Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Bab 339_Sepi


Neva mengerjapkan matanya dengan pelan. Mengumpulkan nyawa dan ingatan yang masih belum sempurna. Dia memperhatikan setiap sudut ruangan, dan barang-barang yang ada didalam kamar.


"Kamarku," gumamnya pelan. Sedetik kemudian dia langsung bangkit untuk duduk dengan kaget. "Di kamarku?" dia dengan heran masih memperhatikan kamarnya.


"Bukankah aku ada bersama dia? Di dalam mobil dia? Aaaa kenapa sekarang sudah ada di dalam kamar ku?" Neva mengacak-acak rambutnya. Dia melihat jam didinding yang menempel di dinding kamarnya. Pukul empat lima belas menit. Neva segera turun dari ranjangnya dan masuk ke kamar mandi. Masih sangat dingin. Dia hanya membersihkan wajahnya dan menggosok gigi. Kemudian, mengganti baju dan turun ke bawah.


Sepi.


Neva mengambil nafasnya dengan dalam lalu membiarkannya sejenak. Dia melangkah ke ruang keluarga, berdiri dibawah foto besar keluarganya.


Papa, Mama, Kak Dimas, Kak Lee, dan dia sendiri. Neva tersenyum memperhatikan foto besar itu tetapi ada genangan air mata disudut matanya.


Kedua bola matanya tertuju pada kakaknya Leo.


"Kak Lee, segeralah kembali kesini dengan keadaan mu yang baik-baik saja," ucapnya parau.


Kini, pandangannya beralih memperhatikan foto besar seluruh anggota keluarganya. Dia tersenyum tipis disudut bibirnya. Foto ini diambil saat dia bertunangan dengan Vano.


Kemudian, setelah dari ruang keluarga, Neva berjalan menuju ruang tengah. Dia menyalakan tv dan duduk di sofa. Tangannya sibuk mengetik pesan untuk Mama dan kakaknya. Lalu kemudian dia mengetik pesan untuk Joe.


"Apa yang harus ku kerjakan hari ini Joe?" Send.


Dan pesannya langsung terbalas.


"lebih sibuk dari yang kemarin Nona. Ada beberapa dokumen yang diperlukan dari kantor pusat, saya akan membawanya nanti," balas Joe.


"Bisa kau kirim filenya sekarang Joe? Aku ingin mempelajarinya sekarang," balas Neva.


"Nona sudah bangun?" balas Joe yang membuat Neva mengerutkan alisnya.


"Kalau aku belum bangun, lalu siapa yang mengirim pesan ini padamu?"


"Hahaaa iya," balas Joe dengan emot menutup wajah karena pertanyaannya yang memalukan.


"Kirim filenya, Joe."


"Baik Nona." dan file langsung terkirim ke dalam save dokumen di laptop Neva. Gadis itu kembali naik keatas untuk mengambil laptop miliknya lalu kembali ke ruang tengah. Dia duduk di bawah diatas karpet halus.


"Hahaa ternyata aku tidak paham tentang ini," Neva mengirim pesan pada Joe setelah dia membaca file yang baru saja dia terima.


"Bisakah kita berdiskusi secara langsung Nona?" balas Joe.


"Kau mau ke rumahku? Jam dini hari begini?"


"Saya ada di depan, dan sedang menikmati kopi hitam bersama security dan supir Nona," balas Joe yang membuat Neva melebarkan matanya.


"Kau disini?" balas Neva merasa tidak percaya. Kemudian Joe mengirim foto security yang tengah berbincang dengan security lainnya. Ok, itu membuat Neva percaya. "Baiklah, masuk saja Joe. Aku ada di ruang tengah," balas Neva kemudian.


"Baik Nona," jawab Joe dalam balasan pesannya. Neva menyudahi chatnya dengan Joe. Kemudian, dia membuka chatnya pada Vano. Tanda pada chat Vano saat ini off. Neva meletakkan ponselnya dan kembali memahami isi file yang Joe kirim. Tak lama, terdengar suara langkah kaki mendekat.


"Selamat pagi, Nona," sapa Joe dengan sopan.


"Pagi Joe," jawab Neva. "Duduklah," ujarnya mempersilahkan Joe.


"Terima kasih Nona," jawab Joe. Dia kemudian duduk disebelah Neva dan menjelaskan isi file yang dia kirim. Dia dengan gaya bahasanya yang luwes dan mahir membuat Neva langsung mengerti. Meskipun, ada beberapa yang masih bingung.


Asisten rumah tangga datang dengan membawa dua cangkir teh hijau dan cemilan. Kemudian, mereka melanjutkan diskusi hingga pukul lima pagi.


"Maaf jika aku terlalu bawel," ucap Neva setelah sesi diskusi selesai. Joe mengangguk dengan senyum.


"Tidak apa-apa, Nona. Saya dengan senang hati membantu Nona, dan ini sudah menjadi tanggung jawab saya," jawab Joe sopan. Neva mengangguk. Kemudian, dia menatap Joe setelah menyesap teh hijau di cangkirnya. Dia ingin menanyakan sesuatu.


"Emmm, Joe. Apa semalam kau langsung pulang setelah itu," tanya Neva pelan.


"Emmm, apa kau tahu bagaimana aku pulang?" tanya Neva sedikit malu. Joe tersenyum lebar dengan pertanyaan itu.


"Nona pulang dengan Tuan muda Vano," jawab Joe.


"Iya, aku tahu ... tapi ...." Neva menggantung ucapannya. Dia tidak tahu harus bagaimana menjelaskannya.


"Tuan muda Vano menggendong Nona," jelas Joe seolah tahu apa yang tengah Neva pikirkan.


"Dia menggendong ku?" mata Neva melebar tak percaya. Joe mengangguk.


"Astaga, bagaimana bisa aku tertidur pulas dalam mobilnya," Neva menggerutu dengan rasa malu dalam dirinya. "Ok, terima kasih, Joe," ucap Neva. Dia mengambil ponselnya dan segera beranjak.


"Nona," panggil Joe menghentikan langkah Neva.


"Ya?" Neva menoleh ke arahnya.


"Pagi ini, biar saya yang mengantar Nona ke kampus," ucap Joe. Dia berharap Neva mau menerima tawarannya.


"Terima kasih, tapi aku ada supir Joe. Kau berfokus saja pada kantor," jawab Neva. Kemudian, dia melangkah menaiki tangga.


Neva merebahkan dirinya di ranjang dan membuka chatnya pada Vano tepat ketika satu pesan dari Vano masuk dalam ponselnya. Itu membuatnya malu. Bukankah itu sangat terlihat jelas jika saat ini dia tengah membuka chat.


"Selamat pagi, gadis," pesan Vano.


"Pagi Kak," balas Neva malu mengingat dia yang tertidur di mobil Vano. Dia takut jika tidak sadar ngiler, itu ... pasti sangat memalukan.


"Aku berencana mengantarmu pagi ini, tapi ternyata aku harus segera terbang ke luar Kota. Lain hari aku pasti mengantarmu," balas Vano. Neva merapatkan bibirnya. Dia menghela nafas.


"Sebenarnya, seperti apa perasaanmu padaku," gumamnya. Kemudian, dia beranjak dan membersihkan dirinya di kamar mandi.


___________________


Malam hari di negara A.


Leo baru saja selesai menjalani serangkaian pemeriksaan. Bahkan hingga selarut ini. Dia dengan ditemani Tuan besar Nugraha dan Dimas menjalani serangkaian pemeriksaan.


Untuk beberapa hari kedepan, Leo harus dulu tinggal di rumah sakit untuk mengobservasi tubuh, kondisi dan keadaannya. Tentang komplikasi yang diakibatkan oleh kecelakaannya dulu. Observasi untuk mengambil tindakan yang tepat dan terbaik. Di lantai enam Leo dirawat. Terpasang beberapa alat medis ditubuhnya. Matanya terpejam, dia tidur dengan rasa lemah tak berdaya dalam dirinya.


"Pa, aku kembali kerumah dulu," ucap Dimas pamit. Tuan besar Nugraha mengangguk.


"Sampaikan kabar ini dengan baik. Kau tahu, adikmu sangat tidak suka jika Yuna bersedih," ujar Papa. Dimas tersenyum lebar dan memperhatikan Leo yang terpejam.


"Baik Pa," jawab Dimas. Kemudian dia berbicara pada Leo dengan pelan. "Jika kau tidak ingin isteri mu sedih, segeralah sembuh."


Dimas kembali kerumah. Seperti yang sudah ia duga jika saat ini, Yuna dan Mama belum tidur.


"Kak," Yuna tidak sabar lagi untuk bertanya. Dimas pulang sendirian. Mama pun sama. Beliau menatap putranya dengan cemas.


"Lee baik-baik saja," jelasnya dengan tenang. Kemudian, dengan perhatian dan bahasa yang halus dia menjelaskan tentang keadaan Leo.


"Besok kau boleh menjenguknya," ucap Dimas pada Yuna.


_________________


Catatan penulis πŸ₯°


Jangan lupa jempolnya di goyang asiiik πŸ₯°πŸ˜ Like komen gratis... Bikin othor semangat lagi, ya kan, ya kan mbeb kesayangan πŸ˜‰πŸ˜˜πŸ˜˜


Ummm, yang punya poin boleh doong diVote ke Sini. Terima kasih πŸ₯°πŸ™ Luv Luv SSC🌹