
Mobil Vano parkir di halaman rumah keluarga besar Nugraha. Kemudian, dia keluar dari mobil dan dengan sopan dia mengetuk pintu. Iya, tangan kanannya mengetuk pelan dan bukan memencet bel yang ada disamping pintu.
Asisten rumah tangga dengan segera melangkah untuk membuka pintu tetapi belum sampai pintu itu terbuka olehnya, suara Neva menghentikan langkahnya.
"Biar aku saja yang membukanya, Bi," ucapnya dengan sopan. Asisten rumah tangga mengangguk dan segera kembali ke belakang. Neva sedikit berdehem dan membenarkan rambutnya sebelum dia membuka pintu.
Pelan, tangannya mengulur dan membuka pintu itu. Pintu itu terbuka dan memperlihatkan sosok yang berdiri di depan pintu. Sosok itu langsung menyambutnya dengan senyum. Menyapa Neva dengan senyum hangat dari bibirnya.
"Selamat pagi," ujarnya.
Berapa indahnya pagi dan sepanjang hari jika disambut senyum yang begitu menawan, "Pagi," balas Neva. "Masuk Kak," lanjutnya mempersilahkan. Vano mengangguk pelan dan melangkah untuk masuk. Kemudian, dia duduk di kursi dan Neva duduk di seberangnya.
"Hei, nona," Vano menatap Neva.
"Ya?"
"Kenapa kau duduk di situ?" Vano mengomentarinya. Bukankah seharusnya mereka duduk berdampingan. Batinnya.
Neva mengerutkan alisnya. Namun sedetik kemudian ia paham apa maksud Vano.
"Kenapa? Kakak masih bisa melihat ku bukan dari situ?" Tanyanya dengan sengaja.
"Tapi aku tidak bisa menyentuhmu," jawab Vano dengan cepat mengejar pertanyaan Neva.
"Tapi kau bisa melihat ku."
"Tapi aku ingin menyentuh mu."
"Melihat saja sudah cukup."
"Buat ku tidak cukup," jawab Vano. Dan perdebatan mereka terhenti ketika Mama keluar. Vano segera berdiri dan membungkukkan badannya.
"Selamat pagi Tante," sapa Vano dengan ramah.
"Selamat pagi," jawab Nyonya Nugraha tak kalah ramah.
"Emm, kita berangkat bareng Mama tidak apa-apa kan?" Sahut Neva.
Vano mengangguk, "Tidak masalah," jawabnya. Kemudian, mereka bertiga naik di mobil Vano. Mama dan Neva duduk di bangku penumpang. Mobilnya melaju dengan sedang.
Cring, pesan baru masuk kedalam chat Neva. Dia segera membukanya.
"Sayang, kau cantik hari ini," sebuah pesan yang dikirim oleh Vano. Tangan Neva terangkat untuk menutup bibirnya yang tersenyum dengan lebar. Kemudian, dia mengangkat wajahnya untuk menatap kearah kaca spion. Yapp, tepat. Ada mata Vano disana tengah memperhatikannya. Sepersekian detik mata mereka bertemu dan Neva segera mengalihkan pandangannya. Dia memencet tombol pada ponselnya.
"Aku cantik setiap hari," balas Neva dengan emot PeDe. Cling, pesan masuk di ponsel Vano. Kemudian, dia membalas lagi.
"Tentu saja, kekasih ku," balasnya yang membuat Neva kembali menutup mulutnya dengan telapak tangannya. Pipinya merona. Dia kembali memperhatikan kaca spion dan mata mereka saling bertemu.
Mama pura-pura tidak melihat tingkah mereka dan beliau menyesal telah ikut serta bersama mereka. Awalnya beliau memang ingin pergi sendiri tetapi Neva membujuknya untuk ikut dengan dia dan Vano saja.
Sesampainya di rumah sakit. Vano memarkirkan mobilnya dan mereka berjalan bersama. Mama melangkah dengan anggun dan teratur. Sedangkan Neva melangkah dengan sangat lambat hingga posisi Mama berada di depannya.
Vano juga menjadi memperlambat jalannya dan berjalan disamping Neva. Tangannya segera mengulur dan meraih tangan Neva. Mengenggamnya dengan rahasia di belakang Mama. Neva menahan senyumnya dan membalas genggaman tangan Vano padanya.
Mereka berdua melangkah dengan saling bergandengan.
Neva melepaskan genggaman tangannya ketika mereka memasuki lift. Dia tidak ingin Mamanya melihat adegan genggaman tangan itu. Kebetulan hanya ada mereka bertiga di dalam lift.
Dua tangan itu mulai bertemu lagi. Saling menggenggam dengan manis. Vano menunjuk dan berbisik pelan di telinga Neva, "Sayang, aku merindukan mu."
Neva mengigit bibirnya menahan senyum merona.
Tak lama, pintu lift terbuka dan mereka melangkah keluar.
_Di sana, di ruangan Yuna.
Leo menyisir rambut Yuna dengan sangat hati-hati kemudian menguncirnya. Leo sudah sangat pandai dalam menguncir rambut.
"Selesai," ucapnya dan memberi kaca pada Yuna.
"Hmmm, sangat rapi," puji Yuna setelah memperhatikan tatanan rambut Leo. Leo hanya mengikat rambutnya dengan tatanan kuncir kuda tetapi ini begitu istimewa buat Yuna. "Terima kasih sayang," ucapnya.
"Apa kau tidak berniat untuk memberi ku hadiah Nyonya?" Tanya Leo dengan menatapnya.
"Hmm, kau selalu saja meminta hadiah," jawab Yuna. Kemudian, dia mematuk pipi Leo dengan singkat. "Selamat anda mendapatkan hadiah," ujar Yuna memamerkan barisan giginya. Wajahnya menjadi sangat imut dan Leo langsung mencubit kedua pipinya dengan gemas.
Pelan, pintu ruangan terbuka, Mama masuk dengan Neva dan Vano yang menyusul dibelakangnya.
"Pagi sayang," sapa Mama.
Leo membalas sapaan mamanya dengan lembut dan kemudian sedikit menjauh dari Yuna untuk memberi tempat pada Mama.
"Kak Lee," Neva melangkah ke arah Leo dan memeluknya. Tangan Leo terangkat dan memukul kepala Neva pelan.
"Kau sudah punya pacar, berhenti memeluk ku. Bagaimana jika pacarmu cemburu," ucap Leo.
"Berarti dia bukan pacar yang baik dan aku akan mencoretnya," jawab Neva dengan melirik Vano.
Kemudian, Neva segera beralih ke Yuna.
"Kak Yuna," dia memeluk Yuna lalu mengusap perut Yuna dengan lembut.
"Selamat pagi, Leo," sapa Vano dengan ramah.
"Pagi," jawab Leo. Kemudian, Vano membawa pandangannya pada Yuna.
"Bagaimana keadaan mu, Yuna?" Tanyanya bersahabat.
"Baik, terima kasih sudah berkunjung Vano," jawab Yuna dengan ramah. Dia segera menatap kearah Leo. Hmm, syukurlah Leo tidak menampakkan ekspresi apapun. Yuna takut jika Leo masih cemburu padanya dan Vano.
"Silahkan duduk, Vano," ujar Leo mempersilahkan Vano untuk duduk. Kemudian, mereka berdua duduk di sofa.
___
Catatan Penulis ( Curhatan π₯° )
Terima kasih untuk semuanya yang masih setia menunggu kisah ini π₯°ππ aku padamu.
Jangan lupa jempolnya ya kawan.
Terima kasih SSC πΉ
PLAGIAT JANGAN MAMPIR SINI π π€