
"Apa kau sendirian? Apa Tuan muda Lee tidak mengantar mu ke toilet? Hahaa ... aku lupa jika ini adalah toilet khusus wanita," ujar Kiara dengan tawa kecilnya yang menyebalkan di telinga Yuna. "Tapi, bukan Tuan muda Lee namanya jika dia tidak bisa membuat toilet ini hanya untuk mu dan dia bebas untuk keluar masuk. Eh, tapi ... sepertinya dia tidak melakukan itu untuk mu? Wah ... wah ... ternyata kau tidak sepenting itu dalam hidupnya," lanjutnya.
"Aku tidak ada urusan dengan mu Kiara. Leo sudah memilih ku dan ku harap kau bisa dewasa dan menerimanya," ucap Yuna menanggapinya. "Oh, aku lupa, ada yang ingin ku sampaikan pada mu. Aku berterima kasih pada mu karena kau telah menyia-nyiakan dia dan membuatnya patah hati," lanjut Yuna.
"Patah hati? Karena aku? Hahaha," Jawab Kiara. "Kau salah Nona Yuna, sepertinya kau sedang berkhayal, emm atau kau sedang bermimpi? Bangun dan sadarlah. Lee tidak akan pernah mampu meninggalkan ku. Ya ... meskipun saat ini kau mungkin mengandung anaknya tapi itu tidak berarti sepenuhnya kau bisa memilikinya," lanjutnya, "Dia bisa bersama mu, dia juga bisa bersama ku," sambung Kiara lagi dengan penekanan pada kalimat terakhirnya. Yuna menatap tajam mata Kiara dari dalam cermin. Dia mengusap perutnya dengan pelan.
"Hahaaa, jangan terlalu terkejut sayang. Karena memang pada dasarnya dia tidak bisa meninggalkan ku. Emm ... ada yang ingin ku perlihatkan padamu," Kiara melangkah dan lebih mendekatkan dirinya. Dia sedikit menempel ke arah Yuna. Tangannya menyentuh layar ponsel dan membuka galeri miliknya. Dia memperlihatkan satu foto di galeri ponsel miliknya. Dia menempatkan layar ponsel nya tepat di depan mata Yuna. Foto yang memperlihatkan dirinya yang tengah berselimut setengah telanjang dan tergeletak jas milik Leo di atas ranjangnya. Manik mata Yuna memperhatikan foto itu, menjijikan. Batinnya. Kemudian, dia kembali mendongak dan kembali menatap Kiara dari dalam cermin. Dia tidak menoleh dan menatap wajah Kiara secara langsung, meskipun Kiara ada di sampingnya.
"Kau pikir aku percaya pada mu Kiara?" Ucap Yuna.
"Oh, itu terserah saja pada mu sayang. Lihatlah ...." dia memperhatikan foto satunya lagi yang lebi jelas. Kemudian, dia men-Zoom bagian jas milik Leo. Yuna memperhatikannya. Sangat khas dan benar, jas itu adalah milik Leo. Bagian tengah kancingnya terbuat dari platinum dan terukir inisial naman Leo. Lj.
Jantung Yuna seolah terhenti dengan paksa dan bahkan sekitarnya terasa sangat gelap. Hanya ada gambar itu dan dirinya. Tidak, Leo tidak mungkin begitu. Leo tidak mungkin memiliki hubungan lagi dengan Kiara.
Yuna menoleh ke arah Kiara dan menatapnya dengan tajam.
"Kau ingin membuatku cemburu pada mu? Kau ingin membuatku tidak percaya lagi padanya? Hah, kau salah orang Kiara," ucap Yuna. Kemudian, dia kembali berpaling dan memperhatikan Kiara dari dalam kaca.
Kiara tersenyum sinis memperhatikan Yuna. Dia telah bersiap, siap dengan apa yang akan dia lakukan pada Yuna. Jika Yuna berbalik, maka ... posisinya tidak begitu jauh dari nya. Saat Yuna berbalik, dia pasti tidak akan memperhatikan sesuatu di bawahnya. Kiara telah mempersiapkan kakinya untuk menjegal Yuna. Dia tersenyum sinis, jika Yuna tersandung oleh kakinya maka posisi jatuh Yuna adalah tengkurap, dan .... auuu, Kiara menutup mulutnya dengan tawa jahat.
Yuna benar berbalik. Dan memang benar, dia tidak memperhatikan sesuatu yang ada di bawah kakinya. Tatapannya lurus kedepan, matanya melihat ke arah pintu. Dia ingin cepat-cepat menghindari perempuan satu ini. Dia melangkah ....
Dan ....
Dia mengangkat kakinya dengan tepat. Dia bisa dengan tepat melewati kaki Kiara yang mencoba untuk menjegalnya. Kemudian, melangkah maju dengan santai.
Tadi ... sebelum Yuna membalik badan. Dari pantulan kaca, dia memperhatikan letak tepat Kiara berdiri. Dari dalam pantulan kaca juga, dia memperkirakan segala kemungkinan gerakan Kiara. Dia memperkirakan dan memikirkan segala kemungkinan-kemungkinan yang akan Kiara lakukan padanya.
Mulut Kiara terbuka, dia mlongo dan merasa tidak percaya. Bagaimana bisa Yuna dengan pandangan kedepan tetapi bisa melewati kakinya begitu saja. Dia menggeleng pelan dan semakin kesal.
"Apa Lee mengajak mu ketika dia terbang ke pulau S?!" Kiara sedikit mengeraskan suara untuk menghentikan Yuna agar menghentikan langkahnya. Benar. Yuna langsung berhenti dari langkahnya. Dia mematung. "Hh, dia tidak membawa mu bukan?" Ucap Kiara dengan senyum sinis di bibirnya. "Apa kau pernah bertanya kenapa dia tidak membawa mu? Itu karena ... dia bersama ku," lanjutnya. "Kemarilah, aku bisa menunjukkan banyak foto pada mu. Sini, Yuna. Lihatlah ... Tuan muda Lee yang memeluk ku. Dia sangat hebat di ranjang. Uuhhh ... aku selalu merindukan sentuhannya."
"Kau menjijikan Kiara," ucap Yuna. Kemudian, ia kembali melangkah dan meninggalkan Kiara. Dia menarik nafasnya dengan dalam berkali-kali. Dia berjalan menuju ke meja Leo, matanya menatap Leo dari jauh. Dia memperhatikan Leo yang tengah duduk menunggu nya. Leo bahkan langsung berdiri ketika menyadari Yuna menujunya. "Sayang, kau tidak menghianati ku bukan? Tapi ... jas itu?" Yuna perlahan sampai dan dia berhenti di depan Leo. Dia tersenyum namun sejujurnya tak ingin.
Tangan Leo mengulur dan menyentuh pipinya. "Sayang, kau baik-baik saja?" Tanyanya. Dia menyadari perubahan di wajah Yuna.
Yuna mengangguk pelan dan menyingkirkan tangan Leo dari pipi nya.
"Aku mengantuk," jawab Yuna. Lalu melangkah meninggalkan Leo.
Leo segera mengeluarkan beberapa lembar uang dan meletakkannya di atas meja. Dia segera menyusul Yuna dengan berlari. Dan segera membukakan pintu mobil untuk Yuna.
Dari balik kaca restoran, Kiara memperhatikannya. Sepasang bola matanya hanya memperhatikan Leo, dia tidak melihat Yuna. Hanya Leo. Dia rindu ... dadanya berdegup kencang melihat laki-laki yang pernah bersamanya melewati tahun-tahun yang berganti. Dia rindu ... pada laki-laki yang pernah begitu indah di hatinya. Dia benci, benci dengan dirinya sendiri yang dengan mudah di hasut oleh Papanya hingga dia menghianati Leo. Laki-laki yang dulu begitu mencintainya. "Lee ... lihatlah aku sekali lagi dan kembalilah padaku," batinnya. Mantan terindah yang sampai saat ini masih ada dalam hatinya.
Setelah menutup pintu mobil, Leo tidak langsung melajukan mobilnya. Dia memperhatikan Yuna yang terlihat memikirkan sesuatu. Keningnya berkerut dengan pandangan mata yang entah kemana.
"Sayang, bagian mana yang sakit? Apa ada yang tidak enak, beritahu aku," ujar Leo dengan perhatian. Yuna berpaling dan menatap keluar.
"Tidak ada, aku hanya mengantuk," jawabnya singkat dengan nada yang aneh di telinga Leo. Leo mengangguk mempercayainya. Dia mengambil bantal dari jok belakang dan mengangkat kepala Yuna dengan hati-hati. Ia memberi Yuna bantal dan memastikan agar Yuna nyaman selama perjalanan pulang.
"Tidurlah," ucapnya. Dia mengusap rambut Yuna penuh kasih.
Pelan, Leo melajukan mobilnya menjauh dari restoran. Dia diam sepanjang perjalanan, ia berfikir bahwa Yuna hanya sedang dalam emosi yang berubah-ubah.
Ucapan Kiara begitu menggema di telinga Yuna. Foto itu seolah terus meminta matanya untuk selalu mengingatnya. Jas milik Leo ... iya, jas itu adalah benar milik Leo. Di pulau S? Yuna menggeleng pelan. Leo tidak mungkin begitu, dia tidak mungkin mengingkari janjinya. Tapi ... kenapa jas itu bisa ada di ranjang yang sama dengan Kiara? Yuna juga bisa melihat dasi Leo dalam foto itu.
__Sesampainya di rumah, Yuna langsung bersembunyi di balik selimut. Leo tahu ... Nyonya sedang tidak baik-baik saja. Dia naik keatas ranjang dan memiringkan tubuhnya, kepalanya bertumpu pada tangan kirinya.
"Yuna," panggilnya.
"Ya," jawab Yuna dari balik selimut yang menutupi tubuhnya. Pikirannya tertuju pada foto dan ucapan Kiara beberapa jam yang lalu.
"Apa kau kesal pada ku?" Tanya Leo. Tak ada jawaban. Yuna diam tidak menjawabnya. Leo paling tidak tahan jika Yuna diam. Dia segera menarik selimut dan membukanya dengan paksa.
Yuna langsung membalik badannya dan memunggunginya.
Leo memeluknya, ia mengusap perut Yuna dengan lembut. Dia mencium pundak Yuna dengan kasih, meskipun Yuna sedikit menghindar ketika bibirnya membuat kecupan di pundaknya.
"Apa yang membuat mu kesal? Aku tidak punya mantra untuk bisa membaca hati mu, aku juga tidak punya mantra untuk bisa tahu apa yang kau pikirkan tentang ku. Jadi, bicaralah. Kau pernah bilang pada ku ... jika ada sesuatu, tanyakan. Jangan membuat hati mu terluka oleh apa yang kau pikirkan sendiri. Kau ingat itu kan?" Ujar Leo dengan lembut dan perhatian.
Yuna menarik nafasnya panjang sebelum dia membuka mulutnya untuk menanyakan apa yang baru saja dia lihat tadi, "Leo ...." panggilannya.
"Iya," jawab Leo.
"Apa ada yang kau sembunyikan dari ku?" Tanyanya.
"Tidak ada," jawab Leo cepat.
"Ada," kata Yuna.
"Aku tidak merasa menyembunyikan sesuatu dari mu," jawab Leo.
"Di pulau S, apa yang kau lakukan?" Tanya Yuna lagi.
"Bekerja," jawab Leo cepat.
"Lalu ...."
"Tidak perlu berbelit-belit. Apa yang ingin kau ketahui?" Tanya Leo dengan tidak sabar.b
"Iya," jawab Leo dengan cepat dan jujur.
Mendengar itu, Yuna langsung menangis saat itu juga. Segala dan semua yang dia pikirkan tadi seolah meledak dan begitu menyakitinya. Dia berusaha berontak dari dekapan Leo. Dia mengingat dua foto itu, telinganya seolah terus mendengar ucapan Kiara. Ucapan itu seperti meneriakinya. Begitu menggema di dalam pendengarannya.
"Hei ... sayang, apa yang kau pikirkan?" Leo mendekapnya. "Dengarkan aku dulu, ku mohon jangan menangis," ucap Leo. Dia mencoba membawa wajah Yuna untuk menatapnya tetapi Yuna menolaknya.
"Jika kau bahagia bersama dia disana? Kenapa kau kembali ke sini?"
"Dengarkan aku dulu."
"Aku melihatnya Leo," Yuna terisak-isak. Leo sangat benci ini. Dia benci ketika Yuna menangis, dia tidak ingin Yuna menangis.
"Melihat apa? Apa yang kau lihat? Bicara dengan jelas."
"Aku melihat jas mu di atas ranjang yang sama dengan Kiara," ucap Yuna setelah menahan nafasnya. Dadanya terasa sangat sesak.
Leo melepaskan pelukannya dan beranjak dari tidurnya. Dia berdiri dan mengambil tissue. Kemudian, dia kembali ke ranjang dan kembali merebahkan tubuhnya tetapi kali ini dia menempatkan dirinya di depan Yuna. Dengan perhatian, dia mengusap air mata Yuna dan membersihkan wajahnya.
"Berhenti menangis, aku akan menjelaskannya," ucap Leo.
Yuna mengangguk. Dia memenangkan hatinya. Menarik nafasnya berkali-kali.
"Leo, aku akan meninggalkan mu saat ini juga jika penjelasan mu membuat ku kecewa. Aku berjanji tidak akan pernah kembali bersama mu jika kau benar masih memiliki hubungan dengan dia," ancam Yuna. "Aku juga mengutuk mu jadi Kadal Alaska jika kau menghianati ku," lanjutnya.
"Pufffhh," Leo yang merasa buruk karena Yuna menangis menjadi tertawa karena kutukan Yuna. Gadis ini selalu lucu dalam kutukannya.
"Tutup mulut mu, kenapa kau tertawa," ucap Yuna galak.
Leo mencubit hidungnya pelan. "Baik," jawabnya.
"Cepat ceritakan!!" Yuna tidak sabaran. Dan dia sudah mengumpulkan kekuatan jika penjelasan Leo seperti yang Kiara ceritakan. Apa yang harus dia hajar lebih dulu? Hidung mancung Leo? Mata tajam yang indah itu? Bibir seksinya? Tidak, tidak. Yuna menggeleng pelan. Kemudian, berpikir lagi. Yup ... tepat, "Itunya" Leo harus merasakan sakit yang sesakit-sakitnya jika dia berhianat. Yuna mengangguk pelan dengan ide yang dia pikirkan.
Leo menahan senyumnya memperhatikan Yuna dengan segala ekspresinya. Dia mencubit hidung Yuna lagi.
"Apa yang sedang kau rencanakan?" Tanya Leo.
"Eh," Yuna menatapnya dengan terkejut. "Apa barusan aku mengigau tentang ide yang ku pikirkan?" Tanyanya. Leo menggeleng. "Buruan jelaskan dan jangan sampai kau berbohong tentang penjelasan mu," ucap Yuna.
"Iya, tentu saja. Aku tidak pernah membohongi mu," jawab Leo. Kemudian, dia mulai menceritakan kejadian itu. Kejadian pada dini hari itu di pulau S.
Yuna melotot merasa tidak percaya. Dia menggeser tubuhnya untuk lebih dekat dengan Leo.
"Kau melihat tubuhnya?" Tanyanya menatap Leo dengan merapatkan giginya. Dia bersungut-sungut.
Leo mengangguk, "Ya," jawabnya dengan jujur yang membuat Yuna langsung teriak.
"Aaaaa ... kenapa kau tidak menjaga mata mu?" Ujarnya dengan sangat kesal. Dia memukul bahu Leo berkali-kali. "Dasar kau ... laki-laki mata keranjang. Dasar kau!!" Yuna berteriak sambil terus memukul bahu Leo.
"Dengarkan aku dulu ... " Leo mencoba menahan tangan Yuna.
"Apa yang harus ku dengar kan?!"
"Penjelasan ku," jawab Leo.
"Penjelasan apa? Kau jelas mengakuinya, kau melihat tubuhnya. Aaa mata mu ... " Tangan Yuna berpindah ke mata Leo, dia mengusap Mata Leo berkali-kali.
"Dengarkan aku," pinta Leo.
"Aku rasa, aku tidak akan kuat mendengarnya," jawab Yuna dengan frustasi.
"Setelah itu ... aku pergi dan pindah hotel. Aku hanya membawa laptop ponsel dan kunci mobil yang kebetulan tersimpan di saku jaket," jelas Leo. "Aku tidak menyentuh dia sama sekali," lanjutnya.
"Tetap saja mata mu melihat tubuhnya yang hampir telanjang bulat," sahut Yuna dengan masih bersungut-sungut.
"Aku tidak menginginkan itu, dia sendiri yang ...."
"Intinya adalah kau melihat tubuhnya," ucap Yuna. Dia segera membalik badan membelakangi Leo. Mulutnya menjadi komat-kamit menggerutu tentang pertemuan itu. Kiara ... bodi Kiara pasti sangat seksi.
Tangan Leo mengulur dan memeluk pinggangnya.
"Jangan memeluk ku," tolak Yuna. Dia berusaha menyingkirkan tangan Leo dari pinggang nya. Namun dengan keras kepala, Leo tetap memeluknya. Yuna berusaha menyingkirkannya lagi tetapi tidak bisa. Dan akhirnya, dia diam membiarkan Leo memeluknya.
"Kiara sangat seksi kan?" Tanya Yuna dengan mengerucutkan bibirnya lancip dan perasaan yang cemburu.
____
Catatan Penulis ( Curhatan π₯° )
Sun manjah jempol ya kesayangannya Nanas π₯°π
Terima kasih semuanya. Luv.
Sultan poin ... gabung ke Gc yuk... sebarkan kotak cinta. Heheee ....
Like koment vote jangan lupa .... π₯°π
Klo ada typo atau kesalahan kasih tau nanas ya.