
"Selamat siang Nyonya muda," sapa resepsionis depan dengan sangat sopan. Yuna mengangguk dengan senyum. Kemudian, asisten Dion segera mengajak Yuna untuk masuk ke dalam lift khusus dan mengantarnya ke ruangan Leo.
"Terima kasih, Dion," ucap Yuna setelah ia sampai di depan pintu ruangan Leo. Pelan, tangannya memegang gagang pintu dan membukanya.
Leo langsung mengangkat wajahnya setelah ia menyadari bahwa pintunya terbuka tanpa ketukan terlebih dahulu. Bibirnya tersenyum dengan lebar. Dia segera berdiri, menyambut ratunya.
Yuna melangkah masuk dengan pelan, ia menatap Leo. Ucapan Alea terngiang di telinganya. Kemudian, Yuna langsung menghambur kedalam pelukannya. Mencium aroma tubuh Leo, merasakan setiap inci yang merasuk dalam sukmanya. 'Tidak hanya kamu yang takut kehilangan, aku juga sama sepertimu. Aku sakit jika memikirkan seseorang yang menyukaimu.' Matanya terasa panas lalu luruhlah air mata yang sedari tadi ia tahan. Dia menangis dengan tangan yang memeluk suaminya erat.
"Hei, kenapa menangis?" Leo bertanya dengan cemas. Apa yang baru saja terjadi, kenapa Yuna langsung menangis dalam pelukannya, ini bukan tentang nonton film Bollywood bukan? Batin Leo. Yuna menggeleng menjawab pertanyaan dari Leo. Ia tidak ingin menjawab apapun saat ini. Ia hanya ingin memeluk Leo dengan segenap cinta yang ia miliki. "Kenapa?" Tanyanya lagi yang dijawab gelengan oleh Yuna. Ia semakin terisak.
Leo mendekapnya, dia tidak mengajukan pertanyaan lagi. Tangannya mengusap punggung Yuna dengan perhatian. Ia membiarkan Yuna meluapkan rasa sesak dalam hatinya.
Cinta, sungguhkah dia tidak pernah salah. Sunggukah ia adalah sebuah rasa yang tidak bisa dipersalahkan. Bagaimana jika cinta itu ada untuk orang yang tidak semestinya.
"Sayang," panggil Yuna dalam tangisnya.
"Ya," jawab Leo. Ia sedikit menurunkan kepalanya.
"Aku mencintaimu," ucap Yuna. Leo mengangguk dan meninggalkan ciuman di rambut Yuna. Ada rasa yang indah dalam hatinya ketika mendengar Yuna mengucapkan itu padanya tapi tangis Yuna membuatnya cemas. Apa yang baru saja terjadi?
Setelah Yuna mulai tenang, Leo membawanya ke sofa. Mereka duduk di sana. Tangan Leo dengan perhatian mengusap air mata Yuna dan membenarkan rambut Yuna yang sedikit berantakan. Ia mengambil tissue dan membersihkan hidung Yuna dengan pelan. Ia menatap mata Yuna yang masih berkaca-kaca.
"Kenapa?" Leo bertanya dengan perhatian. Dia membuang tissue di tempat sampah.
"Aku menamparnya," jawab Yuna dengan pelan. Ia menunduk dan memperhatikan telapak tangan yang berada di pangkuannya. Telapak tangan yang baru saja mendarat di pipi Alea. Ada rasa sesal dalam hati kecilnya. Mungkin memang dia yang salah, dan mungkin memang Alea yang benar. Perasaan yang tidak bisa disalahkan.
Tangan Leo mengulur dan diletakkan di atas telapak tangan Yuna. Ia mengenggamnya.
"Kau bertemu dengan Alea?" Tanya Leo. Telapak tangannya yang halus masih menggenggam tangan Yuna, meski Yuna tidak membalasnya. Leo bisa menebak bahwa seseorang yang ditampar Yuna adalah Alea. Jika itu adalah Kiara, Yuna tidak akan menangis seperti ini.
Yuna mengangguk pelan. Matanya mulai kembali terasa berair. Dia tahu, Leo setia tapi hatinya tetap terasa sakit ketika mendengar pengakuan itu. Dia tahu Leo setia, tapi dia terluka karena Alea yang dia anggap sebagai sahabatnya malah mencintai Leo. Dia tahu Leo setia tapi dia merasa sangat hancur ketika mulut itu dengan begitu tenang mengakui perasaan yang ia miliki.
"Dia mencintai mu, Leo," ujar Yuna tercekat, suaranya samar. Ia memejamkan matanya sesaat setelah mengucapkan itu. "Dia mencintai mu," ulangnya. "Aku tidak tahan mendengar kalimat itu terucap dari bibirnya. Hingga tanganku ini menamparnya. Aku jahat Leo. Bagaimana bisa aku melakukan itu padanya," dalam dasar hati Yuna, ia merasa bersalah. Hatinya yang halus membuatnya menyalahkan dirinya sendiri karena dia tidak bisa menahan amarahnya hingga dia berbuat kekerasan pada seseorang.
Leo memeluknya. Menyandarkan Yuna pada dadanya. Air mata Yuna kembali menetes.
"Aku hanya ingin melindungi apa yang ku miliki, aku hanya ingin menjaga apa yang aku miliki, aku hanya tidak ingin dia mengharapkan mu. Apa aku salah dengan itu? Atau caraku yang salah?"
"Tidak, kau tidak salah," sahut Leo segera. Ia meninggalkan kecupan di rambut Yuna. "Dia harus mendapatkan itu. Dia menghianati persahabatan tulus yang kau berikan. Jika dia menghargai mu, dia tidak akan mengirimi ku pesan, dia bukan menghindar tetapi malah memupuknya. Bukankah itu jelas bahwa dia salah," ujar Leo. "Aku yang tidak rela karena kau menangis karena dia."
Yuna mengangkat wajahnya untuk menatap Leo. Mata mereka bertemu.
Leo mengangguk. "Iya." jawab Leo. Ia kembali mengambil tissue dan membersihkan wajah Yuna. "Jangan menangis untuk hal-hal yang tidak penting."
"Itu penting," tukas Yuna.
"Biarkan saja. Bukankah kau sudah tahu jika aku hanya tergila gila pada mu," Leo berujar dengan senyum dan mencondongkan tubuhnya kearah Yuna lalu menunduk dan mencium perutnya.
"Hmm," Yuna mengusap rambut Leo.
"Ayo makan di luar. Kau belum makan bukan?" Tanya Leo. Ia mengangkat wajahnya dan menatap Yuna.
Yuna mengangguk, "Ya, aku belum makan," jawabnya. Tangannya mengulur dan mengusap pipi Leo dengan kasih. Matanya dipenuhi kelembutan memperhatikan wajah halus ini. Dia mendekatkan wajahnya dan dengan lembut menempelkan bibirnya di hidung bangir Leo lalu turun dan mencium bibir Leo.
Leo merasakan debaran pada jantungnya. Iya, Yuna yang berinisiatif untuk menciumnya terlebih dulu. Dia yang terlebih dulu membuka bibir manis itu dan berlari-lari menelusup untuk semakin masuk kedalam. Melekat dan saling terpaut.
"Leo, aku mencintaimu, sangat mencintai mu," ujar Yuna setelah menyudahi ciumannya, kening mereka menempel dengan tangan Leo yang mengusap rambut Yuna.
"Yuna, ketika aku membuat janji didepan Ayahmu, ketika aku membuat janji didepan ratusan orang, dan ketika aku membuat janji pada Tuhan maka saat itulah kisah kita tidak akan pernah berakhir. Tidak akan ada yang mampu masuk ke dalam hubungan kita. Kau tahu, aku mencintaimu dengan begitu dalam, aku memberikan semua cinta yang ada pada diri ku hanya untuk mu. Berjanjilah ini adalah yang terakhir kau menangis karena menghawatirkan seseorang yang tidak penting." ujar Leo dengan suaranya yang lembut. Ia mengganti sesak dihati Yuna dengan cinta yang tidak ada batasnya.
Yuna mengangguk dan kembali memeluk Leo, menyandarkan kepalanya di dada Leo.
____
Di tempat lain di waktu yang sama.
Alea menatap dirinya dalam pantulan cermin didalam kamarnya.
Tangan kanannya mengusap pipinya dengan pelan. Merasakan tamparan keras dari telapak tangan Yuna.
"Maafkan aku, Yuna." Dia menggumam pelan. "Aku sudah berusaha untuk menghapusnya, melupakan dirinya. Dan memang seharusnya perasaan ini tidak ada. Tapi aku bisa apa, saat aku mencoba melupakan, dia hadir dalam mimpiku. Maafkan aku Yuna." Dia menunduk.
"Kenapa dewa amor begitu tidak adil padaku?" bisiknya samar pada udara yang menyapa lewat jendela.
____
Catatan Penulis
Upnya sore... Selamat menunggu berbuka puasa bagi yang menjalankan π₯°π₯°π
Jan lupa like komen ya kesayangannya Nanas π₯° Yang ada poin Vote juga... ππ Luv luv π₯°ππ Terima kasih Sahabat Sebenarnya Cinta πΉ Padamu π₯°