan Leo, dia menyalahkan dirinya sendiri. Mungkin seharusnya dia tidak memberi tahu Leo tentang fitnah yang Wijaya tuduhkan padanya. Ini salahnya, bukan salah Leo.


Wijaya dalam penanganan dokter ahli saat Tuan besar Nugraha sampai ke rumah sakit. Beliau kemudian duduk di bangku tunggu di luar ruangan.


"Tuan besar, apa ada yang harus saya lakukan lagi?" Tanya seseorang yang berdiri di sampingnya.


"Tidak ada, pergilah," jawab Tuan besar Nugraha. Seseorang itu membungkuk dan melangkah untuk keluar. Sebenarnya, setelah Wijaya berbicara dengan nya usai wisuda Neva kala itu, Tuan besar Nugraha mengirim orangnya untuk terus mengawasi Tuan Wijaya dan juga mengirim orang untuk menjadi bayangan Yuna. Orang yang ditugaskan untuk menjamin keselamatan Yuna ketika wanita itu keluar dari rumah tanpa Leo.


Ini, salah Wijaya juga. Seandainya dia tidak nekad untuk memfitnah Leo maka dia tidak akan mengalami ini. Dia masih harus bersyukur karena Leo hanya mematahkan jari dan tangannya saja. Tuan besar Nugraha menyandarkan punggungnya. Dia berpikir, dia kurang baik apa pada temannya itu hingga Wijaya berani memfitnah Putranya. Atau karena dia terlalu baik, hingga Wijaya memanfaatkan dirinya demi mencapai tujuannya.


Sekali lagi, dia tidak menyalakan Leo. Mungkin ini malah yang terbaik, agar laki-laki yang sudah berumur itu selalu mengingatnya. Agar laki-laki itu tidak pernah mengumbar lidahnya yang kotor.


Beberapa menit kemudian, dokter keluar dari ruangan dan memberitahukan keadaan Tuan Wijaya.


"Terima kasih," ujar Tuan besar Nugraha pada dokter yang menangani Tuan Wijaya.


Kemudian, Tuan besar Nugraha masuk ke dalam ruangan dan menemukan temannya itu masih tidur karena masih dalam pengaruh bius. Beliau memperhatikannya dengan seksama. Matanya memperhatikan kondisi temannya ini.


"Kau harus mengingat kejadian dini hari ini, Wijaya. Jangan pernah menyinggung putraku," ucapnya. Kemudian, dia membalik badan dan melangkah keluar.


____


Tangan Leo masih menggenggam erat jemari Yuna. Dia memperhatikan wajah Yuna dengan kasih. Hatinya perih, dia sakit melihat Yuna yang tertidur di ranjang rumah sakit. Dia merasa sangat bersalah. Dia tidak menjaga Yuna dengan baik. Malam itu seharusnya mereka tidak makan malam di luar.


Leo mengaktifkan ponselnya lalu menghubungi asisten Dion dan mengabarkan jika dia tidak bisa ke kantor hari ini.


"Ada beberapa dokumen yang harus ditandatangani Boss," ucap Dion di seberang sana.


Kemudian, Leo memberitahunya untuk membawa dokumen itu ke rumah sakit.


"Boss, siapa yang sakit?" Tanya Dion dengan cemas. Kemarin, boss masih baik-baik saja, batinnya.


"Jangan banyak tanya. Kerja yang benar dan segera bawa kesini semua dokumen yang perlu ditandatangani," ujar Leo tidak menjawab pertanyaan Dion.


"Baik Boss," ucap Asisten Dion patuh. Kemudian, panggilan berakhir.


__ Pagi yang sama di tempat yang berbeda. Neva mengambil ponselnya dan langsung menemukan chat dari Vano. Dia duduk bersama Mama di ruang tengah. Mama tengah menyaksikan acara gosip pagi saat ini.


"Selamat pagi Nona," isi chatnya. Neva segera membalasnya.


"Pagi Tuan muda," send.


"Bolehkah aku memiliki permintaan Nona?" Tanya Vano dalam balasan pesannya. Saat ini, dia sudah ada di kantor.


"Boleh, apa itu?" Balas Neva sekaligus bertanya balik.


"Ayo makan siang bersama nanti," balas Vano.


"Baik," balas Neva. Kemudian, Vano melakukan panggilan telepon padanya. "Ya," jawab Neva setelah panggilannya terhubung.


"Aku akan menjemput mu ke rumah," ucap Vano.


"Jarak rumah dan kantor Kak Vano sangat jauh. Kakak tidak perlu menjemput ku. Biar aku saja yang datang ke kantor Kak Vano," jawab Neva. Vano menyetujuinya dengan senang.


"Baik, menunggu mu sayang," ucapnya. Kemudian, panggilan berakhir.


"Uhum," Mama terbatuk setelah panggilan itu berakhir.


"Mama kesedak?" Tanya Neva lalu memberi Mamanya segelas air. Padahal sebenarnya, Neva tahu jika Mama akan mengomentarinya. Mama menyesap sedikit air putih pemberian Neva lalu meletakkannya kembali di atas meja.


"Ehem," kali ini Mama berdehem.


"Mama kesedak lagi?" Tanya Neva. Dia segera mengambil gelas itu lagi tetapi Mama segera menahannya.


"Cerita sama Mama," ujar Mama dengan perhatian dan rasa penasaran. Beliau menggeser duduknya, hingga membuat posisi beliau menghadap kearah Neva.


"Cerita apa?" Neva berpura-pura tidak memahami maksud Mama.


"Vano," jawab Mama dengan senyum. Wajah Neva langsung memerah.


"Ah, Mama keponya kumat," ujar Neva.


"Mama bisa menebaknya," kata Mama. Beliau menatap Neva.


"Apa?" Tanya Neva.


"Kau dan Vano sudah jadian," jawab Mama dengan senyum menggodanya. Wajah Neva semakin merah, dia memalingkan wajahnya. "Mama benar bukan?" Tanya Mama lagi.


Neva mengangguk pelan dengan malu, "Ya," jawabnya.


"Uuhhh, akhirnya," Mama tersenyum bahagia. "Ini kabar yang sangat bagus," ujar Mama.


"Mama jangan bocor ke Tante Mahaeswara," Neva memperingatkan Mamanya. "Aku ingin Kak Vano sendiri yang memberi tahunya," lanjut Neva.


"Jangan, Ma," cegah Neva.


"Lho, kenapa? Papa juga harus tahu dong," jawab Mama.


"Iya, tapi bukan dari Mama. Aku akan bicara langsung dengan Papa," ujar Neva.


Mama mengangguk, "Bagus, kau pintar Nona. Cerita sendiri sama Papa," balas Mama. Neva mengangguk. Mungkin nanti malam dia akan bercerita pada Papanya. Batin Neva.


"Apa nanti siang kau ada janji dengannya?" Tanya Mama. Saat ini, beliau tidak menghadap Neva lagi, tetapi sudah menghadap ke arah televisi. Menyaksikan gosip artis yang baru menikah beberapa tahun lalu cerai.


"Ya, dia mengajakku makan siang bersama," jawab Neva.


"Oh ya?" Mama kembali menoleh ke arahnya. "Bagaimana jika kita masak bersama? Kau bisa membawanya nanti," ujar Mama memberi Neva ide.


Neva menatap Mamanya. "Nggak dulu deh Ma," dia menolak ide Mama yang satu ini. "Mungkin lain kali dan tidak untuk hari ini. Aku belum Pede Ma," lanjutnya.


Mama mengangguk, "Okey," jawab Mama.


Mereka tidak tahu jika Yuna ada di rumah sakit. Leo juga tidak memberi tahu mereka.


__Siang hari. pukul 11.00 Neva telah siap. Dia memoles wajahnya dengan ringan dan mengenakan baju casual yang sederhana. Kemudian, dia pamit pada Mama.


Jarak Rumahnya dan Kantor Vano paling tidak akan memakan waktu hampir satu jam. Di dalam mobil, dia melakukan chat pada Lula.


Lula langsung menelfon nya setelah tahu jika Neva dan Vano sudah jadian.


"Astaga, kau serius?" Lula sangat antusias.


"Ya, tentu saja aku serius," jawab Neva.


"Wawwww, Selamat Nona ku yang cantik, baik hati dan tidak sombong," ujar Lula girang bukan main mendengar berita itu. Dia adalah saksi bagaimana Neva mengangumi sosok Vano. Bagaimana Neva selalu diam-diam memperhatikan Vano dari jauh. Sekarang, mereka sudah menjadi sepasang kekasih. Itu kabar yang sangat membahagiakan. "Dimana kalian jadian?" Tanya Lula penasaran. "Apakah di tempat yang sangat romantis?"


"Di pinggir danau," jawab Neva.


"Apa? P- Pinggir danau? Serius?" Tanya Lula tak percaya. Dia membayangkan jika Tuan muda Vano pasti menyatakan cintanya di tempat yang sangat indah dan mewah, Tapi. Di pinggir danau?


"Ya, aku serius," jawab Neva dengan pasti.


"Bagaimana bisa Tuan muda Vano menyatakan cinta di pinggir danau? Tidak ada tempat yang lebih romantis kah?" Lula merasa kecewa.


"Hei, danau itu adalah tempat yang romantis. Danau dengan bunga teratai, danau dengan pancaran sinar rembulan," tukas Neva. Dia membayangkan adegan saat Vano menyatakan cintanya.


"Waaahh, ceritakan padaku apa yang terjadi saat itu," pinta Lula dengan penasaran.


"Dia memberi ku boneka kecil dari Kak Lee," jawab Neva.


"Dia mendapatkan boneka kecil dari Tuan muda Lee?" Tanya Lula.


"Ya" Jawab Neva. Kemudian, dia menceritakan semuanya. Apa arti boneka itu lalu dia memutuskan untuk menerima Vano.


"Lalu?" Lula masih penasaran.


"Lalu apa?" Tanya Neva. Dia sudah menceritakan nya.


"Setelah jadian?" Lula mengejarnya dengan pertanyaan.


"Apanya?"


"Jangan pura-pura tidak tahu kau Nona. Aku tidak yakin jika kalian tidak melakukannya," ujar Lula.


"Melakukan apa? Jangan membuat kata-kata yang bikin salah paham," Ujar Neva.


"Hahaa," Lula malah tertawa dengan itu. Dia membayangkan adegan romantis setelah jadian. "Kiss," ujar Lula.


"Hei, kau tidak sopan menanyakan itu," jawab Neva.


"Kau tinggal mengakuinya saja Nona," ujar Lula dengan tawa kecil.


"Iya aku ciuman sama dia," jawab Neva dengan mengeratkan giginya. "Kau puas," tanyanya.


"Aaaahhhh, indahnya," Lula bertepuk tangan di seberang sana.


"Ok, selesai. Aku hampir sampai, bye Lula jelek," ucap Neva.


"Jangan lupa traktirannya Nona, aku tunggu," jawab Lula.


"Iya, bye bye," Kemudian, Neva memutus panggilannya.


Dia membuka chatnya dan ada pesan dari Vano.


"Kau sampai di mana?" Tanyanya dalam pesan.


"Sebentar lagi sampai Kak," balasnya. Dan tak lama mobilnya belok dan parkir di depan pintu utama. Neva keluar dari mobil dan Sekertaris Mayla langsung menyambutnya.


____


Catatan penulis ( Curhatan 🥰 )


Masih betah di rumah.


Mantap.


Sehat dan semangat selalu kawan.


Terima kasih untuk semuanya yang masih setia menunggu kisah ini.


Terima kasih untuk dukungannya. Like, koment dan vote.


Terima kasih untuk temen-temen yang ngirimin Nanas kotak ungu bersayap, Yeyyyyy... 🥰🥰🥰


Jangan lupa jempolnya di goyang ya sahabat Sebenarnya Cinta 💖 aku padamu luv luv.