Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Bab 201_Bunga Dalam Dekapan


Hari ini, dengan di temani Neva, Yuna melakukan pemeriksaan rutin kandungannya. Dia melakukan selfie dan mengirimnya untuk Leo.


"Sayang, kita ke dokter Alfin dulu. Merindu mu...." send. Kali ini pesannya segera mendapat balasan dari Leo. Yuna girang bukan main, dia bahkan lebih mirip seperti anak kecil yang menemukan mainan kesayangan yang lama hilang.


"Hati-hati sayang, maaf tidak bisa mengantar mu," begitu isi pesan balasan Leo padanya. Dia segera membalas lagi.


"Hhmmm, aku akan menghukum mu jika kau pulang nanti," send. Dan pesannya mendapat balasan lagi. Yess yess yes....


"Apa hukuman mu? Apa kau akan mencium ku hingga lemas? Baik, hukumlah aku jika begitu," balasan dari Leo. Yuna tertawa ringan membaca pesan ini. Dasar kau.... batinnya.


"Tuan mesum, mimpi saja untuk mendapat ciuman dari ku. Kau bahkan tidak boleh masuk kerumah," send. Lagi, pesan itu langsung mendapat balasan. Ini karena lengan Leo sudah mulai membaik dan bisa memegang ponsel dengan benar. Hanya saling mengirim pesan saja mereka sangat bahagia. Hanya saling berbalas pesan saja mereka mampu tersenyum sepanjang hari meskipun rasa itu rindu itu semakin bertambah dan terus bertambah.


Neva yang memperhatikan Yuna jadi sangat penasaran apa isi pesan itu hingga membuat wajah Yuna berseri-seri dan bibirnya terus tersenyum.


"Apaan sih seru banget," Neva mendekat dan mencoba mengintip tapi Yuna langsung mendekap ponselnya. Dia tidak mengizinkan Neva untuk melihatnya.


"Anak kecil tidak boleh melihatnya. Hus... hus, sana menyingkirlah," ucap Yuna menggerakkan tangannya meminta Neva menjauh darinya.


"Aaaa...," Neva menatap Yuna dengan senyum menyelidik. "Chat mesum ya?" Lanjutnya dengan tawa dan segera menggeser duduknya sedikit menjauh.


"Bukan," jawab Yuna dengan menahan senyum.


"Okey, lanjutkan," ucap Neva masih dengan tawa ringan.


Supir Albar yang diam-diam menguping dan memperhatikan juga ikut tersenyum sendiri. Dia juga merindukan Boss dinginnya. Apalagi asisten Dion di sana.


Beberapa menit kemudian, mereka sampai di tempat praktek dokter Alfin.


Neva memvidio semua, kemudian mengirim vidio itu untuk Kakaknya.


Setelah dari dokter Alfin, mereka mampir ke rumah bunga Alea. Alea baru saja mengirim pesan pada Leo, hanya sekedar menanyakan kabarnya saja, tapi tidak ada balasan.


"Hai, hai...." si heboh langsung membuka pintu pintu dan masuk ke dalam. Dia menggandeng lengan Yuna.


"Hai," Alea menyambut mereka ramah. Kemudian, mereka bertiga duduk di meja tulis Alea. Ngobrol-ngobrol santai dan sesekali bernyanyi bersama mengikuti lagu yang diputar di rumah bunga Alea. Sudah ada sekat antara meja tulis dan bunga-bunga hingga mereka lebih santai untuk berbincang.


Suara lonceng langsung terdengar begitu ada seseorang yang datang untuk membeli. Dan Alea segera menyambut pembeli dengan sangat ramah. Tapi ternyata pembeli kali ini berbeda. Alea tersenyum menghampirinya.


"Hai," sapanya.


"Hai, maaf baru bisa berkunjung lagi. Bagaimana kabar mu?" tanyanya bersahabat. Dia tidak pernah membeda-bedakan seseorang, dia selalu ramah terhadap teman-temannya.


"Baik Vano," jawab Alea. Kemudian, dia sedikit mendekat kearah Vano. "Dia ada disini," ucapnya dengan suara yang pelan.


"Dia?" Vano mengerutkan keningnya sejenak, "Neva?" Tanyanya. Alea mengangguk.


"Dia ada di meja tulis," jawab Alea. Kemudian, dia mengajak Vano untuk kedalam. Tangannya menyingkap tirai pembatas itu dan langsung terlihat wajah Neva yang sedikit shock melihat seseorang yang berada di balik tirai. Jantungnya langsung berdegup. Dari keterkejutannya dia langsung melengkung kan bibirnya.


"Hai, kak Vano...." sapanya dengan senyum. Yuna yang tengah menulis langsung mengangkat wajahnya dan melihat ke arah Vano, kemudian dia melihat kearah Alea. Mereka saling kenal? Batinnya.


"Silahkan duduk, Vano," ucapnya mempersilahkan.


Neva, Yuna, Alea dan Vano.... dunia ini sungguh sempit.


"Kalian saling kenal?" Tanya Yuna pada Alea. Alea hanya memberikan jawaban berupa anggukan kepala.


"Kita teman semasa sekolah menengah pertama," jawab Vano. Yuna langsung menatap Alea.


Tatapan matanya seolah bertanya, "Apa dia yang dulu kau sukai?"


Sementara Neva sudah tahu jika Vano dan Alea kenal, itu karena Vano mengetahui tulisan yang ia buang dari sini.


"Vano, apa kau sedang sibuk?" Tanya Yuna setelah beberapa detik mereka berempat diam.


"Mmm? Tidak, kenapa?" tanyanya.


"Tiba-tiba, aku ada urusan mendadak," ucap Yuna sambil mengambil tasnya yang tergeletak di atas meja.


"Kau ngarang," jawab Vano yang sudah menebak jika Yuna berbohong.


"Siapa yang ngarang, aku serius," ucap Yuna. Dia menatap Vano dengan tajam.


"Okey, jadi apa mau mu?" Tanya Vano.


"Emmm," Yuna melirik Neva. "Bisa antar dia pulang?" Tanyanya sambil merangkul pundak Neva.


"Apa?" Neva langsung melotot dan menoleh ke arah Yuna. "Tidak," katanya. "Jika Kak Yuna pulang, aku Ikut pulang," lanjutnya. Dia juga segera memakai tas miliknya.


"Hei, aku mau kesuatu tempat," ucap Yuna memberi alasan.


"Aku harus terus mengikuti Kak Yuna," jawab Neva, "Itu perintah dari Kak Lee," lanjut Neva meyakinkan. Padahal dia berbohong.


"Uhum," Vano terbatuk dan menghentikan mereka berdua. Neva dan Yuna menoleh secara bersamaan. "Kalian tetap disini, biar aku yang pergi," ucapnya.


"Tidak, tidak. Bukankah kau ingin bertemu Alea?" ucap Yuna sambil melihat ke arah Alea yang memperhatikan Neva dan Yuna.


"Hahhaaa.... dia ingin membeli bunga," ucap Alea. "Bukan begitu Tuan muda?" Tanya Alea memberi kode pada Vano untuk bilang iya.


"Hhm, seperti itu," jawab Vano.


"Yuna, kau... ingin apa? Kita cari udara segar bagaimana, yuk?" Alea langsung berdiri dan menuju Yuna.


"Hmmm, iya," Jawab Yuna. Dan mereka berdua langsung pergi begitu saja tanpa aba-aba dan tanpa permisi. Alea bahkan langsung membalik tulisan yang berada di pintunya. Close.


Neva langsung menepuk keningnya pelan.


"Sepertinya mereka sengaja," ucap Neva.


"Sangat kompak," sambung Vano. "Kau sedang apa disini?"


"Berkunjung saja," Jawab Neva. "Bukankah Kakak ingin membeli bunga?" Tanya Neva.


"Huumm, tapi penjualannya malah pergi," jawab Vano dengan senyum ringan.


"Penjual yang tidak sopan, aku akan mengomelinya nanti," ucap Neva.


"Apa kau tahu bunga apa yang paling romantis?" Tanya Vano. Neva menaikkan alisnya untuk berfikir sejenak sebelum memberi jawaban.


"Mawar," jawabnya. Sejauh yang dia tahu, bunga mawar adalah bunga yang biasa dipakai untuk menyatakan cinta.


Vano mengangguk, "Benar, tapi ada lagi selain Itu," ucap Vano.


"Oh, ya? Apakah itu kembang tujuh rupa?" Tanya Neva yang membuat Vano tertawa terbahak-bahak.


"Aku bukan mau ternak tuyul," jawabnya dengan tawa. "Ikut aku," Vano berdiri dari duduknya dan di ikuti Neva.


"Kau tahu ini bunga apa?" tanya Vano. Dia menunjuk bunga yang berwarna merah muda bunga dengan mahkota berukuran besar dan berlapis-lapis.


"Camelia," jawab Neva. Tepat...


Vano mengambilnya satu dan memberikannya untuk Neva. Tanpa banyak tanya, Neva menerima bunga itu dari tangan Vano. Kemudian, Vano berjalan lagi dengan Neva yang mengikutinya.


"Kau tahu ini bunga apa?" Tanya Vano, dia menunjuk bunga dengan kelopak menbentuk tabung dan melengkung diujungnya, seperti terompet.


"Bunga Lily," jawab Neva. Tepat....


"Kau tahu ini bunga apa?" Tanyanya. Kali ini Neva tertawa. Bunga ini sangat mudah untuk di kenali.


"Himawari," jawab Neva. Yup... tepat. Seperti tadi, Vano mengambilnya satu dan memberikannya untuk Neva. Hingga hampir semua bunga yang ada di rumah bunga milik Alea terkumpul satu-satu di dekapan Neva.


"Jadi... ini adalah bunga paling romantis?" Neva memperhatikan bunga yang berada di dalam dekapannya.


Vano mengangguk. Kemudian, dia duduk di lantai dan bersandar pada dinding kaca. Neva mengikutinya, ia duduk di samping Vano dengan masih membawa bunga dalam dekapannya.


"Semua bunga romantis. Setiap bunga memiliki makna dan keindahannya masing-masing. Tentang sahabat, tentang cinta, tentang kesetiaan, ketulusan dan masih banyak lagi," ucap Vano. Neva mengangguk.


"Lalu.... bunga dalam dekapan ku ini, apa artinya?" Tanya Neva. Dia menoleh untuk menatap wajah Vano. Dan Vano yang juga menoleh untuk menatapnya. Mata mereka bertemu, saling menyapa dalam keindahan.


Perlahan, bibirnya terbuka untuk menjawab pertanyaan Neva. Artinya?


"Cinta," ucapnya.


Tertegun sesat ketika mendengar kata itu. Neva segera berpaling dan mengalihkan pandangan. Dia tidak ingin membahas sesuatu yang sentimentil, dia tidak ingin membahas itu. Lusa dia sidang, lalu wisuda, kemudian pergi.


"Apa Kak Vano tahu Himawari no yakusaku?" Tanya Neva mengalihkan pembicaraan.


Vano mengangguk, dia juga mengalihkan pandangannya.


"Soundtrack film Doraemon," jawabnya.


"Lagunya sangat bagus," ucap Neva.


"Kau suka Doraemon?" Tanya Vano.


"Suka," jawabnya. "Hahaha.... jiwa kekanak-kanakan ku terkadang keluar."


beberapa menit kemudian, Alea dan Yuna kembali, mereka berdua berdiri di depan rumah bunga. Dan supir Albar segera membukakan pintu untuk Yuna. Neva yang melihat itu langsung beranjak dari duduknya.


"Kak Vano, terima kasih untuk ini. Untuk bunga romantisnya," ucap Neva setelah Vano berdiri di dan berhadapan dengannya. "Kak Vano, aku pamit," dia membungkukkan sedikit tubuhnya dan melangkah ke luar.


"Vano, kenapa kau membiarkan dia keluar?" kata Yuna melongok dari dalam mobil setelah Neva menyusulnya.


"Aku bukan tipe pemaksa," jawab Vano dengan tawa renyah. Yuna mengalihkan pandangannya pada Neva.


"Okey, bye... bye...." Neva melambai pada Alea dan Vano. Kemudian, dia segera menutup pintu mobil. "Jalan Kak...." ucapnya pada supir Albar.


"Baik Non," Supir Albar segera melajukan mobilnya.


"Kenapa kau menolak untuk diantar Vano? Bukankah harusnya itu suatu kesempatan biar kalian semakin dekat," ucap Yuna setelah mobilnya melaju meninggalkan rumah bunga.


"Aku telah berhenti untuk mencintainya, bukan... aku berhenti untuk mengharapkan hubungan ku dan dia," jawab Neva.


"Kenapa begitu?" Tanya Yuna heran.


"Aku pernah bilang pada Kak Yuna bukan, jika setelah ini, aku kuliah di luar negeri?" Neva menoleh kearah Yuna.


"Kuliah di luar negeri... apa itu alasannya kau menyerah?" Tanya Yuna. Dia merasa tidak yakin jika itu adalah alasan yang sebenarnya. Neva mengangguk pelan.


"Bagaimana dengan Vano? Apa dia tahu jika kau akan pergi?" Tanya Yuna lagi.


"Tidak, dia tidak tahu," jawab Neva.


"Jika kalian berdua saling mencintai, bukankah jarak itu tidak masalah?" ujar Yuna. Neva menunduk dan menarik nafasnya.


"Ada sesuatu yang membuat ku menyerah," jawab Neva. Yuna menatapnya, sesuatu?


"Bolehkah aku mengetahuinya?" tanyanya.


Sesampainya, di rumah. Mereka berdua duduk di taman. Mereka berdua duduk saling berhadapan.


"Jadi apa alasan mu untuk menyerah?" Yuna menyentuh tangan Neva yang ia satukan di atas meja. Neva menunduk. Sejujurnya dia ragu untuk bilang ini pada Yuna tapi.... entahlah dia harus bilang.


"Kak Yuna....," ucapnya. Dia mengangkat wajahnya dan menatap Yuna. Yuna mengangguk, memberi isyarat bahwa dia siap mendengarkan apapun yang akan Neva ceritakan padanya.


"Aku...," Neva menggantung ucapnya dengan ragu, "Aku tahu hubungan Kak Yuna dan Kak Vano," akhirnya kata itu keluar dengan sangat pelan. Namun Yuna bisa mendengarnya dengan jelas, dia tersentak mendengar itu. Mengetahui hubungannya dengan Vano?


"Apa yang kau ketahui Neva," Yuna membalas tatapan mata Neva padanya.


"Aku tidak tahu pastinya seperti apa. Awalnya aku hanya menebaknya saja. Kak Lee yang tidak ingin mengakui ku sebagai adiknya, hingga akhirnya aku tahu. Kenapa Kak Lee begitu membenci Kak Vano," ujar Neva dengan hati-hati.


"Iya, itu salah ku," ucap Yuna, dia menunduk sebentar lalu kembali menatap Neva.


"Aku__"


"Vano tidak salah, Leo juga tidak salah," Yuna memotong ucapan Neva. "Jadi.... jika alasan mu untuk tidak menerima Vano karena Leo membencinya, itu tidak adil untuknya. Leo membencinya karena aku. Jika kamu tidak menerima Vano karena aku pernah memiliki hubungan dengan dia itu juga tidak adil untuknya, karena aku yang membuat dirinya hadir dalam hidup ku. Aku yang datang padanya, Neva. Bukan dia yang mendekati ku. Aku minta maaf jika aku membuat kalian begitu menderita, aku minta maaf karena aku membuat kalian begitu tersiksa. Leo, Vano, dan juga kamu....," Yuna menunduk, "Aku minta maaf," ucapnya. Neva mengambil nafasnya panjang. Kemudian, dia berpindah dan duduk di samping Yuna.


"Aku tidak bermaksud menyalahkan Kak Yuna," ucap Neva mulai serak. Dia memeluk Yuna. "Aku juga tidak menyalakan Kak Vano," lanjutnya. "Aku tidak tahu bagaimana hubungan itu sampai bisa terjalin tapi aku yakin kalian memiliki alasan yang tidak sederhana."


****@****


Pukul 20.00 di kamar Yuna.


"Tuan suami, apa kau sibuk?" Yuna mencoba mengirim pesan pada Leo. Tadi siang, dia langsung mendapat balasan, malam ini.... dia juga berharap begitu.


"Huum, aku sibuk memikirkan mu sayang," balasan yang membuat Yuna langsung tertawa terbahak-bahak dengan pipi yang merona merah.


"Kau pandai merayu sekarang. Aku jadi takut jika kau merayu gadis cantik disana," balas Yuna dengan emot sedih.


"Gadis cantik hanya ada di rumah, tidak ada di sini," balasan Leo yang membuat Yuna kembali tertawa dan semakin merona.


"Sayang, boleh aku membuat panggilan Video?" balas Yuna yang membuat Leo menghela nafasnya.


"Aku sedang rapat," balasnya berbohong. Betapa dia tersiksa dengan ini.


"Okey," balas Yuna dengan sedih dan kecewa.


"Maafkan aku, Yuna," balas Leo. Yuna mengangguk membaca balasan dari Leo. Dia tersenyum tipis dalam kegelisahan. Sungguhkah karena dia sibuk? Sungguhkah tidak ada sesuatu yang terjadi padanya? Dia bahkan tidak melakukan panggilan telepon sama sekali.


"Sayang, kau baik-baik saja bukan?" Tanyanya pada pesan yang dia kirim untuk Leo.


"Tentu. Sudah malam bukan disitu. Tidurlah," balas Leo.


"Sayang, aku merindukan mu." Yuna mengirim pesan lagi untuk Leo. Dia masih ingin melakukan chat, dia masih sangat rindu.


___


Catatan Penulis (Curhatan 🥰)


Ada salam dari Bang Lee nih... Terima kasih untuk do'a dan rindunya 🥰


"Thor, buruan pulangkan aku ke negara I," Leo menatap Thor dengan pandangan memohon.


"Beri aku ciuman," kata Thor memberi syarat sambil mengedipkan mata cantik.


"Nggak jadi Thor... serah Thor aja deh...," jawab Bang Lee dengan kesal.


Jompol cantik digoyang yach pembaca tercintaaaa 😘😘