
Di cafe tak juah dari pusat kota. Mereka duduk saling berhadapan. Di depan mereka ada cake dan ice cream.
"Neva, apa kau pernah jatuh cinta?"
"Uhuk...," Neva langsung terbatuk dengan pertanyaan Vano. Jatuh cinta? "Pernah," jawab Neva sedikit menunduk. "Tapi, aku mencintainya dengan diam-diam, hahaa...,"
"Kenapa diam-diam?"
"Karena aku tidak yakin dia akan membalasnya, jadi, aku menyimpannya saja. Aku ingin mencintainya dengan semau ku. Semua teman bilang pada ku bahwa, aku bisa mendapatkan siapa saja yang aku inginkan tapi mereka salah, aku bahkan tidak berani mengutarakan perasaan ku padanya. Dia yang jauh untuk ku gapai. Hahaa lucu ya...," Neva bercerita dengan masih sedikit menunduk. Vano menatapnya dengan diam. Kemudian, tangannya mengulur dan mengusap pundak Neva dengan lembut.
"Adik kecil... maaf untuk pertanyaan ku." ucapnya merasa bersalah karena Neva menjadi menunduk dan terlihat tidak nyaman. Pelan, Neva mengangkat wajahnya dan membalas tatapan Vano.
"Hehehe... tidak apa-apa, Kak... Aku yang minta maaf, jadinya malah CurCol, hehee," Neva tertawa kecil dan memamerkan giginya.
Vano menarik tangannya dari pundak Neva dan tersenyum menatap adik kecilnya.
"Tentang ide Mama yang aneh itu, kau tidak perlu khawatir. Aku bisa mengatasinya, kau teruslah mengejar cinta yang ingin kau dapatkan. Semangat adik...," Vano mengangkat tangannya memberi semangat.
"Semangat...," Neva tersenyum dan mengikuti gerakannya.
Kemudian, Vano mengantarnya pulang. Neva memainkan ponselnya di bangku penumpang, dia terkadang tersenyum dan bahkan tertawa. Dia sedang melakukan chat pada temannya. Sesekali Vano, memperhatikannya dari kaca spion.
****
Leo pulang pukul lima sore, ini lebih cepat dari biasanya. Yuna yang berbeda di taman samping segera berjalan menghampirinya. Dia berdiri di teras menunggu Leo keluar dari mobil.
"Sayang...," ucapnya manja setelah Leo berada di depannya. Leo yang gemas langsung sedikit membungkuk untuk mematuk bibirnya. Kemudian, membawanya masuk kedalam.
"Hei..., segera ganti baju mu," Yuna mendorongnya untuk segera naik ke atas dan mengganti baju.
"Sayang, aku udah pulang dengan cepat lho," Leo masih memeluk pinggangnya.
"Aaaa... kau...," Yuna menutup wajah Leo dengan kedua telapak tangannya. "Okey, mandi dan ganti baju mu dulu...," Yuna menjawab dengan malu. Leo mengambil telapak tangan Yuna dan menciumnya.
Di sisi lain, Yuna melangkah menuju dapur untuk mengambil susu dingin untuk Leo. Namun, pada langkah ketiganya. Seseorang memencet bel pagar rumahnya.
Seseorang telah datang dengan wajah cantik dan senyumnya yang mempesona.
Tidak keberatan, Yuna memencet remote dan mempersilahkan tamu istimewa itu untuk masuk.
Leo menyaksikannya lewat layar kecil cctv di dalam kamarnya. Dia baru saja melepas bajunya. Dia tidak habis pikir jika Yuna mempersilahkannya untuk masuk. Leo bahkan tidak ingin dia datang.
"Selamat sore, Yuna...," dia menyapa dengan ramah.
"Selamat sore, Kiara..," jawab Yuna datar. Dia tidak tahu tujuannya datang untuk apa. Hati Yuna menjadi sedikit khawatir dan merasa takut. Apakah perasaan Leo padanya akan goyah lagi jika dia bertemu dengan seseorang yang spesial ini?
"Dimana Lee?" tanyanya setelah duduk di sofa.
"Kenapa kau tidak menghubungi ponselnya saja?"
"Hahaa... kau pandai meledek ternyata. Jika aku bisa menghubunginya, aku sudah melakukannya tanpa kau suruh. Jadi, dimana dia?"
"Dia ada di atas."
Kiara tanpa rasa malu langsung berdiri.
"Kau mau kemana Kiara? Ini bukan rumah mu yang dengan seenaknya kau bisa berkeliaran. Apa orang tuamu tidak mengajari mu tentang tata krama?!"
"Oh, aku lupa jika di samping Lee sekarang ada seorang penceramah. Telinga Lee pasti hampir meledak karena setiap hari harus mendengarkan kau ceramah."
"Aku sudah bermurah hati mengizinkan mu masuk kesini Kiara, jika kau bertindak tidak sopan, silahkan kembali."
"Kau pikir, kau bisa mengusir ku? Lee pasti akan lebih dulu mengusir mu."
Tepat setelah Kiara menyelesaikan kalimatnya, Leo berjalan dari ruang tengah dan menuju mereka.