
Hari menjelang senja.
Pengunjung cafe bertambah ramai. Maklumlah malam ini adalah malam pergantian tahun.
Ada yang datang berpasangan ataupun dengan teman-teman mereka. Hanya beberapa saja yang datang bersama keluarga sekedar menikmati malam sebelum tahun berganti.
Sebenarnya Tiara ingin meminta ijin pulang lebih awal namun setelah dipikir-pikir lagi, sama saja. Toh tidak ada lagi yang istimewa, tak ada lagi yang meminta waktu luangnya.
Dan akhirnya ia memutuskan untuk menunggu waktu pulang seperti biasa nya.
Denting waktu berlalu tanpa terasa hingga akhirnya pukul sepuluh malam.
Ia sedang mengemasi barang-barang bawaannya saat sebuah pesan dari Rey tertulis di handphonenya.
" Gue lagi nungguin lo di depan ".
Duh nih anak nekat banget sih. gumamnya pelan.
Teringat obrolannya dengan Hesti kemarin siang.
" Rey terobsesi banget sama kamu Ra'. Kamu tahu nggak ? " tanya Hesti mulai menyelidiki isi hati sahabatnya.
Tiara menggeleng.
" Yang aku tahu setiap kami bertemu, sepertinya ia menyukaiku tapi sejauh mana perasaannya sampai pantas dikatakan terobsesi jujur aku nggak tahu itu ".
" Sebenarnya mamanya ingin dia segera melanjutkan kuliahnya tapi ia menolak dengan segala macam alasan. Dan kamu tahu Ra' alasan dia sebenarnya tuh karena dia hanya ingin menghirup udara yang sama dengan kamu. Gila ya ? hahaha ". Hesti terkekeh mengingat kelakuan sepupunya itu.
" Really?" Tiara membelalak tak percaya Rey sampai segitunya.
" Sayangnya kamu nggak menyukainya kan ?".
" Maaf Hes tapi aku belum bisa ngelupain kak Zian, kamu ngerti kan ? semarah apapun
aku ".
" Sekarang kamu dengerin ceritaku biar kamu bisa memutuskan pilihan yang terbaik nantinya. Aku nggak mau kalian bertiga terluka karena ego masing-masing ".
Hesti kemudian menceritakan semua tentang Zian tanpa terlewatkan sedikitpun.
" Sekarang kamu sudah tahu semuanya kan? rasanya nggak adil kalau kamu nggak bisa nerima kak Zian lagi karena dia sama terlukanya saat itu dan bahkan sekarang karena harus menerima kebencian kamu Ra. Dan kalau kamu nolak Rey aku seneng banget karena itu satu-satunya cara agar dia mau lanjutin kuliah lagi ".
Tiara mengangguk mengerti serta merta memeluk sahabatnya itu.
" Sama-sama Ra' aku hanya ingin yang terbaik untuk kamu, Rey dan kak Zian ".
\*\*\*
Tiara tersenyum melihat Rey yang mendekat menyambutnya.
" Ke jalan reklamasi yuk, di sana juga ada Hesti dan lainnya !" ujar Rey sambil menyerahkan helm di tangannya.
" Boleh ". Tiara menyambutnya dengan santainya.
Motor Rey melaju agak kencang meninggalkan debu tipis beterbangan di belakang.
Beberapa menit kemudian tibalah mereka di tempat yang dituju.
Jalan reklamasi sangat ramai. Dipenuhi oleh hampir separuh penghuni kota.
" Hey kalian udah datang rupanya!" sambut Dhilla yang baru bertemu langsung dengan Tiara. Keduanya berpelukan erat.
" Apa kabar Ra ?"
" Baik, duh tambah cantik aja nih anak kuliahan". goda Tiara.
" Hehehe, biasa aja Ra susah glowingnya ".
" Yuk duduk Ra !" ujar Wisnu yang tadi duduk di sebelahnya Dhilla. Rio hanya tersenyum melihat Tiara.
Diam-diam ia mengumpat Zian yang lambat bergerak.
Dasar bodoh ! urusan cewek aja susah banget .
Mereka asik menceritakan segala hal namun anehnya Tiara merasa seperti kesepian di tengah berisiknya tempat itu.
" Kenapa Ra ? ada yang ketinggalan?" tanya Rio seolah tak tahu apa yang Tiara rasakan.
Tiara menggeleng cepat.
" Nggak apa-apa kok, santai aja ". ucapnya berusaha tersenyum padahal tadi ia berharap ada Zian di antara mereka.
Kak Zian di mana sih ? teriak hatinya perih.
\*\*\*\*\*