Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Part 32. Hujan


Bel pulang sekolah berbunyi.


Langit mendadak mendung. Sepertinya bakal turun hujan siang ini.


" Ra, mau barengan nggak?" tanya Hesti melihat Tiara yang sedang mengemasi buku-buku.


" Duluan aja hes". jawab Tiara agak ragu.


" Oke, kalo gitu aku dan Dhilla duluan ya". ucap Hesti dan bergegas keluar dari kelas bareng Dhilla.


Perlahan Tiara berjalan keluar menuju ke halaman sekolah. Sudah agak sepi karena sebagian besar siswa sudah keburu pulang khawatir terjebak hujan nantinya.


Tiara melihat ke sekeliling mencari sosok Ilham tapi tidak kelihatan batang hidungnya.


Hujan mulai turun.


Kakinya terus saja melangkah ke depan hingga akhirnya terlihat sosok yang dia cari ada di parkiran.


Baru saja ia hendak memanggil Ilham, mendadak Nayla muncul dan duluan mendekatinya . Keduanya pun terlihat berbicara dengan akrabnya. Setelah itu berboncengan pulang.


Tiara hanya bisa memandangi kepergian mereka hingga tak terlihat lagi terhalang pagar beton sekolah.


Gadis itu berdiri mematung di tengah hujan. Cairan hangat yang bergulir di pipinya bercampur dengan beningnya air hujan. Dadanya terasa sesak menahan gemuruh di hatinya.


Hingga tanpa sadar ada yang berdiri memayunginya.


" Ra, pulang yok". suara itu menyadarkan lamunannya.


Kini di depannya berdiri Zian yang basah kuyup sambil memegang payung.


" Kak . . .


" Ayok gue anterin kebetulan tadi gue bawa mobil". ujar Zian sambil merengkuh bahu gadis itu dan membawanya ke parkiran.


Tiara hanya terdiam mengikuti Zian.


Zian tidak mau berbicara banyak karena dia tahu apa yang sedang dirasakan gadis itu.


Selama perjalanan pun keduanya hanya terdiam. Zian sengaja membiarkan Tiara dengan pikirannya walau sebenarnya dia terlihat khawatir dengan gadis itu yang terlihat murung.


Awas lo Ilham . Dasar bodoh ! umpatnya dalam hati.


Dari awal Zian sudah menduga ini bakal terjadi. Dia sudah pernah mengingatkan teman lamanya itu namun tak digubris. Dan akhirnya, inilah hasilnya. Tiara yang akhirnya terluka karena keegoisannya.


" Ra, dah nyampe tuh". ujar Zian membuyarkan semua lamunan Tiara.


" Eh iya kak. Makasih udah nganterin Ara". ucapnya lemas.


" Bawa aja payungnya". Zian menyodorkan payung tadi ke arah Tiara.


Gadis itu hanya mengangguk menerima payung di tangan Zian. Setelah itu iapun berbalik dan berlalu pergi.


Berjalan pelan menuju ke rumahnya. Zian memandangi punggung gadis itu hingga menghilang di tikungan jalan.


Setelah tak terlihat lagi barulah ia melanjutkan perjalanan ke rumahnya.


\*\*\*\*\*


Di rumah Zian #


Zian masuk dengan baju basah kuyup.


" Tuan muda sudah pulang". suara bibi Ratih menyambutnya di depan pintu.


" Iya bi ". balas Zian sambil menuju ke kamarnya di lantai dua.


Bi Ratih pun segera mengelap lantai basah yang tadi dilewati anak majikannya. Bibi Ratih adalah pembantu di keluarganya Zian. Sejak kecil ia sering ditinggal berdua dengan bi Ratih karena kedua orangtuanya yang super sibuk.


Karena sudah lama ikut keluarga itu, tak heran bi Ratih sudah seperti orang tua sendiri bagi Zian.


Selama ini bi Ratih lah yang mengurus semua keperluannya. Seperti halnya saat ini.


Setelah selesai mengurus lantai yang basah, bi Ratih segera bergegas menuju ke dapur untuk menyiapkan makan siang tuan mudanya.


Setelah makanannya beres bi Ratih segera menuju ke kamarnya Zian.


tok tok tok


" Makanannya sudah bibi siapkan tuan muda". ujar bibi di depan pintu kamar Zian yang tertutup.


" Iya bi ! dikit lagi Zian turun !" sahut Zian dari dalam kamarnya.


Bibi Ratih kemudian turun kembali melanjutkan pekerjaan lainnya.


\*\*\*\*\*