Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Bab 249_Ice Cream


Di malam yang sama di Ibu Kota.


Dua insan duduk berhadapan di cafe ice cream.


Cafe ice cream yang paling terkenal di Ibu kota. Cuaca malam hari ini sangat cerah, dengan sinar bulan dan bintang diatas sana. Mereka duduk disalah satu tempat duduk out door.


"Hmmm, ini lezat," Neva mengangguk pelan menikmati lelehan ice cream dalam mulutnya. Tidak ada kata bosan dengan makanan satu ini. Saat ini, ia memilih ice cream rasa cemedak. Cemedak? Iya, cemedak itu buah yang hampir mirip dengan nangka tetapi bertekstur lembut seperti durian. "Ini lebih manis," komentarnya lagi. Dia menyendok lagi, dan memberikannya pada Vano. Vano membuka mulutnya untuk menerima suapan dari tangan Neva.


"Hmm," Vano mengangguk. Kemudian, Neva menyuap untuk dirinya sendiri.


"Hmm," dia kembali merasakan manisnya ice cream dalam mulutnya. "Manis bukan?" tanyanya pada Vano.


Vano menggeleng, "Tidak," jawabnya. Neva menatapnya, hanya menatapnya karena didalam mulutnya masih ada ice cream. Dia ingin bilang, 'Yang benar saja, ini sangat manis,' tapi itu tertahan dalam hatinya karena sebelum kalimat itu terucap, tangan Vano mengulur, ibu jarinya mengusap dengan sangat lembut di bibir Neva. Kemudian, dia membawa ibu jari itu menuju mulutnya, membersihkan ice cream rasa cemedak yang menempel pada ibu jarinya.


"Ini baru manis," ucapnya dengan menatap lekat kearah Neva. Neva membeku beberapa saat dengan mata yang tidak mampu berkedip. Astaga ... apa itu tadi. Batinnya dalam hati.


Setelah tersadar, dia segera mengalihkan pandangannya dengan senyum tertahan.


"Aigo .... " gumamnya. Pipinya bersemu merah dengan gigi yang ia rapatkan agar senyumnya tidak ketara. Sentuhan jari di bibirnya masih terasa, lalu kecupan Vano pada ibu jarinya sendiri. Ciuman tidak langsung. Lagi. Sangat manis, tentu saja.


Vano menyendok ice cream miliknya, lalu memberikannya pada Neva. Dengan malu-malu, Neva membuka mulutnya dan menerima suapan itu. Rasa dan lumernya ice cream tidak lagi dia rasakan, yang ada hanya degupan jantung yang menderu.


"Manis?" Tanya Vano. Dia masih menatap lekat kearah Neva.


Neva menggeleng, "Tidak," Jawabanya. Entah kemana rasa manis yang ia rasakan pada ice cream tadi. Saat ini, semuanya terasa hambar. Saat ini, yang paling manis adalah sentuhan mu.


Alunan lagu dari penyanyi cafe terdengar ditelinga mereka, menemani kebersamaan yang baru saja dimulai. Sepasang kekasih itu saling menatap meski terkadang berpaling karena malu.


"Tunggu disini," kata Vano menepuk punggung telapak tangan Neva pelan. Kemudian, dia beranjak dari duduknya dan melangkah menuju panggung kecil tempat dimana seorang penyanyi cafe telah menyelesaikan lagunya.


Neva diam dengan mengerutkan keningnya melihat ke arah Vano. Vano yang saat ini sudah duduk dan memegang gitar ditangannya. Dia membenarkan letak mike lalu dengan lembut menatap ke arah Neva.


"Emm, aku ingin menyanyikan sebuah lagu untuk seorang gadis yang sangat cantik," ucap Vano dimikerofoun, suaranya terdengar di seluruh penjuru cafe. Beberapa pengunjung langsung bertepuk tangan untuknya. Neva mengigit bibirnya dengan senyum, "Gadis yang saat ini mengisi hati ku. Bukan, bukan hanya saat ini tetapi untuk selamanya," lanjutnya. Pandangan matanya masih lurus menatap seorang gadis yang ia maksud. Neva semakin tersipu, dia mengangkat kedua telapak tangannya dan meletakkannya di mulut. Ia menutup mulutnya karena senyum merona yang tidak bisa ia tahan.


Dengan senyum, Vano sedikit mengangkat tangannya dan menunjuk Neva, "Itu dia, gadis cantik kekasihku," ujar Vano. Semua mata langsung menoleh ke arah Neva. Dan suara tepuk tangan begitu bergemuruh.


"Astaga," Neva segera menunduk menyembunyikan wajahnya. Perlahan, jari Vano mulai memetik gitar, memainkan nada-nada lagu yang akan ia bawakan. Dengan suara yang merdu, ia mulai membawakan sebuah lagu untuk Neva.


"*Saat ku tenggelam dalam sendu


Waktupun enggan untuk berlalu


Ku berjanji tuk menutup pintu hatiku


Entah untuk siapapun itu


 Semakin ku lihat masa lalu


Semakin hatiku tak menentu


Tetapi satu sinar terangi jiwaku


Saat ku melihat senyummu


 Dan kau hadir merubah segalanya


Menjadi lebih indah


Membuatku merasa sempurna


Dan membuatku utuh tuk menjalani hidup


Berdua denganmu selama-lamanya


Kaulah yang terbaik untukku*."


Neva menatapnya dengan pandangan yang indah, hatinya berbunga, merekah dengan begitu indah Dia tidak lagi memperdulikan orang-orang yang menatapnya. Pandangan matanya hanya memperhatikan seseorang yang duduk disana dengan gitar ditangan dan sebuah lagu yang mengalun merdu dari bibirnya.


Vano mengakhiri lagunya dengan epik dan petikan gitar yang mengesankan. Suara tepuk tangan kembali bergemuruh. Vano tersenyum kearah Neva dan kembali menghampirinya.


"Gadis, apa kau suka?" Tanyanya. Ia kembali duduk di kursi didepan Neva.


"Sangat suka," jawab Neva dengan mengacungkan kedua jempolnya. "Terima kasih untuk lagu yang indah itu," ucapnya pada Vano.


Setelah dari cafe ice cream itu. Pada pukul 20.00 Vano mengantar Neva kembali pulang.


"Apa Om Nugraha ada di rumah saat ini?" Tanya Vano. Mobilnya melaju sedang memasuki kawasan rumah besar keluarga Nugraha.


Neva mengangguk, "Huum, iya. Papa sudah ada di rumah," jawab Neva. Kini Vano yang mengangguk.


"Kak Vano ingin bertemu Papa?" Tanya Neva.


"Ya," jawab Vano. Dia menoleh ke arah Neva sebentar. "Putrinya menjadi kekasih ku, tentu aku harus meminta restu," lanjut Vano. Kini Neva yang mengangguk.


Tak lama, mobil Vano kedalam halaman rumah besar keluarga Nugraha, mobilnya dengan mudah melewati pagar tinggi itu. Tentu saja, itu karena didalamnya ada Nona muda.


Vano membuka sabuk pengamannya. Dia menoleh dan menatap Neva sebelum keluar.


"Sayang," panggilannya.


"Hmm," Neva membalas tatapan matanya.


"Kau siap?" Tanya Vano. Neva terkekeh.


"Tentu, ini tidak se-nervous ketika aku harus bertemu dengan orang tua Kak Vano," jawab Neva. "Hei, jangan-jangan ... " Neva semakin menatap Vano, "Kau grogi saat ini, tuan muda," lanjutnya dengan senyum meledek.


Vano terkekeh dan mencubit hidungnya pelan, "Mana ada," Jawabanya.


Neva tersenyum, lalu tangannya terangkat dan mengusap pipi Vano dengan halus, "Semangat sayang," ucapnya.


___


Catatan Penulis ( Curhatan 🥰 )


Eaaa, Eaaa ....siapa yang senyum-senyum sendiri hayooo... 🥰🤭


Jangan lupa sun jempolnya ya cinta.


Aku padamu Sahabat Sebenarnya Cinta 🌹 Luv luv 🥰 muach.


*Lebih Indah_Adera