
Gavin melirik arloji di pergelangan tangannya.
Pukul setengah delapan malam.
Pantas saja suara jangkrik mulai terdengar di sekitar pondok diiringi bisik dedaunan yang dimainkan angin.
Perhatiannya teralihkan saat mendengar hembusan nafas berat Tiara.
Ia menoleh ke arah gadis itu yang masih duduk dengan posisi semula. Rasa iba menyelusup ke relung hatinya. Ia tahu apa yang sedang dirasakan Tiara namun ia tak bisa berbuat apa-apa selain menunggu bantuan datang.
Tak mungkin baginya untuk memaksakan diri mencari jalan kembali ke tenda. Selain khawatir makin jauh tersesat, ia juga khawatir jika ada hewan buas di sekitar tempat itu. Tidak ada yang tahu bahaya yang mengintai di luar sana.
Sementara itu tanpa keduanya sadari, bahaya lain sedang mendekat ke tempat itu.
Beberapa anak muda sedang menuju ke pondok. Rupanya sedari tadi, mereka mengikuti Tiara dan Gavin secara diam-diam. Mereka seolah menunggu saat yang tepat untuk bertindak.
Tiara terlihat mulai gelisah, sembari memegang perutnya yang mulai keroncongan. Ia melirik ke arah Gavin seolah ingin memastikan bawaan cowok itu tapi mendadak ia tak bersemangat karena cowok itu tak membawa apapun.
" Lo kenapa?" tanya Gavin tiba-tiba melihat tingkah Tiara.
" Lapar ya ?" tanyanya lagi. Tiara mengangguk dengan polosnya.
Gavin kemudian berdiri ke area dapur untuk mencari sesuatu yang bisa dimakan namun tak menemukan apapun di situ.
" Nggak ada apa-apa di sini ". jawabnya kecewa seraya menuju ke tempat duduknya kembali.
Brak !
Pintu bambu itu didobrak dari luar.
" Wah ternyata lagi asik pacaran di sini !" ujar seorang cowok yang masuk terlebih dahulu kemudian diikuti oleh enam orang lainnya.
Prok prok prok
Cowok pertama tadi bertepuk tangan melihat Tiara dan Gavin yang saat ini memang berdiri berdampingan. Tiara memegangi lengan Gavin dengan erat.
" Siapa kalian? untuk apa kalian gangguin kami hah ?" bentak Gavin dengan lantang.
" Lo nggak perlu tahu siapa gue, lagian gue nggak ada urusan dengan lo. Yang gue mau gadis di samping lo. Cepat serahin gadis itu!" bentak cowok sangar yang merupakan pimpinan rombongan itu.
" Enak aja, emang lo siapa main bawa-bawa anak orang? gue ingatkan ya sebaiknya kalian cepat pergi dari sini sebelum kalian menyesal nantinya!" ancam Gavin.
" Hahahaha berani juga lo ya, sayangnya gue tetap akan memaksa untuk mengambil gadis itu, gimanapun caranya ". desis cowok itu sembari menatap wajah Tiara yang mulai ketakutan.
Reflek Tiara menyembunyikan tubuhnya di belakang Gavin yang sedang berpikir keras untuk menghindari bahaya di depannya. Tiara nggak menyangka kejadian seperti ini bakal menimpanya.
Dalam hati ia berdoa untuk meminta perlindungan dari Sang Pencipta.
Gavin sadar tak mungkin ia mampu melawan ketujuh orang itu walaupun ia sering ikut latihan karate tapi kemampuannya belum memadai dalam kondisi seperti ini.
Walaupun begitu ia bertekad akan berusaha melindungi Tiara. Ia tak mau menyerahkan gadis itu dengan mudahnya.
" Ah, kebanyakan mikir lo !'' ujar cowok itu kemudian menoleh ke arah anak buahnya.
" Hajar dia !" perintahnya dan diangguki oleh enam orang itu.
Buru-buru Gavin menyuruh Tiara duduk di belakangnya. Kemudian ia bersiap melawan mereka yang mulai merangsek maju.