
"Sayang, Papa menunggu kalian di ruang tengah," ujar Mama.
Neva menatap Vano dengan ragu. Rasa cemas dan khawatir mengikat dihatinya. Vano menggenggam tangannya dan mengangguk. Kemudian, dengan terus menggandeng tangannya, Vano membawa Neva ke ruang tengah. Sudah ada Papa disana, beliau tengah duduk dan Mama yang duduk di sampingnya.
Neva menghentikan langkahnya, dia ragu untuk kembali melangkah. Namun Vano meyakinkannya.
Mereka berdua duduk berdampingan disofa depan Papa. Mereka langsung disambut tatapan mata tajam oleh papa Mahaeswara.
"Pa," Vano memulai tetapi ucapannya langsung dipotong oleh papanya.
"Papa belum meminta mu untuk bicara," ujar Tuan Mahaeswara. Suaranya tegas dan terdengar begitu menakutkan di dalam pendengaran Neva. Kemudian, Tuan Mahaeswara menoleh ke arah istrinya.
"Hhmm, baik Mama jelaskan," ujar Nyonya Mahaeswara memulai ceritanya. Beliau bercerita tentang rencana perjodohan yang dua Nyonya lakukan. Perjodohan yang sebenarnya hanya memberi kesempatan Vano dan Neva menjadi dekat. Tentang bersama dan jatuh cinta, itu kembali kepada keduanya, tidak ada paksaan.
Nyonya Mahaeswara menjelaskan semuanya kepada suaminya. "Pa, anak-anak menikah dengan orang yang mereka pilih dan yang mereka cintai, kita orang tua hanya harus merestui mereka dan selalu mendo'akan," ujar Nyonya Mahaeswara. Beliau menatap suaminya penuh harap. Ini hanya kesalahan pahaman. Sang suami yang tiba-tiba ingin menjodohkan Vano tanpa bermusyawarah terlebih dahulu dan dengan sangat kebetulan Vano memperkenalkan Neva kepada keluarganya.
Tuan Mahaeswara mengalihkan pandangannya pada Vano, beliau menatap putranya itu.
"Pa, sebelumnya aku meminta maaf, jika aku membuat Papa malu kepada teman Papa. Dan sekali lagi, perkenalkan .... " Vano memeluk bahu Neva dengan lembut. "Gadis ini adalah calon menantu Papa," ucap Vano dengan pasti. Dia memandang Papanya penuh harap. Begitu juga dengan pandangan mata milik Nyonya Mahaeswara. Dia ingin suaminya merestui hubungan putranya. Apa yang diragukan dari gadis pilihan Vano? Cantik, berpendidikan, berperilaku sopan, dan yang pasti dari keluarga yang baik-baik. Siapa yang tidak berbesanan dengan keluarga Nugraha?
Disisi lain, Neva terus menunduk dan menyembunyikan wajah sedihnya. Dia cemas, sangat cemas dan juga takut. Penolakan dan tidak diterima.
Hening, semuanya diam. Hanya terdengar helaian nafas. Cemas, tegang, dan penuh harap.
Neva sedikit mengangkat wajahnya untuk menatap Vano. Hatinya terasa indah tetapi begitu gundah. Jika nanti dia tidak diterima, tak apa. Semua orang tua memang menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Pun dengan Taun Mahaeswara, pasti menginginkan putra semata wayangnya menikah dengan wanita yang baik.
"Pa," Nyonya Mahaeswara menyentuh pundak suaminya pelan. Tuan Mahaeswara menghela nafas panjang. Dan mulai memberikan pendapatnya setelah diam dan berfikir.
"Kamu sungguh mencintai gadis ini, Vano?" Tanya Tuan Mahaeswara. Kelompok matanya tidak berkedip ketika menanyakan itu. Tuan Mahaeswara tahu jika putri dari keluarga Nugraha baru saja wisuda dan pasti melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi lagi. Sedangkan Vano adalah laki-laki yang sudah matang dan sudah waktunya untuk menikah.
"Iya, sangat mencintainya," jawab Vano tanpa ragu. Tangannya semakin memeluk Neva. Mata Neva masih menatap Vank dalam tunduk wajahnya. "Aku berharap Papa merestui hubungan kita," lanjutnya.
"Neva," kini Tuan Mahaeswara memanggil Neva. Suaranya terdengar lembut tetapi bagi Neva itu seperti sebuah penekanan. Dia mengangkat wajahnya dan menatap Tuan Mahaeswara.
"Iya, Om," jawabnya rendah dan sopan.
"Apa kau sungguh mencintai Vano?"
Neva mengangguk, "Iya. Sangat mencintainya," jawab Neva dengan sepenuh hati. Tentu saja dia sangat mencintai Vano. Dia telah lama memiliki perasaan itu dengan diam-diam lalu terbalas, itu adalah sesuatu yang begitu indah dalam hidupnya. Mencintai dan dicintai.
Tuan Mahaeswara menatap Neva dan Vano secara bergantian.
"Baik," ujarnya. Semua mata tertuju padanya. Penuh harap dalam hati yang cemas. "Papa merestui kalian," lanjutnya dengan tenang. Hembusan nafas terdengar begitu lega dari Nyonya Mahaeswara, Vano dan Neva. Suasana tegang menjadi penuh senyum.
Nyonya Mahaeswara memeluk suaminya dan mengucapkan terima kasih.
Neva dan Vano saling menatap dengan perasaan yang lega dan penuh syukur. Bibir mereka tersenyum dengan hati begitu bahagia.
Kemudian, Vano membawa pandangannya pada papanya.
"Terima kasih untuk restu mu Pa. Terima kasih," ucapnya.
Papa mengangguk. Ya, pada akhirnya beliau memang harus merestui hubungan putranya. Beliau tidak ingin mematahkan dua insan yang saling mencintai, beliau juga ingin putranya bahagia dengan gadis pilihannya. Tentang perbedaan usia dan bagaimana selanjutnya, biarlah mereka yang menjalani.
"Hhm, mari makan malam bersama," ajak Nyonya Mahaeswara. "Makan malam bersama untuk yang pertama kali dengan calon menantu kita," lanjutnya. "Pa, terima kasih sekali lagi," ucap Nyonya Mahaeswara pada suaminya.
Tuan Mahaeswara mengangguk, "Ya, kau bahagia?" Tanyanya.
"Tentu saja, Papa tidak tahu bagaimana Mama berjuang untuk membuat mereka berdua dekat. Aku pasti akan sangat kecewa jika Papa tidak merestui hubungan mereka," jawab Nyonya Mahaeswara.
Semua menjadi begitu bahagia. Kemudian, mereka makan malam bersama. Dan setelah berbincang-bincang ringan, Vano mengantar Neva kembali.
Mobilnya melaju dengan tenang dan parkir di halaman rumah keluarga Nugraha.
"Terima kasih," ucap Neva sambil membuka sabuk pengaman. Kemudian dia menoleh ke arah Vano. "Mama dan Papa tidak ada dirumah, mungkin lain kita baru menemui mereka," ujar Neva. Neva tahu Papa dan mamanya sedang tidak ada di rumah tetapi dia tidak tahu jika mereka berdua ada di rumah sakit sedang menjenguk Yuna.
Vano mengangguk. Tangannya mengulur dan mengusap pipi Neva.
"Sayang, matamu terlihat bengkak," ucapnya. Jari telunjuknya mengusap bawah mata Neva dengan halus.
"Hmm, ini akan segera membaik, setelah bangun tidur nanti," jawab Neva.
Neva menggeleng, "Bukan salah Kak Vano," jawab Neva. "Hanya waktu yang mungkin tidak tepat tadi tapi yang terpenting adalah kita telah mendapat restu," lanjut Neva dengan senyum mengembang.
Kini Vano yang mengangguk. Kemudian, mendekatkan dirinya dan mencium kening Neva dengan pelan. "Selamat malam," ucapnya.
"Selamat malam," jawab Neva. Mereka telah bersama sedari siang tetapi tetap saja rasanya masih ingin terus bersama.
***@***
Di Rumah sakit.
Tuan besar Nugraha dan Nyonya Nugraha sudah kembali beberapa menit yang lalu. Awalnya, Mama ingin menemani Leo di rumah sakit untuk menjaga Yuna tetapi dengan sangat sopan Leo menolaknya dan pasti dengan alasan yang sangat meyakinkan. Padahal, alasan yang sebenarnya adalah dia merasa tidak nyaman jika ada orang lain diantara dia dan Yuna, meskipun itu adalah orang tuanya sendiri.
Yuna masih duduk di atas ranjang rumah sakit, dia sedang memilih buku yang baru saja dibeli Leo untuknya.
"Sayang," panggil Leo. Dia memeluk Yuna dari belakang, menurunkan kepalanya dan meletakkan dagunya di pundak Yuna.
"Hmm," Yuna menjawab dengan masih membolak-balik buku ditangannya. Ia membaca sinopsisnya satu persatu. Tangan Leo mengambil buku dari tangan Yuna dan meletakkan di sampingnya. Kemudian, dia membaringkan Yuna dengan pelan. Yuna tidur di atas lengannya. Leo mengambil tangan Yuna yang terinfus dan meletakkan di atas perutnya, mengusapnya dengan lembut dan hati-hati.
"Apa ini sakit?" Tanya Leo.
Yuna menggeleng, "Tidak," jawabnya. Suhu di dalam ruangan rumah sakit begitu dingin, atau itu karena mereka tidak ingin berjarak saja? Dua tubuh itu semakin mendekap dengan hangat.
"Berjanjilah untuk selalu baik-baik saja, Yuna," Ujar Leo. Dia meninggalkan ciuman lembut di rambut istrinya. "Kau tidak tahu bagaimana cemasnya aku ketika menemukan mu demam. Kau tidak tahu bagaimana khawatirnya aku ketika kau memejamkan matamu dalam keadaan yang menggigil, kau juga tidak tahu bagaimana sakitnya aku ketika jarum itu menusuk kulit mu," Leo berkata dengan suaranya yang serak dan masih cemas. Terkadang, dia masih saja menyalahkan dirinya karena tidak bisa menjaga Yuna dengan baik.
"Hmm, aku janji tidak akan membuat mu cemas lagi," jawab Yuna dengan kesungguhan hati. Dia menyandarkan kepalanya di dada Leo. Menghirup aroma khas tubuh suaminya. Dia tahu bagaimana cemasnya Leo padanya.
"Kali ini kau harus benar-benar berjanji," kata Leo segera. Yuna selalu saja menganggapnya berlebihan dan tidak akan menurut padanya.
"Iya Tuan suami. Aku janji," jawab Yuna.
"Aku akan menghukum mu jika kau melanggar janji mu Yuna," Suara Leo tegas penuh penekanan dan ancaman tetapi itu malah terdengar manis ditelinga Yuna. Hanya satu orang ini saja yang mampu melawan ancamannya.
"Hukuman mu selalu manis dan aku selalu suka," ucap Yuna dengan suaranya yang halus. Dia mendongak dan menatap Leo dengan menggoda, "Tuan tampan," lanjutnya dengan senyum. Leo langsung mengangkat tubuh Yuna untuk keatas sejajar dengannya.
"Kau mau menggoda ku?" Leo bertanya dengan pandangan mata yang tajam penuh keinginan. Seolah dia siap untuk menerkam dan memangsanya saat ini juga.
Yuna tersenyum dan kembali menurunkan dirinya tetapi tangan Leo menahannya dan langsung membawa Yuna sejajar dengannya lagi.
"Tuan suami, aku mengantuk," ucap Yuna dengan pelan dan seolah-olah ia begitu mengantuk. Dia bahkan membuat mulutnya menguap palsu.
"Kau pikir aku percaya," ujar Leo dan langsung memegang tengkuk Yuna. Membuat Yuna berkedip berkali-kali dan langsung menahan tubuh Leo dengan tangannya yang sebelah. "Kita belum pernah mencobanya di rumah sakit bukan?" Leo mendekatkan wajahnya. "Sayang," dia berbisik lembut di telinga Yuna. Menghembuskan nafasnya dengan halus disana.
"Jangan gila Leo," tangan Yuna masih menahan.
"Kau selalu nakal pada ku Yuna," Ujar Leo. Dia menurunkan kepalanya sedikit menuju leher dan langsung membuat kecupan manis disana.
"Umm," Yuna menahan suaranya. Tangannya yang terinfus berpindah dirambut Leo. Mengusapnya dengan lembut, "Sayang, hentikan. Aku janji tidak akan nakal pada mu lagi. Sungguh," ucapnya meyakinkan. Ini di rumah sakit dan jangan gila, batinnya. Tetapi Leo tidak mendengarkannya, dia semakin berani dan bahkan membuat Yuna tidak bisa bergerak. Bibirnya yang seksi kembali berbisik.
"Apakah hukuman ini yang kau sebut hukuman manis?" Tanyanya berbisik dengan halus di telinga Yuna.
Yuna menggeleng, "Bukan, aku salah," jawab Yuna gugup. Nafasnya masih berat. Ini di rumah sakit, dia takut jika tiba-tiba ada perawat yang masuk. Jikapun tidak, rasanya sangat tidak etis melakukan itu di rumah sakit. Dia masih waras. "Aku minta maaf," ucap Yuna dengan menyesal.
Leo menahan senyumnya. Dia puas membuat Yuna gugup. Ya, dia hanya menghukum Yuna. Tidak lebih dari gigitan manis dileher dan telinganya. Dia juga tidak ada minat untuk melakukan itu di rumah sakit.
Pagi harinya, pukul sembilan. Seseorang melangkah dengan pasti menuju ruangan Yuna. Dia membawa buket bunga ditangannya. Ia membawa langkahnya dan berdiri di depan ruangan Yuna. Tangannya terangkat untuk membuka kaca mata hitam yang dia pakai.
Kemudian, dengan pelan dia membuka pintu.
"Selamat pagi," sapanya dengan ramah dan penuh senyum.
Leo langsung berdiri ketika melihat seseorang itu masuk, sementara Yuna langsung membawa pandangannya pada Leo.
___
Catatan penulis ( Curhatan π₯° )
Maaf Upnya telat ya Sahabat Sebenarnya Cinta πΉ Terima kasih untuk semuanya yang masih setia menunggu kisah ini. Aku padamu π₯°ππ
Jangan lupa jempolnya di goyang ya kawan..π₯°ππ