
"Apa ada yang kau rasakan? Bagian mana yang sakit?" Yuna bertanya dengan cemas. Tangannya menggenggam jemari Leo. Dokter baru saja selesai memeriksanya hingga hampir satu jam. Saat ini di ruangan hanya ada Leo dan Yuna. Sementara Tuan besar Nugraha berada di ruangan dokter.
Leo menggeleng pelan, dia menatap Yuna dan menyunggingkan bibirnya, "Tidak ada," jawabnya. "Kapan kau kesini?" tanyanya.
"Sore tadi, sekarang matahari hampir tenggelam," jawab Yuna. "Sebentar, ku bersihkan dirimu," Yuna beranjak untuk mengambil air hangat lalu dia dengan telaten membersihkan tubuh Leo.
Leo bangun untuk duduk. Menatap Yuna yang tengah memakaikannya baju ganti, menatap wajah istrinya yang terlihat sembab. Hatinya menjadi begitu sedih. Sampai kapan dia terus membuat Yuna menangis. Ataukah memang seharusnya mereka tidak bersama, agar Yuna tidak menderita.
Yuna mengancingkan satu persatu kancing baju Leo hingga selesai. Kemudian, dia menyisir rambut Leo dengan perhatian. Bibirnya melengkung dengan indah saat menatap wajah Leo yang kembali cerah lagi, tidak pucat seperti tadi, meskipun masih terlihat lesu. Yuna meletakkan sisir diatas meja. Kemudian ia kembali menatap wajah Leo dan memegang kedua pipi Leo dengan kedua telapak tangannya.
"Tuan tampanku," ucapnya dengan menekan pipi Leo pelan hingga membuat pipi itu menciut. "Muach," Yuna menunduk mencium bibir Leo singkat. Dia lega melihat Leo sekarang, itu sangat berbeda dengan keadaan Leo beberapa jam yang lalu. Yuna pelan duduk disisi ranjang dan langsung menghambur pelukannya. Memeluk suaminya dengan perasaan yang sedikit lega.
Leo membalas pelukan Yuna. Memeluk istrinya dengan erat. Wanita yang sangat dia cintai.
"Aku lega, akhirnya kau sadar," ucap Yuna dalam pelukannya.
"Maaf membuatmu khawatir sayang," jawab Leo. Tangannya mengusap punggung Yuna pelan.
"Janji ini yang terakhir membuatku khawatir," kata Yuna dengan suara mengancam.
"Aku akan berjuang dengan sangat baik," jawab Leo. Dia tidak membuat janji. Dia takut jika dia tidak bisa memenuhi janjinya.
"Harus, kau harus berjuang dengan sangat baik. Jangan berani macam-macam atau aku akan menghukummu," ancam Yuna lagi.
Leo tersenyum lebar, "Baik Nyonya cantik," jawab Leo. Kemudian, mereka melepaskan pelukan. Kedua tangan mereka saling menggenggam dengan sepasang bola mata yang saling bertukar pandangan.
"Leo J," panggil Yuna.
"Hmm?"
Yuna tersenyum sebelum membuka mulutnya, "Teh hijau di atas nampan, bunga mawar diatas batu ... Hai Leo yang tampan, i love you."
Leo diam membatu sejenak sebelum tawanya meledak. Astaga, sejak kapan Nyonyanya pandai berpantun.
Tawanya renyah nan indah ditelinga Yuna. Dia bahagia, bisa membuat Leo tertawa.
"Kau ...." Leo mencubit pipi Yuna dengan gemas. Yuna terkekeh.
"Uhum," Leo berdehem dan akan berusaha membalas pantun Sang Nyonya. Dia berpikir sejenak, tetapi tidak bisa menyusun pantun. "Hmmm," Leo berpikir lagi tapi tidak bisa menemukan sebuah sajak pantun.
"Hahahaaa ... satu kosong. Kau kalah Tuan suami," kata Yuna dengan tawa kecilnya.
"Tidak, aku belum menyerah," jawab Leo.
"Menyerah saja ...."
"Tidak akan."
"Ok. Aku akan menunggumu."
Dan setelah beberapa detik, Leo akhirnya menemukan sebuah pantun.
"Uhum," dia berdehem sebelum memulai.
"Aaaa, aku deg-degan," Yuna berseru dengan candanya.
"Pergi ke toko beli kain batik, perginya dihari Sabtu. Hai ... Yuna yang cantik, i love you too."
Yuna bertepuk tangan dengan senang, dia tertawa. Aaaah, Tuan suami bisa berpantun juga.
Tak lama, Papa masuk dan dengan senyum menghampiri mereka berdua.
"Kau memiliki daya tahan tubuh yang hebat," ujar Papa pada Leo. Tangan kanannya menepuk pundak Leo dengan pelan.
Leo menatap Papanya.
"Keadaanmu lebih baik hari ini," ujar Papa.
Yuna bernafas dengan lega mendengar itu. Dia menatap Leo dengan senyum cerah.
"Kau keren sayang," ucap Yuna. Kemudian, mereka berbincang-bincang bertiga.
Dimas berada di rumah saat ini, menemani mamanya. Dia membuat panggilan pada papanya. Mama ingin melihat kondisi Leo.
"Putramu baik-baik saja," jawab Tuan besar Nugraha setelah mendapat pertanyaan dari Nyonya besar. Kemudian, beliau memberikan ponselnya pada Leo.
"Mana Baby Arai Ma," tanya Leo setelah mamanya selesai menginterogasinya.
"Dia sudah tidur dari sore," jawab Mama. Leo tersenyum.
"Jika dia tidur dari sore, sepertiga malam nanti dia akan bangun," ucap Leo. Dia rindu anaknya.
"Waahh, sepertinya Mama harus ikut tidur sekarang," jawab Mama. Kemudian beliau membawa ponsel itu ke dalam kamar Baby Arai dan mengarahkan kameranya pada Baby Arai yang terlelap.
Mata Leo dipenuhi kelembutan saat melihat putranya terlelap. Hatinya semakin dipenuhi kerinduan.
"Daddy, cepet pulang ya ...." Mama membuat suaranya menjadi kecil. Beliau mewakili suara Baby Arai.
"Pasti," jawab Leo. Dia semakin semangat untuk segera melewati ini. Jemari Yuna terus menggenggam tangan Leo. Dia menyandarkan kepalanya di bahu Leo.
"Kemarin ada yang gemas padanya," ucap Yuna mulailah ceritanya.
"Siapa?" tanya Leo. Kamera masih menyorot ke arah baby Arai dan Leo masih terus memperhatikannya.
Yuna menceritakan kisah pagi itu.
"Hahaa, siapa dulu Mommynya," ucap Leo.
"Aku bilang padanya jika Baby Arai mewarisi ketampanan mu dan dia jadi penasaran dengan wajah mu, hahaaa."
Mereka saling bertukar kata, Mama menyahut di seberang sana. Panggilan itu berakhir setelah hampir setengah jam.
Tak lama, dua perawat masuk dengan membawa makanan dan obat.
Yuna beranjak untuk mencuci tangan setelah dua suster itu keluar. Kemudian, dia mengambil makanan yang tersaji lalu duduk di ranjang bersama Leo.
"Makanan rumah sakit tidak enak," ujarnya sambil menyendok. "Aaa ...." dia memberi suapan pada Leo.
"Sangat tidak enak," jawab Leo sebelum menerima suapan dari Yuna.
"Jadi kau harus segera pulang," sambung Yuna yang dijawab anggukan oleh Leo.
"Pasti," kata Leo.
Sudut-sudut bibir Tuan Nugraha melengkung membentuk senyuman hangat nan bahagia. Beliau bahagia menyaksikan dua anak manusia ini saling memberi semangat. Keharmonisan hubungan yang ia harapkan untuk keluarga putranya. Beliau tidak akan pernah membiarkan debu hama mendekati rumah tangga putranya. Beliau akan turut menjaganya.
Leo sudah selesai makan. Kemudian, Yuna memberinya obat satu persatu hingga obat yang tersaji habis.
Tak lama, sebuah ketukan pintu terdengar. Tuan besar Nugraha mempersilahkannya masuk. Pesanan makan ekslusif dari restoran datang. Seseorang itu menyiapkan hidangan di meja. Lalu pamit setelah selesai dengan tugasnya.
"Makanan lezat sudah siap," ujar Papa.
Yuna mengangguk, "Kita habiskan berdua Pa, biarkan dia ngiler," jawab Yuna dengan sengaja meledek Leo.
"Hahaa, tentu saja. Ayo kita habiskan berdua," jawab Papa.
"Hhh kalian sangat kompak," sahut Leo.
"Jika kau ingin makanan lezat, kau harus segera keluar dari sini," sahut Yuna, "Aku akan mentraktirmu di restoran termahal di negara ini," lanjut Yuna dengan sombong jika dia mampu mentraktir Leo di restoran paling mahal di negara ini.
"Waah, Nyonya muda kaya raya," ucap Leo seolah terkejut.
"Hmm tentu saja, jangan ragukan lagi," jawab Yuna sombong pada Leo. "Pa, dimana restoran paling mahal di negara ini?" tanya Yuna. Dia menoleh ke arah Papa. Papa menunjukkan sebuah restoran ternama di negara ini. Restoran mewah yang hanya mampu di nikmati oleh kalangan konglomerat. Restoran mewah yang hanya menerima sepuluh pengunjung setiap harinya.
"Aku akan mentraktirmu disana," ucap Yuna setelah mendengar penjelasan Papa.
Papa terkekeh, "Papa dan Mama yang momong Baby Arai saja," ujar Papa dengan kekehannya.
"Ide bagus Pak tua," sahut Leo. Ruangan menjadi penuh tawa. Jangan berlarut, beri semangat dan dukungan dengan penuh senyum. Papa dan Yuna menyimpan kecemasan dalam hati dan tidak menampakkannya pada wajah mereka.
Pukul sembilan malam, Yuna pamit untuk kembali kerumah. Tentu dia tidak bisa menginap menemani Leo karena ada Baby Arai yang membutuhkan dirinya. Yuna memeluk Leo dengan erat.
"Jangan mencoba untuk lama disini. Aku tidak suka. Semangat dan ayo segera pulang," ucap Yuna. Leo mengangguk. Dia mendekap Yuna.
________
Catatan penulis
Jangan lupa like komen ya kawan tersayang 🥰 Terima kasih udah begitu setia menunggu kelanjutan kisah ini. Padamu. Luv luv 🥰🙏