Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Part 24. Tamparan Papa


Setelah mamanya selesai memasak, Tiara pun tak sabar untuk segera menikmati masakan kesukaannya. Dan menurutnya, masakan mamanya yang terenak sejagat raya ini hehehe.


" Mama nggak makan?" tanya Tiara sambil menyendok sayur dan memasukkannya ke dalam piringnya.


" Nanti aja bareng papa. Kamu makan yang banyak ya".


" Iya ma". Tiara pun makan dengan lahapnya.


Menurutnya apapun yang dimasak mamanya pasti rasanya enak.


Selesai makan Tiara dan mamanya duduk di bangku yang ada di bawah pohon jambu air.


Angin sepoi yang bertiup membelai kelopak mata membuatnya merasakan kantuk.


Uhuk Uhuk uhuk


Suara batuk mamanya membuat matanya melek kembali.


" Mama kalau capek istirahat aja dulu". ujarnya khawatir.


" Ah, nggak apa-apa ".


Hem . .


Waktu terus bergulir, ibu dan anak itu kembali terdiam dengan pikiran masing-masing.


Tiara sibuk dengan pikirannya sendiri.


Di depanku mama terlihat baik-baik saja.


Seperti nggak pernah terjadi hal buruk dengannya.


Ah, mama andai Ara bisa mengambil semua luka di hati mama, pasti bakal Ara ambil semuanya ma. Sebenarnya Ara ngerti dengan perasaan papa saat ini. Nggak punya pekerjaan membuat papa depresi. Merasa nggak berarti sama sekali. Hingga menjadikan mama tempat pelampiasan semua sesak di hatinya. Tapi kan nggak gitu juga caranya. Kasihan mama yang sudah banyak menderita dengan semua perlakuan papa.


Sampai akhirnya . . .


" Papa udah pulang tuh". suara mama setengah berbisik membuyarkan lamunan Tiara.


Tiara memandang sosok papanya yang mulai mendekati tempat duduk mereka.


Sosok itu terlihat mulai menua dimakan usia dan berbagai macam kesulitan hidup.


Tapi sekarang . . .


Sosok itu sudah berubah total tak sehangat dulu.


" Assalamualaikum ". ucap papanya dan berlalu masuk ke dalam rumah setelah meliriknya sekilas.


Tiara sendiri masih berdiri terpaku di tempatnya.


Tiara hendak masuk ke dalam rumah untuk berpamitan.


Namun langkah kakinya terhenti saat mendengar suara gaduh dari dalam rumah. Bentakan-bentakan papa diiringi suara tangis mamanya yang mencoba membela diri.


Deg.


Jantung Tiara terasa menegang. Pikirannya terlanjur jauh membayangkan apa yang sedang terjadi di dalam sana. Iapun segera bergegas masuk.


Dan benar saja


Nampak benda-benda pecah berhamburan di lantai akibat perbuatan papanya.


Di sudut lain nampak mamanya berderai air mata memegangi pipinya yang seperti habis ditampar. Melihat semua itu darah Tiara seketika mendidih.


" Pa ! Cukup ! Kenapa memukul mama lagi? papa sudah gila ya?!" Mama salah apa ?!!!"


Tiara berteriak sekencang kencangnya.


Papa yang lagi emosi balik membentaknya.


" Kamu diam saja anak kecil !!"


" Ara nggak mau tahu pa ! Pokoknya mulai hari ini papa jangan pernah lagi mukulin mama!!!" teriak Tiara dengan penuh emosi.


Papanya sudah kalap rupanya. Dengan sigap mendekati Tiara dan mengayunkan tangan dengan kerasnya ke arah Tiara.


Plak.


" Kamu anak kecil nggak usah ikut campur urusan orang tua !" bentak papanya setelah menghadiahkan sebuah tamparan keras di pipi kanan Tiara.


Melihat itu mamanya kembali menangis dengan keras meminta papanya berhenti memukul Tiara.


Di antara suara tangis mamanya, seketika Tiara merasakan panas yang menjalar di pipinya. Terlebih hatinya. Terasa sakit membuat kemarahannya memuncak. Air mata mulai menetes dari kedua matanya.


" Papa jahat !! Ara benci papa !!!" teriaknya seraya berlari keluar dari rumah itu.


" Ara !" teriak mamanya.


Namun Tiara sudah pergi, berlari menjauh.


\*\*\*\*\*