Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Part 51. Dunia Yang Asing


Langit malam ini terlihat indah. Bintang-bintang berkilau bertaburan menghiasinya. Membuat setiap mata betah memandangnya. Salah satu tanda cinta dari Rabb yang Maha Sempurna untuk umatnya yang sering lupa akan keberadaanNya.


Di depan rumah mewah nan megah, nampak Tiara yang berdiri mematung menatap ke sekeliling.


Pagar beton tebal yang tinggi dan kokoh berdiri angkuh mengelilingi tempat itu. Gerbang depan yang terbuka dijaga oleh beberapa orang bodyguard berpakaian rapi khas dengan warna hitam.


Mereka selalu waspada mengamati keadaan sekeliling juga para tamu undangan yang datang.


Tiara memberanikan diri masuk setelah memperlihatkan undangan di tangannya.


Di halaman depan rumah sudah banyak tamu yang hadir. Mereka berdiri berkelompok sambil ngobrol. Namun ada juga yang duduk di tempat yang sudah disediakan.


Halaman depan rumah dihias sedemikian rupa dengan bola-bola lampu yang cantik.


Ah, ternyata beginilah penampakan rumah orang kaya. Tiara merasa takjub melihatnya seolah-olah ia sedang terdampar di dunia lain.


Mendadak ia merasa canggung namun dikuatkan kakinya untuk tetap melangkah masuk mencari si empunya pesta.


Untuk sekedar mengucapkan selamat dan pergi secepatnya dari tempat yang teramat asing baginya itu.


Rio yang saat itu duduk di pojokan bareng teman-temannya, melihat Tiara melintas di depannya.


Buru-buru ia menelpon seseorang.


" Halo . . " suara berat di ujung sana terdengar malas.


" Bro, buruan datang ke rumahnya Nayla".


" Nggak ah, malas".


" Gue khawatir, lo bakal nyesel kalo nggak datang".


" Ada masalah apa emangnya ? serius amat".


" Tiara ada di sini".


" Hah? ngapain bocah itu ke sarang nenek lampir?" ada nada khawatir di sana.


" Yaa, mungkin Nayla yang sengaja ngundang dia".


" Oke, on the way".


Panggilan telepon pun terputus.


Rio memasukkan kembali handphonenya ke dalam kantong celananya sambil tersenyum usil.


" Dasar bucin". gumamnya.


Akhirnya Tiara berhasil masuk ke dalam ruang utama pesta. Di sana sudah ramai dengan teman-teman dekat Nayla.


Mereka tersenyum sinis saat melihat kedatangan Tiara.


" Rupanya gede juga nyali lo datang sendiri ke sini". ujar Sandra yang kini berdiri di sampingnya diikuti oleh Nina.


Sekilas Tiara melirik keduanya.


Mereka tampil seksi dengan gaun pesta yang super ketat hingga menampakkan bagian-bagian tubuh mereka.


Tiara jadi merinding melihatnya.


" Oo . . itu karena aku masih menghargai undangan Nayla". jawab Tiara dengan santainya.


Kedua gadis itu mendengus kesal dan berlalu dari sisinya saat melihat Nayla menggandeng lengan Ilham masuk ke dalam ruangan itu.


Penampilan Nayla tak kalah heboh dari kedua sahabatnya. Ia mengenakkan gaun panjang berwarna emas yang agak terbuka di bagian dada, punggung dan pahanya. Tiara sangat yakin, semua kaum Adam yang melihatnya saat ini pasti sedang menelan ludah berulangkali.


" Guys,,, mohon perhatiannya ! acaranya akan segera dimulai". ucap seorang pria muda yang bertugas sebagai MC acara.


Seluruh tamu yang ada segera tertib mendengarkan.


Satu persatu acara telah terlewati hingga akhirnya . . .


" Nah sekarang tibalah saatnya princess Nayla meniup lilin . . ."


Nayla maju mendekati kue ulangtahun yang bersusun menjulang di atas meja. Ia pun segera meniup lilin di atas kue setelah mengucapkan doa di dalam hatinya.


Seisi ruangan bertepuk tangan meriah. Mereka mulai bernyanyi


" potong kuenya . . potong kuenya . . . !" 🎶🎶


Nayla mulai memotong kue dengan hati-hati. Seseorang memberikan piring kecil beserta garpu kecil berwarna emas untuk meletakkan potongan kue tersebut.


" Nah, sekarang berikan suapan pertama kepada orang yang spesial dalam hidup princess Nayla". ujar MC sambil memandu yang lainnya agar bertepuk tangan lebih meriah.


Sejenak Nayla menatap Tiara yang berdiri tak jauh dari tempatnya. Kemudian ia tersenyum dan mendekati Ilham yang sedari tadi berdiri dengan wajah datar.


Alhasil suapan pertama itu ditujukan untuk Ilham. Mau tak mau Ilham segera menyambutnya. Nayla tersenyum senang. Tepukan tangan semakin membahana di ruangan itu.


Tiara hanya bisa membeku di tempatnya. Perasaan nyeri mulai merambat perlahan di sudut hatinya.


" Tahan Ra' bukankah kamu sudah bertekad untuk melupakannya?" batinnya.


Beberapa menit kemudian, nampak kedua orang tua Nayla dan Ilham datang. Mereka berbisik sebentar dengan MC.


" Guys . . malam ini ternyata adalah malam yang sangat istimewa untuk princess Nayla dan keluarga. Selain untuk merayakan hari ulang tahunnya princess Nayla, malam ini juga akan diresmikan pertunangan antara princess Nayla Hadi Brata dan Ilham Wiraguna yang sudah diikatkan sebelumnya oleh kedua keluarga. . . . . . . . . ."


Tiara sudah tidak tahan lagi berlama-lama di di ruangan itu. Perlahan ia mundur dan berbalik melangkah keluar. Namun sayangnya ia tak menyadari tatapan mata dari Sandra dan Nina. Kedua gadis licik itu diam-diam mengikutinya dari belakang.


Hingga sampailah di tepi kolam renang. Kebetulan saat itu Tiara berpapasan dengan seorang pelayan yang berperawakan tinggi yang sedang tergesa membawa nampan berisi minuman dan camilan.


Entah disengaja atau tidak, mendadak pelayan tadi limbung dan menabrak Tiara hingga semua yang ada di atas nampan tadi tumpah ruah di atas kepala hingga membasahi wajah dan gaun yang dipakainya.


" Aduh !" pekik Tiara saking terkejutnya.


Iapun menjadi pusat perhatian beberapa tamu undangan yang berada di halaman itu.


Saking malunya ia sampai terdiam tak tahu harus berbuat apa.


Di belakangnya, Sandra dan Nina tertawa cekikikan melihat Tiara. Mereka merasa puas telah berhasil mengerjainya seperti titah Nayla tadi sore.


" Pokoknya kalian harus membuatnya malu, gimanapun caranya!" ujar Nayla disertai senyuman licik di wajahnya.


Dan di saat Tiara masih berdiri mematung di tempatnya keduanya pun buru-buru berlari ke arahnya hingga membuatnya terjatuh tepat di kolam renang yang ada di sampingnya.


Tiara yang belum bisa menguasai dirinya semakin shock saat terjatuh. Di tambah lagi ia tidak bisa berenang. Susah payah ia berusaha menggerakkan kaki dan tangannya agar bisa mengapung namun usahanya sia-sia.


Melihat itu beberapa tamu mulai berteriak panik hingga membuat semua orang yang ada di dalam rumah berlari keluar untuk melihat apa yang terjadi.


Nayla yang melihat kejadian itu hanya tersenyum puas beda halnya dengan Ilham yang gelisah.


Karena tidak tahan lagi melihat Tiara yang mulai tenggelam, ia melepaskan sepatunya hendak menolong gadis itu. Tapi ayahnya langsung memegang lengannya seolah melarangnya melakukan sesuatu.


Ilham sangat kesal dibuatnya. Tiara hanya dijadikan bahan tontonan.


" Ya Tuhan, selamatkan dia. Aku nggak sanggup melihatnya seperti itu". rintihnya perih.


\*\*\*\*\*