
Tiara tak bisa mengantarkan keberangkatan mamanya. Di dalam kamar sempit itu, ia hanya bisa mendoakan kebahagiaan sosok yang selalu dikhawatirkan itu.
Banyak sudah yang ia pahami tentang alur kehidupan orang tuanya dari sekian banyak waktu kebersamaan mereka. Tentang banyak kekhawatiran akan masa depan keluarganya, tentang beban yang disembunyikan orang tuanya.
Meski tak terungkap namun Tiara bisa merasakannya.
Semua itu seolah memaksanya untuk menjadi dewasa sebelum waktunya.
Ya, kadang tanpa kita sadari,,, bertubi-tubi masalah yang datang malah semakin mendewasakan kita. Membuat kita berpikir bagaimana cara penyelesaiannya, dan bagaimana caranya agar kita tetap bertahan dalam ketidakmampuan.
Jujur, sesekali ia menyalahkan nasib dirinya dan keluarganya. Sesekali ia merasa iri dengan teman-teman sekolahnya yang hidupnya terlihat tanpa beban apapun.
Namun, entah sudah terbiasa. . . semua rasa itu berlalu seiring berjalannya waktu.
Yang tertinggal hanyalah tekad untuk menjalani dengan mental yang kuat.
Tiara tak bisa memprediksi apa yang bakal terjadi di masa yang akan datang. Semua ia serahkan kepada Sang Pencipta yang telah mengatur alur hidup keluarganya.
Tiara masih hanyut dalam renungan hingga akhirnya terusik oleh dering telepon seluler di atas kasur.
Panggilan masuk dari Hesti.
" Tumben banget nih orang nelpon". gumamnya, tangannya bergerak meraih handphonenya.
" Raaaa ! kamu udah balik?!" suara cempreng sahabatnya itu memekakkan telinganya.
Duh.
Sontak dijauhkan handphone itu dari telinganya. Mengusap telinganya sebentar sebelum mendekatkan kembali handphone di tangannya.
" Woy ngomongnya pelan aja bisa nggak? gendang telingaku berasa mau pecah nih !" ujar Tiara sebal.
" Oke . . oke sori ". jawab Hesti tergelak tanpa dosa.
" Kamu kapan baliknya nek ?"
" Ah, rencananya minggu depan tapi aku nggak tahan lagi di sini, lusa aku maksa balik". jawab Hesti tak bersemangat.
" Loh . . . emang kenapa di sana? bukannya seru liburan ke kampung halaman sendiri?"
" Itulah Ra' masalahnya aku juga mikir gitu awalnya eh, nggak tahunya bikin bete aja. Nggak ada temen ngobrol di sini. Temen-temen seumuran aku semuanya berubah jadi asing. Kalau ketemu paling say hello doang nggak kayak dulu yang seru-seruan main bareng, ngobrolin yang lucu-lucu sekarang nggak lagi ". jawab Hesti panjang kali lebar eh rumus matematika kali' ya .. hehehe.
" Oh gitu ya, . . . mungkin aja temen-temen lo merasa beda karena kalian kan udah pada gede. Nggak mungkin dong teriak-teriak di depan rumah lo ngajakin balap lari".
" Iya juga sih, tapi seenggaknya ngajakin aku ngobrol kek ". bela Hesti.
" Makanya cepetan balik biar kita bisa ngobrol sepanjang hari ".
" Beneran ya, awas kalau nolak diajak ngerumpi ".
" Hehehe. . . "
" Eh Ra' btw ada kabar dari Dhilla nggak ? ".
" Nggak ada tuh, sebenarnya aku pengen banget hubungi kalian tapi nggak punya pulsa nih".
" Aku cuma mau tahu aja posisinya sekarang di Jogja atau di mana, soalnya kemarin waktu aku telpon nggak diangkat. Mau nelpon lagi jadi nggak enak takutnya malah ganggu acara keluarganya ".
" Oh, gitu . . ya udah tungguin aja pasti dia bakalan ngasih kabar ke kita".
" Semoga aja. Eh Ra' waktu di Sorong kemarin kamu lihat Rio nggak?"
Dahi Tiara seketika mengkerut, memikirkan pertanyaan Hesti barusan.
" Eh, nggak salah nih ? nanyain Rio? hem . . kayaknya ada yang lagi jatuh cinta nih ".