
Tiara hanya terdiam memikirkan nasibnya, entah apa yang telah diperbuatnya hingga bisa bertemu dengan rombongan preman yang terlihat hampir seumuran dengannya.
" Apa yang sedang lo pikirin hah? hohoho ternyata model begini yang bikin temen gue cemburu ". ucap cowok itu sambil mengangkat dagu Tiara.
Tiara membuang muka.
Dalam hatinya ia berpikir,
teman ? apakah mereka dibayar oleh seseorang? tapi siapa ? siapa yang tega ngelakuin ini sama aku?
" Leo ! bawa dia masuk ke dalam kamar gue !" perintahnya seraya tersenyum aneh.
" Oke ". jawab Leo singkat.
Si pemimpin dengan angkuhnya berjalan ke arah salah satu ruangan. Rupanya dia sedang mengambil minuman dingin di dalam kulkas.
Sedangkan lima anggota lainnya berjaga di sekitar rumah.
Tiara mendadak merinding mendengar kalimat itu. Dalam benaknya sudah mulai tergambar hal buruk yang bakal menimpanya.
" Nggak ! aku nggak mau kemana-mana ! biar aku di sini saja !" teriak Tiara tak bisa lagi bersikap tenang.
Sedangkan Leo dengan santai berjalan mendekatinya.
" Mau jalan sendiri atau gue seret nih ?" tanya Leo geram.
" Tolong lepasin aku ". rengek Tiara dengan nada memelas.
Namun Leo tak mempedulikan rengekannya. Dengan kasar ia menarik tangan Tiara agar melangkah mengikutinya.
Namun baru beberapa langkah tiba-tiba
" Lepasin dia bangsat !" bentakan Zian memenuhi ruangan itu.
Leo dan Tiara berhenti melangkah dan baru saja Leo menoleh untuk melihat siapa yang membentaknya, kepalan tangan keras Zian sudah mendarat telak di pipinya .
Buk !
Leo terhuyung. Pegangan tangannya terlepas dari tangan Tiara.
Melihat siapa yang datang menolongnya, Tiara segera berlari ke arah Zian yang segera menyambutnya dengan pelukan.
" Kamu nggak apa-apa, Ra ?" tanya Zian setelah melepas pelukannya, meneliti wajah dan tubuh Tiara kalau-kalau ada yang terluka.
Tiara hanya bisa mengangguk saking leganya.
" Beraninya lo masuk ke markas kami !" teriak Leo yang mulai merangsek maju.
Dengan emosi yang masih menggebu, Zian maju melawan Leo.
Sementara itu, pimpinan mereka yang tadi mendengar suara ribut-ribut bergegas muncul.
Baru saja ia hendak menyerang Zian, Rio sudah mendahuluinya memberikan sebuah tendangan.
Mau tak mau dia harus melawan Rio yang terlihat brutal.
Sementara itu, di halaman depan juga ramai dengan adu jotos. Wisnu dan teman-teman lain sedang melawan lima preman lainnya yang sedari tadi berjaga di depan.
Setelah beberapa saat kemudian, para kawanan penjahat itu akhirnya berhasil dilumpuhkan oleh Zian dan rekan-rekannya.
Mereka diikat lalu dikumpulkan di ruangan yang sama.
" Berani-beraninya kalian menculik calon istri gue ". desis Zian pelan namun dengan nada penuh ancaman.
" Siapa pemimpin di sini ?" bentak Rio murka.
Keenam preman menoleh ke arah pimpinan mereka dengan ketakutan.
" Oh, lo pimpinannya ? ada masalah apa lo sampe nekat nyulik gadis itu?!" bentak Rio.
Lelaki itu diam saja.
Plak !
Tamparan keras dari Rio mendarat di pipinya. Nampak jelas bekasnya menempel di sana.
Sudut bibirnya pecah.
" Jawab !" bentak Rio lagi.
" Gue nggak kenal dengan gadis ini. Gue dibayar seseorang". jawabnya jujur.
" Apa ? siapa yang nyuruh lo?
" Nayla ".
" Dasar nenek lampir ! lihat aja, gue bakal kasih dia pelajaran!" geram Zian dengan rahang mengeras.
" Sekarang gimana ?" tanya Rio meminta penjelasan dari Zian.
" Bawa mereka ke kantor polisi!" jawab Zian yang disetujui Rio.
\*\*\*\*\*