
Leo segera menaiki tangga setelah dia tidak menemukan Yuna dan anaknya ada diruang tengah bersama mamanya. Tidak menemukan juga dikamar Baby Arai. Tangannya pelan membuka pintu. Namun, dia tidak menemukan Yuna dikamar. Dia mencari ke balkon dan kamar mandi tetapi tidak ada. Tidak ingin panik, dia segera kembali turun ke bawah dan menanyakan kepada mamanya keberadaan Yuna.
"Dia tidak ada dikamar?" Mama balik bertanya. Pasalnya mama juga tidak tahu Yuna dimana. Mama pikir, Yuna ada dikamar bersama Baby Arai. Leo segera mengambil ponselnya dan membuat panggilan pada Yuna. Leo bernafas dengan lega saat panggilannya terhubung.
"Aku ada di rumah," jawab Yuna dengan senyum di seberang sana. Yuna langsung menjawabnya bahkan ketika Leo tidak menayangkan apa-apa. Klik. Leo memutus panggilannya.
"Dimana?" tanya Mama cemas.
"Di rumah," jawab Leo pelan dan langsung pamit pada Mama.
Leo langsung membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ada apa dengan Yuna? Kenapa dia kembali lebih dulu, kenapa Yuna bahkan tidak memberitahunya?
Leo berlari setelah dia keluar dari mobilnya, dia segera berdiri kerumahnya. Dan tangannya lebih dulu membuka pintu sebelum Yuna. Leo melangkah masuk ke dalam. Kakinya berhenti melangkah saat dia melihat Yuna menuruni tangga. Dia diam dengan kecemasan dalam dirinya menyaksikan Yuna menuruni tangga satu persatu hingga sampai didepannya. Yuna tersenyum dan sangat lega melihat Leo ada di depannya. Dia diam beberapa saat sebelum menghamburkan pelukannya pada Leo. Tangannya melingkar di pinggang Leo dengan erat. Kepala bersandar di dada Leo dengan lekat seolah tidak ingin pelukannya terlepas sedikitpun. Yuna memejamkan matanya.
"Kenapa?" tanya Leo. Tangannya membalas pelukan Yuna. Dia mencium rambut Yuna dengan kasih.
"Kenapa apanya?" jawab Yuna dengan masih memejamkan matanya. Degupan jantung Leo yang cepat sangat terdengar di telinganya.
"Apa ada sesuatu yang terjadi?" tanya Leo. Yuna menggeleng. Dia tidak ingin mengingatnya.
"Kembali keatas, aku ambil minum dulu," ucap Yuna. Tanpa melepaskan pelukannya, dia mendongak menatap wajah Leo. "Jantungmu berdetak cepat, seperti orang yang jatuh cinta," dengan senyum Yuna menggoda Leo.
"Jawab pertanyaanku baru bahas jantungku," ucap Leo. Dia kesal karena Yuna tidak segera menjawab apa yang baru saja terjadi hingga membuat Yuna kembali pulang lebih dulu.
"Tidak ada apa-apa. Aku sudah menjawabnya tadi."
Leo sudah menebak jika Yuna akan sulit membuka mulutnya untuk bercerita. Tak ingin menunggu lama. Dia mengangkat Yuna dan menggendongnya di depan. Dia melangkah membawa Yuna menuju kamar mereka.
"Apa aku kembali terlalu lama?" tanya Leo rendah.
Yuna mengangguk dengan manja, dia menyandarkan kepalanya di dada Leo.
"Hu'um sangat lama. Aku ingin kau kembali sebelum sore tiba, tapi kau tidak juga kembali," jawab Yuna pelan.
Leo diam dan terus melangkah membawa Yuna kekamar mereka. Kemudian, dia menurunkan Yuna setelah sampai di kamar. Leo mengusap rambut Yuna. Kemudian mencium kening Yuna dengan kasih.
"Apa ada sesuatu yang terjadi sebelum aku kembali?" tanyanya pelan. Tangannya memeluk Yuna. Dia tau tatapan sedih Yuna, meskipun itu tersimpan dalam senyum diwajah Yuna.
"Sesuatu yang terjadi? Tidak ada, kenapa kau tiba-tiba bertanya seperti itu?" kilah Yuna.
"Ada yang terjadi," kejar Leo.
"Tidak ada," jawab Yuna.
"Kenapa kau kembali pulang lebih dulu?"
"Aku hanya ingin kembali."
"Kau bohong,"
"Jujur."
"Apa aku terlihat sedang bercanda Yuna?" kini Leo menatap Yuna dengan tajam. Dia yakin ada sesuatu yang terjadi.
"Sayang, tidak ada yang terjadi," Yuna membalas pelukan Leo dan menyandarkan kepalanya di dada Leo lagi. Memeluk suaminya dengan erat. Tempat paling nyaman untuk bersandar.
Tangan Leo dengan perhatian mengusap rambut Yuna, "Kenapa? Apa ada sesuatu? Bilang padaku," tanya Leo lagi. Yuna menggeleng.
Namun pada akhirnya, setetes air mata jatuh dipipinya. Dia segera menyekanya dan melepaskan pelukannya. Yuna membalik badan dan membuka gorden, ia memandang langit malam, langit tenang dengan bintang. Meskipun saat ini hatinya tak berbentuk lagi tapi ada Leo disampingnya membuat dia tetap kuat. Ada cinta Leo untuknya, membuat dia tetap bisa terus tersenyum. Ada Leo yang akan memeluknya saat ia rapuh.
"Apa kau juga memiliki pemikiran yang sama padaku?" tanyanya tiba-tiba. Leo berdiri di belakang Yuna.
"Pemikiran apa?"
"Aku wanita murahan, aku wanita yang menjijikkan," ucap Yuna tercekat dengan kesakitan dalam hatinya, ucapnya memaki dirinya sendiri. Leo tercengang dengan pertanyaan Yuna. Hatinya sakit, dia menggeleng dan langsung memeluk Yuna erat.
"Kenapa kau berpikir begitu, siapa yang bilang begitu?"
Air mata Yuna luruh dalam pelukan Leo. Dia membiarkan air matanya terus menetes, dia ingin mengeluarkan rasa sesak dalam dadanya yang sedari tadi ia tahan.
Leo merasa sangat sakit ketika air mata Yuna menetes dan bahkan hingga membasahi tangannya. Betapa rasa sakit yang Yuna rasakan hingga membuatnya menangis seperti ini. Leo mendekapnya.
"Jangan menangis," bisiknya.
"Aku minta maaf, sungguh minta maaf," ucap Yuna dalam isak tangisnya.
"Tidak. Kenapa minta maaf. Jangan berpikir yang macam-macam. Jangan menangis," jawab Leo.
"Aku adalah istri yang tidak baik, aku pernah mengkhianatimu dalam hatiku, aku pernah memegang tangan laki-laki lain selain tanganmu. Aku menjijikkan, aku murahan, aku minta maaf," Yuna menangis.
"Sayang, itu bukan salahmu. Itu salahku. Aku tidak menyalahkanmu, apalagi memiliki pemikiran itu."
"Aku salah. Seharusnya aku tidak begitu. Bagaimana pun sikapmu padaku dulu, sebagai wanita seharusnya aku tidak dekat dengan laki-laki lain. Harusnya aku tetap dirumah saja. Sekarang, karena tindakan menjijikkan itu, aku mengacaukan segalanya. Aku menyakiti kalian semua. Ternyata Ayah memang sangat tepat selama ini mengurungku dan tidak membiarkan ku keluar. Lihat saja, saat kau memberi kebebasan padaku, apa yang terjadi? Kacau, rumit dan aku menyakiti hati kalian. Seharusnya aku memang tidak perlu mengenal dunia luar, tidak perlu melihat keindahan dunia, dan mungkin tidak perlu mengenalmu. Memang gadis Rapunzel seharusnya tetap diam dan membiarkan dirinya tersingkir dari dunia nyata."
"Cukup, Yuna cukup," Leo memeluk Yuna dengan kasih. Dia mengusap rambut Yuna dengan perhatian. Leo tidak tahu apa yang baru saja terjadi tetapi dia bisa menebak jika Neva baru saja berbicara sesuatu pada Yuna. Siapa lagi yang tahu masalah mereka.
"Bagaimana bisa aku berhenti menyalahkan diriku, Leo. Aku adalah akar dari semua masalah."
"Bukan, bukan kamu tapi aku. Aku yang salah," jawab Leo. Yuna menggeleng. Leo melepaskan pelukannya dan membuat Yuna mengahadap kearahnya. Dia memegang wajah Yuna dengan kedua telapak tangannya, menghapus air mata Yuna. Dia sedih, sangat sedih melihat Yuna yang menangis.
"Tolong jangan pernah salahkan dirimu," ucap Leo rendah.
"Nyatanya aku yang salah," jawab Yuna.
Leo menggeleng dan menunduk untuk mencium bibir Yuna. Membuat Yuna diam. Saat Yuna ingin bicara maka dia akan memperdalam ciumannya.
"Ku mohon, jangan pernah menyalahkan dirimu. Apalagi menganggap dirimu menjijikkan. Jangan pernah, ku mohon," kening mereka bertemu. Yuna masih menangis.
"Kenapa kau masih mau mencintaiku padahal kau tahu aku pernah dekat dengan laki-laki lain," ucap Yuna. "Kau boleh meninggalkan ku karena aku wanita murahan yang menjijikkan."
"Yuna," suara Leo meninggi. Dia memegang pipi Yuna lagi. Membuat Yuna menatapnya. "Lihat aku," perintahnya.
Leo mencium bibir Yuna. Kini ciumannya semakin dalam dan melekat. Dan bahkan sangat lama. Dia tidak ingin Yuna berbicara yang macam-macam. Hanya ciuman yang mampu membungkam mulut Yuna.
Yuna memeluknya, memeluk Leo dengan erat. Dia memejamkan matanya. Air matanya menetes, mengingat ucapan Neva tapi kemudian dia mengingat bagaimana Leo begitu mencintai dirinya. Dia mengingat bagaimana Leo begitu memanjakannya. Dan saat ini dia malah mengucapkan sesuatu yang menyakiti Leo. Dia tahu Leo tidak akan meninggalkannya.
Leo melepaskan ciumannya dan memeluk Yuna. Menenangkan hati istrinya.
"Maaf aku menyakitimu," ucap Yuna. Dia tahu Leo begitu mencintainya tidak perduli bagaimana masa lalunya. Perlahan, Yuna mulai tenang, tangisnya berhenti. Dan Leo membawanya duduk di sofa. Membersihkan wajah Yuna dengan tissue. Yuna menatap Leo dengan pandangan sedih. Dia ingat beberapa detik yang lalu malah mengucapkan sesuatu yang sangat Leo benci. Menyuruh Leo meninggalkannya. Sekarang, dia yang merasa menjadi keterlaluan pada Leo. Yuna mengambil tangan Leo dari wajahnya. Menggenggam jemarinya erat. Menatap wajahnya dengan dalam.
Yuna mengambil nafasnya panjang.
"Maafkan aku," ucapnya. "Sayang, maafkan aku."
Leo mengangguk dan kembali merengkuh Yuna. "Jangan pernah mengucapkan kata itu lagi atau aku akan marah padamu," ucap Leo.
Yuna mengangguk. Leo tidak ingin membahas apapun yang membuat Yuna kembali menangis, dia tidak menanyakan lagi detail kejadian yang terjadi.
"Kau belum makan bukan? Biar aku masak untuk mu. Mau apa?" tanya Leo perhatian. Dia melepaskan pelukannya dan menyeka sisa air mata Yuna.
"Umm, bagaimana jika kita masak bersama?"
"Ok. Siap Chef Yuna," jawab Leo mencoba menahan sedih dihatinya. Bagaimana dia memberi tahu Yuna tentang keadaannya, bagaimana dia tega membuat Yuna menangis lagi. Dia tidak akan tega. Ini akan lebih menyiksa dirinya jika dia memberi tahu keadaannya pada Yuna saat ini.
Kemudian, Leo dengan hati-hati membawa Baby Arai kekamarnya sendiri dan meminta Bi Sri untuk menjaganya.
Yuna membuka kulkasnya dan mengeluarkan bahan yang ada.
"Pakai ini dulu," ujar Leo. Dia membawa dua celemek, satu untuknya, satu lagi untuk Yuna. Dengan perhatian Leo memakaikan celemek pada Yuna.
"Selesai, Chef cantik," ujarnya setelah selesai mengikat tali celemek.
"Terima kasih, asisten," jawab Yuna.
"Tidak menerima ucapan terima kasih. Beri aku ciuman," jawab Leo, dia menyodorkan pipinya. Yuna terkekeh dan mematuk pipi Leo.
"Mmmuuucahh. Udah."
"Terima kasih hadiahnya," kata Leo. Kemudian, dia mengambil pisau. "Biar aku yang memotong," Leo siap dengan pisaunya. Yuna mengangguk dengan masih memperhatikan bahan-bahan, "Jadi kita masak apa malam ini?" tanya Leo.
"Kau ingin tumisan atau yang berkuah?" tanya Yuna.
"Yang lembut dan kenyal saja," jawab Leo dengan mengedipkan matanya nakal. Dan bahkan mengeluarkan sedikit lidahnya.
"Mesum," Yuna mencubit pinggangnya. Leo terkekeh.
"Kita bikin keduanya saja, bagaimana? Tumisan dan kuah," usul Yuna.
"Itu terlalu lama sayang. Aku mau makanan penutup segera," jawab Leo.
Yuna melirik tajam kearah Leo, "Kau sungguh bergairah setiap hari."
"Tentu saja. Istriku cantik dan seksi ...." Leo meletakkan pisau dan mendekat kearah Yuna. Dia merangkul Yuna dan mencium rambutnya. Jangan bersedih lagi, jangan pernah bersedih. Aku lebih sakit jika melihatmu menangis.
"Leo sayang Yuna," ucap Leo mencium pipi Yuna.
Ucapan yang membuat Yuna menghentikan aktivitasnya. Dia tertawa kecil mendengar ucapan Leo. Sangat lucu, seperti ucapan ABG.
"Yuna sayang Leo," jawab Yuna dengan senyum lebar menjawab ucapan cinta Leo. Tangannya mengusap pipi Leo dengan lembut. Namun sebenarnya, dia menempelkan tepung dipipi Leo. Upss, Yuna menahan senyumnya saat pipi Leo menjadi putih karena tepung dan Leo tidak menyadari itu.
"Jadi ... masak apa kita malam ini Chef cantik?"
"Pasta saja, bukankah kau ingin yang cepat," jawab Yuna.
"Binggo. Kau luar biasa sayang," Leo mencium pipi Yuna. "Aku ada sesuatu untukmu," ucapnya.
"Apa?"
Leo dengan perlahan memperlihatkan genggaman tangannya di depan Yuna.
"Apa ini?" tanya Yuna antusias. Dia akan mendapatkan hadiah. Hadiah Leo tidak pernah murah, sesuatu dalam genggaman Leo pasti sama istimewanya seperti yang sudah-sudah.
Leo tersenyum dengan manis, "Salju untukmu," jawab Leo dengan langsung membuka telapak tangannya dan meniupkan tepung yang ia genggam diwajah Yuna.
Yuna membeku mendapat salju diwajahnya. Jadi ... sebenarnya Tuan suami tahu jika dia baru saja menempelkan tepung.
"Aaaa kau curang," teriak Yuna dan langsung memukul dada Leo. Tetapi kemudian, dia menghambur ke dalam pelukan Leo, memeluk suaminya lagi dan lagi, menyandarkan kepalanya lagi dan lagi. Sangat tenang. Hatinya tidak lagi berkecamuk, dia merasa lebih tenang dari sebelumnya. Hatinya tidak lagi begitu sakit. Kini Yuna lebih bisa menguasai hatinya. Dia tidak menyalakan Neva. Dia menyalahkan dirinya sendiri.
Leo mengusap punggung Yuna lembut.
"Kau mengotori wajahku. Dan aku akan mengotori kemejamu," ucap Yuna sambil menggesek pelan wajahnya di kemeja Leo.
"Hanya kemeja aku punya banyak gantinya," jawab Leo sombong. Yuna terkekeh. Kemudian, dia melepaskan pelukannya dan membuka kancing kemeja Leo satu persatu hingga terlepas semua.
"Aku akan mengotori tubuhmu," ucap Yuna dengan tatapan matanya yang tajam tetapi penuh candu aroma kenakalan.
"Dengan senang hati sayang, lakukanlah," jawab Leo menyerahkan dirinya dengan senang hati.
_______________
Catatan penulis π₯°π
Terima kasih semuanya π yang udah setia menunggu dengan sangat sabar. Ilupyu full ππ₯°π Jangan lupa like komen ya kawan tersayang π₯° padamu luv luv π