
Tak disangka Zian ikut turun dari motornya ketika mereka telah sampai di jalan dekat tempat tinggal Tiara.
" Ayok gue anterin sampe rumah ya kucing nakal". ajak Zian seraya menarik tangan Tiara agar segera mengikutinya.
" Iya tapi nggak usah pegangan tangan juga kali' entar ditanyain tante lagi". ujar Tiara khawatir dengan apa yang bakal dipikirin tantenya nanti kalau melihat dia pulang-pulang pegangan tangan dengan cowok.
Zian menatapnya sejenak setelah itu melepaskan pegangannya tanda mengerti akan maksud dari gadis itu.
" Oke".
Keduanya pun melanjutkan langkah menuju ke rumahnya Tiara yang berjarak kurang lebih 100 meter dari jalan raya.
"Assalamualaikum . . . " ujar Tiara setibanya di depan teras depan rumah.
" Waalaikum salam . . . " balas tantenya dari dalam rumah dan tak lama kemudian membukakan pintu untuk mereka.
" Maaf tan, Ara baru pulang karena tadi keburu hujan". ucap Tiara pelan takut tantenya marah.
" Oh iya nggak apa-apa. Ini siapa?" tanya tante ketika melihat Zian yang masih berdiri di samping keponakan nya.
Sosok yang baru dilihatnya karena yang beberapa kali ke rumah sebelum ini adalah Ilham.
" Oh ini kak Zian tan, kakak kelas Ara di sekolah". jawab Tiara pelan.
" Halo tan . . " sapa Zian seraya menyalami tangan tantenya Tiara.
" Mari masuk dulu yuk". ujar tantenya kemudian.
" Oh makasih tan lain kali aja takut keburu hujan lagi". tolak Zian dengan sopan.
" Iya deh kalo gitu. Makasih ya udah nganterin Ara pulang. Kamu hati-hati juga pulangnya ya nak Zian".
" Baik tan, kalo gitu gue eh aku pulang dulu ya, sampai jumpa besok Ara, assalamualaikum ".
" Waalaikum salam kak, makasih ". balas Tiara tersenyum geli karena perkataan Zian barusan yang biasanya pake lo gue mendadak berubah jadi aku di depan tante.
Setelah punggung Zian tak terlihat lagi barulah ia masuk ke dalam rumah. Setelah makan malam, iapun kembali masuk ke dalam kamarnya.
Di sana ada panggilan masuk dari kak Zian dan Hesti.
Buru-buru ia menelpon ke nomor handphone sahabatnya itu.
π" Halo Hes . . sori tadi handphonenya ketinggalan di rumah".
π " Halo. .iya nggak apa-apa". jawab Hesti di seberang sana.
π " Makasih udah ngasih kabar ke kak Zian".
π "Iya sama-sama Ra'. Berarti tadi dijemput dong sama kak Zian? so sweet . . "
π " Hehehe iya, syukurlah tadi dijemput kalo nggak, mungkin sekarang ini aku masih berdiri di depan perpustakaan".
π "Eh Ra' . . kamu udah jadian ya sama kak Zian ?"
π " Ih apaan sih? kak Zian juga nggak pernah nembak aku".
π " Berarti kalo dia nembak, kamu nggak nolak dong ".
π " Udah ah nggak tahu. Kayaknya nggak mungkin banget makhluk setampan dan sekaya kak Zian mau sama cewek burik kaya' aku, miskin pula ".
π "Ra' yang namanya cinta itu nggak pernah mandang apapun".
π "Iya aku tahu, tapi aku nggak mau terlalu banyak berharap. Aku belum siap untuk terluka lagi seperti kemarin. Untuk sementara biar deh jomblo aja dulu, lebih santai".
π Dari yang aku lihat sih, kak Zian cinta mati sama kamu. Tapi terserah kamunya aja mau gimana".
π " Tunggu dulu, kok sepertinya kamu ngedukung banget kak Zian buat deket sama aku?".
π " Ah nggak kok. Aku bakal ngedukung apapun keputusan yang bakal kamu ambil".
\*\*\*\*\*