Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Bab 228_Terima Kasih Kak Lee


Neva mengangguk dengan senyum. Kemudian dia segera membawa langkah nya untuk keluar menemui Vano. Dia mengigit bibir bawahnya sedikit dan mengatur nafasnya.


Vano duduk di sofa menunggunya. Sesekali ia melirik ke arah dalam untuk mengintip kapan kira-kira seseorang yang ia tunggu akan muncul.


Pelan, Neva membawa langkahnya keruang tamu. Mata mereka langsung bertemu. Saling menatap dengan malu. Bibir itu melengkung dan menyapa dengan hangat.


"Hai," ucap Neva. Tangannya terangkat untuk membenarkan letak rambutnya. Padahal sejujurnya itu gerakan untuk menutupi rasa grogi dalam dirinya.


Vano tersenyum dan langsung berdiri, "Hai ...." balasnya.


"Apa aku membuat Kakak lama menunggu?" Tanya Neva.


"Tidak," jawab Vano. Kemudian, mereka keluar bersama.


Mobil Vano melaju dengan sedang.


"Jadi kau ingin nonton?" Tanya Vano setelah mobilnya menjauh dari rumah besar keluarga Nugraha.


"Heem," jawab Neva dengan anggukan. Tadi siang, ketika Vano mengirim chat padanya dan menanyakan apa yang ingin dia lakukan malam ini. Dan dijawab Nonton oleh Neva.


"Aku baca review nya tentang film yang kau pilih," kata Vano.


"Ya, sepertinya sangat keren, banyak sekali orang yang membahas tentang film ini. Tingkat kengeriannya di rasa sangat kuat," jawab Neva dengan semangat.


"Kau yakin tidak akan takut?" Tanya Vano dengan nada meledek. Dia melirik sedikit ke arah Neva. Gadis itu cantik dengan wajah yang berseri.


"Tidak akan," jawab Neva. "Aku bukan penakut," lanjutnya. "Aaa ... apa jangan-jangan Kak Vano yang penakut?"


"Kita buktikan saja Nona," jawab Vano.


Beberapa menit kemudian. Mobilnya parkir di tempat khusus dan dia langsung membawa Neva masuk ke dalam bioskop. Tentu saja dia sudah mengkosongkan bioskop.


"Selamat malam Tuan muda," sapa karyawan dengan sangat ramah.


"Malam," jawab Vano. Karyawan itu kemudian pamit.


"Kau mau duduk di sebelah mana?" Tanya Vano perhatian. Neva menunjuk bangku yang dia inginkan.


Dia memilih bangku bagian tengah. Kemudian, mereka berdua duduk bersebelahan.


Tiga karyawan datang. Satu, memberikan minuman. Dua, memberikan cemilan. Tiga, memberikan kotak kecil. Kotak? Neva mengerutkan keningnya. Dia menoleh kearah Vano. Seolah bertanya "Kotak?"


"Buka nanti, ketika kita selesai nonton," ucap Vano. Neva mengangguk. Kemudian, setelah tiga pelayan itu pergi. Lampu bioskop mulai di padamkan. Layar besar itu mulai memutar film horror terbaru yang Neva pilih.


"Kau yakin tidak akan teriak Nona?" Tanya Vano meledeknya. Dia menyedot minuman nya.


"Aku sudah bilang, aku bukan penakut," jawab Neva. Dan memang benar, gadis itu tidak ada takut nya sama sekali. Hingga pertengahan film, dia masih santai. Dia menonton dengan sangat serius, dia bahkan lupa pada rasa grogi yang dari tadi membayanginya. Film horror yang satu ini memang sangat menarik. Dari segi cerita, latar, sound efek dengan tingkat kengerian yang bersatu membuat Neva begitu tegang.


Berbeda dengan Vano, dia tidak memperhatikan layar besar itu tetapi dia memperhatikan wajah gadis di sampingnya. Terlihat sangat imut. Pelan, tangannya mengulur dan memberi suapan pop corn pada Neva.


Neva tersadar dan langsung menoleh ke arah Vano. Seolah bertanya, 'Untuk ku?'


Vano mengangguk dengan senyum. Lalu membawa tangannya mendekati mulut Neva.


Dengan perasaan yang berdebar, Neva membuka mulutnya untuk menerima suapan Pop corn dari tangan Vano. Kemudian, dia kembali memalingkan wajahnya dan memperhatikan layar. Mulutnya mengunyah pop corn dengan pelan. Jantungnya kembali menderu, tangannya menjadi sangat dingin.


Lagi, Vano memberi suapan pop corn untuk nya lagi. Neva membuka mulutnya dan kembali menerima suapan itu. Dia tidak lagi begitu serius menyaksikan kengerian film yang mereka tonton. Dia lebih menikmati suapan dan rasa indah dalam hatinya. Dia menerima suapan lagi dan lagi.


Kemudian, dia menoleh ke arah Vano. Tangannya terangkat dan mengambil pop corn dari wadahnya lalu memberikannya pada Vano.


Vano menatapnya dengan mengerutkan alis. Seolah bertanya, 'Untuk ku?'


Neva mengangguk. Kemudian, dengan pelan Vano membuka mulutnya untuk menerima suapan dari tangan Neva. Dan yang terjadi selanjutnya adalah mereka saling menyuapi dengan tawa, mereka saling berebut pop corn dan menyuapi hingga mulut mereka penuh dengan pop corn. Hingga film usai.


"Eh, bagaimana ending-nya?" Tanya Neva. Vano mengangkat bahunya. "Yaaah," ujar Neva. Dia menepuk keningnya pelan.


Meski film telah usai tetapi lampu masih belum menyala.


"Kak Vano," panggil Neva.


"Ya?" Jawab Vano.


"Apa kontak nya boleh di buka sekarang?" Tanyanya. Vano tersenyum menatapnya. "Aku penasaran setengah mati," lanjut Neva.


"Ayo ikut aku?" Ajaknya.


"Kemana?" Tanya Neva.


"Danau teratai," jawab Vano.


"Okey," Neva mengangguk menyetujui. Kemudian, mereka berdua pergi meninggalkan gedung bioskop.


__Sesampainya di Danau teratai.


Seperti kemarin, mereka berdua duduk di atas rumput hijau yang terpotong rapi. Menatap danau teratai yang indah dengan sentuhan angin yang membelai wajah.


"Jadi, apa sekarang boleh ku buka?" Tanya Neva. Dia membawa kotak kecil itu.


Vano mengangguk, "Bukalah," jawabnya.


Kemudian, Neva membukanya. Jarinya dengan pelan menarik pita yang mengikat kotak kecil di tangannya. Setelah dia berhasil membuka pita pada kotaknya, dengan pelan dia membuka kotak itu. Matanya dan hatinya dipenuhi kelembutan melihat benda kecil dalam kotak itu. Benda kecil yang dia pesan pada hari ulang tahunnya yang ke tujuh belas. Benda kecil yang dia berikan untuk Papa, Mama, Kak Lee dan Kak Dimas.


Tangannya terangkat dengan pelan untuk mengambil boneka panda kecil dengan inisial nama. "Kak Lee," ejanya dalam lisan. Dia memperhatikannya dengan senyum.


Neva ingat apa yang dia ucapkan ketika memberikan boneka kecil ini pada Leo. Saat itu mereka berdua duduk di gazebo taman samping.


"Gadis kecil," Leo mengusap rambutnya. "Suatu saat nanti, kau akan jatuh cinta. Jatuh cinta dengan begitu indah. Kau akan melewati hari-hari mu dengan penuh bahagia," ucap Leo.


Neva tersenyum tipis kala itu. Dia menyandarkan kepalanya di bahu Leo dan menatap air mancur yang berada di tengah-tengah danau.


"Seperti apa jatuh cinta itu Kak?" Tanyanya, "Apa seperti Kak Lee dan Kiara?"


Leo tersenyum mendengar pertanyaan itu.


"Cinta? Aku tidak pandai mendefinisikan apa itu cinta, aku juga tidak pintar menerangkan apa itu cinta. Kau hanya perlu memahami, ketika jantung mu berdebar dengan cepat, ketika matamu hanya mampu melihat nya, ketika kalbu mu hanya mampu menerima nya maka mungkin kau jatuh cinta padanya," jawab Leo.


"Kenapa ada kata mungkin?"


"Karena kau hanya mampu merasakannya tanpa bisa mendefinisikan nya," jawab Leo. Neva mengangguk.


"Jika nanti aku jatuh cinta, Kak Lee adalah orang pertama yang akan ku beri tahu," ucap Neva.


"Harus," jawab Leo. "Dia harus melewati seleksi ku terlebih dahulu. Aku tidak akan menyerahkan adik ku pada laki-laki yang tidak baik," lanjutnya.


"Hmmm, aku akan menurut dengan pilihan Kak Lee," jawab Neva.


"Adik pintar," ucap Leo. "Aku akan memberikan hadiah kecil mu ini pada laki-laki yang ku restui untuk mu,' lanjut Leo. Neva mengangguk.


Itu adalah kisah yang lalu. Percakapan kakak dan adik di pinggir danau. Saat ini ... benda kecil ini berada di tangan nya. Restu Kak Lee ... Neva menunduk. "Terima kasih Kak Lee ... " gumamnya sangat pelan. Tidak ada yang mendengarnya bahkan angin sekali pun. Dia ingin memeluk Leo dan menangis. Air matanya menetes perlahan. Dia segera menyekanya. Tidak boleh menangis, nasihat nya pada hati yang bahagia.


Tangan Vano mengulur dan mengusap punggungnya dengan lembut.


"Jadi kalian berdua saling bertemu?" Tanya Neva. Dia masih menunduk.


"Iya, siang tadi. Sebelum aku mengirim pesan pada mu," jawab Vano. Neva mengangguk. Tangan Vano berpindah ke pipinya. Dengan pelan membawa wajah itu untuk menatapnya.


Mata mereka bertemu. Vano menyeka sisa air mata yang ada di pipi Neva. Kemudian menggenggam jemari Neva.


Mata itu menatap dengan teduh. Seteduh rembulan yang menyinari sepasang dua insan ini. Jemarinya mengusap telapak tangan dalam genggamannya dengan lembut. Selembut angin yang membelai wajah. Tidak berwujud tetapi begitu halus. Sorot matanya tajam, menghujam jantung dengan rasa yang begitu kuat.


"Aku ingin bilang ini sekali lagi pada mu. Aku mencintai mu," mulut itu berucap sepenuh hati. "Neva, aku mencintai mu. Ku mohon jadilah pasangan ku selamanya."


Neva menatapnya dan mendengar apa yang baru saja Vano ucapkan padanya. Ucapan bagai mantra sihir yang menyusup lalu mengikat dengan kuat di hatinya. Apa yang harus dia ragukan? Apa yang ia takutkan? Semuanya telah terlalui. Restu dan kerelaan itu telah ia dapatkan.


Bola matanya menatap Vano dengan keindahan di hatinya dan dengan malu dia mengangguk. Ya ... pada akhirnya dia memang harus mengakui jika laki-laki di hadapannya ini adalah pemilik hatinya.


"Yess," jawab Neva dengan pelan dan malu-malu. Vano tersenyum lebar dengan itu. Dia sangat bahagia. Pada akhirnya ... gadis ini mau menerimanya. Dia sangat bahagia.


Tangan mereka masih saling menggenggam, mata mereka masih saling menatap dengan indah.


"Bisakah kau mengulangi ucapan mu lagi?" Pinta Neva.


Vano tersenyum, "Aku mencintai mu, Neva," ucapnya. Dan, Cupp ... dia menunduk dan mencium bibir Neva dengan lembut dan manis.


Neva memejamkan matanya, merasakan getar dahsyat dalam hatinya. Merasakan hangat nafas yang membelai wajahnya. Ini adalah ciuman pertama mereka sebagai sepasang kekasih.


Lupakan lah tentang apapun, jangan risau. Saat ini semua bait dan lagu cinta hanya milik kalian berdua. Ciuman ini sangat manis, bersama perasaan yang begitu indah di dalam hati. Bibir masih itu saling bertemu dan mengungkapkan perasaan yang tersimpan dengan rumit selama ini. Saat ini ... rasa rumit itu seolah sirna dan akan menjadi terkutuk jika dia membuat dua insan ini berpisah.


Vano menyudahi ciumannya dan menatap gadis di depannya dengan sangat indah. Dia bahagia. Ibu jarinya membersihkan bibir Neva dengan lembut. Mengusapnya dengan perhatian. Kemudian, dia merengkuh gadis cantik yang sekarang menjadi miliknya. Dia memeluk nya dengan hangat.


"Terima kasih," ucapnya. Neva mengangguk dan menyandarkan kepalanya di dada Vano.


__Di dalam mobil Vano. Setelah dari danau teratai.


"Kak Va ...."


"Kenapa masih memanggil ku Kakak?" potong Vano segera. Neva menoleh ke arahnya dengan mengerutkan kening. "Panggil aku sayang," lanjutnya dengan menahan senyum.


Wajah Neva menjadi memerah mendengar itu. Apa-apaan permintaan itu. Dia juga menahan senyumnya.


"Kak ...."


"Hei," Vano memprotes dan menatapnya.


"Mmmm," Neva menarik nafasnya panjang dengan degupan jantung yang memompa dengan cepat. Dia masih sangat malu untuk memanggil dengan panggilan itu.


Tangan Vano mengulur dan meraih tangannya.


"Kau mau bicara apa sayang?" Tanyanya pada Neva. Wajah Neva langsung merah merona bak sakura saat bermekaran dengan panggilan itu. Itu terdengar sangat manis dalam indra pendengarannya. Dia tersenyum dengan malu.


"Hmmm, kita kerumah Kak Lee," jawab Neva. Dia memalingkan wajahnya, menyembunyikan senyum yang ia tahan di bibirnya. Genggaman tangan itu membuat jantungnya terus berdetak dengan cepat.


"Okey," jawab Vano.


___


Catatan Penulis ( Curhatan πŸ₯°)


Cieee, yang senyum-senyum sendiri.


Ahai ... mereka udah jadian Yess. Saweraan.... πŸ’ƒπŸ’ƒπŸ’ƒπŸ₯°


Silahkan rayakan sorak Sorai jadian mereka.


Terima kasih untuk semuanya.


Jangan lupa jempol digoyang ya kesayangannya Nanas. Luv.


PLAGIAT JANGAN MAMPIR SINI 😠 😀