
Sebelum fajar menyingsing, Leo keluar dari kantor. Dia mengendarai mobilnya di jalanan yang masih sedikit lenggang, ia membuka kaca mobilnya separo, membiarkan kesejukan angin pagi menyapanya, membiarkan kesejukan udara pagi mengisi paru-parunya yang terasa sangat sesak.
Dia sudah seperti zombi saat ini, dia tidak makan dan bahkan tidak tidur sama sekali. Wajah tampannya kehilangan warna, wajah tampannya sangat layu, yang ada hanyalah semburat luka dan penyesalan yang mendalam di wajah dan hatinya.
Dia menepi diatas jembatan. Kemudian keluar dari mobil dan berdiri di pinggir jembatan. Matanya melihat keatas langit yang perlahan sedikit terang...
"Yuna... kau menunggu ku bukan? Kau harus menunggu ku, tidak boleh tidak menunggu ku. Aku akan menebus semua kesalahan ku, bagaimanapun caranya. Aku akan membawa mu kembali pada ku. Yuna... ku harap aku mampu membuat mu kembali dan tidak pergi dari ku. Aku akan segera menyusul mu sayang..." Leo masih terus menatap keatas, menyaksikan mentari yang perlahan muncul dan membawa cahaya pada semesta.
Leo hampir tidak punya emosi selain kesedihan namun ada satu yang masih bersinar dalam hatinya dan itu yang membuatnya merasakan sesak yang teramat dalam dadanya, itu yang membuatnya merasakan sakit dalam penyesalan. Setiap tarikan nafasnya adalah gending pilu penyesalan yang mendalam, setiap tarikan nafas adalah alunan rindu untuk yang jauh disana, setiap tarikan nafas adalah cinta untuk kekasih.
"Sayang... aku akan datang pada mu dan aku akan membawa mu kembali pada ku."
_Masih dipagi yang sama.
Mereka bertemu di sebuah keadai teh dipagi buta. Dua Tuan muda yang saat ini meluangkan waktu dipagi harinya yang sibuk hanya untuk seorang gadis. Gadis yang sangat penting dalam hati mereka.
"Berapa lama kau dekat dengannya?" Leo yang memulai. Dia bertanya langsung pada intinya, matanya menatap Vano dengan tajam.
Vano masih menunduk menyeruput teh khas jepang. Setelah menikmati beberapa tegukan, dia baru mengangkat wajahnya dan membalas tatapan mata Leo.
"Sejak kau menyakitinya," jawab Vano datar. "Siang itu, dia datang pada ku, membawa kotak makan dengan makanan yang sudah tidak hangat lagi. Aku bisa menebaknya jika dia terlalu lama menunggu," Vano melanjutkan.
Leo dengan cepat mencerna ucapan Vano. Dia ingat bahwa itu adalah siang pertama ketika dia bertemu dengan Kiara dan dia menolak apa yang di bawa Yuna untuknya. Dia ingat.
"Lanjutkan," ucap Leo.
"Apa yang harus aku lanjutkan? Kisah percintaan kami? Hahaaa aku takut kau akan cemburu mendengarnya," ucap Vano dengan nada profokasi.
"Kau tahu dia adalah wanita yang sudah menikah, kenapa masih mendekatinya?"
"Apakah suaminya membuatnya bahagia? Jika dia bahagia bersama suaminya, dia tidak mungkin datang pada ku. Seharusnya kau berterima kasih pada ku Tuan muda Leo, aku bisa membuat wanita mu bahagia bersama ku. Aku akan menikahinya setelah kau menceraikannya...,"
"Tutup mulut mu...," Leo langsung melayangkan tinjunya ke wajah Vano. Tidak mau kalah, Vano langsung membalasnya, tepat di wajah Leo. Beberapa orang langsung melihat ke arah mereka.
"Jika kau tidak mampu membuatnya bahagia, bagaimana jika kau memberikannya saja pada ku," Vano masih memprofokasinya.
"Breksek..." Leo kembali melayangkan tinjunya lagi.
"Aku akan mengambilnya dari mu Leo" Bug... Vano membalasnya.
Leo kemudian meninggalkan Vano, ia menyeka darah yang menetes dari ujung bibirnya dan berjalan ke meja kasir. Dia memberikan segepok uang dan meminta rekaman cctv mereka. Sementara Vano melihat pengunjung lain dengan pandangan membunuh.
"Jika ada salah satu di antara kalian yang berani mengambil gambar, kemudian menyebarkannya, maka bersiaplah untuk ke neraka," ancamnya.
Mereka adalah dua Tuan muda dari keluarga yang berlatar belakang hebat. Nama baik mereka adalah segala-galanya.
_Di jalanan padat pagi hari Ibu kota. Masih di pagi yang sama. Vano mengendarai mobilnya dan mencoba menerobos padatnya lalu lintas. Sesekali dia memegang ujung bibirnya yang terasa sakit karena pukulan Leo.
Dan tiba-tiba, ketika dia berhenti tepat di lampu merah, sebuah mobil menyeruduk mobilnya dari belakang. Dentumannya sangat keras. Vano sedang dalam keadaan hati yang buruk saat ini, jadi dengan ini... dia akan melampiaskan semua amarahnya.
Vano segera keluar dari mobilnya, begitu juga seseorang yang menabraknya.
Seseorang itu langsung menampakkan wajah terkejut, ia tidak tahu jika yang dia tabrak adalah mobil Tuan muda dari keluarga Mahaeswara. Dia tahu... keluarga ini hanya mempunyai putra tunggal. De Vano Mahaeswara. Seseorang itu segera menunduk dan membungkukkan badannya.
"Mohon maaf Tuan muda Vano... aku sungguh tidak sengaja, aku akan mengganti biaya perbaikan mobil mu," ucapnya pelan sambil melirik bagian belakang mobil Vano yang penyok.
Mengetahui yang menyeruduk mobilnya adalah seorang gadis kecil membuat Vano kembali menelan amarahnya, hatinya melunak. Apalagi dia melihat bahwa kening gadis kecil ini terluka dan berdarah. Dia melangkah dan berdiri tepat di depan gadis kecil itu.
"Itu bukan masalah. Apa kau baik-baik saja, kening mu berdarah."
"Tidak apa-apa Tuan muda...," ucapnya sambil menyentuh keningnya, perih. Dia sendiri tidak sadar jika keningnya terluka. "Sekali lagi aku minta maaf." lanjutnya. Dia berkata dengan sopan dan menunduk. Tabrakan pagi ini membuat kemacetan parah.
"Kita obati dulu luka mu," Vano kemudian membawanya ke klinik terdekat. Dia membiarkan mobilnya dijalan dan mengubungi asistennya untuk mengurus semuanya.
Setelah dari klinik, mereka duduk di restoran cepat saji yang buka 24 jam. Vano membelikannya minum, karena gadis kecil ini terlihat pucat dan masih shock.
"Tuan muda Vano... terima kasih untuk semuanya. Aku akan menggantinya," ucapnya pelan.
Vano memperhatikan gadis kecil di depannya dengan seksama. Dari awal bertemu, dia sudah tahu nama Vano dan bahkan langsung memanggilnya Tuan muda dengan terus menerus. Vano menyilangkan kakinya dengan anggun, dia masih memperhatikan gadis kecil ini. Gadis kecil ini... bukan seperti dari keluarga biasa, memang... penampilannya sederhana, namun semua yang dia pakai adalah brand yang tidak bisa dibeli oleh orang-orang biasa. Wajahnya seperti familiar di mata Vano, wajah cantiknya terlihat mirip seseorang.
"Apa kau mengenal ku??" Vano bertanya. Awalnya dia mengira bahwa gadis ini adalah salah satu dari sosialita yang menjadi penggemarnya. Namun, Vano harus berpikir ulang dengan pikirannya itu, sepertinya gadis kecil ini bukan salah satu penggemarnya.
Mendapat pertanyaan itu, sang gadis kecil mengangguk pelan.
"Siapa nama mu?" Vano bertanya dengan terus menatap gadis kecil di depannya yang terus menunduk.