Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Bab 348_Sarapan Bersama


Pagi hari setelah Neva membersihkan dirinya, dia masih bermalas-malasan di atas sofa dengan memainkan ponselnya. Dia tengah bermain game di dalam ponselnya. Rumahnya terasa sangat sepi, dia malas untuk keluar. Biasanya, jika orang tuanya ke luar negeri tempat pelariannya adalah rumah Leo. Namun sekarang, mereka semua ada disana. Setelah pukul setengah tujuh pagi, dia beranjak dan keluar dari kamarnya. Vano bilang, dia akan menjemputnya jadi Neva berencana untuk menunggu di ruang tengah.


Neva menuruni tangga dengan pelan, dia melangkah ke ruang tengah dan dia langsung tersenyum lebar dengan bahagia melihat ada seseorang yang tengah duduk di sofa di ruang tengah.


"Pagi Nona muda," sapa seseorang itu dengan senyum lebar.


"Kak Dim ...." Neva berseru dengan bahagia. Dia berlari kecil dan langsung melompat untuk memeluk Dimas. "Jam berapa Kakak sampai?" tanyanya. Dia duduk di samping Dimas dengan masih manja memeluk kakaknya. Dimas merangkul pundak Neva dengan sayang.


"Hampir subuh," jawab Dimas. Neva mengangguk-angguk. "Bagaimana kabarmu selama kami tinggal? Ku dengar, kau mengalami kemajuan dalam memahami bisnis."


"Hmm, apa Joe mengadukan semuanya padamu? Kakak harus memberinya bonus yang besar, karena bantuan dia aku bisa dengan mudah menjalani ini," jawab Neva.


"Hhahaaa, kok aku? Kamu dong yang harus memberi dia bonus," kata Dimas. Neva diam beberapa saat.


"Uhum, ok. Aku yang akan memberinya bonus. Aku bossnya," ujar Neva sombong dengan gurauan. Dimas mengacak-acak rambutnya dengan gemas. Neva adik kecilnya yang manja.


"Oh iya. Kak Dim, bawa oleh-oleh untukku nggak?" tanya Neva.


"Bawa doong," jawab Dimas.


"Yeyyyy, Kak Dim terbaik," seru Neva dan langsung mematuk pipi kakaknya. "Mana?" Neva melepas pelukannya dan menyodorkan tangannya.


Plak. Dimas menepuk telapak tangan Neva, lalu menggenggamnya. Dia berdiri dari duduknya.


"Sarapan dulu," jawab Dimas dan membawa Neva ke ruang makan.


"Asisten rumah tangga bilang, jika kau jarang sarapan. Sarapan itu sangat penting, sangat-sangat penting untuk kesehatan, jangan sampai melewatkan sarapan," ucap Dimas setelah mereka sampai di ruang makan dan duduk disana.


"Tapi aku makan diluar kok," jawab Neva.


"Fast food? Nilai gizinya kurang untuk sarapan dan itu tidak baik jika kau terlalu sering mengkonsumsinya," ucap Dimas lagi.


"Tidak Kak Dim, aku tahu itu," jawab Neva.


"Lalu?" tanya Dimas. Belum sempat Neva menjawab asisten rumah tangga dengan sopan menengahi pembicaraan mereka berdua untuk memberi tahu jika ada Vano di depan.


"Oh, dia sudah datang?" Neva antusias. Dimas tersenyum lebar dan menatap adiknya.


"Jadi kau sarapan diluar dengan dia?" tanya Dimas yang dijawab anggukan malu-malu oleh Neva. Kemudian Dimas memerintahkan pada asisten rumah tangga untuk mengantar Vano ke ruang makan, dia juga meminta untuk memanggil Joe.


"Baik, Tuan muda," jawab asisten rumah tangga dengan patuh.


"Kita memilih resto yang memang menyediakan menu sarapan bergizi," jelas Neva. Dan tak lama, Vano telah sampai di ruang makan.


"Selamat pagi Kak Dimas," sapa Vano dengan ramah, dia membungkukkan badannya memberi salam pada Dimas.


"Pagi, Vano. Silahkan duduk. Mari sarapan bersama," jawab Dimas. Vano mengangguk pelan dan berterima kasih sebelum dia duduk di samping Neva.


"Pagi sayang," sapa Vano berbisik. Neva menoleh ke arahnya dengan senyum.


"Pagi," jawab Neva. Tak lama Joe datang dan dengan sopan menyapa Dimas, Vano dan Neva.


"Silahkan duduk Joe," Dimas mempersilahkan. Vano mengerutkan keningnya.


Joe diizinkan untuk sarapan bersama dalam satu meja. Sepertinya Joe bukan hanya sekedar asisten dan bodyguard. Batin Vano. Dia menjadi semakin waspada pada laki-laki yang sekarang duduk di hadapannya.


Mereka sarapan dengan tenang. Dan setelah selesai sarapan, Dimas dan Joe pamit lebih dulu. Mereka berdua langsung tenggelam dalam kesibukan di ruang kerja Tuan besar Nugraha.


Mobil Vano perlahan meninggalkan rumah besar keluarga Nugraha dan mengantar Neva ke kampus.


"Bagaimana menurut mu tentang Joe?" tanya Vano. Neva menoleh ke arahnya. Dia mengerutkan alisnya. Tumben Vano ingin membahas tentang Joe, batin Neva.


"Stop," katanya. "Bukan itu yang ku maksud," lanjut Vano.


"Lalu?"


"Hhh lupakan, bukan apa-apa," jawab Vano lagi. Neva semakin mengerutkan alisnya tak mengerti. "Nanti siang ku jemput lagi," ucap Vano kemudian.


"Ok."


__________


Malam hari di Negara A. Yuna duduk di ruang tengah di lantai dua. Sekarang, gantian Papa yang berada di rumah sakit untuk menemani Leo.


"Buah apa ini Na?" tanya Mama setelah duduk di samping Yuna. Beliau memperhatikan buah yang tengah Yuna kupas.



"Buah ini sering dijumpai di kota K, Ma. Masyarakat disana menyebutnya buah Siwalan," jelas Yuna.


"Siwalan?" Mama mengerutkan alisnya.


Yuna mengangguk, "Nama lainnya adalah buah lontar," jelas Yuna lagi yang kali ini di jawab anggukan oleh mama.



"Bagaimana rasanya?" Mama mengambil satu dan mencobanya. Dan uhmm ... keluar air dari dalam buah itu yang membuat bibir Mama belepotan. "Hahaaaaa, ada airnya?" Mama segera mengambil tissue dan membersihkan bibirnya.


Yuna terkekeh, "Iya Ma," jawabnya. Kemudian, dia mengambil satu yang sudah dikupas kulitnya. "Digigit sedikit dulu, lalu disesap airnya," jelas Yuna mempraktekkan cara makan buah ini agar airnya tidak tercecer. Mama tertawa ringan karena langsung makan begitu saja.


"Dari mana kau dapatkan ini disini Na?" tanya Mama heran.


"Ada oleh-oleh dari Othor Nanas," jawab Yuna yang membuat Mama terbelalak.


"Mama juga pengen ketemu sama dia," ujar Mama.


Buah Siwalan atau buah lontar memiliki banyak manfaat untuk kesehatan. Terlebih untuk mencegah dehidrasi. Buah ini juga memiliki banyak manfaat untuk kesehatan organ dalam bahkan kecantikan. Selain buahnya yang bisa di konsumsi, pohon lontar juga menghasilkan air nira yang kaya akan manfaat. Tetapi akan menjadi tuak yang beralkohol jika dibiarkan selama dua hari.



Pagi harinya, masih di negara A.


Papa mengirimkan pesan pada Yuna jika Leo tidak boleh dulu dibesuk dua hari ini. Leo akan menjalani pengobatan intensif dan jika ini berhasil maka selanjutnya, Leo boleh kembali ke rumah. Tetapi jika dua hari ini tidak menampakkan hasil yang baik maka akan menambah hari lagi untuk dirawat. Dia tidak boleh drop sama sekali.


Tidak masalah jika dia tidak bisa bertemu dengan Leo dulu, asal Leo segera sembuh dan segera kembali.


Yuna melakukan panggilan video pada Leo sebelum Leo melakukan pengobatan hari ini. Yuna memangku anaknya dan melambaikan tangannya lewat layar ponsel.


"Semangat Daddy, Lekas sembuh dan segera pulang ya," ujar Yuna. "I Love You," ucapnya lagi.


"Terima kasih sayang. Tunggu Daddy pulang ya ...." balas Leo. "I Love you too."


Kemudian panggilan berakhir. Dokter dan tim perawat masuk ke dalam ruangan. Mereka dengan keahliannya memasang beberapa alat kedokteran di tubuh Leo. Kemudian, membawa Leo kedalam ruang perawatan khusus.


___________________


Catatan penulis


Mohon koreksinya jika ada kesalahan 🥰🙏 Sampaikan dengan baik dan sopan ya. Author baperan soalnya, ntr mewek dipojokan gimana doong. 🥺🥺


Ok. Jangan lupa jempolnya di goyang. Like Komen ya kawan tersayang Thor. Ilupyu... muach.