
Keesokan harinya, pada sore hari. Leo membawa keluarga kecilnya kembali ke Ibu Kota. Akhir minggu ini, dia sudah berjanji dengan mamanya untuk menginap disana.
Beberapa jam kemudian, mobilnya parkir di halaman luas milik orang tuanya. Leo keluar lebih dulu dan membukakan pintu mobil untuk Yuna.
"Pelan-pelan," ucapnya. Dia meminta Baby Arai dari dekapan Yuna. Kemudian, menggandeng Yuna untuk masuk ke dalam.
Seperti biasa, Mama sangat antusias dengan kedatangan anak, menantu dan cucunya. Mama langsung meminta Baby Arai dari Leo dan memangkunya.
"Bagaimana kabar kalian? Apa cutinya cukup?" goda Papa menatap Leo. Mereka duduk di ruang tengah.
"Dia baru saja sembuh dari demam Pa," Yuna yang menjawabnya. Dia mengadu dengan sengaja. Lalu menoleh ke arah Leo. Dan Leo langsung merangkul pundaknya.
"Sejak kapan kau jadi Nyonya pengadu?" tangan Leo gemas mencubit pipi Yuna.
"Demam? Apa sudah periksa? Apa sudah kedokter?" Mama yang langsung menyahut. Beliau menatap putranya dengan khawatir.
"Hanya demam biasa Ma," jawab Leo.
"Seharusnya kau tetap ke dokter nak," ujar Mama.
"Sudah sembuh, tidak perlu ke dokter," jawab Leo lagi dengan masih enggan. "Dimana Neva?" tanyanya mengalihkan.
"Dia sedang ada janji dengan Nyonya Mahaeswara," jelas Mama.
Leo mengangguk. Kemudian, mereka mengobrol santai.
Beberapa menit kemudian, Tuan besar Nugraha meminta Leo untuk naik ke atas bersamanya. Beliau meminta Leo untuk keruang kerja.
"Bagaimana dengan punggung mu?" tanya Tuan besar Nugraha pada Leo langsung pada intinya. Beliau harus lebih waspada. Seharusnya memang Leo masih menjalani terapi ekstra disana tetapi Leo keukeh untuk segera kembali dan tidak menjalankan terapi dengan semestinya.
Leo menyesap teh hijau sedikit sebelum memberikan jawaban.
"Belakangan terasa begitu menusuk dan sangat nyeri," pada akhirnya Leo menjawab jujur tentang kondisinya.
"Sejak kapan?" tanya Papa segera.
"Beberapa bulan belakangan," jawab Leo.
"Bodoh," Papa marah pada Leo. Sorot matanya tajam menatap putranya. Kekhawatiran merayap pada hatinya. Beliau mengingat ucapan dokter kala itu jika kondisi Leo bisa saja kambuh dan akan berdampak sangat buruk jika tidak segera ditangani. "Kenapa kau baru bilang sekarang? Kau bahkan demam karena punggungmu," lanjutnya. "Kau tahu kau punya cidera yang parah. Kau tahu kau harus selalu menjaga kondisi mu tapi kenapa kau baru bilang sekarang. Jika papa tidak bertanya pada mu, apa kau akan cerita tentang ini?" Papa merasa kesal dengan Leo yang tidak menceritakan tentang kondisi punggungnya sesegera mungkin.
"Apa istrimu tahu tentang ini?" tanya beliau lagi.
Leo menggeleng samar, "Tidak," jawabnya.
Papa menghela nafas panjang. Jadi putranya ini menyembunyikan keadaannya dari siapapun. Tatapan mata papa semakin tajam.
"Kenapa kau tidak memberi tahu dia? Kita sudah membohongi dia saat kau kecelakaan waktu itu," ucap beliau.
Leo merapatkan bibirnya sebentar sebelum memberikan jawaban.
"Aku hanya tidak ingin dia bersedih, aku tidak ingin dia menangis apa lagi itu karena aku. Aku telah banyak membuatnya menangis, aku hanya tidak ingin ada air mata lagi yang jatuh dipipinya karena aku," jawab Leo.
"Tapi Lee ...."
"Papa tidak tahu bagaimana sakitnya aku saat melihat dia menangis. Ku mohon mengertilah Pa," Leo membalas tatapan mata papanya dengan sayu.
Pada akhirnya, Papa mengangguk.
"Baik. Kita lihat hasil pemeriksaan mu nanti, jika hasilnya baik, kau boleh merahasiakan ini dari Yuna tapi jika hasilnya buruk maka kau harus segera memberitahu dia. Dia harus tahu keadaanmu," ujar Papa.
Kali ini Leo yang mengangguk, tetapi dengan anggukan samar.
"Besok pagi kita ke dokter. Papa bikin janji dulu," ujar Tuan besar Nugraha. Kemudian, beliau menghubungi seseorang.
_____________
Pukul delapan malam, Neva dan Nyonya Mahaeswara baru selesai dari salon setelah sebelumnya ikut kelas memasak singkat. Nyonya Mahaeswara mengajak Neva untuk menginap di rumahnya.
"Mama kesepian dirumah sendiri. Papa dan Vano masih diluar kota," ucap Nyonya Mahaeswara. Dan Neva menyetujui untuk menginap disana.
Nyonya Mahaeswara merasa memiliki putri, beliau sangat bahagia. Mereka berdua berbincang hingga hampir pukul sepuluh malam. Kemudian, Nyonya Mahaeswara mengajak Neva untuk naik keatas.
"Tidur saja dikamar Vano, tidak apa-apa," ujar Nyonya Mahaeswara. "Vano baru kembali besok," lanjutnya.
"Selamat istirahat sayang," ucap Nyonya Mahaeswara perhatian.
"Terima kasih Ma," jawab Neva. Kemudian, Neva menutup pintu kamar setelah Nyonya Mahaeswara pamit. Dia menyandarkan punggungnya di pintu, dadanya berdegup. Dia memperhatikan setiap sudut kamar, dan dia mengingat jika dia dan Vano pernah ciuman panas diatas ranjang putih itu.
"Aaaa ... otakku mulai liar," Neva berteriak dan menggeleng dengan cepat. Dia kemudian melangkah dan masuk ke kamar mandi. Membersihkan dirinya sebentar dibawah shower lalu mengganti bajunya. Dia tersenyum, membuka lemari baju Vano. Hatinya berbunga-bunga melihat bajunya tertata dengan rapi bersebelahan dengan baju milik Vano. Neva mengambil satu baju tidur. Namun kemudian matanya melotot.
"Baju tidur? OMG ... dia menyiapkan baju tidur juga? Itu artinya, dia sudah memprediksi jika aku akan menginap disini?" wajah Neva memerah dengan degupan jantung yang berdetak cepat. Dia segera memakainya lalu merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Jantungnya belum bisa berdetak dengan normal.
Aroma wangi seprei dan bantal dan gulingnya begitu khas. Neva memejamkan matanya. Terlintas dalam bayangannya ciuman panas Vano waktu itu. Neva segera membuka matanya.
"Kenapa bayangan ciuman itu hadir lagi?" Neva menepuk-nepuk kepalanya pelan. Hingga hampir satu jam dia tidak bisa tidur. Dia mematikan lampu utama dan menyisakan lampu tidur. Kemudian, matanya terpejam seiring kantuk yang menggoda.
Pukul dua malam. Sebuah mobil parkir di halaman rumah keluarga Mahaeswara.
"Selamat datang Tuan muda," asisten rumah tangga menyambutnya setelah membukakan pintu. Vano mengangguk, kemudian segera membawa langkahnya menaiki tangga. Dia lelah, dia ingin segera istirahat.
Vano tidak tahu jika ada Neva dikamarnya. Pelan, tangannya membuka pintu kamar dan masuk ke dalam. Dia mengerutkan keningnya melihat kamarnya dengan lampu remang. Biasanya, jika sedang tidak ada dia dirumah maka lampu kamarnya akan mati. Tapi kenapa sekarang menyala dengan lampu tidur?
Vano menyalakan lampu utama. Dan matanya terbelalak melihat ada seseorang di ranjangnya. Dengan langkah pelan dia menuju ranjangnya dan memperhatikan wajah halus gadis yang tengah tertidur pulas. Bibirnya tersenyum. Kemudian, dia segera membersihkan dirinya dan merebahkan tubuhnya di samping Neva.
Tangannya mengulur untuk membenarkan rambut Neva yang menutupi pipinya. Dengan senyum dia mendekat dan mencium kening Neva pelan.
Tiba-tiba gadis itu menggeliat, dan memiringkan tubuhnya, dia merasa dingin sebenarnya tetapi kantuk mengalahkan dirinya untuk menarik selimut. Dia hanya meraih guling. Menyandarkan kepalanya dan kembali tertidur dengan lelap. Neva tidak sadar jika yang ada di sebelahnya adalah Vano. Dia bahkan lupa jika saat ini ia tidur di kamar Vano. Dia juga tidak sadar jika yang ia peluk adalah Vano dan bukan guling.
Vano berhenti bernafas sejenak saat gadis itu memeluknya. Dia bahkan tanpa sadar tidak mengedipkan matanya. Namun kemudian dia segera menarik selimut dan memeluk Neva dalam hangat tubuhnya.
_______________________
Catatan Penulis π₯°π
Pertanyaan Readers
Nova Zauharoh
Author dapat inspirasi tokoh Leo, Yuna, Vano n Neva dari mana?
#TanyaAuthor
Jawab.
Author... "Berimajinasi sesuka hati aja sebenernya. Bakal tak kupas tuntas nanti saat novel ini END. Bagaimana kisah ini tercipta dan semua karakter yang masuk. Aku jawab satu dulu ya.
Yuna. Sosok yang ceria optimis supel dan penuh semangat. Aku bikin karakter ini karena pengen bikin sosok yang berkebalikan dengan sosok 'Bintang' di novel ku Matahari Tenggelam. Bintang dan Yuna adalah dua sosok yang sangat berbeda. (Yang sudah baca novelnya pasti udah tahu, bagaimana karakter Bintang kan ya.) Gitu... π₯°π
Mesy
vano bolehkah aku jadi adikmu
#tanya vano
Jawab.
Vano ... "Maaf tidak boleh. Takut kamu baper dan malah jatuh cinta padaku. Terima kasih."
Siti
baby arai kapan gedenya ,aq suka baby arai pasti gedenya gantengnya gak kalah sama daddy nya
#tanya yuna #tanya bang lee#tanya kak nas
Nanas ... "Gedenya masih lama, baru jalan tiga bulan nih."
Yuna ... "Hmm pasti ganteng dong siapa dulu mommynya, ya kan sayang," jawab Yuna dia menoleh ke arah Leo dengan senyum manis penuh cinta. Leo membuka mulutnya untuk menjawab ....
"Stop, jangan bermesraan depan othor. Nggak sopan."
"Hahaa iri bilang boss ...." ledek Yuna dengan tawa dan toss dengan Leo.
Jangan lupa like koment ya kawan tersayang π₯°π Luv Terima kasih π₯°π Tinggal satu hariii tanya jawabnya π€ Silahkan yang ingin bertanya. Jangan lupa sertakan tagar. #Tanya. Akan ada tiga pertanyaan terpilih yang bakal Othor Up. π₯°π