
Tiara #
Pukul enam pagi.
Ting.
SMS masuk berbunyi di handphoneku
Ternyata SMS dari kak Ilham.
Jam tujuh aku jemput.
Nggak usah kak.
Aku tunggu di depan.
Oke.
Sebenarnya kalau mau jujur, aku seneng banget bisa deket lagi dengan kak Ilham. Tapi kadang aku ngerasa seperti perempuan jahat di luaran sana yang suka ngerusak hubungan orang.
Walaupun menurutnya pertunangan itu hanyalah paksaan semata. Namun segumpal rasa bersalah yang kerap muncul nggak bisa ditepis begitu saja.
Aku nggak bisa terus-terusan berlindung di balik kata cinta demi suatu pembenaran semata.
Dan entah kenapa hati ini begitu egois hingga dengan lancang ngelakuin itu semua.
Jam tujuh aku pamit berangkat ke sekolah.
Di depan jalan sana, kak Ilham sudah menunggu dengan motor kesayangannya. Senyumnya terpampang jelas di wajah tampannya.
Tak bisa dipungkiri lagi, rasa di hati ini semakin membuncah melihatnya. Senyum itu bagaikan magnet yang mampu menarik langkah kakiku agar selalu mendekat ke arahnya.
Sapaan hangatnya pun meluncur dari bibirnya saat aku berhadapan dengannya.
" Pagi Ra, yok berangkat".
Aku hanya bisa mengangguk mengiyakan.
Duduk di belakangnya dengan hati yang hampir meledak saking seneng bercampur gugup.
Ah, seperti inikah rasanya jatuh cinta?
Dan logikaku hanya bisa pasrah ngikutin kata hati.
Sepanjang perjalanan kami hanya diam.
Sampai akhirnya tiba di halaman sekolah. Beberapa siswa sesekali melirik ke arah kami. Tunggu saja, bentar lagi pasti bakal beredar gosip di sekolah. Aku lihat kak Ilham juga cuek bebek aja tuh.
Kak Ilham nganterin aku sampai ke depan kelas.
" Ya udah Ra' aku ke kelas dulu yaa". pamitnya seraya berlalu dari depanku.
Hanya anggukan kepala yang mewakili mulutku.
Detik demi detik berlalu. Kelas pun mulai ramai.
" Hei Ra' . . tumben rajin banget ". celetuk Hesti yang jalan beriringan dengan Dhilla.
" Hehe kak Ilham tuh jemput nya kepagian banget ". jawab Tiara terkekeh.
" Cieee cieee udah mulai aktif ya bun ". goda Dhilla membuat Tiara tersipu.
" Hus nggak usah keras-keras ngomongnya". Aku membulatkan mataku ke arah Dhilla. "Oke".
Seneng banget punya sahabat seperti mereka. Yang selalu perhatian dengan semua keadaanku. Walaupun serba kekurangan tapi mereka nggak pernah memandang hal itu.
Hati mereka tulus mau bersahabat dengan aku yang gembel ini.
Di depan, guru bahasa Inggris memulai pembelajaran. Pelajaran yang begitu aku sukai.
Hingga mampu menyita semua perhatianku.
Waktu istirahat pun tiba. Aku diajakin kedua sahabatku ke kantin untuk mengisi kembali nutrisi yang hilang tadi saat belajar. hehehe.
Di kantin.
Sudah jadi kebiasaan kami, sambil makan ya sambil ngobrol juga. Sesekali melirik keadaan di kantin siapa tahu ada pemandangan yang bagus di sana.
Saat sedang makan, banyak kakak kelas yang datang. Mereka duduk di meja yang agak berjauhan dengan tempat kami. Rombongan mereka heboh banget maklumlah mungkin karena senior jadi merasa bisa berbuat seenaknya.
Di antara suara-suara berisik itu aku denger suara Nayla dan kak Ilham.
" Ilham sayang, makan yang banyak ya sayang biar nggak kelaparan di dalam kelas ". suara Nayla begitu jelas terdengar di kupingku yang mendadak panas.
Suara centil Nayla membuat teman-teman mereka yang lain ikutan meledek Ilham.
" Cieee cieee perhatian banget sih calon istrinya ketua OSIS". diiringi siulan dan tertawaan mereka.
" Biasa aja kali' ngomongnya. Nggak tahu juga bentar beneran nikah atau nggak". celetuk Ilham santai.
Paham dengan kondisiku, Hesti dan Dhilla segera mengajakku bergegas pergi dari tempat itu.
Aku nggak peduli lagi dengan tatapan kak Ilham di sudut sana. Yang jelas, aku nggak bakalan tahan mendengar obrolan mereka lebih jauh lagi.
Belum sempat masuk ke dalam kelas, mendadak ada yang menarik tanganku.
Spontan kami bertiga menoleh ke belakang. Hesti dan Dhilla bergegas masuk duluan.
" Ada apa kak?" tanyaku dengan suara parau sarat dengan cemburu.
" Jangan pernah lari dariku Ra. Tetaplah ada di dekatku". ucapnya sambil berlalu pergi.
Aku hanya terbengong mencoba mencerna ucapannya tadi.
\*\*\*\*\*