
Senja di langit Ibu Kota, tampak indah dengan semburat jingga di antara awan putih yang berkumpul.
Neva berada di ruang tengah saat sebuah mobil berhenti di depan gerbang rumahnya. Security mempersilahkan mobil itu untuk masuk kedalam.
"Nona, ada tamu untuk Non Neva," ujar asisten rumah tangga pada Neva.
Neva mengangguk dan meletakkan cemilannya di atas meja. "Terima kasih Bi," ucapnya. Kemudian, dia beranjak dan melangkah ke ruang tamu. Dia berpikir jika tamu itu adalah Lula atau teman kampusnya dulu.
"Hai," pekiknya setelah tahu siapa yang datang bertamu. "Kau ...." dia menunjuk dengan tawa kecil.
Seseorang itu berdiri lalu melakukan toss padanya.
"Apa kabar Nona?" Tanyanya.
"Baik, baik," jawab Neva. "Silahkan duduk," Neva mempersilahkan.
"Apa aku mengganggu?" Tanya seseorang itu.
"Tidak, aku lagi santai," jawab Neva. "Bagaimana kabar mu Raizel?"
"Aku, masih seperti biasa. Aku sibuk dan belum bisa jalan-jalan dengan normal," jawab Raizel. "Oh, ayo kita jalan bareng," sambung Raizel.
Neva menaikkan alisnya untuk berfikir. Apakah tidak apa-apa jika dia pergi dengan Raizel?
"Hari ini ulang tahun ku," ucap Raizel. Dia berharap Neva mau menemaninya. Neva mengangguk. Iya, dia tahu jika hari ini adalah hari ulang tahun Raizel. Seluruh stasiun televisi menyiarkannya sedari pagi hingga petang ini.
"Ok," pada akhirnya Neva mengangguk. Rasanya tidak baik jika dia menolak ajakan ini. Dulu, dia sudah berjanji pada Raizel untuk selalu berteman dengan baik. Dia akan menceritakan ini pada Vano nanti. "Aku ganti baju dulu."
"Tidak perlu," Raizel segera menyahutnya. "Kau sudah sangat cantik. Ayo."
"T - t- tapi ...." Neva tiba-tiba menjadi gagap.
"Tidak perlu," ucap Raizel lagi dan dia langsung berdiri. Tangannya mengulur dan mengambil tangan Neva. "Ayo," ajaknya. Neva berdiri dan menarik tangannya dari genggaman tangan Raizel. Biar bagaimanapun ia sudah menyerahkan hatinya pada Vano, ia sudah memilih Vano sebagai kekasihnya, itu artinya ia harus mengurangi interaksi dengan lawan jenis.
Raizel tersenyum kecewa dengan penolakan itu. "Emm kau mau pamit dulu pada Tante?"
"Mama sedang tidak ada dirumah," jawab Neva. Raizel mengangguk.
Kemudian, mereka berdua naik ke dalam mobil. Raizel mengendarai mobilnya dengan pelan.
"Selamat ulang tahun Raizel," ucap Neva. Dia menoleh kearah Raizel.
"Terima kasih kawan," jawab Raizel. Dia menoleh ke arah Neva sebentar lalu ia kembali memperhatikan jalan.
"Aku mengirim pesan ucapan pada mu tapi cuma centang satu," sahut Neva.
Raizel mengangguk, "Dari semalam aku menonaktifkan ponselku," jawabnya.
"Maaf aku tidak menyiapkan kado untuk mu," ucap Neva.
"Kau kawan yang payah dan pelit. Harusnya kau menyiapkan kado untuk ku," Raizel memprotesnya. Dia sedikit memanyunkan bibirnya saat mengatakan itu.
"Haha, kau mau apa?" Neva menawarinya. Tentu, dia pasti akan membelikan kado untuk Raizel.
"Hati mu," jawab Raizel cepat. Jawaban itu langsung menarik senyum dibibir Neva. Dia berpaling dan memperhatikan jalanan di depan.
"Raizel," panggilnya pelan.
"Hmmm."
"Aku, aku dan Kak Vano sudah jadian," ucap Neva pelan tetapi jelas.
"Oh," Raizel menanggapinya dengan datar, "Selamat untuk kalian berdua," lanjutnya.
Neva mengangguk, "Terima kasih," jawabnya. Hening, tak ada lagi sahutan suara mereka berdua. Hingga Raizel memarkirkan mobilnya di depan cafe ice cream favorit Neva.
"Kita kesini?" Tanya Neva. Dia menoleh ke arah Raizel.
"Yup," jawab Raizel dengan anggukan. "Aku akan mentraktir mu ice cream," ujarnya.
"Hei, harusnya aku yang mentraktir mu sebagai ucapan maaf karena tidak menyiapkan kado untuk mu," ucap Neva, tapi sesat kemudian ia menyadari bahwa dia tidak mungkin mentraktir Raizel apapun. "Hahaa, memang seharusnya kau yang mentraktirku," katanya dengan tawa malu. Dia baru ingat jika dia tidak membawa apapun, tas, dompet dan bahkan ponselnya.
"Bentar, aku pakai ini dulu," ucap Raizel sambil mencoba memakai gigi palsu dan softlensnya. Lalu kaca mata tebal.
"Selesai," ucap Neva dengan senyum puas. Rambut Raizel menjadi kedepan dan berponi. Gaya ini membuat Raizel menjadi laki-laki culun.
"Apa aku tampan Nona?" Tanya Raizel dengan gaya bicara cadel dan lucu. Neva tertawa mendengar itu.
"Sangat buruk, kau ... kau sangat buruk rupa," jawab Neva membully-nya dengan tawa.
"Jaka kendil atau lutung kasarung? Mana yang lebih cocok?" Raizel bertanya dengan ekspresi yang culun. Dia adalah artis peran jadi dia sangat menguasai segala macam ekspresi diwajahnya. Neva semakin tertawa.
"Kau lebih buruk dari keduanya," jawab Neva.
"Baiklah, aku adalah pangeran buruk rupa," ujar Raizel sambil menaikkan sedikit poninya. "Ayo," ajaknya. Dia membuka pintu mobil. "Pangeran buruk rupa dan Tuan putri cantik," ujar Raizel dan menggandeng tangan Neva. Kemudian, mereka berdua berjalan bersama dan masuk ke dalam. Neva memilih tempat duduk yang paling pinggir, itu karena dia takut jika ada yang masih bisa mengenali wajah Raizel.
Mereka berdua duduk berhadapan. Ada cake ulang tahun di meja mereka. Neva yang memesannya diam-diam. Ia memberikan jam tangan miliknya sebagai bayaran.
"Selamat ulang tahun, selamat ulang tahun, selamat ulang tahun Raizel, semoga panjang umur," Neva dengan merdu tetapi pelan menyanyikan lagu ulang tahun untuk Raizel. Dia sedikit bersyukur karena jam tangan itu ada bersamanya, jadi paling tidak, ia bisa memberikan sesuatu untuk Raizel. "Yeyyyy ...." dia bertepuk tangan dengan riang. Raizel menatapnya dengan penuh senyum sedari tadi.
"Buatlah permintaan," ujar Neva sebelum mengizinkan Raizel meniup lilin. Raizel mengangguk, ia langsung menunduk dan memejamkan matanya.
Neva memperhatikannya, memperhatikan Raizel yang menunduk di hadapan.
Selesai.
"Sudah," ujar Raizel. Dia kembali mengangkat wajahnya dan menatap Neva.
"Okey, tiuplah," Neva melihat cake dan lilin lilin kecil yang ada di atas cake.
"Kau juga boleh membuat permintaan," kata Raizel. Neva menatapnya.
"Ini ulang tahun mu," jawab Neva.
Raizel mengangguk, "Buatlah permintaan untuk ku," katanya. Neva tersenyum mendengar itu.
"Aku berdoa kepada Tuhan, semoga Raizel selalu sehat, panjang umur, sukses dan kita tetap menjadi teman yang baik," ucap Neva. Raizel tersenyum tipis mendengar doa Neva. Kalimat terakhir Neva adalah berkebalikan dengan apa yang ia panjatkan.
"Nah, tiup lilinnya," ujar Neva. Raizel mengangguk dan dengan pelan ia meniup lilin-lilin kecil itu.
____
Di waktu yang sama di tempat yang berbeda.
"Aku baru turun dari pesawat," ujar seseorang dari sambungan teleponnya. Dia sedang melakukan panggilan telepon pada Vano.
"Aku tunggu di ...." belum sempat Vano menyelesaikan kalimatnya, matanya melihat sosok yang ia kenal. Tangannya terangkat dan melambai. Tak lama, seseorang itu melihat lambaian tangannya.
"Aku kesana," ucapnya dan langsung memutus panggilan. Ia melangkah pasti dengan menggendong tas kecil dipundaknya. Senyumnya merekah, bak mawar-mawar yang mekar. "Apa aku membuat mu menunggu?" Tanyanya setelah sampai di depan Vano.
"Aku juga baru tiba," jawab Vano. Mereka berdua janjian bertemu di bandara. Bukan janjian sebenarnya tetapi ada sedikit momen yang kebetulan. Kemarin mereka melakukan chat dan ternyata jam kedatangan pesawat mereka tidak berbeda jauh. "Berapa hari kau di Ibu Kota Arnis?" Tanya Vano.
"Hanya dua hari," jawab Arnis. Dia ada keperluan bisnis dua hari di Ibu Kota.
"Mobilmu sudah datang?" Tanya Arnis.
"Sudah," jawab Vano. Vano meminta kunci mobil pada supirnya lalu ia dan Arnis, meninggalkan bandara bersama.
"Kau sudah memesan hotel?" Tanya Vano.
Arnis menggangguk, "Sudah," jawabnya. Kemudian dia memberi tahu dihotel mana dia akan menginap.
"Kita mampir sebentar oke," ujar Vano.
"Kemana?" Tanya Arnis.
"Beli sesuatu," jawab Vano. "Untuk pacarku," sambungnya segera. "Dia suka ice cream."
____
Catatan Penulis
Terima kasih untuk semuanya yang masih setia menunggu kisah ini π₯° Padamu kesayangan π₯°π
Jan lupa like komen ya kesayangannya Nanas π₯° Yang ada poin Vote juga... ππ Luv luv π₯°ππ Terima kasih Sahabat Sebenarnya Cinta πΉ Padamu π₯°