
Beberapa hari setelah keributan di kantin, nampak semuanya baik-baik saja. Tak ada hal aneh yang terjadi.
Tiara dan kedua sahabatnya menjalani rutinitas mereka di sekolah seperti biasanya.
Hubungan antara Tiara dan Zian pun semakin dekat. Keduanya terlihat selalu berdua. Membuat para gadis di sekolah maupun di luar sekolah merasa iri melihatnya.
Waktu bergulir begitu cepatnya hingga akhirnya . . .
Tibalah saatnya ujian kelulusan bagi siswa kelas dua belas.
# Senin pagi di parkiran sekolah.
Zian tiba di sekolah.
Setelah memarkir motornya, iapun melangkah masuk sambil tersenyum mengingat obrolannya dengan Tiara tadi.
" Semangat ya kak, ikut ujiannya". suara cempreng Tiara terdengar di seberang sana.
" Gimana mo semangat, nggak ada lo di sekolah". balas Zian lemah.
Karena kelas dua belas akan mengikuti ujian maka seluruh siswa kelas sepuluh dan sebelas diliburkan selama seminggu agar tidak mengganggu jalannya ujian akhir kakak kelas mereka.
" Kan lagi libur ".
" Iya sih, tapi tetap aja bikin badmood juga". balas Zian dengan nada lesu.
" Yang sabar ya, seminggu doang kok ". bujuk Tiara.
" Sekarang, siap-siap ke sekolah ya. Jangan lupa berdoa dulu biar dimudahkan semuanya".
" Oke Bu bos !" ujar Zian bersemangat lagi.
Pembicaraan mereka pun berakhir karena Zian harus bergegas berangkat ke sekolah.
Setelah memasuki ujung koridor, senyum yang tadi terlihat kini berganti dengan wajahnya yang dingin. Ciri khas Zian yang sebenarnya di hadapan orang lain.
\*\*\*
Berbeda dengan Rio yang saat ini sedang menikmati waktunya berdua dengan Hesti.
Mumpung masih libur, hehehe.
Dari nonton film di bioskop lanjut dengan jalan-jalan di taman kota hingga jajan di tempat favoritnya Hesti.
Hesti memiliki keluarga yang berpikiran modern. Kedua anaknya diijinkan berpacaran dengan syarat harus dikenal orang tuanya dan yang paling penting adalah tahu batasan-batasannya.
Setelah lelah, keduanya pun menuju ke sebuah cafe yang cukup terkenal di kota itu.
Beruntung ada tempat kosong yang letaknya di sudut ruangan.
" Makasih ya udah mau jalan bareng gue". ucap Rio setelah selesai memesan.
Hesti hanya tersenyum senang. Gadis yang biasanya terlihat garang di sekolah, kini berubah penurut di depan seorang Rio.
" Aku juga seneng banget kok, diajak jalan kaya' gini". balas Hesti jujur.
Jeda sejenak. Entah sedang mencari topik pembicaraan yang menarik atau apa.
Mendadak perhatian keduanya teralihkan oleh suara rombongan cowok yang duduk tak jauh dari tempat itu.
Salah satunya menyerahkan handphone kepada seorang cowok yang duduk di tengah rombongan.
" Bos, ada yang penting nih". ucap cowok yang menyerahkan handphone.
Yang dipanggil segera mengambil handphone tersebut.
" Ya halo . . .
" Cewek mana ?" tanyanya kepada si penelepon.
" Wow, adik kelas lo? Berapa bayarannya? "
" Oke, kapan rencana eksekusinya?"
" Deal. Ditunggu info selanjutnya ".
Ujar cowok itu sekaligus mengakhiri pembicaraan mereka.
Rio mendengar obrolan itu dengan seksama.
" Kamu kenal dengan mereka?" tanya Hesti melihat tingkahnya.
" Nggak, tapi sepertinya mereka sedang merencanakan sesuatu yang buruk". jawab Rio dengan wajah serius.
Ah, andai gue tahu siapa yang menelepon mereka tadi. ucap Rio dalam hati.
" Ya udah, biarin aja. Semoga rencana buruk mereka gagal semuanya". ucap Hesti.
Keduanya lanjut menikmati makanan mereka sambil bercerita tentang kehidupan sehari-hari mereka.
Setelah itu, Rio mengantarkan Hesti pulang.
\*\*\*\*\*