Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Bab 320_Kenapa Kau Masih Saja Egois


Yuna masuk ke dalam kamar tetapi tidak menemukan Leo. Dia berpikir jika Leo keatas dan langsung kekamar tapi ternyata tidak. Yuna membawa gelas berisi air hangat menuju ruang belajar. Tangannya mengetuk pelan kemudian memutar pegangan pintu. Senyum Leo langsung menyapanya. Leo yang menyandarkan punggungnya di kursi.


"Bukankah kau bilang benar-benar cuti seminggu ini?" kata Yuna. Dia memberikan segelas air hangat untuk Leo.


"Aku hanya duduk disini, tidak bekerja," jawab Leo setelah menyesap minuman ditangannya. Yuna meletakan gelas itu di meja setelah Leo meminumnya setengah. Yuna mendekatkan dirinya, tangannya terangkat dan mengusap dahi Leo. Dia mendongak dan menoleh ke samping. AC nyala dalam suhu enam belas derajat, seharusnya ini membuat Leo nyaman. Batin Yuna.


"Kau berkeringat?" ujar Yuna dengan khawatir. Jarinya terasa dingin menyentuh keringat dikening Leo. Leo tersenyum lebar mendengar itu dan mengambil tangan Yuna dari keningnya.


"Kau semakin gendut. Makanya membuatku berkeringat ketika menggendong mu. Bagaimana jika kita lanjutkan dengan olahraga malam," gurau Leo. Dia mencium tangan Yuna.


Yuna diam, dia memperhatikan wajah suaminya dengan seksama. Leo menatapnya, dia mengerutkan kening. Dia berpikir jika Yuna pasti akan marah dan memukulnya karena dia baru saja bilang jika Yuna gendut tetapi ternyata Yuna hanya diam.


"Kenapa?" tanya Leo. Dia menarik Yuna, membuat Yuna duduk di pangkuannya. "Kau gendut Nyonya," ulang Leo meledek Yuna.


"Kau pucat," jawab Yuna setelah diam beberapa detik.


Leo terkekeh, "Mana ada. Lampu ruangan ini sepertinya redup," sanggah Leo. "Kau pun terlihat jelek," Leo meledek Yuna lagi.


"Ya aku jelek mirip bebek," jawab Yuna yang langsung membuat Leo tertawa. "Haaa ... tertawalah. Aku masih ingat kau menyebut ku mirip bebek," Yuna mengerutkan bibirnya dan langsung menghambur kedalam pelukan Leo.


"Hahaha ... ingatanmu bagus sayang," Leo mengusap punggung Yuna. "Jika boleh jujur, padahal kau sangat cantik malam itu," lanjut Leo.


"Basi," jawab Yuna. "Kau Tuan gengsi, matamu terpesona, tapi mulutmu menyangkalnya."


Leo tertawa dengan Yuna ada yang ada dalam pelukannya. Bahagia itu sederhana, sangat sederhana untuknya. Istri dan anaknya ada bersamanya adalah anugerah surgawi.


"Kau sudah ngantuk?" tanya Leo yang dijawab anggukan oleh Yuna. Kemudian, Leo menggendong Yuna didepan. Dia membawa Yuna kekamar dan merebahkannya di kasur dengan hati-hati. Dia memeluk Yuna dan meninggalkan kecupan lembut di kening istrinya.


"Selamat istirahat sayang," ucapnya. Yuna mengangguk dan membenamkan wajahnya di dada Leo.


"Kau tidak menyembunyikan apa-apa dariku bukan?" tanya Yuna.


"Menyembunyikan apa? Tidak ada," jawab Leo. Yuna mendongak dan mengecup bibir Leo singkat.


"Aku mencintaimu," ucap Yuna. Kedua bola matanya menatap Leo dengan sayu. Leo tersenyum dan mengangguk. "Kau tidak akan pernah bosan untuk mendengar kata itu dariku bukan? Jangan ... jangan pernah bosan," kata Yuna. Mereka saling bertukar pandangan dengan sendu. Entah ada apa dengan malam ini, kenapa begitu melankolis. Bukankah malam-malam sebelumnya adalah malam yang panas untuk mereka. Leo menunduk dan mencium kening Yuna.


"Aku bahagia, ketika mendengar kata itu darimu. Jangan pernah bosan untuk mengucapkan itu padaku," jawab Leo. Dia mendekap Yuna. Kemudian, mata mereka saling terpejam dan dengan saling berpelukan, mereka terbang bersama mimpi.



Pagi harinya.


Yuna bangun lebih dulu sebelum Leo. Dia membuka matanya dan memperhatikan wajah Leo yang masih terpejam. Sangat tampan, bibir Yuna terangkat membentuk senyuman. Dia memperhatikan bibir Leo yang lebih merah dari biasanya. Yuna pernah melihat Leo dalam keadaan yang seperti ini. Deg.


Tangan Yuna langsung mengulur dan menyentuh kening Leo. Demam. Jantung Yuna berdetak tak beraturan. Dia segera beranjak dan langsung berlari keluar kamar untuk mengambil kotak obat. Dia mengompres kening Leo dengan hati-hati. Hatinya terasa sangat sakit, teramat sakit melihat Leo memejamkan matanya dengan badan yang menggigil.



Tangan Yuna berpindah dan mengusap pipi Leo. Dia menunduk dan menangis sesenggukan dalam diam.


"Kau, bohong kan. Kau membohongi ku bukan? Kau bilang kau baik-baik saja, tapi nyatanya kau sakit. Kenapa kau masih saja egois? Menyembunyikan rasa sakitmu dari ku."


Leo membuka matanya perlahan, tangannya mengusap tangan Yuna yang berada di pipinya.


"Sayang, aku tidak apa-apa," ucap Leo pelan. Tangan kanannya mengusap rambut Yuna yang dibiarkan menutupi seluruh wajah Yuna yang menunduk. "Jangan menangis," ujarnya. Dia paling tidak suka melihat Yuna menangis.


Yuna semakin sesenggukan. Dia ingin marah, dia kesal dengan sikap Leo.


"Nanti setelah minum obat dan istirahat, aku akan baik-baik saja," jelas Leo. Yuna diam beberapa detik lalu mengusap air matanya. Dia mengangkat wajahnya dan mengambil obat yang sudah dia siapkan.


Dia membantu Leo untuk duduk lalu dia membuka obat itu.


"Apa kau tahu bagaimana cara meminum obat yang romantis?" tanya Leo menirukan ucapan Yuna saat itu.


Yuna menatap Leo dengan dalam, "Ok. Tapi janji, setelah ini kita kedokter."


"Tidak perlu ke dokter, hanya demam biasa," tolak Leo. "Aku pernah demam seperti ini juga bukan? Apa kau ingat," lanjut Leo. "Kemari," Leo meminta obatnya.


"Tapi tidak dengan ciumanku," jawab Yuna. Dia masih membawa obat itu ditangannya.


"Jangan curang."


"Aku akan menciummu jika kau bersedia untuk kedokter. Bagaimana?"


"Ini hanya demam biasa sayang."


"Tetap saja, harus ke dokter. Atau jika kau keberatan, aku akan meminta dokter untuk kesini."


"Tidak perlu. Buruan kemari, beri aku obat dan ciuman mu. Aku akan segera sembuh."


"Mimpi saja, aku tidak akan menciummu sebelum kau mengizinkanku untuk memanggil dokter kesini."


"Ini hanya demam biasa Yuna."


"Tapi kau tetap harus periksa Tuan suami."


"Ok, buang saja obatnya," ucap Leo. Dia kembali membaringkan tubuhnya dan langsung memejamkan matanya. Yuna kesal setengah mati melihat itu.


"Jangan kekanak-kanakan," ucap Yuna. Dia mengambil nafasnya panjang. Dia masih terus membujuk Leo untuk periksa tetapi tidak ada jawaban. Dan pada akhirnya, dia mengalah.


"Buka matamu," pinta Yuna dengan kesal.


"Tidak," jawab Leo.


"Kau menggemaskan sayang," katanya dengan menggoda.


"Astaga ...." Yuna kesal setengah mati dan memukul bahu Leo. "Kau sangat menyebalkan."


Leo terkekeh, dia suka Yuna yang ceria, Yuna yang bawel, Yuna yang manja tanpa ada air mata.


Kemudian, Yuna membuka obat baru dan meletakkan pada bibirnya. Dia mendekat, dan membuka bibir Leo dengan bibirnya. Memasukkan obat itu dengan mulus. Dia merasakan pahit. Yuna segera memberi Leo minum.


"Terima kasih, sayang," ucap Leo setelah meminum obatnya. "Sini," dia menarik Yuna pelan. Meminta Yuna untuk berbaring di sampingnya.


"Kenapa kau bandel?" tanya Yuna. Dia miring memeluk Leo.


"Jangan bahas lagi," jari telunjuk Leo menempel di bibir Yuna. Mengusap bibir Yuna dengan lembut. Leo tidak ingin membahas itu. Dia tidak ingin Yuna bersedih. Jikapun dia harus pergi ke dokter maka dia akan kedokter tanpa Yuna.


_____________


Di Ibu Kota.


Neva bangun dan langsung mengambil ponselnya. Belum ada panggilan dari Vano. Dia menimang-nimang ponselnya dan menunggu panggilan dari Vano. Dia melihat jam yang menggantung di dinding kamarnya. Kemudian tak lama, ponselnya berdering. Yess ... dia melonjak senang dan langsung menekan tombol hijau.


"Uhummm," Neva berpura-pura baru saja bangun tidur.


"Baru bangun?" tanya Vano. Dia berjalan kebalkon dan duduk disana.


"Huum," jawab Neva. Seperti biasa, Vano mengganti panggilan telepon menjadi panggilan video.


"Belekan tuh," ucap Vano dengan tawa. Neva langsung gelagapan dan bangun dari tidurnya, dia memperhatikan dirinya dicermin.



"Mana ada belek? Tidak ada," ujar Neva. Dia merebahkan dirinya lagi dikasur empuknya.


"Tertipu," Vano tertawa ringan. Neva mengerutkan bibirnya. "Besok lusa aku kembali, kau mau oleh-oleh apa?"


"Tidak ada," Neva menggeleng, "Segera kembali saja," pinta Neva. Mereka mengobrol hingga hampir satu jam. Neva bercerita jika hari ini dia ada janji dengan Mama Mahaeswara.


"Hmm senangnya, kau semakin akrab dengan Mama," ujar Vano. Neva mengangguk.


"Aku akan berusaha menjadi menantu idaman," jawab Neva dengan semangat.


Vano mengacungkan jempolnya untuk Neva, "Keren sayang, semangat," katanya.


___________________


Catatan Penulis πŸ₯°πŸ™


Pertanyaan Readers.


Elna.


"nas sayang gak sama kak lee?"


#nanas


Jawab.


Nanas... "Sayang ama kamu aja boleh nggak? πŸ˜…πŸ€­ Hahaaa πŸ˜†.


Ya udah pasti sayang doong ama Abang Leo, sayang juga ama Abang Vano. Sayang semuanya. Kiara juga tak sayang πŸ˜…πŸ€­ Siapa mau daftar lagi? 😎


Diana.


Yuna apa resepnya biar disayang Leo sampe bucin begitu.


#TanyaYuna


Jawab.


Yuna... "Ummm apa ya. Aku hanya berusaha untuk memahami hatinya, membuatnya tertawa dan bahagia bersamaku. Itu saja. Sebenarnya, bukan caraku yang hebat tetapi cinta dia yang begitu hebat. Terima kasih."


Kiki.


Kak nas pernah sakit hati ngga sih ama komen readers?


#tanyakaknanas


Jawab.


Nanas ... "Sering, πŸ˜… Sering banget. Aku mencoba santai dan mengabaikan komentar yang bikin sakit hati tetapi ternyata tidak bisa. Pada dasarnya hatiku memang sakit dengan komentar yang terkadang tidak dipikirkan dulu sebelum menulisnya. Komentar2 itu seperti belati yang menusuk pada hati tanpa ada yang mencabutnya. Tentu saja, karena setelah memberikan komentar, dia pergi tanpa kata maaf.


Kritik dan cacian itu berada. Jikapun niatnya mengkritik, mohon sampaikan dengan santun tanpa cercaan. πŸ₯Ί Jika tidak suka ... tinggalkan saja tanpa harus meninggalkan jejak cemoohan. πŸ₯Ί Belati itu menusuk dengan begitu dalam dan aku mencoba untuk tetap diam.


(Nahh kan jadi curhat lagi πŸ₯ΊπŸ˜­) Maaf Ya πŸ™


Salam sayang dariku untuk temen-temen semua, terima kasih udah ngasih semangat. Ilupyu full pokoknya 😘


Jangan lupa like komen ya kawan tersayang πŸ₯° Terima kasih πŸ™


*Ilustrasi diambil dari internet dan aplikasi Pint, jadi jika ada kesamaan gambar tokoh harap maklum ya. πŸ™πŸ™